Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 9: Berada Di Atas Angin


__ADS_3

Danisa sontak bangkit. Ia menggeser jendela dan mengintip keluar melihat siapa orang dengan pemilik suara tawa menggelegar tersebut. Pria yang berada di luar ruangan bisa melihat Danisa dari balik kaca yang tembus pandang. Beliau tersenyum. Danisa terperangah, orang tersebut adalah Dr. Charles, sang kuasa hukum.


Menyadari kehadiran Dr. Charles, Ibu dari korban yang bernama Mila buru-buru beranjak menghampiri. Ia bangkit dari duduknya dengan memasang wajah sendu seolah-olah sedang mencari keadilan.


“Mr. Charles, perkenalkan! Saya adalah Noori. Ibu dari korban kekerasan yang disebabkan oleh Danisa. Anak saya bernama Mila. Saat ini saya tengah mencari keadilan untuk-nya” Ucap Noori. Wajahnya dibuat sesedih mungkin sampai airmata memupuk di sana. Matanya berembun.


“Bolehkah jika kita duduk berbincang? Saya akan menceritakan kasus saya!” Pinta Noori menangkupkan kedua tangan-nya menohon. Tidak ada pilihan, orang yang terkenal dengan sebutan raja persidangan tersebut mengiyakan. Mereka berjalan memasuki sebuah ruangan kosong dan duduk dengan saling berhadapan.


“Mr. Charles yang terhormat.. Saya mohon.. Ungkaplah keadilan untuk anak saya yang bernama Mila. Sebagai ibu,, hati saya benar-benar sakit dan terluka. Karena anak satu-satunya yang begitu saya sayangi diperlakukan secara semena-mena!” Noori mulai mengungkapkan pengaduannya. Mr. Charles hanya diam mendengarkan dengan saksama seolah beliau peduli dengan semua yang wanita itu katakan.


“Bagaimana duduk perkara kejadian?” Tanya Pengacara kondang dengan wajah serius.


“Semalam itu, wajah anak saya di rusak oleh orang yang bernama Danisa. Dia menampar dengan keras. Tidak hanya itu saja, wajah Mila sampai memar dan bonyok! Wajah indah anak saya menjadi sangat memprihatinkan” Sahut Noori menjelaskan apa yang pengacara terkenal itu tanyakan. Air mata Noori pun sukses berhamburan. Ia melaporkan apa yang Mila alami namun dengan agak dilebih-lebihkan. Mr. Charles mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah mengerti.


“Maka dari itu, saya mohon pak pengacara mau menegakkan keadilan. Atas nama Mila, saya Noori Alamsyah memohon agar Mr. Charles berkenan menjebloskan Danisa ke penjara. Antar wanita kejam itu ke dalam penjara selamanya.. Hiks Hiks” Noori semakin memperlihatkan wajah pilunya. Ia menangis sesegukan. Sesekali ia mengusap mata basahnya dengan sapu tangan. Noori memposisikan dirinya sebagai seorang ibu yang menuntut keadilan atas nama anaknya.


“Benarkah kejadian nya seperti itu?” Sebuah kalimat tanya berhasil membuat Noori tersentak.


“A… Apa maksud Mr. Charles?”


“Apa yang Ibu Noori katakan itu adalah sebuah kebenaran? Apa memang benar begitu?” Lanjut Mr. Charles menaikkan sebelah alis dan tersenyum menunjukkan smirk-nya.


“Sss saya tidak mengerti apa yang tuan katakan!" Lirih Noori lagi-lagi mengerutkan keningnya. Wanita ini gagal mencerna apa maksud dari ekspresi wajah tuan Charles.

__ADS_1


“Begini, kita percepat saja…” Mr. Charles masih tersenyum membentuk kurva.


“Bukankah semalam anak ibu yang bernama Mila yang lebih dulu menghampiri Danisa?” Tanya Mr. Charles seduktif.


“I..iya…” Noori mulai gelagapan.


“Tttt… tapi Danisa-lah yang melakukan penganiayaan terhadap Mila. Danisa menampar dengan keras!” Noori masih melakukan pembelaan nya.


“Menampar untuk membela diri setelah diberikan ancaman?!” Tanya Mr. Charles. Walau dengan suara pelan lagi lembut, namun suara itu berhasil mengguncang perasaan Noori. Ia terenyak. Mematung sesaat namun tak lama, Noori mencoba kembali menguasai diri.


“Ada apa sebenarnya Mr. Charles? Apa tuan melakukan kesalahan?” Tanya Noori hampir tak percaya. Mr. Charles menggeleng. Senyuman khas dengan smirk masih menghias jelas di sana.


“Apa tuan bermaksud berpihak pada Danisa?”


“Mr. Charles,,, klien tuan itu seharusnya kami bukan Danisa! Kami lah korban yang sebenarnya!” Tukas Noori. Kali ini ia memberanikan diri menatap wajah tuan Charles yang terlihat lembut serius namun penuh misteri.


“Sayang sekali, maaf bu Noori… Klien saya yang sebenarnya adalah Nona Danisa Maria Anna” Ucap Mr. Charles. Setiap kata-kata yang diucapkan penuh dengan penekanan. Noori tercengang semakin tak percaya.


“Maaf, apakah Devan yang mengundang Mr. Charles dan membayar dua kali lipat untuk membela Danisa?” Noori bertanya pelan. Ia Merasa tidak yakin akan kemampuan Danisa yang mampu membayar pengacara kondang sekelas Tuan Charles yang kini tengah diagung-agungkan.


“Tidak bu Noori, saya tidak di undang oleh Devan atau yang lainnya. Maaf sekali… seperti nya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan! Kalau begitu saya permisi!” Ucap Mr. Charles bangkit dari duduknya. Beliau keluar ruangan meninggalkan Noori yang kembali tercengang. 


Mr. Charles keluar dari ruangan lalu menemui Danisa. Gadis tersebut tampak duduk di sebuah bangku. Sepertinya ia memang menunggu waktu luang dari sang pengacara kondang untuk berbicara.

__ADS_1


“Hi Danisa…” Sapa Mr. Charles ramah. Beliau tampak hangat dengan senyumannya. 


“Mr. Charles… I need your help…” Ucap Danisa dengan Bahasa isyarat.


“I know… It’s okay… all will be fine” Ucap Mr. Charles menenangkan nya. Beliau bersikap berbeda ketika menghadapi gadis yang berada di hadapan nya itu. Sikap ramah dan hangatnya pada Danisa membuat semua orang bertanya-tanya. Terutama anggota kepolisian. Melihatnya mereka tercengang. Padahal Mr. Charles terkenal dengan sikap arogan-nya. Ia juga terkenal sebagai singa podium. 


“Mohon maaf, apakah Mr. Charles dan saudari Danisa saling mengenal sebelumnya?” Tanya petugas kepolisian.


“Ya,, tentu.. Kami memang saling mengenal..” Jawab Mr. Charles elegan. 


“Nona Danisa ini adalah junior saya!” Lanjut beliau lagi. Para petugas mengangguk-anggukkan kepala. Mereka berubah melihat Danisa dengan tatapan penuh hormat. Dengan kata lain, Danisa bukanlah orang sembarangan. Kemungkinan besar apa yang orang tuduhkan padanya tidak lah benar. Terutama untuk kasus pemukulan. Sebab Mr. Charles sangat selektif memilih klien. Beliau menjunjung tinggi nilai kejujuran.


Noori keluar setelah beberapa saat sempat merasa shocked di dalam ruangan. Rasa terkejutnya belum lagi pulih, beliau sudah dihadapkan oleh realita bahwa Mr. Charles dan Danisa terlihat begitu akrab. Deretan gigi rapi Danisa terlihat ketika mereka saling bercakap-cakap. Merasa malu. Noori menatap ke sembarang arah. Melihat Noori yang baru saja keluar dari ruangan tempat mereka bertemu tadi, Mr. Charles mendekatinya. 


“Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar! Jangan bermain-main dengan kebenaran. Pada akhirnya, kebenaran akan selalu terungkap! Walau tidak di dunia, ya diakhirat. Namun satu hal yang harus selalu di ingat! Tidak ada kebohongan ya abadi! Semoga anda paham falsafah ini bu Noori!” Ucap Mr. Charles memberikan peringatan. Beliau menekankan setiap perkataannya. Noori dan para petugas dari aparat kepolisian tercengang.


Danisa yang akan keluar dari kantor tersebut, memberikan isyarat pada Mr. Charles untuk membantu menyelesaikan kasusnya. Pengacara kondang tersebut mengangkat tangan menyetujuinya. Noori melihat Danisa yang berada di atas angin merasa kesal. perasaan nya berubah kalut jadi tidak karuan. 


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤


IG @alana.alisha

__ADS_1


***


__ADS_2