
Suasana di salah satu ruangan tempat dimana Ranti dirawat tampak menegang. Pernyataan wanita cantik sosialita tentang putusnya pertunangan yang telah terjadi di antara Devan dan Danisa di dukung dengan pernyataan Roula yang membuat keadaan bertambah panas.
“Maaf kalau saya lancang memotong pembicaraan!” Ucap Roula angkat bicara.
“Sebenarnya selama ini Danisa telah membohongi semua orang dan seluruh anggota keluarga Cakrawangsa!” Orang-orang yang hadir sontak menoleh. Kini semua atensi beralih.
“Saat Danisa ditunangkan dengan Devan, sebenarnya ia sudah menjalani hubungan special dengan… Prof. Daniel! Mereka diam-diam bertemu bahkan beberapa kali Prof. Daniel menginap di apartemen Danisa! Kita semua tidak tau apa yang terjadi jika dua orang asing sudah tinggal se-atap!” Tukas Roula seakan ingin membongkar kebusukan Danisa. Ranti tersenyum sinis penuh kemenangan.
“Astaga! Kau jangan mengada-ada, Nak! Ini berita yang sangat fatal!” Sergah kakek Cakrawangsa.
“Maaf kek, tapi aku punya bukti! Aku punya rekaman CCTV-nya!” Sahut Roula percaya diri. Kening Danisa mengerut.
Wanita ini tidak pernah berubah! Sejak kecil ia sudah licik. Gumam Danisa mensedekapkan tangannya kesal.
Apa hubungan mereka memang sudah sejauh itu? Devan menatap Danisa sendu. Tidak bisa dipungkiri, mata yang berkilat-kilat tersebut menunjukkan sorot kekecewaan.
“Apa benar begitu, Nak? Katakan kalau apa yang Roula ucapkan tidak benar!” Titah Cakrawangsa. Danisa mengambil handphone dan mulai mengetik beberapa kata di sana.
Tentu saja tidak benar, Kek!
“Cih, maling mana mungkin mengaku, kalau mengaku penjara pasti penuh!” Sambar Ranti menyindir.
“Sudahlah, Pa! Apa yang papa harapkan dari gadis bisu dan murahan sepertinya?! Tidak ada yang perlu dibanggakan kecuali hanya kecantikannya saja! Dan kecantikan tersebut ia manfaatkan untuk bisa memikat siapapun demi kekayaan! Gadis murahan ini tidak punya harga diri! Aku sudah tidak heran!” Ucap Ranti semakin tajam. Dada Danisa bergemuruh. Matanya berkaca-kaca. Dia benar-benar marah. Nyaris saja gadis tersebut meluapkan emosinya, namun tatapan penuh makna dari Prof. Daniel mengurungkan niatnya.
“Ini rekaman CCTV. Kebetulan videonya ada di handphoneku!” Roula menghubungkan rekaman pada layar proyektor.
Suasana semakin menegang ketika rekaman video mulai diputar. Tampak Prof. Daniel melangkah tergesa masuk ke dalam apartemen Danisa. Durasi di percepat. Pemuda tersebut pulang setelah 12 jam berada di sana.
Prof. Daniel mendengus. Ia ingat persis kapan kejadian tersebut tepatnya terjadi. Keberadaannya di apartemen Danisa bukanlah tanpa alasan.
“Tidak hanya rekaman ini saja! Juga beberapa rekaman lainnya!” Lanjut Roula kembali mengibas rambutnya. Ia benar-benar percaya diri.
Tok Tok Tok
Ceklek
Seseorang membuka pintu. Titik fokus pada video rekaman buyar seketika.
“Hai tan, bagaimana kabar tante? Aku menjenguk sekalian mewakili Jihan” Mila datang membawa sekeranjang buah-buahan segar. Ia melangkah maju memeluk Ranti dengan hangat setelah sedikit girang bahwa ternyata Prof. Daniel juga berada di dalam ruangan. Mila melihat ke layar proyektor, keningnya mengerut.
“Kemana Jihan? Mengapa ia tidak langsung menemuiku?”
“Seperti biasa, Jihan terkena fitnah dan sekarang tengah memperjuangkan keadilan! Tante tentu sudah tau siapa pelakunya!” Mila berkata dengan mata terus menatap Danisa.
“Ck. Si pembuat onar memang tidak tau diri! Sekarang paham kan mengapa aku mati-matian melarang Devan bertunangan dengannya?? Selain bisu, suka berbuat onar, ternyata dia juga murahan!” Lanjut Ranti. Roula kembali mengibas rambut pirangnya dengan senyum mengembang. Bibir Danisa bergetar namun Ia tetap terlihat tenang. Gadis tersebut menarik hembuskan nafasnya agar bisa lebih waras.
__ADS_1
“Hmh…" Prof. Daniel tiba-tiba berdehem.
"Wait wait! Sebentar sebentar! Kau….” Prof. Daniel menunjuk Roula dengan tangan kirinya.
“Tadi kau menyeret nama-ku ya?” Prof. Daniel mengusap-usap telinganya. Wajah datar nya terlihat malas.
“Sebenarnya aku terlalu sibuk untuk mengurus masalah tidak penting seperti ini! Apalagi mengumbar urusan pribadiku! Tapi karena kalian tidak juga berhenti berbicara dan terus berdengung seperti lebah kelaparan, baiklah! Aku terpaksa membuka identitas calon tunanganku! Aku tidak perlu bersusah payah karena kebetulan orangnya memang berada di sini!” Ruangan hening seketika. Mereka menanti apa yang akan diucapkan oleh prof. Daniel selanjutnya. Mata Danisa sontak terbelalak.
Apa prof. Daniel benar-benar akan mengakui-ku sebagai calon tunangannya? Ini gila! Ini ide gila! Batin Danisa cemas.
“Perkenalkan, ini dia calon tunanganku!” Prof. Daniel maju melangkah. Tiba-tiba pemuda tampan tersebut merangkul Mila yang berdiri di dekat Ranti. Prof. Daniel memberikan senyum manis terpaksanya. Senyum yang sangat jarang ia perlihatkan pada orang banyak. Semua orang yang hadir tercengang. Termasuk Mila. Jantungnya berdegup tidak karuan. Mila terpana menatap Prof. Daniel dari jarak dekat.
“Kau mencintaiku kan, Hon..ey?” Prof. Daniel kembali memberikan senyum dengan mengeratkan rangkulannya.
“I… Iya…” Mila mengangguk cepat. Matanya berkaca-kaca. Gadis ini mengambil kesempatan dengan membalas rangkulan pemuda yang dicintainya tersebut lebih erat.
Shiiiiit. Umpat hati Daniel.
“Kalian lihat kan? Aku akan bertunangan! Jadi stop menebar fitnah! Ah iya, aku akan mengaku... Kalau aku memang pernah mengejar-ngejar Danisa! Dia memang terlalu berharga untuk dimiliki, namun sayang… Danisa sama sekali tidak tertarik padaku!" Prof. Daniel tampak lesu.
"Jadi sebelum melabuhkan cintaku pada pilihan terakhir, aku sudah berkali-kali ditolak oleh Danisa! Tapi tidak apa-apaa! Kini aku sudah memiliki penggantinya!” Prof. Daniel mengusap-usap kepala Mila. Mulut Ranti ternga-nga lebar. Devan mengerutkan keningnya.
Pelet apa yang dipakai oleh gadis bisu itu hingga semua laki-laki mengejarnya? Ranti memijat pelipisnya.
“Cih, susah menjelaskan pada orang yang memiliki antena pendek!” Sembur Daniel. Wajah Roula memerah.
“Di ruangan itu tidak hanya ada aku, tapi juga neneknya yang tengah sakit! Aku merawat beliau di sana! Kenapa aku mau melakukan itu semua? yaa seperti yang kalian tau, kalau aku pernah mengejar-ngejar Danisa! Selain karena kemanusiaan, merawat nenek Danisa merupakan sebuah usaha pendekatan! Kalau kalian tidak percaya, kalian pergi saja ke kampung Danisa dan tanyakan pada neneknya! " Tantang Prof. Daniel. Semua yang hadir bungkam.
"Haiss.. Kalian benar-benar membuang-buang waktuku! Aku jadi mengaku apa yang tidak perlu ku akui! " Prof. Daniel berlagak kesal.
"Sudahlah! Aku masih punya banyak urusan! Aku permisi dulu! Honey, kau tetap di sini menjaga nyonya Ranti kan? " Prof. Daniel melepas paksa rangkulan-nya pada Mila. Ia beranjak keluar kamar. Namun belum sampai Prof. Daniel ke depan pintu, Ia kembali menoleh,
"Danisa, kenapa kau masih disitu? Ayo ikut aku! Daripada kau berada di sarang lebah yang terus berdengung dan tidak menghargaimu! Lebih baik kau pergi dari tempat ini! " Ucap Prof. Daniel, langkahnya langsung diikuti oleh Danisa yang mengikutinya.
Braaakk
Prof. Daniel menutup kasar pintunya.
"Prof... Oh hell! It's crazy!!!" Pekik Danisa.
"Apa kau mau mengatakan pada semua orang kalau kau tidak bisu?!" Sambar Prof. Daniel. Danisa menutup mulutnya.
"Kita ke ruanganku! "
Tap Tap Tap
__ADS_1
"Aku pikir professor akan mengakuiku sebagai tunangan! " Tukas Danisa ketika sudah berada di ruangan Prof. Daniel.
"Mana mungkin! Aku memang ingin memisahkan mu dari Devan! Tapi dengan mengakui kau sebagai tunangan ku dan membenarkan rekaman video CCTV milik Roula, itu artinya mereka bisa seenaknya merendahkan dan menjatuhkan harga dirimu! Aku tidak mungkin membiarkan itu terjadi! Tadi itu beruntung tiba-tiba aku menemukan ide cemerlang!" Ucap Prof. Daniel. Danisa bungkam.
"Dengar! Kau memang harus berpisah dari Devan, tapi jangan sampai pihak mereka yang memutuskanmu! Kalaupun kalian harus berpisah, maka yang memutuskan pertunangan tersebut harus kau sendiri! Kau wanita terhormat dari keluarga yang terhormat!" Tukas Prof. Daniel menekankan.
"Tadi itu Aku hampir tidak mengenali professor! Mungkin tadi pertama kalinya Prof mengeluarkan banyak kata di depan publik walau dalam ruang lingkup kecil, Wow! " Danisa sangat surprised.
"Tapi... "
"Tapi apa? "
"Prof menjerumuskan diri prof sendiri! Prof sudah tau kalau Mila memang sedari dulu memang menaruh hati pada Professor! Dia pasti akan menuntut itu semua"
"Why not? kalaupun harus menikahinya, aku akan melakukan nya! "
"Ha? Are you sure?! Prof tidak mencintai nya! " Sergah Danisa.
"Apa menikah memang membutuhkan cinta?! Menikah atau tidak hidup mu tidak akan berubah! Kau hanya akan melihat orang yang sama disetiap harinya ketika kau bangun tidur! Itu saja! " Ucap Prof Daniel santai. Danisa ternga-nga. Ia tidak mengerti apa yang ada dipikirkan gurunya tersebut.
"Baiklah! Itu tidak penting! Kita kembali ke topik kenapa aku memanggilmu! " Danisa mendengarkan Prof Daniel dengan saksama. Ia memasang wajah serius.
***
"Devan, tunggu! Dev! " Roula memanggil Devan yang keluar dari ruangan. Pemuda tersebut akhirnya menghentikan langkahnya.
"Kau mau kemana?"
"Mencari Danisa! Siapa lagi?!" Ketus Devan.
"Danisa? Apa yang ada dalam pikiranmu, Dev?!"
"Dia tunanganku!"
"Kalian sudah putus hubungan! Kau orang ku! Kau milikku!" Roula maju memeluk Devan. Airmatanya mengalir.
"Roula, lepaskan aku!" Devan mencoba melepaskan pelukan Roula. Namun gadis tersebut semakin erat memeluknya.
"Kau sudah berjanji pada mendiang nenek untuk menikahiku!" Roula bersikeras. Devan terenyak. Air mata gadis tersebut mengalir semakin deras. Kemeja Devan basah.
"Aku masih sangat muda ketika itu! Usiaku masih 9 tahun! " Sahut Devan dingin.
"Tetap saja kau telah berjanji! Hiks hiks" Devan hendak menghempaskan tangan Roula, namun di saat bersamaan, matanya menangkap keberadaan Danisa yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Entah sejak kapan Danisa berada di sana.
***
__ADS_1