Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 18: Mata Terbelalak Sempurna


__ADS_3

Danisa berjalan seorang diri keluar dari gerbang kampus asrama. Jujur saja pikirannya agak terusik dengan munculnya Mira. Wanita yang mengaku sebagai istri sah ayahnya itu tidak pernah puas mengganggu ketenangan keluarga bahkan sampai ayah dan ibunya sudah tiada sekalipun. Mereka pasti tidak akan diam dengan apa yang sudah terjadi. Apalagi Danisa dengan penuh keberanian mengancamnya dengan selembar kertas.


Danisa terus saja berjalan dengan pikiran yang terus menari-nari. Mengingat satu peristiwa ke peristiwa lainnya dengan ia runtutkan. Sampai tiba-tiba dari ujung jalan sana Jihan muncul menghampirinya tanpa ia sadari.


“Hey, gadis bisu!!” Panggil Jihan kasar. Ia sama sekali tidak memiliki sopan santun dan masih memandang Danisa dengan tatapan rendah. Danisa tetap tidak mempedulikannya. Ia terus saja berjalan dengan wajah datar.


“Hey, apa kau tidak tau kalau aku dan Devan sangat dekat?” Tanya Jihan yang mulai kesal melihat Danisa begitu acuh.


“Aku dan Devan saling mengenal sejak kami baru lahir. Dia sangat menyayangiku. Dari dulu kami sering terlibat dalam kegiatan yang sama. Ia seperti takut kehilanganku. Kau datang dan mengacaukan semuanya! Kau memang gadis bisu yang tidak tau diri!” Ucap Jihan memanas-manasi. Danisa mengambil handphone nya. Seperti biasa, ia kembali mengetikkan sesuatu di sana.


“Benarkah? Tapi aku sama sekali tidak melihatnya demikian. Ketika ada kasus, Devan malah membelaku dengan menyuruhmu diam! Devan sangat membenci mu! Kasihan sekali kau!” Ketik Danisa. Perkataan wanita ini membuat Jihan terdiam tak berkutik. Ia mengepalkan tangan menghadapi Danisa yang melenggang pergi meninggalkannya seorang diri.


***


Pukul 13.35 Wib. Danisa berencana untuk tidak masuk kerja di siang hari. Danisa ingin ke perpustakaan untuk mencari data yang diperlukan oleh operasi nanti nya. Ia tidak ingin gagal dalam eksekusi kali ini. Sudah banyak pasien yang berhasil ia operasi. Sejauh ini belum ada yang gagal. Danisa hanya bisa berharap Tuhan juga akan menolongnya seperti biasa. Kali ini, harapannya pun tetap sama.


Danisa segera masuk ke dalam apartemen dan ingin bersiap-siap. Percekokan bersama Jihan yang di anggap ringan tetap saja menyita banyak waktunya. Danisa mengambil handuk dan pakaian ganti. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan sedikit merendamkan tubuhnya di bak air hangat.


Danisa keluar dengan baju handuknya, di luar sedikit mendung dan cuaca agak dingin. Ia pun memilih sweater berbahan rajut untuk di kenakan. Setelah itu, ia langsung melesat keluar rumah setelah menghabiskan makan siang yang tadi ia persiapkan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


***


Perpustakaan Umum


Danisa duduk di sebuah kursi. Tak sampai sepuluh menit, Gadis ini telah selesai memilih-milih buku yang penting untuk ia baca. Danisa berencana akan meminjamnya. Buku yang ada ditangannya dirasa sangat menarik dan memicu rasa penasarannya.


Ddddrrttt Drrrt


Danisa tengah membaca buku ketika sebuah pesan masuk ke dalam handphone-nya. From Raga. Salah satu pihak yang terlibat dalam melakukan operasi nanti.


“Siang dokter hebat Dan Ara” Raga melayangkan pesan dengan kalimat basa basi di awal.


“Bagaimana tentang persiapan operasinya dokter?” Ketik Raga lagi.

__ADS_1


“Sudah berjalan 75 persen” Sahut Danisa apa adanya.


“Baguslah. Semoga semua seperti yang kita harapkan”


“Oh iya, yang akan anda operasi adalah kakekku sendiri. Semoga Dokter bisa melakukan yang terbaik!” Lanjut Raga lagi.


“Baiklah. Aku akan melakukan semaksimal dan sejauh yang ku mampu. Jangan lupa tolong rekamkan semua kegiatanku nanti di meja operasi. Agar aku juga bisa memantau keadaan beliau nantinya” Pinta Danisa.


“Okay. Terima Kasih Dokter Dan Ara!”


Danisa kembali meletakkan handphone nya di dalam tas. Ia lanjut membaca informasi yang berkaitan dengan operasi.


Beberapa komplikasi dapat terjadi setelah pasien menderita penyakit hati terkait alkohol. Komplikasi yang terjadi dari hepatitis dan sirosis alkoholik adalah hipertensi porta, di mana tekanan darah pada pembuluh darah vena di sekitar hati meningkat.


Pada saat mulai tumbuh jaringan parut pada hati, darah sulit bergerak melalui jaringan tersebut sehingga tekanan dalam pembuluh darah yang menuju hati meningkat. Pada saat itu, darah mencari jalan alternatif untuk kembali ke jantung, yaitu pembuluh darah kecil di sekitar kerongkongan atau esofagus. Banyaknya darah yang mengalir, membuat pembuluh darah kecil ini melebar dan disebut sebagai varises esofagus. Jika tekanan terus bertambah, dinding varises dapat pecah dan menimbulkan perdarahan. Perdarahan ini dapat menimbulkan keluhan muntah darah dan buang air besar berdarah, dengan warna kehitaman.


Hipertensi pada pembuluh darah di sekitar hati, yang disebut sebagai hipertensi porta, juga dapat memicu penimbunan cairan pada perut dan sekitar usus yang disebut asites. Jika pada tahap awal, asites dapat diatasi dengan tablet diuretik. Namun saat timbunan cairan semakin banyak, cairan harus dikeluarkan dengan cara memasang selang panjang di bawah kulit untuk mengeluarkan cairan (pungsi asites atau parasentesis). Timbulnya asites pada penderita sirosis berisiko menimbulkan peritonitis atau infeksi di dalam rongga perut yang berbahaya.


Pada penderita penyakit hati terkait alkohol, terutama hepatitis atau sirosis alkoholik, hati tidak bisa berfungsi menghilangkan racun dari dalam darah. Akibatnya, kadar racun amonia dalam darah semakin tinggi. Kondisi ini disebut sebagai ensefalopati hepatikum.


Penderita penyakit hati terkait alkohol juga rentan terhadap timbulnya kanker hati. Diperkirakan 3-5% penderita sirosis alkoholik, dapat berkembang menjadi kanker hati.


Danisa terus membaca. Dari bacaan ringan ke bacaan yang berat. Ia benar-benar ingin memahami nya dengan baik. Padahal kemampuan medis yang ia miliki sudah sangat luar biasa.


***


“Gimana? Udah lu tanya ma dokter ahli bedah itu?” Tanya Devan ketika melihat Raga memasuki ruangan kantornya.


“Ya, Dokternya udah melakukan 75 persen persiapan!”


“Good! Aku ingin melihat sejauh apa kehebatannya!” Devan menyunggingkan senyumnya. Ia teringat ketika menelepon dan mengobrol bersama dokter tersebut. Suaranya terdengar sangat muda.


“Ya, semoga dia tidak mengecewakan karena kita sudah membayar dengan sangat mahal!” Lanjut Raga lagi. Ia duduk lalu memutar santai kursinya.

__ADS_1


Drrrrttt Ddddrrrtttt


Handphone Devan berbunyi. Ia merogoh sakunya. Sebuah panggilan dari Jihan.


Ck. Devan berdecak. Ia memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut.


“Kenapa ga di angkat?”


“Jihan yang nelpon. Males gue!” Ketus Devan.


“Hahahahaha”


Dddrrrrrrtttt Drrrrtttt


Tidak lama, handphone tersebut kembali berbunyi. Tidak sekali dua kali. Namun berkali-kali.


Aaargghhh


Devan menyerah. Ia pun mengangkat telpnya.


“Ya, ada apa?” Tanya Devan tak ramah.


“Dev, gawat!”


“Gawat kenapa?!” Devan mengerutkan keningnya.


“Tante Ranti dipukul oleh Danisa. Sekarang tante sedang menuju rumah sakit!” Jihan membuat pengaduan.


“Apa??!!” Mata Devan terbelalak sempurna.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤

__ADS_1


IG @alana.alisha


***


__ADS_2