Pendekar Dewa Naga

Pendekar Dewa Naga
Chapter 18 ~ Gunung angin kematian II


__ADS_3

"Kali ini Clarissa juga mengikuti latihan kalian, beritahu metodenya...aku pergi dahulu sebentar." Kin berlalu ke arah selatan dia terbang dengan cepat.


Arah yang di tuju oleh kin tidak lain adalah kediaman ketua sektenya, Tokugawa shima. Beberapa saat lalu Tokugawa menghubungi kin untuk datang ke rumahnya, Tokugawa ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting terkait masalah kekaisaran.


Dengan kemampuannya tidak perlu waktu lama untuk Kin sampai di kediaman Tokugawa. seperti biasa dia menduga ketua sekte ada di halaman belakang, bermeditasi untuk sekedar melepas penat yang mungkin di sebabkan oleh urusan sekte yang menumpuk.


"Ketua aku sudah disini, untuk apa anda memanggilku?" Tanya kin yang baru saja mendarat tepat di samping ketua sektenya.


"Tetua Kin duduklah disini, aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting." Tokugawa menepuk bangku di sampingnya, mengisyaratkan Kin untuk duduk di sampingnya.


"Terimakasih Ketua, hal apa yang ingin Anda sampaikan?" Kin bertanya kembali dia sangat penasaran sebenarnya, namun dirinya masih menjaga sikap dihadapan ketua sekte.


Tokugawa mulai menceritakan awal mula pertempuran besar 500 tahun yang lalu, dia ingin Kin mengingat kembali kejadian yang menyebabkan perang tersebut. "Dahulu perang Benua Bulan Utara diakibatkan hanya oleh satu orang saja, mungkin hal seperti ini tidak bisa dipercaya bahkan anak generasi sekarang menganggapnya hanya sebuah dongeng belaka, tetapi pastinya kau mengetahui sendiri perang tersebut benar atau tidaknya karena sering melaksanakan misi ke perbatasan." Tokugawa sedikit menghela nafas panjang sebelum menceritakannya kembali.


"Orang yang berada di perbatasan sedikit sensitif jika ada seseorang dari kekaisaran lain, karena dulunya mereka sendiri mengalami bagaimana kebaikan mereka di manfaatkan oleh orang yang mereka tolong. jadi inti maksud aku menceritakan ini adalah perang mungkin saja terjadi lagi, kaisar sudah memutuskan untuk melakukan jalur diplomasi dengan Black Moon Empire dengan melakukan pertandingan antar murid utama Kekaisaran. Aku ingin kau menghadiri pertemuan pendekar antara dua kekaisaran di gunung angin kematian." Tokugawa menutup penjelasannya.


Kin selama ini selalu menurut perintah Tokugawa tetapi kali ini dia melayangkan sebuah penolakan karena mengetahui sendiri iklim gunung angin kematian. "Ketua shima sebelumnya aku memang tidak pernah menolak perintah mu tapi kali ini tempat yang saya tuju sangat berbahaya meskipun pendekar seperti saya tetap bisa keluar dari tempat itu dengan selamat dengan resiko besar tentunya, aku ingin kau mengatakan alasan mengirimku kesana?" Pembawaan Kin sedikit serius sekarang, dia tidak ingin dikirim untuk hal yang sepele.


Tokugawa menghela nafas panjang. "Alasannya sepele, kau orang terkuat setelah aku, terlebih sekte tidak bisa aku tinggalkan jadi aku akan mengirimmu." Kin Tersenyum kecil dia menertawakan dirinya sendiri karena tidak menyadari alsan yang begitu sepele.


"Jadi kapan aku harus berangkat, Ketua?" Tanya Kin pada ketua sekte.


"Pertemuannya sore ini, jadi kau harus berangkat sekarang, untuk bekal kau bawa saja cincin danau ini." Tokugawa menyerahkan sebuah cincin berwarna biru langit ke tangan Kin yang langsung diterima olehnya.

__ADS_1


"Cincin danau, ini sudah lebih dari cukup...kalau begitu aku berangkat dahulu ketua shima." Kin memberi hormat dan terbang ke selatan lebih jauh.


Gunung angin kematian yang dituju oleh kin memang terkenal seperti namanya. gunung ini mampu membunuh seorang manusia biasa dengan sekali tiupan, beberapa pendekar tingkat tembaga juga bisa saja terbunuh jika tidak melindungi diri mereka dengan energi jiwa.


Selain itu karena lokasinya yang berada cukup dekat dengan sekte matahari Phoenix membuat gunung ini bisa dilihat jika cakrawala sore sedang cerah, puncaknya yang terlihat seperti tengkorak juga akan membuat siapapun bergidik ngeri membayangkan siluman seperti apa yang mendiami gunung tersebut.


Hawa angin yang berhembus semakin kencang membuat Kin yakin dirinya tidak lama lagi sampai di tempat tujuannya, tiupan angin gunung tersebut cukup untuk memperlambat kecepatan terbang Kin yang sebelumnya melesat sangat cepat.


Seorang pendekar yang sebelumnya tidak disadari keberadaannya oleh kin mendekatinya. "Tetua kin, anda ternyata berpikiran sama sepertiku."


"Ah ternyata kau, tidak ada salahnya juga aku kesini ternyata bisa bertemu denganmu." Kin antusias melihat wajah yang sudah lama tidak dilihatnya.


"Hei uban sudah berapa lama kita tidak bertemu ya." Tanya seseorang tersebut.


"Hm muka loreng, kalau tidak salah sekitar sepuluh tahun yang lalu kita terakhir bertemu, tepatnya saat turnamen kekaisaran." Kin mengenali orang tersebut, dia adalah muka loreng, julukan yang diberikan pada tetua fraksi pedang sekte gunung angin kematian yang merupakan salah satu sekte besar sekarang.


"Jadi begitu ya, pantas saja aku ingat kau tidak berada di sekte ini ternyata namanya hanya berubah ya." Gumam kin yang suaranya masih cukup bisa di dengar oleh muka loreng.


"Ya begitulah, nah dibawah sana lah sekte kami berada sekarang, kami tidak terlalu membangun sekte ke arah puncak karena adanya siluman penjaga gunung ini." Muka loreng menjelaskan latar belakang sekte lamanya yang kini menempati lokasi baru.


Kin berdecak kagum melihat keindahan arsitektur yang dibangun di kaki gunung angin kematian, sepertinya sekte gunung angin kematian memang ingin membuat sektenya menyatu dengan alam dengan memanfaatkan kayu sebagai bahan utama bangunannya.


"hei muka loreng, Apakah dia masih menjabat ketua sekte kalian?" Tanya kin saat sudah mendarat di depan sekte tersebut, pertemuan dua kekaisarannya memang diadakan di sekte ini.

__ADS_1


"Tidak, beberapa tahun lalu dia melepas jabatannya dan sekarang anaknya yang menggantikan posisinya." Jelas muka loreng dia segera memandu Kin yang memang baru pertama kali ke gunung ini, terlebih sekarang ada sebuah sekte besar yang berdiri disini.


Muka loreng segera disambut beberapa anggota sekte yang masih berusia remaja. karena jabatannya, dia memang mendapat penghormatan di sektenya. "Berapa pendekar dari kekaisaran Black Moon Empire yang telah datang?" Tanya muka loreng pada salah satu anggota sekte yang menjaga gerbang masuk dan mencatat setiap pendekar yang datang.


"Lebih jelasnya pendekar dari Red Moon Empire hanya sebagian lagi yang belum datang, Sementara Pendekar dari Black Moon Empire sudah hadir seluruhnya, tetua." Jawab Anggota sekte tersebut.


"Cukup bagus mereka semua datang tepat pada waktunya, pertemuannya memang tidak lama lagi, ayo Kin." Muka loreng segera memasuki sektenya, dia memandu Kin ke gedung pertemuannya.


Kin memasuki sebuah bangunan berlantai empat yang memiliki ukiran khas milik sekte gunung angin kematian, saat memasuki lantai ke tiga tempat pertemuannya diadakan, dia begitu terkejut ternyata pendekar dari dua kekaisaran yang melakukan pertemuan berjumlah cukup banyak.


Sebagian pendekar dari Kekaisaran Black Moon Empire menatap dirinya dengan tatapan sinis, bahkan beberapa ada yang mengeluarkan aura pembunuh ketika merasakan kekuatan Kin yang begitu besar. Meskipun Kin sendiri berusia tidak lebih dari 30 tahun, tapi kekuatannya cukup untuk memberikan intimidasi di pertemuan tersebut.


"Hei lihatlah pendekar itu yang berada di pihak Red Moon Empire, aku yakin dia tidak semuda yang terlihat." Salah satu pendekar dari Black Moon empire berseru ke arah teman di sampingnya.


"Kau benar, auranya itu...semua orang bisa merasakan jika dia memang semuda itu, dia mungkin seorang jenius." Balas yang lainnya.


"Hmm..."


Keadaan cukup tenang sembari para pendekar Tersebut menunggu tamu yang belum hadir, tapi sebuah teriakan kemudian mengacaukan ketenangan para pendekar tersebut.


"HEIII CEPATLAH..." seorang pendekar yang berada di tengah - tengah pendekar dari dua kekaisaran berseru lantang.


"Cepat apa? kau ingin mengacaukan pertemuan ini." Teriak salah satu pendekar yang merupakan tetua dari sekte gunung angin Kematian, karena dirinya bertugas untuk mengamankan jalannya pertemuan.

__ADS_1


"Kau pikir sebuah pertemuan tidak butuh hidangan untuk mengisi perut, dan sebuah minuman untuk melepas dahaga, aku lapar dan juga haus keparat." Teriak orang tersebut lagi, dia memang bertugas sebagai pihak netral yang menengahi pertemuan.


Semua pendekar di ruangan tersebut yang tadinya bersikap tegang sekarang berubah menjadi tertawa karena kejadian tersebut, memang cukup aneh jika seorang pendekar yang bisa menahan lapar dan minum hingga satu bulan, merengek meminta makanan disaat seperti ini.


__ADS_2