
Tit Tit Tit
Gelombang pada monitor jantung bekerja dengan baik. Tampak seorang pemuda terbaring lemah di atas kasur pada sebuah kamar rawat masih tak sadarkan diri.
"Devan... Kumohon bangunlah! Hiks Hiks... " Pinta seorang gadis muda yang terus saja menangis. Ia sudah berada di sisi pemuda tersebut sejak 4 hari yang lalu.
Tit Tit Tit
Monitor terus saja menunjukkan suara detak yang stabil namun tidak ada kemajuan yang signifikan pada kesehatannya. Ia masih koma.
"Apa yang harus kulakukan agar kau siuman? Aku bersedia melakukan apapun namun kumohon... Bangunlah... Hiks hiks hiks... Bangunlah sayang..." Lanjut gadis tersebut frustasi. Berhari-hari sudah ia menunggu. Namun Devan tak juga terjaga.
"Maaf Nona Roula... Devan harus banyak beristirahat... Saya akan kembali menge-cek perkembangan nya! " Ucap Prof. Rudi menyuruh Roula pergi dengan bahasa halus. Sudah berhari-hari gadis tersebut terus saja meratap pilu.
Tiiitttttt........... Tit Tit.........
Sontak perhatian semua orang tertuju pada layar monitor yang ritme gelombang nya tiba-tiba saja berubah.
"Rud, ada apa ini??! " Tanya Cakrawangsa panik.
"Panggilkan Dokter Tomsky! " Titah Rudi pada asistennya.
"Baik Prof.... "
"Ambilkan alat picu jantung!!" Lanjut Rudi bertitah.
"Cepat!!!!" Suara Rudi terdengar menggelegar. Ia sangat panik ketika menyadari ada yang tidak beres. Wajah orang-orang yang hadir membersamai Devan berubah pucat.
"Satu... Dua... Tiga... "
Push
"Satu... Dua... Tiga..."
Push
"Bertahanlah, Nak!" Lirih Prof Rudi. Beliau terus memompa jantung dengan alat pacu sembari memperhatikan keadaannya.
Waktu Devan tidak banyak... Bagaimana ini? Danisa... Ya... Aku rasa hanya Danisa yang bisa mengatasi ini! Gumam Prof. Rudi menyeka bulir keringat yang keluar deras.
***
Seluruh peserta undangan terpilih yang akan menjadi saksi pernikahan Danisa dan Raga hanya bisa mengerutkan kening saat Prof. Rudi datang tergesa-gesa dan memaksa meminta waktu nya Danisa. Setelah berhasil membujuk gadis tersebut dan Raga memberikan izin, mereka menepi dari keramaian.
“Danisa, maaf… aku tau ini adalah hari yang paling membahagiakan untukmu… Hari terpenting daripada semua hari yang pernah kau lalui. Namun dengan sangat menyesal kukatakan… Devan sekarat! Nyawanya dalam bahaya! Sudah seminggu ini ia tak sadarkan diri setelah mengkonsumsi begitu banyak alkohol! Aku khawatir dia tidak bisa bertahan! Bisakah kau mencoba mengobatinya?” Pinta Prof. Rudi. Danisa tersentak.
“Kau mau kan?” Lanjut Prof. Rudi bertanya.
“Maaf Prof… aku akan menikah… kami sudah mengatur segalanya hingga sampai pada hari ini! Aku yakin di Rumah Sakit Ramayana ada banyak sekali dokter yang mampu menanganinya!” Sahut Danisa diplomatis.
__ADS_1
“Seminggu ini aku sudah mencoba dan tidak ada yang bisa membantu nya!” Lirih Prof. Rudi seperti tak bertenaga.
“Maaf prof… mungkin professor bisa meminta Professor Tomsky atau dokter lainnya untuk membantu. Tapi aku benar-benar tidak bisa!” Tolak Danisa. Prof. Rudi menitikkan airmatanya.
“Baiklah nak! Bagaimana pun aku tidak bisa memaksa” Ucap Prof. Rudi bertambah lesu. Akhirnya beliau mengangguk-angguk menghormati keputusan Danisa sambil tersenyum penuh pemakluman.
“Aku permisi… Aku tidak bisa meninggalkan Devan lebih lama… Luka tempo lalu belum benar-benar pulih. Kini ia harus menderita berkelanjutan karena sebab lainnya. Jika tidak ditangani oleh ahlinya, aku khawatir waktunya di dunia ini tidak lagi lama. Doakan, semoga ada keajaiban!”
Deg.
Prof. Rudi berbalik arah. Dengan cepat beliau mulai melangkah. Prof. Rudi sudah mengerahkan usaha semaksimal yang beliau mampu.
Lu... Luka tempo lalu? Waktu tidak lama?
“Prof, tunggu…” Panggilan Danisa membuat pria paruh baya tersebut menghentikan langkahnya.
"De... Devan separah itu? " Tanya Danisa kesulitan menelan salivanya. Prof. Rudi memejamkan mata lalu mengangguk.
Dengan langkah pasti Danisa langsung melesat menemui Raga.
Kak, aku harus pergi bersama Prof. Rudi sekarang juga! Ketik Danisa menyodorkan handphone-nya.
“Apa? Pergi sekarang? Ada apa Danisa? Sekarang waktunya kita menikah!” Sergah Raga tak percaya akan keputusan sepihak dari Danisa.
Aku tidak punya waktu. Aku akan menjelaskannya nanti! Aku berjanji... Kita akan tetap menikah setelah urusanku selesai! Ketik Danisa lagi. Raga menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti. Namun Danisa tetap beranjak. Ia tampak sangat buru-buru.
“Danisa… Danisa…” Panggil Raga mencengkram pergelangan tangannya.
“Nak Raga, maaf… Dengan sangat menyesal Aku harus membawa Danisa pergi!” Sahut prof. Rudi merasa bersalah namun ia tidak punya pilihan lain. Beliau berusaha melerai ketegangan yang terjadi.
Sreegg
Tiba-tiba Raga menarik kerah prof. Rudi dengan kedua tangannya.
“Apa yang kau inginkan? Mengapa kau menghancurkan acara penting kami??” Tanya Raga mulai mencengkram lebih kuat. Matanya memerah. Danisa sontak berusaha menarik-menarik tangan Raga untuk melepaskan prof. Rudi.
“Ada apa ini?” Tanya Prof. Daniel yang tiba-tiba muncul ketika mendengar kegaduhan dari arah berlawanan. Raga merenggangkan cengkraman tangannya.
“Danisa, jangan pergi… Ku mohon…” Lirih Raga mulai pesimis.
“Danisa, waktu kita sudah tidak banyak! Pergilah terlebih dahulu… Aku akan segera menyusul!” Titah Prof. Rudi. Danisa mengangguk. Ia terus melesat pergi setelah sebelumnya menatap Raga dan Daniel penuh arti.
“Danisa…. Danisaa… Jangan pergi….” Panggil Raga frustasi. Prof. Rudi memegang tangannya untuk mencegat agar Raga tidak mengejar Danisa.
Persis seperti yang sudah kukatakan! Dia memang pembuat onar!
Tega-tega nya ia membatalkan pernikahan sepihak dan memilih lelaki tua!
Amit-amit! Aku tidak akan pernah menerimanya sebagai menantu! Kasihan pengantin pria ditinggal begitu saja.
__ADS_1
Sudah bisu! Tidak tau diri!
Dia pikir, dia siapa? Apa cantik saja cukup??
Suara sumbang yang terdengar mengganggu pendengaran. Terutama pihak keluarga Raga yang merasa sangat malu. Apa yang Danisa lakukan benar-benar mencoreng nama baik keluarga mereka.
“Aku sangat menghormatimu! Tapi kalau kau begini, bagaimana bisa aku bersikap sopan!” Ucap Raga hendak melayangkan tinjunya.
Arrrrgh. Hampir saja kepalan tangannya mendarat pada wajah Rudi. Namun Raga memilih meninju udara. Ia dengan cepat mengejar Danisa yang masih mengenakan dress pengantin. Prof. Rudi hanya bisa menatap punggung Raga yang menjauh pergi dengan wajah cemas.
“Katakan pada para saksi bahwa pernikahan ditunda sebentar dan akan tetap dilaksanakan!” Titah Daniel pada asistennya.
“Baik Tuan Professor!” Asisten akan melesat pergi. Prof. Daniel menatap tajam ke arah Prof. Rudi.
"Tidak perlu! Tidak akan pernah ada pernikahan di antara Raga dan Danisa! " Ibu tiri Raga datang mendekat. Prof. Daniel tercengang.
"Kami sudah memberikan nya kesempatan, tapi dia malah memperlakukan kami seperti ini... Kami sangat marah! Kami dengan lapang hati menerima rumor jelek tentangnya... Berpikir positif bahwa dia gadis baik-baik. Tapi ternyata... rumor yang beredar di luar sana benar adanya. Dia tidak menghargai dan menghormati kami... Terutama tidak menghormati calon suaminya sendiri! Mana mungkin kami menerimanya sebagai menantu" Lanjut Ibu tiri Raga.
Bagus. Keputusan yang bagus, bu Rahil!! Keputusan yang tepat. Biar gadis itu tahu diri.
Benar. Aku senang sekali mendengarkannya. Gadis itu memang perlu diberi pelajaran. Hahaha.
Baru kali ini aku setuju wanita ditindas.
Benar. Hahahaha.
Para tamu undangan sumringah.
“Mengapa anda mengacaukan semuanya? Apa anda sengaja melakukan ini?” Tuding Prof. Daniel menatap Prof. Rudi semakin tajam.
“A...Aku bisa menjelaskan semuanya padamu... Kita berbicara di ruangan lain!” Ajak Prof. Rudi. Daniel menghela nafas kecewa. Para undangan yang hadir masih menunggu di ruangan, sebagian besar memilih untuk pulang karena ketidakpastian dan merasa kesal pada pengantin wanita yang seenaknya bertindak. Sebagian memilih bertahan menunggu berita untuk dijadikan bahan gosip. Mereka setia menunggu kelanjutan kisah percintaan mereka yang masih digantung.
***
Oh Tuhan... Tolonglah Devan... Selamatkan dia! Walau keluarga nya bersalah, tapi dia harus tetap hidup! Pinta Danisa harap-harap cemas. Ia masih berada dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Ramayana dan menumpang pada mobil Prof. Rudi yang dikendarai oleh supir.
Danisa mengarahkan pandangannya pada jendela luar di sisi kanan pada posisi penumpang. Mobil dan motor berlalu lalang saling mengejar silih berganti. Mereka melewati berbagai persimpangan dan perempatan jalan. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Jantung Danisa berdetak tidak karuan.
Gadis tersebut tidak mempedulikan penampilannya yang masih memakai pakaian pengantin lengkap dengan segala aksesoris nya. Danisa Menggigit-gigiti kuku indahnya untuk menetralisir perasaan. Hampir saja ia akan memerintahkan sang supir untuk mempercepat laju mobilnya. Namun tiba-tiba Danisa merasakan hal yang janggal.
Pak, mengapa kita belok kanan?? Bukankah rumah sakit Ramayana berada di arah kiri?? Ketik Danisa pada handphone nya.
Sreetttt
Sang Supir merebut cepat handphone dari tangan Danisa.
"Kita memang tidak perlu ke rumah sakit lagi. Tapi kita akan langsung ke neraka, nona! " Ucap Sang Supir memberikan smirk menyeringai. Mata Danisa terbelalak sempurna. Ia terkejut bukan kepalang.
***
__ADS_1
Terimakasih dukungan setia nya kakak2.. Semoga semua urusan kakak2 Allah mudahkan... Jangan lupa Like komen Gift dan Vote nya biar Alana bs trus smngt... makasiiii smua 🤗❤
IG: @alana.alisha