
Devan menyambangi kantor kepolisian. Ia hendak menarik laporan untuk Danisa atas nama Ranti. Langkahnya terhenti. Ia melihat Raga di sana.
“Kau kemana saja?! Kini berita tentang Danisa sebagai kriminal tersebar kemana-mana! Kau juga meninggalkan kantor padahal ada rapat penting!” Raga menarik kerah kemeja Devan. Namun pemuda tersebut langsung menghempaskannya.
“Aku datang untuk mencabut laporan!” Jawab Devan datar. Ia masih kacau, sudah setengah hari ini Devan mencari dimana keberadaan Danisa namun gadis tersebut tidak ditemukan dimana-mana. Danisa bagai lenyap di telan bumi. Padahal Devan tau persis Danisa tengah terluka. Luka tersebut bisa infeksi jika tidak segera ditangani.
Danisa, kau dimana?
“Telat! Aku sudah lebih dulu berusaha mencabut tuduhan yang dialamatkan pada Danisa! Dan siapapun tidak bisa mencabut berkas perkara kecuali tante Ranti sendiri yang membatalkannya!” Sahut Raga.
“Apa??!”
“Dev, mundurlah! Serahkan Danisa padaku! Kau tidak becus menjaganya! Menjauhlah dari Danisa! Pertunangan kalian juga sudah dibatalkan! Kini giliranku, Danisa ditakdirkan untukku! Ia milikku!” Tegas Raga.
“Apa katamu? Cih! Kau sedang berhalusinasi!" Kini giliran Devan yang menarik kerah baju Raga.
"Dengar! Aku belum memutuskan pertunanganku dengan nya. Raga, kau memang sahabatku. Tapi kau tidak berhak memveto hidupku! Dengan kau bersikap seperti ini, aku tidak segan-segan menganggapmu sebagai seorang pengkhianat! ” Devan menghempaskan tubuh Raga hingga pemuda tersebut sedikit terhuyung. Dengan mata yang masih menatap tajam, Devan meninggalkan kantor kepolisian.
Dev, asal kau tau. Aku yang jauh lebih dulu mengenal Danisa! Kalau pun di antara kita ada yang berkhianat, maka kau lah orang nya, bukan aku! Dan Aku... tidak akan pernah menyerah! Raga menatap kepergian Devan dengan menyimpan tekad yang kuat.
***
Mata Danisa perlahan terbuka. Ia siuman karena efek obat bius telah hilang setelah operasi yang dilakukan oleh prof. Daniel. Danisa mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya masih terasa pusing. Namun ia tetap mengedarkan pandangan ke sekeliling.
“Kau sudah siuman? " Sapa Prof. Daniel dari arah yang berlawanan sambil melayangkan senyumnya. Beliau mengambil sebotol air mineral yang masih bersegel lalu membukanya.
“Minumlah!” Danisa berusaha untuk bangkit.
“Aku akan membantumu!” Ucap prof. Daniel sigap.
“Aku bisa bangun sendiri, Prof!” Danisa melepaskan jarum infus yang menancap di tangan. Kekuatannya seolah kembali.
“Hey, apa yang kau lakukan?!” Sergah Prof. Daniel.
“Aku harus segera pergi”
“Kau hanya boleh pergi setelah aku memastikan bahwa kau telah benar-benar pulih!”
“Prof berlebihan, ini hanya sebuah luka ringan!” Bantah Danisa acuh.
“Kau memang keras kepala!” Tukas prof. Daniel. Danisa mengambil topi dan kacamata nya yang terletak di atas nakas.
“Prof, ada berita apa selama aku pingsan?”
“Seperti biasa, kehebatanmu dalam mengoperasi pesien kembali menjadi headline news! Sekarang kau menjadi dokter yang paling dicari untuk melakukan operasi! Tapi berhati-hatilah, belum saatnya identitasmu terbongkar!” Danisa mengangguk.
“Satu lagi, kau juga tengah dikejar pihak oleh kepolisian atas laporan Ranti! Tapi seorang pemuda berhasil mencabut laporan untukmu. Selamat! Barisan pengagummu semakin bertambah!” Prof. Daniel tersenyum sinis.
Devan? Gumam hati Danisa. Ia mengerutkan keningnya.
“Bukan Devan, tapi Raga!” Sambar Prof. Daniel yang seolah bisa membaca isi pikiran Danisa.
Kak Raga? Bagaimana bisa?
“Prof, terima kasih sudah mengobati luka ku! Aku permisi!” Danisa sedikit membungkuk, ia meletakkan dua bungkus coklat miliknya di atas nakas sebagai ucapan terima kasih seperti yang biasa ia lakukan dan kemudian berlalu pergi dengan langkah tergesa.
__ADS_1
Apa Devan masih belum ditemukan? Tante Ranti menuduhku menculiknya. Apa hilangnya Devan ada hubungannya denganku?
“Tunggu!” Sergah Prof. Daniel sebelum Danisa sempat menarik gagang pintu. Gadis tersebut menoleh.
“Jangan mencari Devan. Ia sudah kembali! Tadi aku bertemu dengannya” Danisa terpaku lalu perlahan mengangguk meninggalkan prof. Daniel dengan segudang pikiran yang berkelabat.
Danisa keluar area bersamaan dengan tibanya Devan di rumah sakit. Dengan cepat Devan membuka kaca mobil dan mencoba memanggil Danisa namun gadis tersebut telah lebih dulu masuk ke dalam taxi.
“Pak, sudah berapa lama wanita muda yang baru saja keluar dengan memakai blazer navi berada di sini?” Tanya Devan pada satpam yang bertugas setelah turun dari mobilnya.
“Wah, saya tidak ingat. Tapi sepertinya nona tadi sudah berjam-jam berada di sini, Tuan!” Devan mengerutkan keningnya.
Apa Danisa mengikuti saranku untuk mengobati lukanya di sini? Devan memilih untuk masuk ke dalam rumah sakit menemui Ranti terlebih dahulu. Setidaknya ia sudah mengetahui kalau Danisa baik-baik saja.
Tap Tap Tap
"Sus, apa ada pasien bernama Danisa Maria Anna di sini? " Rasa penasaran membuat Devan melangkahkan kakinya untuk memastikan apa Danisa sudah melakukan pengobatan.
"Tidak ada pasien bernama Danisa di sini, Tuan! " Sahut suster yang berjaga setelah melakukan pengecekan data.
"Coba di cek sekali lagi!" Titah Devan. Suster tetap menggeleng.
"Sudah saya scroll dan masukkan nama di daftar pencarian namun tidak ditemukan, Tuan! " Kening Devan lagi-lagi mengerut.
Jadi Danisa tidak mengobati lukanya? Lalu untuk apa dia ke rumah sakit ini? Gumam Devan cemas. Ia memilih beranjak ke suatu tempat lainnya untuk memastikan rasa penasaran nya.
"Aku mau melihat rekaman CCTV hari ini! " Melihat Devan yang memberi titah, para operator dengan sigap memenuhi permintaan salah satu pemilik saham pada RS. Ramayana tersebut. Mereka berkutat menilik satu persatu video dengan durasi yang dipercepat.
"Nah, ini dia... ini! " Tunjuk Devan bersemangat. Operator CCTV memperbesar gambar yang Devan tunjuk. Pemuda tersebut terkejut saat melihat durasi keberadaan Danisa di rumah sakit. Nyaris seharian ini ia berada di sini.
Danisa kuliah di kedokteran, hmh... Luka di pundak yang persis sama, Harum parfum yang juga sama, keberadaan nya di rumah sakit dan dapat dengan mudah mengakses ruang-ruang khusus di rumah sakit ini serta ia mengenal Charles, Daniel, dan juga Rudi. Bukan suatu kebetulan! Bagai seorang detektif handal, Devan terus berjalan sambil menganalisa.
Hanya perlu satu bukti untuk memperkuat kalau ternyata Danisa adalah....
Puukk
Devan terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya.
"Kau di sini? "
"Prof. Daniel?! "
"Kau memanggilku terlalu formal, sekarang ini kita adalah teman. Panggil aku Daniel!" Prof. Daniel menyunggingkan senyum misterius nya.
"Kau baru dari ruangan CCTV?! " Tanya Prof. Daniel menyelidik.
"Hmh aku baru saja dari toilet! Kau tidak mengajar? " Tanya Devan sembari membalas senyuman yang dilayangkan.
"Aku ada keperluan dengan dokter kepala"
"Oh begitu, baiklah! Aku mau menemui ibuku dulu. Nanti kita berbincang lagi! " Ucap Devan berlalu. Prof. Daniel menatap kepergian nya dengan memicingkan mata.
Jelas-jelas dia dari ruang CCTV. Tapi untuk apa?
Dddrrrttt Drrrrttt
__ADS_1
Handphone yang bergetar di saku celananya cukup membuyarkan lamunan Prof. Daniel.
"Ya, ada apa? " Nada dingin kembali terdengar.
"Mr. Cakrawangsa sudah tiba di tempat yang disepakati, Tuan!"
"Baik, katakan kalau aku sedang menuju ke sana! " Prof. Daniel menutup perbincangan tatapan datar.
Devan melirik ke kanan dan ke kiri dengan mengendap-endap. Ia membuka pintu ruang operasi setelah meminta kunci akses. Kedudukan Devan di rumah sakit benar-benar memudahkannya dalam mengakses tiap penjuru ruangan.
Ceklek
Perlahan Devan kembali menutup pintu. Ruangan telah di sterilkan. Tidak ada lagi aroma anyir darah dan lain sebagainya di sana. Ia berjalan dengan menelusur di setiap sudut. Tidak ada yang luput dari penglihatan nya. Hanya saja memang tidak ada yang ia temukan. Ruangan telah dibersihkan.
Namun tiba-tiba mata Devan menangkap dua pintu yang ada di dalam ruangan tersebut. Salah satu pintu adalah pintu yang diperuntukkan untuk dokter dan perawat yang berlalu-lalang ke ruang operasi terutama saat pergantian shift. Pintu lainnya diletakkan simbol 🚫 yang artinya tidak boleh di akses oleh siapa pun.
Mungkin pintu ini adalah ruangan akses khusus untuk dokter... Hebat. Devan mengerutkan keningnya berpikir. Wajah serius juga wajah penasaran terlihat. Seperti mendapatkan petunjuk, dalam waktu singkat kepingan-kepingan puzzle yang berserakan tersusun dengan baik. Namun kepingan-kepingan tersebut belum menjadi satu gambaran utuh. Ia harus menyempurnakan gambarnya terlebih dahulu.
Ceklek.
Pintu akses dengan lambang 🚫 terkunci.
A**ku harus menemukan kunci pintu ini! Gumam Devan. Hampir saja ia keluar dari ruangan tersebut. Namun laci-laci dan lemari yang ada di sana sedikit mengganggu penglihatannya.
Kreekk Kreekk
Devan membuka laci satu persatu. Alat-alat medis dan obat-obatan terlihat.
Kreekk Kreekk
Devan masih terus membuka puluhan laci yang ada di sana. Tak lupa ia juga membuka satu persatu pintu lemari. Kosong.
Devan kembali beralih membuka laci lainnya. Sebuah baju yang berlumur darah membuat jantungnya kembali berdegup.
"I... Ini baju milik Danisa! "
***
Prof Daniel menghampiri kakek Cakrawangsa yang telah menunggunya dari satu jam yang lalu.
"Kau membuat seorang pengusaha besar sepertiku menunggu, Dan! " Ucap Kakek Cakrawangsa nyaris tanpa ekspresi.
"Aku cukup sibuk untuk bisa menepati janji!"
"Ha.. Hahahaha! Kau terlalu mengejar ambisimu, Nak!"
"Aku masih sehat dan muda! Sudah sepatutnya aku mendapatkan apa yang aku inginkan! Aku tidak butuh hujjah darimu! Dan Aku tidak ingin berbasa-basi! Apa yang kau inginkan?!" Tanya Prof. Daniel seduktif
"Setelah menculik Devan, mengapa kau menyelamatkan nya? Apa motif mu sebenarnya, anak muda?! " Tanya kakek Cakrawangsa dengan menaikkan sebelah alisnya ke atas.
***
Informasi 👇
IG: @alana.alisha
__ADS_1