
“Apa rencanamu hari ini?” Tanya Devan ketika Danisa menyendokkan makanan ke mulutnya. Mereka tengah sarapan bersama di restaurant hotel.
“Bukan urusanmu!” Ketus Danisa acuh.
“Tidak bisakah sedikit saja kau bersikap manis? Lihatlah mata-mata wartawan yang mengamati kita! Aku sudah tidak perlu memberitahukanmu apapun jika sedikit saja kau salah bertindak!” Bisik Devan dengan nada tinggi lalu meletakkan salah satu tangannya ke atas tangan Danisa. Gadis tersebut sontak melototkan matanya. Devan tersenyum sangat manis. Ia menetap Danisa lekat-lekat seolah-olah mereka memang pasangan saling mencintai yang tengah berbahagia.
Devan siaalan! Umpat Danisa tanpa bisa berbuat apapun. Ia harus mengikuti alur yang suaminya ciptakan.
“Mana senyummu?” Bisik Devan lagi. Dengan hati menggerutu Danisa terpaksa melebarkan mulutnya ke kanan dan ke kiri. Devan mengangguk-angguk senang. Sarapan pertama setelah menikah seolah tampak begitu manis.
Para awak media yang sejak awal telah menguntit untuk memastikan hubungan mereka tampak kecewa. Namun para wartawan tersebut masih belum merasa puas. Mereka berencana akan tetap terus memburu berita apapun tentang pasangan yang memiliki banyak kejanggalan itu.
“Kau benar-benar menyebalkan!” Sembur Danisa menutup koper mini nya ketika mereka telah kembali ke kamar hotel. ia bersiap-siap pergi.
“Aku akan mengantarmu!” Sahut Devan mendekat. Danisa bangkit berdiri. Ia menatap pemuda yang ada di hadapan nya tersebut lekat-lekat. Devan mengerutkan keningnya.
Tuukkk!
Sssss.... Devan meringis.
"Ku ingatkan untuk jangan terlalu ikut campur urusanku! Kau bukan siapa-siapa!" Ucap Danisa penuh penekanan setelah menginjak kuat kaki Devan. Ia pun berlalu mengambil masker wajah dan menutup kepalanya dengan topi hoodie yang dipakai.
"Ikuti gadis muda yang memakai hoodie lilac dan membawa koper berwarna senada! " Titah Devan pada 2 bodyguard nya melalui telepon. Ia menutup pembicaraan setelah memastikan semua akan baik-baik saja.
Danisa pergi meninggalkan pakaian pengantin dan cincinnya di sini. Pernikahan ini sama sekali tidak memiliki arti apapun untuknya. Gumam Devan sendu sambil melipat rapi pakaian pengantin dan mengusap-usap pelan cincin pernikahan mereka.
...****************...
Danisa memasuki sebuah pintu bersekat dengan membawa sebuah koper yang ia tenteng sendiri. Ia juga membawa banyak benda tajam bersamanya. Tak lupa, Danisa menyewa 3 bodyguard menyertainya. Bagaimana pun foto Devan kecil yang dilihat nya beberapa waktu lalu sangat membuatnya penasaran. Danisa harus memastikan kebenarannya dengan menemui si pengirim foto. Betapa ia sangat tersiksa, beban yang harus dipikirkannya begitu berat.
Pun sikap Devan tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang kriminal, namun bukan kah Psikopat juga demikian? Pembunuh-pembunuh berdarah dingin memang terlihat normal dan berinteraksi seperti biasa dengan orang-orang disekitar nya. Mereka bisa memanipulasi apapun. Bahkan memanipulasi dirinya sendiri. Sebuah fakta mengerikan yang tidak terbantahkan!
__ADS_1
"Akhirnya kau datang juga! " Terdengar suara dari speaker di dalam ruangan terdengar. Danisa hanya diam sambil tetap waspada.
"Haha! Aku suka gadis pemberani dan penuh rasa percaya diri seperti mu! Walau kau bisu, namun nyali mu sangat besar! Gelar Sang Pembuat Onar memang pantas kau sematkan!" Lanjutnya lagi.
Danisa mengambil handphone menitahkan pada salah satu bodyguard nya untuk menjadi juru bicara.
"Keluarlah!! Nona Danisa tidak butuh basa basi!! "
Driiiiittt
Suara deritan pintu terdengar. Seorang pria bertopeng dengan tingkat besi muncul di dampingi 5 Algojo nya.
Tuk
"Kau tidak takut aku akan menghabisi mu sekarang juga? " Tanya nya dengan menghentakkan tongkat ke lantai. Suara nyaring terdengar. Danisa dengan cepat membuka kopernya. Mengangkat dagu dan sebelah alisnya ke atas. Terlihat banyak dollar yang tersusun-susun di sana.
"Ha... Ha.. Hahaha... Kau memang orang yang pengertian. Aku memang tidak salah mengajakmu berbisnis! "
Prok Prok
Kakek? Kakek Cakrawangsa? Danisa terkejut bukan kepalang. Ia sontak mundur beberapa langkah.
"Me... Mereka membuat ka... kakek....! " Ucapnya terbata.
"Diam kau!! Buughhh!!!" Algojo menendang bagian belakang lutut Cakrawangsa hingga membuat tubuhnya oleng. Danisa menatap bodyguard nya penuh arti. Merasa iba, ia ingin mereka menyelamatkan Cakrawangsa.
"Dia adalah kata kunci dari semua yang kau butuhkan! " Ucap seorang pria bertopeng menunjuk Cakrawangsa.
"Jangan banyak basa basi!! " Bodyguard Danisa angkat bicara.
"Sebenarnya aku malas mengurusi urusan seperti ini. Jujur saja Aku memang bukan orang yang baik. Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi Aku memang tidak butuh apapun kecuali... hmh... uang dollar yang kau bawa, terlihat sangat menarik dan menggiurkan hahaha..." Pria bertopeng mengangkat tongkat mengarahkannya ke koper yang Danisa bawa.
__ADS_1
"Ah sudahlah... Sebenarnya tujuanku mengajakmu bertemu... aku hanya ingin sedikit membalas budi. Aku ingin membongkar kebenaran yang sesungguhnya. Sebab dulu... Daisy Maria Felix dan suaminya terlalu baik padaku..." Ucap pria bertopeng sendu. Danisa sontak mendongak. Sebutan nama lengkap ibunya oleh orang tersebut membuatnya bergetar.
"Kau ingin tau kebenaran yang terjadi kan? Kau ingin tau mengapa seluruh keluarga mu dibantai kan? Tidak hanya ayah dan ibumu... Tapi seluruh keluarga mu habis dibantai tak bersisa..." Lanjut pria bertopeng. Danisa lagi-lagi terperanjat. Pria bertopeng mengetahui semuanya. Segalanya.
"Baiklah... Aku akan mengatakan semua... Memberikan bukti-bukti yang kau butuhkan... Setelah itu aku akan lenyap dari hadapanmu... Setelahnya kau harus mencari jalan sendiri bagaimana cara mu membalaskan dendam... " Pria bertopeng menitahkan asistennya untuk mengeluarkan bukti-bukti. Lutut Danisa terasa lemas.
"Cakrawangsa... Katakan kalau Devan adalah orangnya!!! " Titah pria bertopeng. Cakrawangsa terdiam. Ia menunduk lesu lalu kemudian mengangguk pelan.
"I... ini kesalahan kami yang telah salah mendidiknya... Devan diasuh oleh orang yang salah... Dulu... Ia tumbuh liar di Inggris dibawah asuhan Mr. X yang menaruh dendam pada keluarga mu... Tidak ada yang mengetahui kenyataan ini kecuali aku sendiri... Dulu... Devan yang masih sangat kecil... Devan yang sekecil itu... Bisakah ia dihukum untuk semua kesalahan yang ia sendiri tidak tau telah melakukan apa? Aku tidak tau apa dia sadar atau tidak... " Lirih Cakrawangsa. Danisa sontak merosot ke tanah.
Melihat Danisa yang terduduk, orang yang di sebut Cakrawangsa langsung tersenyum licik ke arah pria bertopeng.
Kenapa perasaan ini ada untuknya... Kenapa harus?? Kenapaaa???!!! Danisa menghardik dirinya sendiri. Mengutuk hatinya. Kenyataan pahit yang tak bisa dielakkan. Kenyataan bahwa sebenarnya memang orang yang baru saja menikahinya adalah pembunuh berdarah dingin yang telah terlatih sejak kecil. Pembunuh berdarah dingin yang sejak kecil dilatih oleh keluarga Mr. X. Pembunuh berdarah dingin yang telah membuat banyak kerusakan.
Danisa terpaku. Tubuhnya membeku. Hatinya terasa sakit. Sangat sakit. Danisa mengerang. Ia sudah tidak bisa menangis. Ia tidak merasa jijik dengan dirinya. Semua terasa sia-sia. Semua benar-benar sia-sia...
Mungkin... lenyap dari dunia ini adalah jalan terbaik.
...****************...
"Dev.... Mengapa kau berada di dapur? " Tanya Ranti mengerutkan kening merasa heran. Selama lebih dari 20 tahun wanita tersebut tidak pernah melihat putranya mengunjungi dapur apalagi menyentuh peralatan masak. Alangkah terkejutnya ia bahwa kini Devan tidak hanya berada di dapur namun ia juga memegang pisau dan sedang memotong wortel.
"Hey... Mengapa kalian hanya diam mematung dan membiarkan Dev mengambil alih semua urusan kalian?! " Lanjut Ranti bertanya pada para asisten dapur yang hanya melihat apa yang Devan kerjakan.
"Jangan memarahi mereka, Mom! Ini semua atas kemauan Dev... Sekarang mami sudah terlihat lebih sehat dari sebelumnya... Malam ini kita semua juga akan berkumpul bersama, kan? Ini kali pertama kita berkumpul setelah sekian banyak peristiwa yang terjadi. Dev sudah sangat rindu. Apalagi ini juga moment pertama setelah Dev menikah. Dev ingin menyuguhkan yang spesial... Tidak ada yang lebih Dev syukuri dari ini semua... " Ucap Devan sumringah sambil memantau handphone melihat resep-resep makanan. Ia terus memotong wortel dan kentang walau tidak terlalu beraturan. Ia juga mempersiapkan banyak daging untuk bahan masakannya.
Mengingat Danisa yang pagi tadi pergi dengan wajah kusut membuat Devan berinisiatif memasak makanan untuknya. Setidaknya Devan berharap masakannya bisa membuat perasaan buruk di hati sang istri menjadi sedikit lebih baik.
Devan mencicipi masakan pertamanya yang masih berada di atas kompor. Ia menyendok ke mulut dengan antusias. Pemuda tersebut mengangguk-angguk berbinar.
"Mom... sini coba rasa masakan Dev! " Ajak Devan bersemangat. Ranti yang sudah mau meledakkan amarah hanya bisa menghela nafas.
__ADS_1
Gadis kampung itu mengubahmu nak! Selama hidup, Mami tidak pernah melihat kau sepeduli ini terhadap seorang wanita...
...****************...