
“Danisa… Siapa dia? Siapa pria ini?” Tanya Dewi setengah berbisik namun bisa di dengar dengan jelas oleh Devan dan Raga. Danisa ingin sekali menjawab bahwa laki-laki yang berada di hadapan mereka adalah saudaranya. Namun wanita itu mengurungkan niatnya. Danisa memilih diam.
“Apa dia adalah ayahmu?” Lanjut Dewi lagi. Pertanyaan yang Dewi lontarkan sukses membuat Devan terenyak. Wajah nya berubah muram.
“Hmmmpppffff… Hahahahaha” Tawa Raga yang semula ditahan akhirnya pecah.
“Wajah rupawan yang kau banggakan ini ternyata tidak lebih dari bapak-bapak berusia 40-an tahun di mata seorang gadis… Hahahaha!” Raga mulai mengolok-olok.
“Hahahhaha… Mood booster sekali,, hahaha” Raga masih terus tertawa dengan sebelah tangan memegang perutnya dan sebelah tangannya lagi menutup mulut.
“Danisa! Ikut aku pulang! Kakek mengundangmu makan di rumah!” Ajak Devan dengan wajah yang masih muram. Pria tersebut menarik Danisa mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil. Raga mengikuti langkah mereka dan duduk di kursi penumpang.
“Hey, Aku mendengar teman-mu tadi memanggilmu Danisa! Aku baru tau, Jadi nama-mu Danisa ya?” Tanya Raga berbasa basi. Ia mengajak gadis yang berada di samping Devan mengobrol. Namun sayang, Danisa hanya diam saja. Gadis ini memilih melihat ke arah luar kaca mobil yang ada di sebelah sisi kirinya.
Drrrrrtttt Drrrrttttt
Handphone Raga bergetar, Ia mengambil gawai dari saku celana lalu melihat siapa yang menelponnya. Wajah yang semula masih cerah karena terlalu banyak tertawa tiba-tiba berubah serius. Raga memberikan handphone-nya pada Devan. Ia menekan tombol loudspeaker.
“Halo Tuan, selamat siang. Saya ingin mengabarkan bahwa dokter Dan Ara menolak untuk melakukan operasi. Dokter hebat tersebut memang terkenal sulit dimintai bantuan karena kesibukannya. Apalagi untuk diajak berkolaborasi” Ucap seseorang di seberang telpon sana. Danisa pada awalnya tidak ingin ambil peduli juga tidak ingin menguping. Namun ketika orang tersebut mengucap kata dokter hebat, ia spontan menoleh karena terkejut. Devan sendiri juga tidak peduli apakah Danisa mendengarkan perbicaraan mereka atau tidak.
“Ck" Devan berdecak sebal. Dalam kamusnya tidak ada yang namanya penolakan.
"Bagaimana pun kamu harus berhasil mengundang dokter Dan Ara dan meminta bantuan dokter hebat tersebut. Masalah harga aku tidak peduli! Terserah padanya. Jika ia mau dibayar 1000 kali lipat juga tidak masalah!” Tukas Devan memveto dan mengakhiri pembicaraan mereka via telepon. Danisa terenyak. Pikiran malayang-layang. Apa motif Devan mengundangnya? Danisa terus berpikir keras hingga mobil yang terus melaju membelah jalan itu akhirnya sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Devan menurunkan Danisa di depan rumah. Gadis tersebut masuk terlebih dahulu. Raga yang ingin mengambil bawaan untuk acara perjamian yang ada di jok belakang mobil masih mengikuti Devan ke parkiran.
Danisa terus melangkah masuk ke dalam rumah. Sayup-sayup ia mendengar namanya di sebut-sebut. Ada apa lagi ini. Batin Danisa. Ia mendengus kesal.
“Danisa dengan liarnya memukul wajah anak saya! Sebagai seorang ibu sulit sekali bagi saya untuk bisa menerima kenyataan ini! Sekarang wajah mulusnya sudah rusak! Wanita itu benar-benar gadis yang jahat!” Tuding Noori yang terdengar dari ruang tamu. Ia menangis sendu. Berkali-kali ia mengusap mata basahnya. Ranti mendengar dengan saksama. Ia menaruh simpati atas perlakuan semena-mena yang Danisa lakukan. Gadis yang baru saja ditunangkan pada anaknya itu tampak begitu jahat.
“Benar tante, apa yang dikatakan oleh tante Noori benar! Saya tidak habis pikir mengapa wanita itu sebegitu jahatnya memakai kekerasan. Jihan sebagai teman masa kecilnya Devan juga bisa merasakan apa yang Mila derita. Perbuatan Danisa sudah sangat melampaui batas” Keluh Jihan mengelus-elus pundak Noori. Ia ikut memanas-manaskan situasi. Wanita paruh baya yang kalah telak karena kasus yang dibawanya tidak di proses oleh petugas kepolisian mencari cara lain untuk memperkarakan Danisa.
“Saya juga membawa seseorang yang menjadi korban dari kejahatan Danisa!” Lanjut Jihan menunjuk pada orang yang berada di sampingnya. Seorang laki-laki muda berusia 24 tahun. Di wajah nya terdapat bekas luka. Sebenarnya wajah laki-laki ini terbilang tampan. Ia sedari tadi hanya diam mendengarkan alur drama yang diperankan oleh Noori dan Jihan. Sampai akhirnya, Jihan memberikan isyarat mata pada laki-laki tersebut untuk berbicara.
“Sebelumnya, saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya adalah Edo. Maaf jika perkataan saya ini akan sangat tidak menyenangkan untuk didengar, mengingat Danisa dan anak nya tante baru saja di tunangkan. Namun saya pikir saya harus mengatakan ini agar tidak ada lagi korban dari Danisa nantinya” Ucap laki-laki dengan baretan di wajah. Ia berucap dengan santun. Kata-kata yang terlontar dari mulutnya membuat semua atensi yang ada di dalam ruangan berpindah padanya.
“Hmh,, sebenarnya… status saya dan Danisa masih memiliki hubungan ikatan. Kami pernah bertunangan. Bisa dikatakan bahwa Danisa masih berstatus sebagai pacar saya” Lanjutnya lagi.
“A… Apa??!!” Ranti terkejut bukan kepalang. Semua yang berada dalam ruangan shocked tak terkecuali kakek yang sedari tadi mengamati sembari sesekali memperbaiki letak kacamatanya.
Tiba-tiba Ayah Devan muncul dari ruang tengah. Beliau baru pulang dari kantor dan melihat suasana gaduh di ruang tamu. Sedikit banyaknya beliau memahami kemana arah isi percakapan yang tengah diperbincangkan.
“Hemmm” Ayah Devan yang bernama Manggala berdehem.
“Seperti nya kita harus memikirkan ulang tentang rencana menikahkan Devan dan Danisa!” Tiba-tiba Manggala mengeluarkan suara. Beliau yang sudah banyak mendengar tentang kelakuan Danisa dari sang istri ikut tidak senang dan jadi tidak menyukainya.
“Saya memiliki sebuah bukti yang harus diperlihatkan untuk memperkuat bahan pertimbangan!” Lanjut Jihan mengeluarkan sebuah foto dan menyodorkannya. Ia dengan lihai menambah api semakin memanasi suasana.
__ADS_1
Dalam foto yang terlihat sudah sedikit mengabur, seorang wanita yang begitu mirip dengan Danisa keluar dari sebuah hotel bersama dengan seorang pria. Pria tersebut bukanlah Devan ataupun orang yang mengaku sebagai tunangannya, melain seorang pria yang sudah terlihat paruh baya. Tangan Ranti bergetar melihat foto tersebut. Manggala menunjukkan wajah kecewanya.
“Tapi mungkin ini hanya kesalahpahaman saja. Hal ini harus diselidiki lebih jauh” Ucap Jihan memasang wajah berempati.
“Selain itu, Danisa juga adalah orang yang kaya raya” Lanjut Jihan lebih jauh.
“Kaya raya? Apa maksudmu?” Ranti mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Danisa pernah memperlihatkan uang dalam jumlah yang sangat banyak. Satu koper penuh!”
“Apa?!”
Danisa yang terlanjur mendengarkan pembicaraan tidak mengenakkan tentangnya berjalan masuk. Namun tiba-tiba suara dingin dari arah belakangnya terdengar.
“Ada masalah apa ini?” Tanya Devan yang melihat orang-orang sudah berkumpul. Melihat Devan yang baru saja masuk ke dalam ruangan langsung bangkit menghampiri.
“Apa ini uang pemberianmu untuk Danisa? Kalau tidak maka….” Jihan bertanya seduktif, Ia menunjukkan sebuah potret yang menampilkan Danisa dan uang yang ada di dalam kopernya”
Devan hanya diam saja. Ekspresi wajahnya sangat sulit untuk diartikan. Apalagi ia hanya menunjukkan wajah dingin. Devan mengarahkan pandangannya ke atas meja. Bola matanya mengarah tepat ke foto Danisa dan seorang pria. Wajah serius tersebut berubah semakin dingin.
“Apa maksud semua ini Danisa?!” Devan menuntut penjelasan. Ia mengarahkan tubuhnya menghadap Danisa.
***
__ADS_1
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
IG @alana.alisha