Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 32: Ruangan Yang Di Sabotase


__ADS_3

Hhhh Hhhh


Nafas Jihan terdengar tidak beraturan. Ia berlari terengah-engah. Jihan dengan cepat membuka pakaian perawat yang tadi diambil secara illegal dan memerintahkan asisten membakarnya untuk menghilangkan barang bukti.


Shiiit! Siapa dokter hebat sialan itu? Ia telah menggagalkan semua rencanaku! Umpat Jihan. Gadis ini mengingat-ingat kejadian di ruang operasi yang tadi berlangsung. Jihan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kelihaian dokter Dan Ara dalam melakukan operasi. Ilmunya sangat tinggi. Tapi kenapa ia tidak mau menunjukkan identitasnya? Apa motif dokter itu sebenarnya?Jihan mondar mandir berpikir keras.


Sreeeg


Seseorang menepuk pundaknya.


Deg


“Mira? Huh! Kau mengagetkanku!” Jihan meraba letak jantungnya. Terkejut.


“Operasi Rowan Spancer berhasil”


“I know! Semua ini karena dokter tengik itu!”


“Siapa dia?”


“Entahlah! Yang jelas aku sudah membuat tangannya terluka! Luka tersebut akan membuat jaringan parut dan nanti kita akan lebih mudah membongkar identitasnya!” Sahut Jihan.


“Saat ini aku harus membereskan Danisa terlebih dahulu! Gadis bisu itu diam-diam sangat berbahaya! Bisa-bisanya dia mencari simpati Charles hingga pengacara ternama itu berpihak padanya!” Lanjut Jihan lagi.


Anak itu... Huh. Mira mengepalkan tangannya.


"Apa kau punya rencana lain? " Tanya Mira. Jihan menarik sudut bibirnya ke atas.


Sedangkan di ruang rawat inap khusus, transfusi darah sudah di lakukan terhadap Danisa. Selang infus terlihat menghiasi tangannya. Prof. Daniel, juga Mrs. Smith hadir serta. Mereka menatap cemas gadis belia yang terbaring lemah di hadapannya.


“Aku bangga padamu, Nak!” Mrs. Smith mengusap kepala Danisa.


“Kita harus mengabarkan Nenek Paula!” Ucap Prof. Daniel, Mrs. Smith mengangguk.


“Tidak… Jangan, Dok! I am okay! Aku takut nenek malah khawatir padahal kondisiku baik-baik saja!” Lirih Danisa. Ia melepas jarum infus dan bangkit berdiri.


“Apa yang kau lakukan Danisa?!”


"Aku harus mencari tau siapa perawat yang masuk ke dalam ruangan operasi! Gesture tubuhnya terlihat tidak asing!"


"Istirahat lah! Ada Mr. Charles dan Mr. Rudi yang tengah menyelidiki nya! Aku juga sudah mengerahkan beberapa orang-ku!" Sergah Prof. Daniel. Danisa menggeleng.


"Lihatlah, aku baik-baik saja! " Danisa memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri agar Prof. Daniel dan Mrs. Smith percaya bahwa ia baik-baik saja.


"Tapi tanganmu terluka! "


"Hanya sebuah luka ringan. Aku hanya kehilangan banyak darah selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan! " Sahut ada Danisa lagi.


"Sama seperti nenekmu, Kau benar-benar keras kepala! " Mrs. Smith mengacak rambut Danisa dan menggelengkan kepalanya.


***


"Apa? Danisa menghilang?! " Jihan kehilangan jejak Danisa.


"Ya, sejak berhasil lolos dari kantor kepolisian, nona Danisa tidak bisa kami lacak keberadaan nya! " Sahut orang bayaran dari seberang. Mereka berbincang melalui media handphone.


"Toloo*l! Mengawal seorang Danisa saja bisa tidak becus!!" Hardik Jihan.


"Maaf nona... tapi... "

__ADS_1


Tiiit Tiiiitt. Gadis ini menutup telepon sepihak.


Aaaarrghhhh. Danisa benar-benar licin seperti belut! Aku benci dia! Aku sangat membenci nya!!! Kenapa keberuntungan selalu berpihak padanya?! Kenapa?! Pekik hati Jihan. Marah. Ia melangkah ingin meninggalkan rumah sakit. Namun,


"Hhhhh Hhhhh Jihaaaaan! Tunggu! " Lagi-lagi Mira memegang pundak Jihan.


"Kau lagi! Ada apa?! Aku tidak punya banyak waktu!" Jihan menatap Mira dengan tatapan tajam. Mood nya benar-benar sedang tidak baik-baik saja.


"Aku melihat Danisa! Ia ada di rumah sakit ini"


"What?! Bagaimana bisa?! Jihan memutar bola matanya.


" Mungkin ia ingin menjenguk kakek Rowan yang selamat dari operasi"


"Benar-benar tidak tau malu! Muka badak! " Umpat Jihan murka.


"Tapi baiklah... aku tidak perlu jauh-jauh dan repot-repot mencarinya! Hahahaha" Jihan terbahak-bahak.


"Lalu dimana dia sekarang? "


***


"Dev, kau mau kemana? " Tanya Raga yang melihat Devan keluar dari ruangan.


"Aku mau mencari Danisa! " Sahut Devan.


"Bukannya Danisa di penjara? "


"Danisa sudah dibebaskan. Berkat bantuan Mr. Charles, dia dibebaskan bersyarat! "


"Apa? Mr. Charles?! Beliau membantunya?! Siapa Danisa sebenarnya? Apa hubungan tunanganmu dengan Tuan Charles? Dan apakah benar tuan Charles adalah dokter hebat yang selama ini kita cari? " Raga mengerutkan keningnya heran. Terlalu banyak misteri dan teka-teki yang belum terjawab.


"Sedari awal aku juga yakin Danisa tidak bersalah. Tapi semua bukti mengarah padanya! Kita harus menemukan Danisa dan mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi! " Sahut Raga. Devan melirik ke kanan dan ke kiri.


"Raga, apa kau tidak curiga pada sahabat ibumu itu?" Bisik Devan di telinga Raga.


"Sahabat ibu-ku?! "


"Ya... Siapa dia? Apa kau mengenalnya?!" Raga menggeleng. Mereka berdua mengambil langkah menjauhi dari ruangan rawat inap kakek Rowan.


"Sebelum kejadian ini, dia adalah orang yang mengaku sebagai ibu tiri dari Danisa! "


"What?! Apa dia benar-benar ibu tiri Danisa?! "


"Entahlah. Dan, yang lebih mengherankan... Dia ada di tempat yang sama ketika Danisa dituduh mencelakakan kakek Rowan! Dia pula yang melaporkan pada polisi! "


"Unbelievable! "


Aku tau kau gadis desa! Kau gadis bisu! Tapi tidak seharusnya kau memilih jalan pintas dengan mempermalukan keluarga! Kenapa kau harus menjual diri?!


Aku memang hanya-lah ibu tirimu tapi tidak seharusnya kau keluar dari rumah! Kata-kata Mira terngiang-ngiang di telinga Devan.


"Aku akan menyuruh orangku untuk menyelidiki siapa perempuan yang mengaku sebagai ibu tiri Danisa tersebut! "


"Aku juga akan membantumu! Aku juga ingin bertemu Danisa dan meminta maaf padanya. Bagaimana pun aku hanya diam saja ketika ia mendekam di balik jeruji besi! " Raga merasa bersalah.


"Okay, Ikut aku!" Ajak Devan.


***

__ADS_1


Setelah memastikan tangan dan kondisi kesehatan nya baik-baik saja, Danisa memasuki ruangan perawat untuk meminta daftar list jam kerja perawat yang bertugas di hari ini untuk memastikan siapa perawat yang masuk ketika ia tengah melakukan operasi.


Namun anehnya, perawat tersebut mengaku bahwa ada orang lain yang menggantikan nya. Ia tidak berbohong. Danisa melihat alibi yang sangat tepat. Dikarenakan seseorang menggantikan nya, maka perawat tersebut pun langsung mengambil alih tugas perawat lain yang tengah sakit.


Sudah pasti ruangan kakek Rowan ada yang menyabotase! Gumam Danisa. Ia berpikir keras.


Aku harus melihat ulang rekaman CCTV! Lanjut Danisa lagi.


Gadis ini langsung bergerak meninggalkan ruangan. Ia melangkah cepat untuk meminta video CCTV kepada teknisi.


Luka di tangannya menyebabkan Danisa sedikit kesulitan dalam mengetik. Namun itu semua tidak menghalangi nya mendapatkan apa yang ia mau. Tak lupa Danisa menunjukkan identitas dirinya yang merupakan seorang dokter.


Aku harus meminta bantuan Prof. Lee untuk membaca gesture tubuh! Gumam Danisa setelah video rekaman CCTV berada di tangannya.


Gadis pintar tersebut dengan cepat bergerak keluar rumah sakit. Namun di pojokan jalan,


Ciiaaaaat...


Seorang wanita tiba-tiba menyerangnya. Wanita tersebut menyerang Danisa dengan sebuah pisau tajam. Ilmu karate yang dimiliki oleh Danisa menyebabkan nya mampu menghalau serangan dadakan tersebut.Jalanan benar-benar sepi. Tidak ada kendaraan yang melintas di sana.


Wanita tak dikenal yang memakai masker terus menyerang Danisa. Ilmu bela dirinya juga lumayan. Ia mengarahkan pisaunya ke segala sisi. Luka di tangan Danisa membuatnya kewalahan.


Tak jauh dari keberadaan mereka, Jihan yang ada di dalam mobil melihat dengan bahagia. Orang suruhan nya ternyata bisa diandalkan.


"Hahahaha good... Mira... kau lihat itu?! Danisa hampir K.O, Dia tidak berdaya! hahahaha" Jihan terbahak-bahak. Mira mengangguk-angguk.


Anak Daisy harus dimusnahkan dari muka bumi ini! Ucap batin Mira.


Sreeeet


Danisa meringis. Ia tersungkur. Pisau tersebut kembali membuka luka di tangannya. Darah segar kembali mengucur.


Siapa wanita ini?! Danisa mulai berkunang-kunang. Kepalanya pusing.


Wanita asing tersebut tidak tinggal diam. Ia mengangkat pisau nya dan kembali menyerang Danisa.


Ciaaaaatttt


Triiiing


Danisa berguling ke arah kiri. Pisau terhempas ke aspal dan tidak sempat menancap di tubuhnya. Waktu seolah terhenti. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya.


Ciiiiiitt


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Wanita tak dikenal tersebut langsung lari tunggang langgang. Seorang pria tampan keluar dari mobil.


"Heiiii Berhenti!!!!!" Panggil orang yang baru keluar dari mobil.


Pria tersebut dengan sigap langsung mengangkat Danisa ala Bridal.


Devan?! Gumam Danisa. Devan masuk ke kursi bagian belakang. Ia menidurkan Danisa di sana lalu kepala Danisa di topangkan ke atas pangkuannya.


"Raga, kembali ke rumah sakit! Kita ke UGD!" Titah Devan lalu pria ini mengambil sapu tangan dan membalutkan luka yang ada di tangan Danisa dengan sapu tangan putih miliknya.


***


Guysssss... jangan lupa like komen vote hadiahnya biar author nya semangat... okay okay? 🤗


Informasi dan pertanyaan boleh ke 👇

__ADS_1


IG: @alana.alisha


__ADS_2