Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 46: 1000 Nyawa!


__ADS_3

Tap Tap Tap


Dengan langkah pasti seseorang memasuki sebuah ruangan yang sangat luas, kemudian di susul oleh seorang lainnya.


Set


Lampu berubah terang. Dari jarak 15 meter, tampak Devan berbaring tak sadarkan diri di atas sebuah ranjang besi. Salah seorang dari mereka menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.


"A.. Apa cara ini akan membuatku menjadi bagian dari keluarga Cakrawangsa? "


"Tentu Jihan, ini adalah cara terbaik. Sudah bertahun-tahun aku menunggu mu meluluhkan hatinya, tapi kau tidak mampu! "


"Tapi Aku mencintainya dengan tulus, Mr. X! Aku tidak ingin dia hancur!" Lirih Jihan ragu. Ia menoleh ke arah lawan bicaranya. Seorang pria paruh baya dengan sebelah mata tertutup rapat berdiri mensedekapkan tangan. Lalu pandangannya beralih menatap Devan yang tampak tak berdaya.


"I know... Aku pamanmu, Kau pengikut ku! Percayakan semuanya padaku! Kau hanya harus menjadi sedikit lebih cerdas. Itu saja! Tuntun Devan untuk menanda tangani surat pengalihan kekuasaan ini. Menggunakan surat ini, sewaktu-waktu Kau bisa mengancam keluarga nya untuk menikahkanmu dengan nya! " Mr. X menepuk-nepuk pundak Jihan. Gadis tersebut tampak berfikir.


"Kau ingat siapa targetmu kan? Aliansi kekuatan kita untuk membalas dendam harus kuat! Visi dan Misi kita nyaris sama! Danisa bukan lawan yang bisa kau sepelekan! Dia gadis dengan 1000 nyawa! Aku juga yakin... Kau tidak akan pernah membiarkan gadis tengik itu jatuh ke dalam pelukan Devan kan? Jika itu terjadi, mereka akan bertambah kuat! "


"Cepatlah! Pengaruh obat biusnya akan berkurang, kurang dari satu jam lagi ia akan siuman!" Titah Mr. X. Perlahan Jihan menganggukkan kepalanya. Pria dengan sebelah mata tertutup tersenyum puas lalu berjalan menjauh. Lampu penerang dibuat meredup. Dalam cahaya yang remang-remang, Jihan berjalan mendekati Devan membawa selembar kertas beserta alat stempel tangan untuk mengambil sidik jari.


***


Set


Lampu sorot dinyalakan. Ranti terbaring tak berdaya pada sebuah ranjang lengkap dengan semua alat yang terpasang.


"Dokter Dan Ara, tangan anda bergetar. Apa anda baik-baik saja? " Seorang tim yang termasuk sebagai anggota yang akan melakukan operasi menyadari ada yang salah pada tubuh Danisa.


"Se... Sebentar, tunggu 2 menit!" Sahut Danisa. Ia menarik-hembuskan nafas menetralisir keadaan ditubuhnya. Memusatkan pikiran untuk bisa fokus. Danisa melirik ke arah monitor, kondisi Ranti mengalami penurunan. Waktu tidak banyak, Ia harus segera melakukan tindakan.


"Kita mulai sekarang!" Ucap Danisa bangkit dari duduknya. Para tim mengangguk. Ia mengambil cairan alkohol untuk dilumurkan pada kedua tangannya. Keringat dingin sebesar biji jagung keluar dari pelipis, padahal suhu ruang sudah diturunkan ke titik terendah. Danisa menggigit bibir bawah menahan rasa sakit pada pundaknya.


Fokus. Fokus. Fokus. Danisa memberikan afirmasi positif pada dirinya sendiri. Ia mulai melakukan pembedahan. Danisa menyayat kulit perut Ranti dengan arah melebar ke bagian bawah. Beberapa lapisan jaringan disayat hingga terbuka penuh dan menampilkan organ dalam.


"Gunting" Pinta Danisa pada tim yang bertugas. Ini bukan pertama kali nya, sudah lebih dari puluhan pembedahan dengan orang yang berbeda ia tangani. Namun kali ini yang berbeda. Jauh terasa lebih mendebarkan.


"Sayat 5 cm ke arah kanan, 180 derajat dari tempat sayatan terakhir! " Titah Danisa lagi. Para anggota tim dengan cekatan melakukan apa yang Danisa titahkan.

__ADS_1


Keluarga Devan terlibat dalam peristiwa beberapa tahun silam. Peristiwa yang merenggut nyawa keluarga mu yang tidak bersalah. Mereka menghancurkan kebahagiaan mu. Memporak-porandakan kedamaian dan keutuhan keluarga kalian.


Deg. Kata-kata Prof. Daniel tiba-tiba terngiang di kepala Danisa. Kebersamaan dengan Ayah dan Ibu di masa lalu membayang. Konsentrasinya terganggu. Danisa gamang.


"Dok... Bagaimana kelanjutan nya? " Tegur tim yang bertugas. Lamunan Danisa buyar.


Danisa, kau tau bagaimana cara mengirim Ranti keluar dari dunia ini tanpa harus membuatnya merasakan rasa sakit. Gumam Danisa melihat ke arah organ bagian dalam dengan jantung berdebar-debar.


Hhhh Hhhh. Nafas Danisa mulai bersahut sambut tidak beraturan.


"Doc, are you okay?" Anggota tim mulai panik. Danisa terhuyung. Kesehatan Ranti mengalami penurunan drastis


"Ba... Bagaimana ini?" Tanya para anggota tim saling menatap lalu menggeleng satu sama lain.


"Dok... "


"Aku bisa melanjutkan nya, biar aku mencobanya lagi! Percayakan padaku..." Ucap Danisa yakin. Anggota tim melihat iba ke arah pundak dokter bedah yang bernoda darah. Noda tersebut sudah menjalar semakin melebar pertanda darah semakin banyak mengalir.


Bertahanlah, jika bukan bertahan untuk dirimu sendiri, setidaknya bertahanlah demi laki-laki di depan ruangan yang begitu mencintaimu! Lirih Danisa dengan mata mengembun.


***


Suara pintu pada ruangan Prof. Rudi berderit. Anggota kepolisian masuk dengan wajah yang sulit untuk diartikan.


"Prof. Rudi, maaf jika kami mengganggu ketentraman rumah sakit Ramayana. Kami hanya menjalankan tugas untuk menangkap seorang wanita bernama Danisa Maria Anna. Kami mendengar kabar wanita tersebut masuk ke dalam rumah sakit ini! "


"Kami meminta izin penggeledahan dan mengambil data pada rekaman CCTV! "


Deg.


Wajah Prof. Rudi berubah. Rasa cemas hadir seketika.


"O... Okay... Ka.. Kalian boleh mengeledah ruangan mana saja kecuali beberapa ruangan bedah. Hari ini ada beberapa pasien yang menjalani operasi termasuk operasi yang dilakukan pada nyonya Ranti Cakrawangsa" Terang Prof. Rudi sedikit gugup.


"Pada ruangan bedah, siapapun tidak dibenarkan untuk masuk ke dalam karena menghindari adanya kontaminasi dari kuman dan bakteri yang dibawa dari luar ruangan juga dikhawatirkan akan mengganggu konsentrasi para dokter" Lanjut Prof. Rudi lagi. Karena sedikit kikuk, beliau menerangkan apa yang sudah seharusnya para aparat kepolisian ketahui.


"Siap laksanakan! " Para Anggota kepolisian yang bertugas meninggalkan ruangan prof. Rudi dengan mengikuti prosedur penggeledahan yang rumah sakit berikan.

__ADS_1


Mereka meninggalkan prof. Rudi yang merasa cemas kalau-kalau Danisa tertangkap. Jika itu terjadi, tidak hanya kebebasan Danisa yang akan terancam. Itu artinya, reputasi rumah sakit Ramayana juga terancam hancur karena menyembunyikan seorang kriminal.


***


Jihan mengendap-endap hingga berada di samping dimana Devan berbaring. Ia melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah orang yang sudah mengisi ruang di hatinya sejak bertahun-tahun lalu, sejak ia beranjak remaja.


"Devan, sebentar lagi kau pasti akan menikahiku. Surat yang ada di tanganku ini sebagai penjaminnya!" Ucap Jihan penuh haru.


"Tidak peduli seberapa banyak kau menolakku, tidak peduli seberapa keras usahamu untuk menjauhiku. Suatu saat kau pasti akan luluh. Suatu saat hatimu yang beku pasti akan mencair. Aku percaya itu! " Jihan menyunggingkan senyumnya.


"Walau Aku sedikit ragu dengan rencana ini, tapi aku akan tetap melakukannya sebaik mungkin karena aku tidak punya pilihan! " Lanjut Jihan lagi.


Sreeeeg.


Seketika gadis tersebut memeluk tubuh Devan. Ia menghirup feromon pemuda tersebut dalam-dalam.


"Sayang... Harum tubuhmu masih sama seperti dulu. Harum woody maskulin yang sangat aku sukai. Harum yang diam-diam selalu aku rindukan" Jihan memeluk Devan erat-erat. Menit-menit berlalu lalu kemudian ia terpaksa melonggarkannya.


"Maaf, aku tidak bisa merelakan hubungan mu dengan wanita bisu itu. Kau terlalu hebat untuk pantas bersanding dengannya. Bukan dengannya saja, bahkan dengan wanita manapun. Aku tidak bisa membiarkan mu menerima wanita lain selain aku! " Ucap Jihan penuh penekanan. Ia meletakkan kertas berisi surat peralihan kekuasaan dan mulai membuka alat stempel. Jihan ingin membubuhkan sidik jari Devan ke atasnya.


"Ini hanya sedikit ancaman pada keluarga mu. Aku tidak berniat mengambil harta kalian! Aku sendiri sudah bergelimang harta! " Bisik Jihan mengambil tangan Devan. Ia membawa jari telunjuk pemuda tersebut untuk diletakkan pada permukaan tinta ungu. Namun belum sempat Jihan menyempurnakan tugasnya tiba-tiba,


Set.


Mata Devan terbuka lebar. Jihan terkejut bukan kepalang. Dengan gerakan cepat pemuda tersebut menghempaskan Jihan ke atas tempat yang semula menjadi tempat nya berbaring. Kini keadaan berbalik 180 derajat.


"De... Devan, kau tidak pingsan?! " Jihan benar-benar kaget.


"Devan... Uhuk Uhuk... Dev... Sakiit ?! " Kedua tangan Devan mencengkram leher Jihan. Wanita tersebut kesulitan bernafas.


"Dev... Le... paskan aku... Uhuk... Uhukkk... "


"Apa yang kau lakukan padaku, Hah?!" Hardik Devan dengan mata memerah dan rahang mengeras.


***


IG: @alana.alisha

__ADS_1


__ADS_2