
“Dok, sudah beberapa jam berlalu. Bagaimana keadaan papa?” Tanya Rania dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
“Aku baru mendapat kabar bahwa keadaan kakek Rowan semakin membaik! Aku optimis operasi akan berjalan sukses di tangan dokter hebat Dan Ara!” Ucap Rudi menenangkan. Rania berkaca-kaca. Wanita cantik ini mengencangkan doanya.
Tidak bisa dibiarkan! Kalau kakek Rowan selamat, itu artinya Danisa akan selamat dari hukuman pembunuhan. Aku harus melakukan sesuatu. Gumam Jihan.
“Tante, Jihan permisi dulu! Jikan ingin merenungi kesalahan-kesalahan yang sudah Jihan lakukan dengan gegabah. Tidak lama, Jihan akan kembali untuk menemani Tante!” Rania mengangguk.
Mau kemana dia? Ada yang aneh! Devan mengerutkan kening. Pemuda ini mulai melangkah membuntuti Jihan. Namun sebuah panggilan telpon membuat ia mengurungkan niatnya.
“Halo Tuan Dev, saya ingin mengabarkan kalau nona Danisa sudah tidak berada di kantor polisi! Beliau menggunakan pengacara ternama sebagai penjamin atas kebebasan bersyaratnya” Asisten bayaran melaporkan terkait penyelidikan Danisa atas titah Devan.
Bebas bersyarat? Bagaimana bisa? Siapa Sebenarnya gadis itu? Dia sangat misterius. Gumam Devan mengerutkan keningnya. Berpikir.
“Sekarang dimana Danisa berada?”
“Saya kehilangan jejak nona Danisa, Tuan!”
“Lacak dimana keberadaannya! Kerahkan beberapa orang untuk mencari! Segera kabari aku!” Titah Devan lagi.
“Baik Tuan!”
Devan mengusap wajahnya kasar. Ingin rasanya ia memberitahu Raga perihal Danisa dan keyakinan kuatnya bahwa Danisa tidak bersalah. Namun Situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Ia menatap raut wajah cemas Raga. Sahabatnya tersebut berulang kali melihat ke arah jam tangannya.
Di sisi lain, Jihan berjalan mengendap-endap. Ia memikirkan jalan pintas untuk menggagalkan operasi yang dokter hebat lakukan. Sebagai seorang dokter, ia tau persis bagaimana akses memasuki ruang bedah ketika operasi tengah dilakukan. Dan itu, Hanya ada SATU CARA.
Drrrrrttt Drrrrtttt
Handphone-nya berbunyi. Konsentrasi Jihan buyar. Gadis ini melihat ke kanan dan ke kiri waspada. Masih tersisa 7 menit waktu untuk masuk ke dalam ruang bedah, Jihan memutuskan untuk mengangkat telpon terlebih dahulu.
“Jihan, kau gagal lagi!”
“Maaf Mr. X, Dokter hebat misterius itu menggagalkan rencanaku. Padahal aku sudah berhasil meringkus Danisa dan menjebloskannya ke dalam penjara” Lirih Jihan.
“Mengurus seorang gadis bisu saja kau tidak becus!” Hardik Mr. X dari seberang.
“Maaf, tapi aku masih memiliki cara bagaimana agar Danisa di tetapkan sebagai tersangka tunggal dalam kasus kakek Rowan!”
“Apa rencanamu? Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Mr. X penasaran. Jihan menceritakan rencananya secara gamblang sambil melirik ke kanan dan kiri. Khawatir ada yang menguping pembicaraannya.
“Good! Lakukan rencanamu dengan rapi! Kali ini jangan sampai gagal! Aku sudah muak mendengarkan kegagalanmu! ” Titah Mr. X menutup pembicaraan sepihak. Jihan melirik jam tangannya. Tidak ada waktu lagi. Jihan pun bergegas.
Jihan masuk ke dalam ruang perawat lalu mengambil salah satu pakaian dari mereka yang bertugas dan dengan cepat memakainya.
Tiiiiing.
Bel pergantian shiff berbunyi. Walau rencana dadakan, Jihan tetap memakai kecerdikan otaknya. Melalui salah satu asisten, Jihan sudah terlebih dulu mengirimkan pesan pada perawat yang seharusnya bertugas untuk tidak masuk ke dalam ruangan bedah karena sudah di gantikan oleh perawat khusus.
__ADS_1
Jihan bertekad kalau kali ini usahanya tidak boleh gagal.
Jihan membuka pintu. Dengan langkah pasti, ia memasuki ruangan bedah. Tampak olehnya dokter hebat Dan Ara yang tengah fokus pada perkerjaannya. Jihan mengerutkan kening. Dari tampilan postur sang dokter, sangat jelas menunjukkan bahwa usia dokter hebat tersebut masihlah sangat muda.
Sreeeettt
Awww. Tiba-tiba Danisa tidak sengaja melukai jarinya dengan pisau bedah. Gadis ini terhuyung. Konsentrasinya menjadi sedikit buyar.
“Dok, tolong lanjutkan penyayatan di bagian perut! Tanganku terluka!” Danisa meminta tolong pada Charles.
“Dan Ara, are you okay?” Danisa mengangguk dan sedikit mundur. Darah menetes-netes. Mr. Charles bergerak cepat menggantikan gadis tersebut. Beliau mengambil alih pekerjaan.
“Pisau no. 4!” Titah Charles. Jihan yang menyamar sebagai perawat memberikan pisau yang di sebut.
“Gunting!” Lanjut Charles lagi. Danisa mengamati gerak monitor jantung sambil mencoba menghentikan aliran darahnya yang masih menetes. Monitor menunjukkan detak jantung kakek Rowan masih sangat stabil.
“Dan Ara, I am not sure. Aku tidak begitu yakin” Charles menggelengkan kepala melihat jaringan parut yang me-nganga dibagian dalam. Benar-benar sulit.
“Biar aku yang melanjutkannya!” Danisa kembali mendekat.
“Tapi tanganmu?” Mr. Charles cemas.
“I’m okay. Dokter istirahatlah sebentar! Aku melihat Dokter tampak kelelahan! Operasi masih panjang sampai berjam-jam ke depan. Tolong tetap sehat, Dok! Aku butuh semangat dari dokter!” Danisa kembali mengambil alih pekerjaan dengan cekatan. Mr. Charles terharu. Betapa bijaksana dan bertanggung jawabnya seorang gadis belia yang ada dihadapannya. Pengacara kondang ini memilih untuk duduk beristirahat di dalam ruangan yang di pisah oleh pembatas kaca.
Danisa melanjutkan operasinya. Semangatnya kembali berkobar melihat kestabilan kondisi sang kakek. Di sela-sela waktu, Jihan mengedarkan pandangannya. Ia mencari celah kelemahan dokter yang menangani bedah untuk melancarkan misinya.
Di luar ruangan, Raga masih mondar mandir menanti kabar. Sudah berjam-jam namun ruangan operasi masih menutup rapat.
“Pokoknya Mama tidak akan pernah memaafkan Danisa! Gadis itu benar-benar sudah di luar batas!” Rania menanggapi keluhan putranya. Devan menatap Raga dan menggelengkan kepala. Ia mengisyaratkan bahwa Danisa tidak mungkin melakukan ini semua.
Buuuugh
Lagi-lagi Raga kembali meninju tembok namun kali ini dengan tangan kirinya. Pemuda ini tidak tau bagaimana harus melampiaskan perasaan negatif yang bersarang ditubuh.
“Nak, stop! Kamu melukai dirimu sendiri!” Rania menangis.
“Ga! Raga! Gunakan akal sehatmu! Jangan seperti anak kecil! Kita semua menanti kabar kesembuhan kakek! Jangan menambah masalah! Tanganmu bisa remuk dan kau bisa di rawat!!” Hardik Devan keras. Lutut Raga lemas. Ia merosot ke lantai.
Tiga jam berlalu. Empat hingga lima jam. Keluarga besar yang berjaga sempat pulang dan kembali membersamai Raga dan Rania.
Di dalam ruangan bedah, Danisa masih terus mengupayakan yang terbaik. Ia dan Jihan yang menyamar sebagai perawat berkolaborasi menjalankan operasi.
Danisa akan menyayat bagian perut. Ini adalah langkah terakhir sebelum operasi berakhir. Dokter hebat ini menguak kedua bagian dinding perut kakek Rowan. Jihan pun bersiap-siap melakukan sayatan pada bagian tepi sesuai prosedur yang telah Danisa titahkan. Namun tiba-tiba,
“Stop! Stop! Hentikan!” Teriak Danisa menghentikan laju operasi. Jihan menyayat tidak sesuai aturan. Gadis ini malah mengarahkan pisaunya ke bagian empedu. Malang, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan. Mr. Charles tampak tertidur di ruangan dengan pembatas kaca.
“Stop!!! Ini berbahaya!!” Danisa masih berteriak. Ia ingin menghentikan pergerakan jihan namun tangannya malah kembali terluka terkena sabetan pisau tajam yang berada di tangan Jihan. Kali ini luka Danisa jauh lebih dalam. Darah segar kembali mengucur.
__ADS_1
“Dokter Charles, tolong hentikan wanita ini!!!” Di tengah kepanikan, Danisa melempar salah satu pisau bedah ke kaca ruangan tempat Charles berada. Pengacara kondang tersebut terbangun. Ia langsung sigap melihat apa yang terjadi.
“Danisa, tanganmu berdarah! Kenapa jadi kacau begini?” Charles yang tidak tau menau malah panik.
“Perawat ini sangat berbahaya!” Tunjuk Danisa. Kepergok Charles, Jihan tidak tinggal diam. Kepalang basah, ia memilih untuk kabur dari ruangan sembari berharap operasi yang dilakukan gagal total.
“Aku akan mengejarnya!” Ucap Charles.
“Tidak, kita selamatkan kakek terlebih dahulu!” Sahut Danisa tegas. Matanya berair.
“Tapi tanganmu?” Charles melihat darah yang masih mengucur. Ngilu.
“Dok, pisau no 5!” Titah Danisa masih terus melanjutkan pekerjaannya. Charles yang tersentak langsung memberikan apa yang Danisa inginkan.
“Gunting”
“Jarum”
“Sedikit lagi dok, kita bisa!!!” Danisa menahan rasa nyeri di tangannya.
Sreg sreg sreg
Danisa mulai menjahit perut kakek Rowan. Nafas gadis tersebut sudah terdengar tidak beraturan. Namun ia tetap berkonsentrasi mengupayakan yang terbaik.
Sedikit lagi. Ku mohon… Bertahanlah! Danisa mensugesti dirinya sendiri.
“Jahitan terakhir!” Danisa menatap Charles yang mengangguk.
Sreg Sreeg Sreeeg.
Jahitan terakhir sukses. Namun Danisa tiba-tiba jatuh pingsan. Gadis ini kehilangan banyak darah.
***
Mr. Charles keluar dari ruangan operasi dengan wajah muram. Semua antensi dan harapan tertuju pada nya.
“Bagaimana Dok?” Wajah wajah pucat menanti kabar kembali terlihat panik. Melihat raut wajah Charles, kecil kemungkinan pembedahan berhasil dilakukan. Rania bersiap pingsan menanti kabar.
“Keluarga Rowan Spancer!”
Deg.
“Syukurlah! Operasi berjalan lancar” Ucap Charles. Rania dan Raga saling berpelukan haru. Mereka luar biasa bahagia.
Kenapa harus Mr.Charles? Apa pengacara ini yang melakukan operasi? Apa dia adalah dokter hebat yang dimaksud? Devan mengerutkan kening.
***
__ADS_1
Teman-teman, Jangan lupa like komen vote n hadiahnya biar author tambah semangat yaa 🤗🤗🤗 jazakumullah khaer, semoga Allah memudahkan semua urusan teman-teman sekalian ❤🧡💛💚
***