
Seetttt
Devan bersembunyi dibalik tembok yang menjadi batas pemisah antara ruang pemeriksaan khusus dengan ruangan milik Dokter Dan Ara. Ia berada di dekat tiang yang tidak terjangkau oleh penglihatan. Sudah dari sejam yang lalu pemuda tersebut mengendap-endap masuk.
Bukan tanpa tujuan. Hari ini dokter Dan Ara melakukan pemeriksaan mata terhadap pasien pengusaha ternama yaitu Mr. Xavier. Pada dasarnya, akses menuju ruangan ini sudah ditutup rapat. Hanya saja, Devan sebagai salah satu pemilik saham terbesar pada Ramayana Group memiliki celah dalam mengaksesnya.
Devan memaksakan diri untuk masuk hanya ingin memastikan sesuatu yang sudah sangat mengganggu pikirannya. Tidak ada waktu lagi. Besok Devan sudah harus keluar kota menemui nenek Danisa dan entah akan menghabiskan waktu berapa lama.
Tampak Dokter Dan Ara dan Tim tengah memeriksa Mr. Xavier pada ruangan yang dibatasi oleh kaca yang sedikit buram. Seperti biasa, dokter tersebut memakai pakaian khusus saat menghadapi pasien.
Tidak salah lagi, dia sudah pasti Danisa! Postur dan gesture tubuhnya sangat serupa! Devan mengangguk-angguk membenarkan pemikiran nya.
Sreeettt
Di dampingi oleh dokter spesialis mata dan asisten lainnya, dokter Dan Ara dan Mr. Xavier keluar dari ruangan. Sepertinya pemeriksaan tahap awal sudah selesai. Mereka menuju pintu keluar dan saling berjabat tangan. Para dokter kembali ke ruangan mereka masing-masing.
Tap Tap Tap
Dokter Dan Ara menuju ruangannya dengan berjalan santai. Ia melewati Devan yang sejak tadi sudah memantaunya. Dokter Dan Ara menutup pintu dengan rapat. Dokter tersebut mengunci ruangannya. Dalam kegelapan ia mulai melepas pakaian khusus nya satu persatu. Di saat bersamaan, suara kunci pintu kembali terdengar. Dokter tersebut seperti terkejut. keningnya mengerut.
Driiiittt
Suara deritan menunjukkan bahwa seseorang sudah membuka pintu. Dengan cepat dokter tersebut menutup wajahnya dengan sembarang kain yang ia ambil dari atas meja.
"Sss... Siapa kamu?" Tanya sang dokter panik. Devan menghidupkan lampu. Seketika ruangan berubah menjadi terang benderang. Perlahan Devan bergerak mendekati dokter tersebut.
"Maaf" Ucap Devan mengulurkan tangannya.
Sreeeettt
Pemuda tersebut nekat menarik kain yang menutupi wajah sang dokter. Namun ia tercengang setelah mengetahui siapa pemilik wajah dari orang yang ada di hadapannya.
Di... Dia bukan Danisa? Devan terpaku. Dengan cepat dokter tersebut kembali menutup wajahnya.
"Aku akan memanggil satpam!!! "
"Maaf... " Lirih Devan. Tanpa mempedulikan orang tersebut, dengan cepat ia keluar dari ruangan. Sang Dokter kembali mengunci pintu. Ia melepas semua pakaian khusus nya.
"Terima kasih untuk kerja samamu!" Seorang pria keluar dari ruang persembunyian nya. Ia memberikan sebuah cek.
"Sama-sama, Tuan! "
"Pergi lah dari pintu itu! " Orang yang tadi memakai pakaian khusus mengangguk. Ia dengan cepat melesat setelah menyelesaikan tugasnya.
"Prof... Nafasku terasa sesak karena takut ketahuan!" Seorang lainnya keluar dengan memegang jantung yang terus berdegup kencang.
"Danisa, calm down! Seperti nya rencana kita akan berhasil dan Devan sudah tidak lagi mencurigai mu!" Danisa memaksakan senyumnya yang terasa hambar.
"Untuk sementara sudah tidak ada gangguan! Kini kita harus fokus pada pencarian kasus!" Prof. Daniel membuka laptopnya.
"Mungkin nenek akan kecewa dengan putusnya hubungan pertunangan kami! Nenek menyerahkanku pada keluarga Cakrawangsa agar mereka bisa menjagaku dengan baik" Lirih Danisa sendu. Prof. Daniel menghentikan pergerakannya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu bergabung bersama keluarga jahat! Nenek Paula terpedaya oleh mereka! Cukup aku yang akan menjaga dan melindungi mu! " Prof. Daniel menatap Danisa lekat-lekat, gadis tersebut terenyak.
"Karena kita berencana mengelabui Devan menggunakan kasus Mr. Xavier, maka kita sudah mengambil resiko besar dengan menerima pengobatan mata untuknya. Aku khawatir ia akan mencari gara-gara kalau ternyata matanya tidak berhasil diobati! " Tukas Danisa.
"Kalau tidak berhasil itu sudah takdir. Kita pasti nya mengupayakan yang terbaik dengan bekerja sama dengan Spesialis mata terbaik. Namun Aku sudah memikirkannya. Kau tetap harus mengundurkan diri untuk berjaga-jaga! "
***
Braaakkk
"Shiiit! Ternyata gadis itu telah menipu kita mentah-mentah! " Mr. X mengebrak meja lalu mengepalkan tangannya.
"Wanita itu sangat lihai, Tuan! Dia berhasil mengelabui publik"
"Dari awal aku sudah curiga kalau dia bisa bicara! Mana mungkin tiba-tiba dia bisu! Memang tidak masuk akal! Ini tidak bisa ku biarkan! Aku harus mematahkan kakinya biar dia tau rasa!" Mr. X benar-benar marah.
"Sabar sayang... Tidak lama lagi mereka akan binasa!" Seorang wanita memijat-mijat pundak Mr. X dengan penuh kelembutan.
"Mira, kau pintar menenangkan hati! Terima kasih sayang!" Mr. X mengusap tangan Mira yang berada di pundak nya.
"Tapi tidak bisa dipungkiri, aku juga ingin melihat mereka binasa!" Ucap Mira berterus terang.
"Hahahahaha! Wanita licikku!" Tawa Mr. X menggelegar. Ia mengecup punggung telapak tangan Mira.
"Aku harus membuat perhitungan agar gadis itu sadar bahwa selama ini aku serius mengincar hidup nya! Dia sudah terlalu terbuai karena aku masih saja mengasihaninya!
"Apa rencana tuan selanjutnya?" Asisten memberanikan diri untuk bertanya. Mr. X menatapnya sesaat lalu Ia mulai membisikkan rencana yang ada dipikirannya. Asisten sedikit terkejut namun tetap mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
"Kalau aku mengatakan rencanaku, apa yang akan kau lakukan? Ikut membantu atau hanya akan menjadi pengamat?! " Todong Mr. X.
"Aku akan melakukan semua keinginan papa asal papa melepaskan Jihan!" Mr. X mendongak.
"Jangan jatuh cinta padanya! Dia masuk dalam hitungan keluarga dekatmu! " Sambar Mr. X dengan wajah marah.
"Dia dan keluarga nya hanya kacung yang papa jadikan boneka! Papa menipunya! Kita bukan keluarga atau kerabat nya! Aku cinta padanya atau tidak, itu tidak penting! Tapi aku tidak rela papa memperlakukan nya dengan semena-mena! Mereka tidak bersalah! " Tukas Xavier penuh penekanan.
"Dan papa juga di peralat oleh laki-laki itu demi keuntungan nya! Aku bisa paham kita melakukan ini semua karena dendam tapi aku tidak bisa paham kalau papa menjerumuskan Jihan dalam masalah kita! Dia hanya gadis yang dibutakan oleh cinta! Seperti papa yang dibutakan oleh cinta hingga mencelakakan mama!" Lanjut Xavier ketus dengan melirik Mira dengan pandangan tidak suka.
"Lancang!!! Huk Huk Huk" Mr. X bangkit dari duduknya. Ia mengambil tongkat dan menunjuk Xavier dengan tangan kirinya.
"Apa sekarang kau akan berbalik menentang papa, hah?! " Xavier menggeleng.
"Aku akan melakukan apapun asal papa melepaskan Jihan! Itu saja! " Ucap Xavier tegas. Ia berlalu keluar dari ruangan. Mr. X mengepalkan tangannya.
***
Danisa berjalan cepat menuju suatu tempat yang agak kumuh dan terpencil di pinggiran Ibukota. Ia mendapat kabar dadakan bahwa neneknya sudah berada di sana. Dengan langkah gontai, gadis tersebut berjalan seorang diri. Nenek berpesan dengan mewanti-wanti bahwa jangan sampai ada seorang pun yang mengetahui hal ini.
Nenek ingin memberikan sesuatu dan membicarakan hal penting padanya. Hati Danisa yang telah di selimuti oleh kerinduan membuncah menyebabkan nya tidak berpikir dua kali untuk langsung menemui sang nenek di tempat yang telah di tentukan.
Ciiiiitttt
__ADS_1
Suara decitan ban mobil yang tiba-tiba menge-rem mengejutkannya. Jantung Danisa berdegup. Suasana sepi. Tiada satu kendaraan pun yang melintas. Danisa menarik hembuskan nafas menetralisir perasaan cemas yang tiba-tiba menghampiri. Ia khawatir akan lebih dulu dicegat sebelum bertemu nenek. Ia memang memiliki skill karate di atas rata-rata dengan kekuatan yang sama dengan dua orang laki-laki dewasa. Namun saat ini pundak Danisa belum pulih 100 persen. Kekuatannya belum bisa diandalkan sepenuhnya.
Beeettt
Terdengar seseorang membuka pintu mobil. Tanpa menoleh, gadis ini terus berjalan cepat. Kurang dari 500 meter lagi ia akan sampai di tempat yang dituju.
"Danisa... stop! Ini aku... " Danisa memasang pendengaran nya dengan saksama. Suara yang tidak asing. Namun ia sedikit ragu. Danisa memilih untuk terus berjalan dan tidak menggubris.
Sreeegg
Orang yang memanggil menarik pergelangan tangannya. Danisa sudah menyiapkan ancang-ancang untuk memelintir tangan orang tersebut.
"Dokter Dan Ara... Aku Devan...! " Danisa spontan menoleh. Ia kesulitan menelan.
"Apa yang kau katakan?! Aku Danisa!" Hardik Danisa mensedekapkan tangannya saat mengetahui siapa orang yang mencegatnya.
"Ikut aku! " Danisa menggeleng.
"Kita sudah tidak memiliki hubungan. Jangan mengganggu hidupku! Aku punya banyak urusan! " Tukas Danisa.
"Berbahaya... Jangan kesana atau kemanapun itu sendirian! Jalanan ini sepi, pundakmu masih terluka..." Danisa tersenyum heran.
"Aku sudah mengatakan ini semua tidak ada urusannya denganmu!"
"Aku sudah mengetahui bahwa kau benar-benar Dan Ara! " Devan berbisik.
"Kau mengatakan omong kosong! "
"Aku mendengarkan percakapanmu dan Daniel... Aku tidak benar-benar pergi setelah melihat wajah dokter palsu yang sudah kalian persiapkan! Aku tidak sebodoh itu untuk bisa mempercayainya dengan mudah! " Danisa tercengang. Namun sesaat kemudian ia mencoba kembali menguasai keadaan.
"Apa aku terlalu ikut campur? Ya! Aku memang ikut campur!"
"Dev, pergilah... tinggalkan aku sendiri! "
"Aku mengamatimu. Kau mendapatkan sebuah pesan. Entah mendapat pesan darimana dan kau langsung buru-buru melesat pergi! Kalau pesan tersebut dari musuhmu bagaimana?! " Danisa terenyak. Ia tidak berpikir ke sana. Danisa baru ingat ia belum menelpon nenek.
"Maaf, tadi itu Aku mendengar percakapanmu dan Daniel..."
"Dev, Aku benar-benar buru-buru dan tidak memiliki waktu untuk berbincang! " Elak Danisa berpura-pura melihat jam tangannya. Ia berbalik arah dan hendak melangkah meninggalkan Devan. Namun tiba-tiba,
Doooooorrrrrrr
Suara tembakan terdengar. Satu peluru jatuh di dekat Danisa dan Devan. Peluru tersebut mengeluarkan asap. Danisa terbelalak. Ia terkejut bukan kepalang. Tubuhnya bergetar. Dengan gerakan cepat Devan menarik lengan gadis tersebut untuk merapat padanya.
***
Maaf lebih telat dari biasanya huhu... sebenarnya udah terketik dari kemarin cuma laptop nya mati tiba-tiba dan tulisannya ga ke save~ 🙏
Informasi:
IG: @alana.alisha
__ADS_1