Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 17: Anak Haram


__ADS_3

Danisa baru saja turun dari taksinya. Tiba-tiba Laki-laki yang tadi pagi menghadangnya ketika berangkat ke sekolah sudah berada di hadapannya. Laki-laki yang sangat menyebalkan itu membawa dua orang pengawal. Ia melotot ke arah Danisa seolah-olah bola matanya hendak keluar. Indra mengambil ancang-ancang ingin menampar Danisa.


Hampir saja tangan Indra mendarat di wajahnya, namun dengan cekatan gadis ahli bedah itu menghindari tamparan yang ingin Indra layangkan kepadanya. Ia kembali memelintir tangan Indra dan mengalahkan mereka semua. Ilmu silat yang ia dapatkan dan pelajari dulu tidaklah sia-sia dan berguna dalam menghadapi situasi sulit seperti saat ini.


Pergerakan yang Danisa lakukan tertangkap oleh sekretaris wanita yang bekerja di kantor Devan. Ia menyunggingkan senyum dan berniat melaporkan perbuatan Danisa pada atasannya. Beberapa gambar gadis muda yang tengah berantam pun diambilnya dengan sebuah kamera mirrorless. Ikut campur sang sekretaris bukan lah tanpa sebab dan alasan, sebab Ia sejak lama secara diam-diam sudah menyukai Devan. Sekretaris pribadi ini ingin hubungan pertunangan atasannya dan Danisa berakhir.


Sekretaris pun langsung melesat pergi dari lokasi kejadian. Ia menuju kantor tempat dimana Devan berada. Dengan terburu-buru ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam.


“Dev, ada berita besar!” Ucap Sarah berlebihan.


“Kenapa Sar?” Tanya Devan acuh. Ia tetap membaca korannya.


“Kamu lihat ini!” Sarah menunjukkan potret yang ada di kamera nya. Air muka Devan berubah terlihat tidak senang. Keningnya mengerut.


“Tunanganmu terlibat perkelahian dengan beberapa laki-laki! Wanita itu memang tidak pantas untukmu, Dev!” Sarah mulai memanas-manasi Devan. Ia menjelek-jelekkan Danisa.


“Ini bukan hal yang pantas dilakukan oleh seorang wanita! Apa kamu tidak kecewa? Ia tidak pantas di sandingkan denganmu!! Kau harus tau itu, Devan!” Tambah Sarah lagi. Devan tampak berpikir. Ia melihat plat B pada kendaraan yang ada di dalam foto yang Sarah perlihatkan. Devan mengambil telepon yang terletak di atas meja.


“Tolong kamu periksa siapa orang pemilik plat dengan nomor B 87xx !” Titah Devan pada asistennya.


"Baik Tuan, Titah segera saya laksanakan!"

__ADS_1


***


Setelah peristiwa yang melibatkannya dan Indra kemarin, Danisa menjadi lebih waspada. Gadis ini berjalan dengan cepat sepulangnya dari sekolah. Seperti biasa, ia akan menyetop taksi. Namun sial, lagi-lagi pergerakannya dihentikan oleh seseorang. Bukan Indra melainkan seorang kepala pelayan.


“Maaf Nona, saya adalah seorang kepala pelayan yang ingin mengajak nona menemui Nyonya Mira” Ucapnya. Mendengar nama Mira disebut, Danisa mendongakkan kepalanya.


"Nyonya Mira ingin menemui Nona! " Lanjut kepala pelayan lagi. Danisa pun memutuskan mengambil langkah menemui mereka.


Tap Tap Tap


Danisa dibawa menemui Mira, wanita ini adalah Nyonya di keluarga Bambang. Penampilannya cukup elegan untuk ukuran seorang wanita paruh baya. Dandanan kebaya dan sanggul yang sedikit besar dan tinggi menghiasi penampilannya.


“Hei, berani-berani kamu memukul anak saya! Perempuan tidak tau diri!” Hardik Mira begitu melihat Danisa.


Danisa tersenyum masam. Berani-beraninya wanita yang ada di hadapannya menyebut ibu sebagai perebut suami orang.


Pikiran nya melayang pada peristiwa di masa kecil. Di mana nyonya yang menghardiknya dengan keras ini masuk ke dalam keluarga nya setelah ayah dan ibu meninggal. Namun Mira mengira, Danisa sama sekali tidak mengingat peristiwa kelam itu karena usianya yang masih sangat kecil. Jadi Mira memastikan bahwa Danisa akan menerima semua kebohongan yang ia lontarkan.


Danisa ingin menyangkal dan memberikan argumentas atas semua kebohongan nya. Namun tiba-tiba Danisa teringat akan perkataan nenek yang mengatakan bahwa jangan sampai ia berurusan dengan keluarga Bambang. Mengingat hal ini, Danisa mengurungkan niatnya untuk membongkar semua kebohongan Mira.


“Aku tau mengenai pertunanganmu bersama Devan, sebaiknya kau mundur saja dari pertunangan itu. Kau benar-benar tidak pantas untuk Devan!” Lanjutnya lagi. Mira memberikan saran sebelah pihak.

__ADS_1


“Untuk kedepannya, kau juga harus mendengarkan semua perintahku!” Titah Mira semena-mena. Mendengar titah yang Mira lontarkan, dengan cepat Danisa mengambil handphone-nya dan mengetikkan sesuatu di sana.


“Seharusnya Nyonya tahu diri!” Tukas Danisa. Ia menatap emosi ke arah Mira yang menyombongkan diri dalam memberi perintah.


“Cih! Aku akan membuat nenekmu celaka jika kau tidak menyetujui apa yang aku katakan!” Mira mulai mengancam. Danisa malah tersenyum. Ia mengetikkan sebuah kalimat baru di layar handphone-nya.


“Ini alamat nenekku!” Ketik Danisa lalu malah menunjukkan alamat rumah sang nenek. Danisa menatap Mira dengan tatapan membunuh. Tatapan nya mengisyaratkan jika Mira bermain-main dengannya, Ia hanya cari mati sendiri. Danisa sudah memikirkan hal ini, apalagi neneknya memiliki puluhan pengawal yang sangat hebat dan kompeten.


Danisa mengambil secarik kertas lalu menuliskan sesuatu di sana : Berani mengancam neneknya itu berarti sama saja mencari mati. Danisa langsung pergi segera menuliskan kalimat tersebut. Ia meninggalkan kertaas tersebut dan berhasil membuat Mira tercengang.


***


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan pintu saat Devan masih berkutat dengan berkas-berkas laporan perusahaan. Sang asisten datang masuk ke dalam ruangannya.


“Lapor Tuan! Menurut informasi yang saya dapatkan, Nona Danisa adalah anak Haram dari keluarga Bambang. Informasi tentang siapa ibu dari nona Danisa seperti sengaja disembunyikan” Ucap Sang Asisten. Laporan yang ia lontarkan berhasil membuat kening Devan mengerut.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤

__ADS_1


IG @alana.alisha


***


__ADS_2