
“Satpam!! Tangkap dia!!!” Ranti kehabisan kesabaran. Dengan cepat Danisa melesat pergi. Dengan sekali gerakan, ia membabat habis satpam yang menghadang jalannya. Ranti langsung mengambil gawai,
“Pak polisi, saya Ranti Cakrawangsa dari Cakrawangsa Group mau memberikan 2 laporan sekaligus!” Ucap Ranti menahan amarah.
“Laporan pertama, tangkap wanita bernama Danisa Maria Anna, ia membuat kegaduhan di kantor kami dan diduga kuat sudah melakukan penculikan terhadap putraku…” Ranti menjeda kalimatnya. Nafasnya tiba-tiba tersengal. Ia merasa kesulitan bernafas.
“Laporan kedua tolong temukan Devan. Putra-ku itu sudah menghilang sejak beberapa jam yang lalu. Beberapa asisten sudah mencoba mencarinya, namun bukti kuat mengarah pada Danisa. Jadi dua laporan ini saling berkaitan erat. Aku harap kalian bisa bertindak cepat!” Pinta Ranti dengan suara parau. Lututnya berubah lemas. Ia menutup panggilan dengan tubuh terhuyung.
“Tante, kita istirahat dulu saja, sini aku bantu!” Sarah menggeser kasar tubuh Roula yang mendekap Ranti. Gadis yang baru tiba dari tanah air tersebut ternganga tak percaya. Ia memilih diam sembari menggerutu.
Sekretaris siialan!
Ranti memegang pelipisnya. Ia merasa pusing. Mata Ranti berkunang-kunang. Dari jarak beberapa meter dengan pandangan kabur, Ranti bisa melihat Mr. Xavier memasuki lobi diikuti oleh asisten dan sekretarisnya. Ranti sebisa mungkin tetap berusaha menyambut dengan baik kedatangan mereka namun tiba-tiba,
Bruuuukkk
Ranti pingsan seketika. Darah segar mengalir dari betisnya. Luka yang belum pulih dengan sempurna kembali terbuka. Raga dengan cepat menopang tubuh Ranti. Mr. Xavier berjalan mendekat dengan langkah yang dipercepat.
“Ada apa ini?”
“Mr. Xavier, Nyonya Ranti tiba-tiba pingsan. Apa bisa kalau rapatnya kita tunda untuk beberapa saat?” Pinta Raga. Mr. Xavier melirik ke arah jam tangannya.
“Maaf sekali. Aku tidak punya banyak waktu!” Sahut Mr. Xavier. Raga tampak berpikir.
Bagaimana ini?
“Baiklah Mr. Raga, sediakan aku ruangan. Aku akan menunggu. Aku beri waktu paling lama 1 jam!” Mr. Xavier memberikan kelonggaran. Raga langsung sumringah, setidaknya jika tidak ada dari keluarga Cakrawangsa yang mewakilkan untuk mengikuti rapat, maka masih tersedia waktu 1 jam untuk mempelajari dokumen.
Beberapa staff membantu membawa Ranti menuju rumah sakit Ramayana. Seorang asisten mengarahkan Mr. Xavier ke ruangan kosong yang didalamnya terdapat kursi dan meja. Asisten pantry membawakan minuman dan makanan ringan.
Di tempat berbeda, Danisa dengan cepat menjauh dari perusahaan milik keluarga Cakrawangsa. Ia meringis, luka di pundaknya terasa perih. Tadi Danisa melakukan manuver berlebihan dalam menghadapi serangan satpam sehingga cederanya bertambah parah.
Danisa menepi pada sebuah tembok di lingkungan yang sepi. Ia membuka sedikit blazernya mengintip luka. Perban yang tadi sempat Devan balutkan ke pundak berubah merah. Darah segarnya merembes.
Danisa masuk ke dalam toilet umum. Ia duduk di atas closet, dengan gerakan cepat dan masih meringis, Danisa membuka blazer dan menganti perbannya dengan perban yang baru.
Drrrrrtttt Drrrrttttt
Danisa merogoh ponselnya yang bergetar. Prof. Rudi menelfon.
“Danisa, Ranti kehilangan banyak darah! Dia harus segera di operasi! Bisakah kalau kamu ke rumah sakit sekarang juga?” Danisa memejamkan matanya.
“Di sana ada beberapa dokter yang bisa menangani kasus tante Ranti, Prof!” Tolak Danisa secara halus. Ia sendiri tengah terluka dan tidak yakin dapat berkonsentrasi dengan baik. Apalagi perasaannya juga sedang tidak baik-baik saja.
“Danisa, kamu adalah orang yang sudah melakukan operasi pertama pada Ranti, sahabatku itu akan lebih baik jika di tangani oleh dokter hebat sepertimu. Ku mohon! Aku sudah menganggap keluarga Cakrawangsa seperti keluargaku sendiri!” Permintaan Prof. Rudi sangat sulit untuk ditolak. Danisa berfikir sejenak lalu kemudian menutup telepon setelah menyetujuinya. Gadis tersebut dengan cepat memakai blazernya sambil kembali mencoba menghubungi nomor Devan.
__ADS_1
***
Perusahaan Cakrawangsa Group
Lima belas menit berlalu. Mr. Xavier mulai merasa bosan. Ia membolak-balikkan majalah yang ada di sana.
Sreek
Mr. Xavier melempar asal majalah tersebut ke atas meja. Ia memainkan handphonenya sebentar. Mengamati foto-foto yang ada di dalam layarnya.
“Siapa dokter hebat ini? Mengapa ia begitu misterius?” Gumam Xavier penasaran. Beberapa waktu lalu asisten Mr. X mengirimkan gambar tersebut padanya.
“Dokter hebat tersebut viral setelah berhasil melakukan operasi beruntun terhadap pasien yang sudah divonis tidak bisa sembuh tuan!” Sahut sang asisten.
“Wow… apa dia benar sehebat itu?!”
“Dia sangat hebat dan keberadaannya merupakan kebanggaan milik rumah sakit besar Ramayana!" Mr. Xavier mengangguk-angguk.
"Dokter hebat ini adalah seorang dokter bedah kan? apa ia juga bisa membedah mataku?” Xavier mengeryitkan keningnya. Ia mengusap-usap dagu yang sama sekali tidak berambut. Xavier tampak berpikir.
“Setelah berita tentang kehebatan beliau merebak dimana-mana, dokter hebat tersebut jadi sangat sulit untuk dihubungi, Tuan! Terakhir, beliau hanya bersedia menangani operasi besar atas penyakit Mr. Rowan Spancer.
“Rowan Spancer? Begitu ya… Hmh, menarik…!” Mr. Xavier kembali mengusap dagunya. Ia menyunggingkan senyum penuh makna.
Tok Tok Tok
“Mr. Xavier, maaf telah menunggu. Rapat sebentar lagi akan dilaksanakan!” Ucap Sarah ramah sembari memberikan senyumnya. Xavier mengangguk. Ia mengikuti gerak langkah Sarah. Dari arah berbeda, Raga dan Roula datang mendekat.
“Mr. Xavier, kali ini aku yang akan memimpin rapat!”
“It’s okay, no problem!”
“Tunggu!” Mr. Xavier menghentikan langkahnya, ia berbalik menghadap Sarah.
“Aku sedikit mengantuk. Tolong buatkan aku kopi hitam tanpa gula! Sekalian buatkan untuk para asistenku!” Titah Mr. Xavier santai. Sarah mematung.
“Hey, apa kau tidak bisa mendengar? Aku butuh kopi hitam sekarang juga! Kau pelayan pantry kan?” Todong Mr. Xavier lagi. Sarah terkejut bukan kepalang. Mulutnya ternganga. Matanya membola.
“Hmppfff Hmmppfff” Roula yang berada di samping Raga memegang perut menahan tawanya. Wajah Sarah seketika berubah merah. Semua yang berada disekitarnya memberikan atensi.
Image Sarah yang notabene-nya adalah seorang sekretaris cantik yang sangat menjaga penampilan runtuh seketika.
“Maaf Mr. Xavier, dia bukan pelayan pantry melainkan sekretaris pribadi Mr. Devan!” Bisik sang asisten.
“Oh begitu, Sorry! I really don’t know” Ucap Mr. Xavier elegan, Ia menaikkan sedikit alisnya ke atas kemudian melangkah di ikuti oleh mereka yang akan menghadiri rapat, meninggalkan Sarah yang masih mematung dengan wajah kusut.
__ADS_1
Xavier sialan!! Apa matanya memang buta?! Apa dia tidak bisa melihat betapa cantiknya aku?! Sarah mengepalkan tangannya. Kesal. Dengan dada bergemuruh menahan emosi, ia mengambil gawainya.
“Hari ini jam 5 sore aku mau melakukan perawatan!” Ucap Sarah pada staff di sebuah klinik kecantikan. Tiba-tiba rasa tidak percaya diri menghampirinya. Ia berulang kali melirik dinding-dinding kaca yang ada di dekatnya.
***
Tap Tap Tap
Danisa melangkah cepat. Ia memasuki lobi rumah sakit. Gadis ini sudah dinanti-nanti. Manggala meng-cancel rapat jutaan dollarnya demi menemani istri tercinta. Ia benar-benar cemas.
“Kau sudah siap kan?” Tanya Prof. Rudi berbisik ketika melihat Danisa datang dengan tergopoh. Gadis tersebut mengangguk. Bersama-sama mereka masuk ke dalam ruang khusus penyamaran.
"Aku ganti pakaian safety dulu! " Ucap Danisa. Prof Rudi mengangguk dan langsung keluar ruangan. Tak lama, professor tersebut kembali menghampiri Danisa untuk mengantarnya masuk ke ruang operasi melalui ruangan khusus agar tidak dicurigai oleh orang lain. Mereka berjalan melalui connecting door.
"Good Luck dokter Dan Ara! " Ucap Prof Rudi penuh harap. Beliau menepuk pundak Danisa yang terluka.
Sssss. Sontak Danisa meringis.
"Dokter, kau terluka?! " Prof terkejut mendapati pundak Danisa berubah warna.
"I... Ini rembesan darah! " Panik Prof Rudi. Bau anyir merebak.
"It's okay Prof... Aku hanya sedikit terluka! Aku akan melakukan operasi sekarang" Ucap Danisa. Prof Rudi menggeleng.
"Kau bisa kehilangan banyak darah! Kita obati lukamu terlebih dahulu! " Danisa menggeleng.
"Tante Ranti bisa terkena gagal jantung kalau operasi tidak segera di laksanakan... aktifitas yang berat dan efek jatuh dari gedung tinggi beberapa waktu lalu membuat trauma dan menimbulkan cedera yang tidak main-main! Aku akan membereskan permasalahan tante Ranti terlebih dahulu karena ini menyangkut perihal nyawa seseorang! " Prof Rudi terdiam.
"Professor tenang saja, serahkan semuanya padaku! " Prof Rudi hanya bisa membiarkan Danisa melakukan apa yang ingin ia lakukan. Beliau keluar ruangan dengan hati penuh harap semoga semua akan baik baik saja.
***
Prof. Rudi baru akan memasuki ruangannya, namun beliau sudah mendengar kegaduhan.
"Gawat Prof... " Seorang asisten melapor.
"Ada apa? "
"Rombongan polisi datang. Mereka mencium keberadaan nona Danisa di rumah sakit ini. Para polisi mendapat laporan dari nyonya Ranti Cakrawangsa bahwa nona Danisa harus ditangkap karena telah melakukan tindakan kriminal!"
"Ha? Apa?!"
"Jadi sekarang, para polisi ingin melakukan penggeledahan di rumah sakit ini! "
Laporan dari sang asisten membuat Prof. Rudi memijat pelipisnya.
__ADS_1
***
IG: @alana.alisha