Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 55: Kawanan Bertopeng~


__ADS_3

Dooorrrrr!


Suara tembakan terdengar. Satu peluru jatuh di dekat kaki Danisa. Peluru tersebut mengeluarkan asap sebagai pertanda baru dilepaskan dari tempatnya. Danisa terbelalak. Ia terkejut bukan kepalang. Tubuhnya bergetar. Dengan gerakan cepat Devan menarik lengan gadis tersebut untuk merapat padanya.


Doooorrrr!


Peluru kembali menyasar di tembok yang berada tak jauh dari posisi mereka. Devan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kosong. Danisa menarik-hembuskan nafas menetralisir kecemasan di hatinya. Dalam dekapan Devan, Gadis tersebut perlahan mengeluarkan pisau dari kecil dari balik blazer nya.


“Jangan… Jangan menyerang balik!” Danisa menoleh menatap Devan. Mata Elang pemuda tersebut terus mengawas. Perlahan ia menggiring Danisa ke arah mobil. Dari suatu tempat yang berjarak, seseorang tidak dikenal hendak kembali mengarahkan tembakan, Devan dengan sigap menarik Danisa untuk mengelak.


Doooorrrr!


Praaaaank!


Kaca mobil pecah terburai berkeping-keping di jalanan. Devan dan Danisa menunduk di balik mobil pada sisi berbeda.


“Kita tidak bisa terus bertahan begini! Aku harus melumpuhkan kakinya!” Bisik Danisa siap beranjak.


“Jangan gegabah! Mereka memiliki senjata api! Kau bisa mati konyol!” Sergah Devan. Danisa bungkam.


Tap Tap Tap


Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar. Wajah Danisa berubah pucat. Devan menyadari gadis yang bersamanya tengah ketakutan. Ia menggenggam tangan dingin gadis tersebut.


“All will be fine!” Bisik Devan menenangkan dengan tersenyum. Namun tidak bisa dipungkiri, sungguh! Hatinya sendiri tengah dilanda kecemasan yang luar biasa.


Devan dan Danisa sontak bangkit ketika orang yang tidak dikenal memakai pakaian serba hitam dan topeng tiba di hadapan mereka. Tanpa mengatakan sepatah katapun ia menodongkan pistol tepat ke arah jantung Danisa.


“Siapa kau?!” Hardik Devan. Ia mengarahkan Danisa agar berlindung di belakang punggungnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Devan, dengan gerakan lambat ia menarik pelatuk pistol. Devan terperanjat. Suasana menegang. Waktu seolah berhenti.


Deg Deg Deg


Satu Dua Tiga


Doooorrrr!


Aaaaghhhh. Pekik menggema terdengar.


Hhhh Hhhh Hhhh. Nafas Danisa memburu. Ia meraba jantungnya. Meleset. Peluru menyasar ke sembarang arah. Pistolnya terjatuh ke tanah. Diam-diam Danisa berhasil menancapkan pisau kecil miliknya ke kaki si pria bertopeng. Ia mengerang kesakitan. Tidak tinggal diam, Devan dengan sigap mengambil pistol yang terjatuh di lantai. Pemuda tersebut langsung menodongkannya.


“Katakan siapa kau sebenarnya?! Siapa yang menyuruhmu membunuh Danisa?!” Hardik Devan. Pria bertopeng tersebut hanya diam.


Buuuugh


Devan menendangnya. Tak Sabar. Devan hendak membuka topeng penutup wajah orang tersebut. Namun tiba-tiba beberapa kawanannya dengan pakaian serupa datang menghampiri mereka dalam jumlah yang tidak sedikit. Kawanan tersebut menenteng senjata tajam. Devan mengarahkan pistol ke kanan kiri, waspada.


“Tidak ada gunanya! Pistol itu sudah tidak memiliki peluru! Hahahaha” Devan menarik pelatuk dan mencobanya untuk memastikan.

__ADS_1


Shiiiit. Pistol tersebut benar-benar tidak berfungsi.


“Serahkan gadis itu!” Titah salah seorang di antara mereka. Lutut Danisa terasa lemas.


“Danisa, cepat lari! Biarkan aku menghadapi mereka!” Titah Devan berbisik. Danisa menggeleng. Matanya memerah. Kawanan tersebut mendekat. Mereka mengarahkan senjata dengan menyabit. Devan berhasil mengelak.


“Danisaaa, Lariii!” Danisa menggeleng. Raut wajahnya menunjukkan seolah-olah ia tak gentar.


“Ku mohooon! Kalau tidak kita berdua akan mati konyol!” Lanjut Devan lagi.


Sreeettt


Mereka berhasil menggores lengan Devan. Pemuda tersebut terhuyung.


“Cepaaattt!!” Di tengah gempuran yang membabi buta Devan meninggikan suaranya. Danisa terperanjat, ia terpaksa mengikuti kemauan pemuda tersebut.


Danisa berlari kencang. Kawanan berjubah hitam saling memberi kode. Mereka berpencar. Dua orang dari mereka mengejar Danisa.


Aku harus bagaimana? Prof. Daniel, Mr. Charles, Mrs. Smith, aku harus menghubungi mereka. Gumam Danisa. Ia merogoh saku nya seraya berlari kencang. Sesekali Danisa melihat ke belakang. Kawanan bertopeng dan berjubah hitam masih mengejarnya. Gadis tersebut berlarian memasuki wilayah semak-semak belukar. Ia mencoba membuka handphone untuk menghubungi nama-nama yang terlintas di kepala.


Seettt


Sayang, handphone Danisa terjatuh. Gadis tersebut hendak mengambilnya namun ia keburu terpeleset oleh lumut-lumut yang tersebar di jalanan lembab.


“Kau tidak akan bisa lari! Hahaha” Danisa berusaha bangkit. Dua orang tersebut akhirnya berhasil menggapai lengannya.


Sreeeg


“Ayo kita bunuh! pisau yang akan menancap di jantung nya akan langsung membuatnya berpindah alam!” Ucap salah seorang di antara mereka dengan bengis.


“Tunggu! kita nikmati dulu kemolekan tubuhnya baru setelah itu kita bunuh! Bagaimana? Dia cantik! Gadis ini barang bagus! Hahahahah” Timpal yang lain dengan terbahak.


“Hahahah, benar juga! Pintar kau Gagak!! ide bagus! Aku setuju!” Mereka menggiring Danisa.


Devan, apa Devan bisa menyelamatkan diri? Bagaimana kalau dia tidak selamat? Oh Tuhan… Berikan keajaibanmu…


Langit mendung. Awan hitam bergulung-gulung. Gerimis mulai turun. Danisa berpikir keras. Ia tidak melawan dua pria asing yang tengah menggiringnya sebab mereka membawa senjata tajam. Mereka menggiring Danisa menuju mobil.


“Dimana kita mengeksekusinya? Setelah kita puas, baru kita akan menyerahkan kepalanya pada Bos! Hahahaha”


“Tttt Tapi, kalau ketahuan Mr. C bagaimana?”


Mr. C? Siapa dia? Danisa mengerutkan kening.


"Tidak akan ketahuan! Kita eksekusi... Hmh... Kita eksekusi di gubuk itu!" Temannya menggangguk setuju.


"Cepat giring dia!"


Sreeet Sreeet

__ADS_1


Mereka menggiring Danisa menuju gubuk usang yang di penuhi oleh sarang laba-laba. Di dalamnya hanya terdapat sebuah dipan kecil.


Apa yang harus kulakukan? Airmata Danisa mengalir. Ia gemetar hebat. Seumur hidup belum pernah Danisa berada di posisi ini. Mereka berhasil merebahkannya di atas sana.


Danisa meronta-ronta saat pria bertopeng itu hendak menjamahnya. Pria tersebut hendak membungkam mulut Danisa dengan mulutnya.


Cuiiihhh. Cuiiiiiih.


Danisa meludah wajah mereka.


"Gadis sialaan! " Pria tersebut semakin brutal dan berhasil merobek blazer yang Danisa kenakan.


Buuugggg.


Danisa menendang salah satu alat vital pria bertopeng. Orang tersebut mengerang sakit. Danisa mengambil kesempatan dengan langsung berlari ke arah pintu. Namun sayang, ia kembali disergap oleh pria satunya.


"Mau kemana kau gadis tengik?! " Pria tersebut mencengkram kuat leher Danisa. Ia kesulitan bernafas. Pria bertopeng kembali menghempas kasar Danisa ke atas dipan. Ia mati-matian menahan ketika mereka kembali mencoba melepaskan pakaiannya. Danisa melawan dengan brutal namun kondisi fisiknya sedang tidak stabil.


Sreekk


Mereka kembali merobek pakaian Danisa. Pundaknya terekspos. Pria tersebut akan menempelkan wajahnya ke ceruk leher Danisa. Sedikit lagi. Lima centimeter lagi. Namun tiba-tiba,


Braaakkkk


Pintu terbuka. Kawanan Pria bertopeng tersentak. Tampak Devan dengan wajah babak belur dan pakaian yang berlumuran darah menggebrak pintu. Ternyata Devan tidak sendiri. Raga juga hadir di belakangnya. Devan dengan sigap membuka jasnya dan menutup tubuh Danisa yang terbuka. Gadis tersebut meringkuk.


"Brengsekkk!!!!! Kalian brengsekkkk!!!" Teriak Devan keras.


Buuuugggg. Ia ikut menghajar dua kawanan yang sedang dieksekusi oleh Raga. Kawanan tersebut tumbang.


"Kita harus cepat pergi dari sini! " Ucap Raga. Devan mengangguk. Ia menggendong Danisa ala bridal. Sesaat Raga terpaku. Ia melihatnya dengan tatapan sendu.


Hujan turun dengan deras. Danisa memberi kode untuk menurunkannya. Gadis tersebut tampak shocked. Raga mengarahkan mereka untuk menuju ke mobilnya yang berada di ujung jalan sana. Namun dari jarak 200 meter mereka bisa melihat sekumpulan kawanan berjubah lainnya berlarian mencari mereka.


"Gawat! Kita harus bersembunyi dulu ke dalam hutan itu! " Tunjuk Raga yang diiringi anggukkan oleh Devan. Mereka terus berjalan. Wajah Devan tampak pucat. Darah segar terus mengalir dari lengannya. Mungkin luka karena sabetan pisau. Danisa menyadari hal tersebut. Ia mengarahkan agar pemuda tersebut berhenti.


"Jangan berhenti di sini! Mereka hampir dekat! Kita harus bergegas!" Sergah Raga.


"Cepat cepat!" Dengan berjalan cepat, Danisa menatap wajah pucat Devan dan bibirnya yang telah berubah warna. Seketika kecemasan bertubi-tubi menyergapnya. Kawanan bertopeng bergerak semakin mendekat.


"Kita sembunyi di gubuk itu! " Tunjuk Raga. Pemuda blasteran itu memimpin Devan dan Danisa untuk masuk ke dalam sebuah gubuk kecil yang kemungkinan besar milik petani.


Mata Devan mulai berkunang-kunang.


Kepalanya pusing. Ia sudah kesulitan untuk membuka lebar matanya. Devan memilih duduk di dekat tumpukkan jerami. Ia memejamkan mata. Danisa yang sedari tadi sudah mengamati ada yang tidak beres pada diri Devan langsung merobek sedikit kain pada pakaiannya. Ia menarik lengan pemuda tersebut untuk memeriksa. Devan tersentak.


"Aku akan melihat lukamu! " Bisik Danisa dengan suara yang hampir tidak terdengar. Devan meringis. Danisa dengan telaten membalut luka Devan. Pemuda tersebut yang awalnya hampir tidak bisa membuka mata berubah menatap Danisa intens. Seketika pandangan mereka bertemu.


"Gawat! Mereka mendekat! " Ucap Raga yang dari tadi memantau situasi di luar. Ia terenyak ketika melihat Danisa mengobati luka Devan. Luka tersebut menganga lebar. Devan mulai menggigil.

__ADS_1


***


IG: @alana.alisha


__ADS_2