
Malam harinya, raja Xin Cao dan keluarga serta seluruh para mentri melarikan diri melalui lorong rahasia, selain raja Xin Cao, keluarga dan para mentri, pasukan pelindung dan sisa prajurit juga dibawa tanpa sisa, bahkan pelayang juga dibawa, raja Xin Cao tahu kalau bendera lima warna akan memperlakukan para pelayan dengan buruk.
"Cepat! cepat!" ucap komandan pelindung bayangan memberi perintah pada pasukan bayangan dan prajurit yang tersisa, sementara para pelayan datang dari belakang, raja Xin Cao dan para mentri sendiri sudah lebih dulu berada didepan.
Dengan cepat satu demi satu pasukan pelindung bayangan dan prajurit tersisa serta para pelayan memasuki lorong rahasia, bahkan para penjaga gerbang juga mereka bawa, sehingga saat ini kerajaan Xin kosong total tanpa ada yang tersisa.
Setelah memastikan semua sudah masuk, komandan pelindung bayangan juga masuk kedalam, lalu menekan tombol dari dalam dan menutup kembali lorong rahasia.
Didalam lorong rahasia sendiri terdapat kristal cahaya sebagai penerang, sehingga sepanjang lorong rahasia, terdapat ribuan kristal cahaya yang terpasang di dinding lorong.
Lorong rahasia sendiri dapat membawa raja Xin Cao dan lainnya lereng bukit yang berada 2 kilo meter dari ibukota kerajaan, jika berhasil keluar, mereka dapat melakukan pelarian ke kerajaan Bei, karena ujung lorong sendiri berada di timur ibukota.
Dua jam kemudian.
Raja Xin Cao dan semua yang ikut bersamanya keluar dari lorong rahasia, lalu mereka bergerak menuju timur, tidak ada kereta kuda atau kendaraan apapun, sehingga raja Xin, ratu Mei dan kedua putra dan putrinya terpaksa berjalan kaki.
*******
Waktu terus berlalu.
Tanpa terasa dua minggu telah berlalu semenjak hari dimana raja Xin Cao dan pengikut serta pasukannya meninggalkan istana kerajaan Xin, Gu Gao dan pasukan bendera lima warna juga sudah menguasai seluruh kota kota dan kerajaan Xin sendiri.
Tujuan mereka kali ini adalah kerajaan Bei, dimana kerajaan Bei berada di wilayah timur kekaisaran Zhou, namun Gu Gao tidak turun langsung dalam penyerangan nanti, Wu Jao dan Jinshi yang akan memimpin pasukan.
Ditengah hutan.
Fang An masih terus berlatih tinju raja dewa, setelah berlatih selama sebulan semenjak dia temukan kedua kitab, Fang An berhasil menguasai tinju raja dewa dengan sempurna, jika dua minggu pertama hanya latihan diwaktu siang, dua minggu terkahir ini Fang An berlatih siang maupun malam.
Karena tekad dan pantang menyerah, akhirnya Fang An dapat menguasai tinju raja dewa, selain Fang An menguasai tinju raja dewa, kultivasi Jiao Lin juga meningkat pesat, dimana kultivasi Jiao Lin saat ini meningkat ke pejuang kaisar tahap awal.
__ADS_1
Jika ayahnya dan anggota klan Jiao tahu Jiao Lin sudah menembus pejuang kaisar, tentu saja mereka akan terkejut dan bisa jadi akan muntah darah.
Fang An memutuskan akan mempelajari tinju kaisar dewa lain kali, dia yakin akan membutuhkan waktu lebih lama lagi jika dia mempelajari tinju kaisar dewa, saat mempelajari tinju raja dewa saja membutuhkan waktu sebulan, apalagi dengan tinju kaisar dewa.
Karena tidak ingin melanjutkan latihannya, Fang An memutuskan untuk melanjutkan perjalannya ke klan Jiao, sekaligus memulangkan Jiao Lin ke klan.
Jiao Lin masih terlalu lemah untuk misi yang Fang An rencanakan, sehingga hanya bisa memulangkan dan mencari teman seperjuangan yang lain.
"Selamat nona Lin, kultivasi mu meningkat pesat, aku yakin saat ini nona Lin adalah jenius sejati untuk seluruh kekaisaran Tang," ucap Fang An tersenyum.
"Apa tuan muda mengejek ku? jika aku jenius sejati, lalu bagaimana dengan tuan muda?" tanya Jiao Lin kesal, dia berpikir jika Fang An mengejek nya.
"Bukan seperti itu nona Lin, tapi saat ini nona Lin memiliki kultivasi yang sangat tinggi untuk gadis seusia nona," balas Fang An yang memang tidak berniat mengejek.
"Hemm.. Lalu bagaimana dengan pemuda berusia 17 tahun tapi memiliki kultivasi pejuang surgawi tahap puncak? apa masih pantas disebut jenius sejati? bahkan disebut siluman pun masih belum cocok," balas Jiao Lin mendengus kesal.
"Ya sudah! ayo kita ke klan Jiao!" ucap Fang An malas berdebat, Fang An ingin segera mengantar Jiao Lin ke klan dan melanjutkan misi perjalanan nya ke benua selatan, tapi bukan berarti Fang An akan menutup mata dan telinga di sepanjang perjalanan.
Fang An sangat yakin jika tinju raja dewa adalah jurus tingkat tinggi, sehingga membuat Fang An penuh percaya diri jika bertarung tangan kosong.
Jiao Lin membanting kaki dengan kesal, lalu berdiri dan berjalan dengan perasaan dongkol, dia masih berpikir Fang An mengejeknya dengan kultivasi yang dia miliki saat ini.
Melihat sikap Jiao Lin, Fang An hanya bisa tersenyum dan menggeleng kepala, lalu mengikuti Jiao Lin dari belakang, keduanya berjalan tanpa ada sepatah kata, Jiao Lin hanya diam dengan perasaan dongkol, sementara Fang An juga malas membuka obrolan, sehingga perjalanan keduanya seperti kuburan, (sepi).
3 hari kemudian.
Setelah keluar dari hutan selama tiga hari, Fang dan dan Jiao Lin akhirnya tiba didepan kota yang dituju, yaitu kota Sanan, dimana kota sanan adalah kota yang berada didekat ibukota kerajaan Ning.
Masih seperti kemarin kemarin, keduanya tanpa sepatah katapun, saat keduanya ikut antrian menunggu masuk kota, sebuah suara terdengar dari belakang.
__ADS_1
"Nona muda," ucap sebuah suara dari arah belakang, namun Fang An dan Jiao Lin tidak menghiraukan suara itu, keduanya berpikir jika nona muda yang dipanggil bukanlah Jiao Lin.
"Nona muda," ucap suara itu yang sudah berada disamping Jiao Lin.
Fang An dan Jiao Lin menoleh ke asal suara, dapat mereka lihat seorang pria paruh baya dan lima pemuda berdiri didekat mereka.
"Kenapa tetua ketiga berada disini?" tanya Jiao Lin lupa jika dia dalam pelarian.
"Kami mencari nona muda, sudah lebih dari dua bulan aku dan kelima murid ini keluar dari klan mencari nona muda," jawab pria paruh baya, yang ternyata adlah tetua ketiga klan Jiao.
"Ada barang bagus disini rupanya," tiba tiba sebuah suara kembali terdengar dibelakang tetua ketiga dan lima murid klan Jiao.
Fang An dan lainnya sekali lagi mengalihkan pandangan mereka ke asal suara itu, tampak mereka lihat beberapa pria paruh baya tersenyum kearah Jiao Lin, para pria paruh baya itu adalah anggota bendera lima warna yang kebetulan ingin masuk ke kota Sanan.
"Siapa yang kamu sebut barang bagus orang tua jelek?" tanya Jiao Lin kesal, dia manusia tapi disebut barang bagus.
"Jangan galak galak nona cantik! ayo sini," ucap pria salah satu pria paruh baya, lalu mendekati Jiao Lin Dan ingin menyentuh pipi Jiao Lin, saat tangannya hampir menyentuh pipi Jiao Lin, lengan pria paruh baya tiba tiba lepas dari tempatnya, dan darah segar pun menyemprot keluar.
"Aaaarrg"
Teriak pria paruh baya saat lengan nya jatuh ketanah.
"Singkirkan tangan kotor mu itu darinya," ucap Fang An tanpa ekspresi, ditangannya ada pedang berlumuran darah.
*******
Tinggalkan Like dan Komentar nya ya kak!!!
Dikasih Hadiah dan Vote juga lebih bagus.
__ADS_1
Terima Kasih...