
Sarah sudah berkali-kali melangkah ke ruang kerja Devan. Namun sayang, sang atasan belum juga kembali dan sama sekali tidak memberikan kabar. Padahal kurang dari satu jam lagi rapat lanjutan bersama Mr. Xavier akan dilaksanakan.
Sekretaris pribadi tersebut sudah berulang kali menghubungi nomor Devan namun tidak aktif. Sarah juga meminta bantuan kepada Raga, namun Devan tetap saja tidak bisa dihubungi.
Apa Devan menemui Danisa? Tapi apa mungkin ia meninggalkan tanggung jawab penting begitu saja? Raga menjentik-jentikkan jari-jarinya ke atas meja berpikir.
Dddrrrttt Dddrrrtt
Sarah mencoba menghubungi keluarga Cakrawangsa. Bagaimanapun salah satu dari petinggi Cakrawangsa Group harus ada yang menghadiri rapat.
Seorang asisten rumah tangga mengangkat telepon dari Sarah saat Ranti tengah bercengkrama bersama Roula dengan berbincang hangat.
“Maaf nyonya, sekretaris tuan Devan menelpon! Beliau berkata rapat penting bersama Mr. Xavier akan segera dilaksanakan namun tuan Devan tidak berada di tempat dan tidak bisa dihubungi” Ranti melirik Roula kemudian ia mengerutkan keningnya. Beliau mengambil telepon yang diberikan oleh sang asisten.
“Kalau begitu biar aku sendiri yang akan ke sana. Aku yang akan memimpin rapat!” Tegas Ranti mengakhiri pembicaraan.
“Tan, aku mengkhawatirkan kesehatan tante” Lirih Roula.
“Aku baik-baik saja, Nak! Hari ini Manggala ada rapat penting di kantor yang berbeda. Sedangkan papa baru saja berangkat ke Perancis mengurus bisnis di sana. Mau tidak mau aku sendiri yang harus turun tangan” Ucap Ranti yang mengambil tasnya dari tangan sang asisten.
“Aku ikut mengantar tante ke kantor!” Ranti mengangguk memberikan senyumnya.
Masih di rumah sakit Ramayana, Danisa terhuyung. Ia sama sekali tidak bisa mempercayai apa yang dilihat pada layar yang disuguhkan oleh prof. Daniel.
Di sana terlihat Kakek Cakrawangsa duduk bersama Jihan dan beberapa orang yang sama sekali tidak Danisa kenal. Salah seorang dari mereka adalah seorang laki-laki dengan tampilan persis seperti penampilan Mr. Xavier. Mereka tampak akrab sambil saling bersulang minuman.
“Bukan tidak mungkin kalau ternyata Cakrawangsa-lah yang telah membunuh kedua orang tuamu!” Ucap Prof. Daniel menaikkan sebelah alisnya ke atas.
“I can’t believe, Prof!”
“You must!”
“Tapi kita masih tidak mengetahui apa motif mereka. Kenapa mereka berkumpul, dan lain sebagainya. Bisa jadi mereka tengah membahas urusan bisnis!” Sergah Danisa.
“Buka mata hatimu Danisa, jangan karena dia bersikap baik padamu, kau menjadi lengah. Dunia tidak seindah dugaanmu! Tidak hanya kedua orang tuamu, kakak laki-laki mu pun menjadi korban keserakahan mereka!” Danisa terenyak.
“Jauhi Devan, ia sudah mengetahui kalau sebenarnya kau bisa bicara. Ia berbahaya! Jauhi keluarga Cakrawangsa. Nyatakan perang secara terbuka. Keluarga mereka sudah memutuskan pertunangan kalian secara sepihak, kan?” Danisa tersentak. Ia mendongakkan kepalanya.
“Darimana professor mengetahui semua ini?”
“Apa kau masih meragukan kemampuanku? Kenapa kau masih meragukannya? Padahal pada akhirnya, hanya aku saja yang berada di sisimu. Hanya aku se.o.rang!” Ucap Prof. Daniel penuh penekanan. Danisa memejamkan matanya.
“Prof, aku akan kembali ke asrama. Aku akan memikirkan ini semua untuk mengambil langkah selanjutnya. Kemarin-kemarin Aku masih menyelidiki motif pembunuhan ibu. Beberapa sudah ku temukan…” Danisa menjeda kalimatnya. Ia menghirup nafas sejenak.
“Hari ini aku mendapatkan berita tentang kakek Cakrawangsa. Walau sangat menyesakkan namun hal ini cukup membantuku, tidak ada yang bisa ku katakan selain ucapan terima kasih!” Lanjut Danisa lagi.
“Aku akan menyelesaikan kuliah untuk semester ini, setelah itu Aku akan kembali ke rumah nenek dan menjelaskan kalau aku dan Devan sudah tidak memiliki ikatan apapun!” Professor Daniel mengangguk. Danisa melangkah keluar ruangan meninggalkannya seorang diri. Gadis tersebut melangkah menjauh. Namun sebuah benda yang ia temukan di lantai berhasil menghentikan pergerakannya.
I… Ini bukankah ini KTP milik Devan? Kenapa bisa berada di sini? Danisa mengerutkan keningnya. Sebuah kartu tanda penduduk tergeletak begitu saja di dekat pintu.
Apa tadi Devan ke sini? Sekarang Devan dimana? Danisa menggenggam erat kartu yang ada di telapak tangan setelah membaca isi yang tertera di sana.
***
Di dampingi Roula, Ranti memasuki gedung perusahaan. Walau kondisi tubuhnya belum prima dan masih membutuhkan operasi lanjutan, namun tidak mengurangi keanggunannya dalam melangkah. Para staff membungkuk ringan menyadari siapa yang datang berkunjung.
Ranti langsung di ikuti oleh dua orang asisten yang bekerja. Bersama-sama, Mereka menuju ruangan Devan. Sarah bangkit dari duduknya. Ia langsung menghampiri Ranti yang datang mendekat.
“Devan belum kembali?” Tanya Ranti sembari memasuki ruang kerja Devan.
“Belum tante” Ranti mengambil tempat di kursi utama.
“Apa Mr. Xavier sudah hadir?”
“10 menit lagi beliau dijadwalkan tiba” Ranti mengangguk-angguk. Ia menerima dokumen dari tangan Sarah.
“Tante, aku ke ruangan kak Raga dulu!” Ranti mengangguk hangat.
Hmh, apa dia calon tunangan Raga? Sarah mengerutkan keningnya menatap punggung Roula yang berlalu.
“Ck. Kemana perginya Devan? Tidak seperti biasanya dia begini. Apalagi ini adalah rapat penentuan!”
__ADS_1
“Apa mungkin Devan…” Sarah menjeda kalimatnya.
“Mungkin apa?”
“Apa mungkin Devan tengah bersama tunangannya?”
“Tunangan yang mana? Mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-pun lagi!” Ketus Ranti.
Wow. Sarah yang sejak lama sudah menaruh hati pada Devan diam-diam tersenyum. Ranti memijat pelipisnya. Jujur saja, ia tidak menguasai dokumen yang ada di dalam genggamannya.
Oh Tuhan… Bagaimana ini?
Dddrrrrttt Drrrrtttt
Handphone Ranti berdering. Seorang asisten kepercayaan menelponnya,
“Nyonya, Tuan Devan tidak bisa ditemukan dimanapun!”
“Apa?!” Ranti bangkit dari duduknya.
“Tuan Devan menghilang”
“Bagaimana bisa?! Apa kau yakin?!”
“Laporan ini sejauh pencarian saya, Nyonya! Saya juga sudah melacak ke tempat-tempat biasa yang sering tuan kunjungi!”
“Tapi…”
“Tapi apa?!” Sambar Ranti tidak sabar.
“Tapi terakhir kali… Terakhir kali tuan Devan hendak menemui nona Danisa”
“Da.. Danisa?!”
“Benar, saya melihat dari tayangan CCTV rumah sakit dan sebelumnya beliau sudah mengkonfimasi ke asisten pribadi bahwa akan kembali ke kantor setelah menemui tunangannya tersebut!”
Wanita itu lagi? Oh Tuhan… Aku benar-benar akan mati muda kalau terus menerus begini.
“Tante, apa tante baik-baik saja?!” Tanya Sarah.
"Hhh Hhh.. A..Aku tidak apa-apa" Ranti mengangguk.
Tap Tap Tap
Di sisi lain, Danisa yang mencoba memasuki perusahaan Devan dicegat oleh satpam yang berdiri di depan pintu masuk. Danisa mengambil gawainya mengetik beberapa kalimat di sana.
Saya Danisa. Tunangan nya Devan! Saya pernah ke sini sebelumnya. Anda bisa menge-ceknya. Izinkan saya masuk. Danisa menyodorkan handphone-nya. Satpam yang bertugas melihat Danisa lekat-lekat.
“Ma.. Maafkan saya nona, silahkan masuk!” Danisa mengangguk. Ia langsung ke Front-Officer.
Apa Devan ada di kantor ini? Ketik Danisa. Front Officer menggeleng.
“Tuan Devan sama sekali belum datang ke kantor ini nona!”
Hhhh. Danisa menghembuskan nafasnya ke udara.
Apa kau bisa memberikan padaku nomor Devan yang bisa dihubungi? Ketik Danisa lagi. Front Officer mengerutkan keningnya.
Bukankah mereka bertunangan? Aneh sekali, mengapa nona Danisa tidak memiliki nomor handphone tuan Devan?
“Baik, sebentar nona!” Danisa mengangguk.
Di dalam ruangan berbeda, Ranti masih merasa sesak. Ia membaca dokumen sembari menunggu kabar tentang Devan. Ia mengecek jam tangannya. Seharusnya 5 menit lagi Mr. Xavier tiba.
Tok Tok Tok
Raga dan Roula memasuki ruangan Devan.
“Bantu aku menyelesaikan ra.. pat, Nak! Ke...palaku pusing!” Ucap Ranti terbata-batabegitu melihat Raga. Pemuda tersebut mengangguk.
"Tante, sebaiknya tante pulang dan beristirahat saja di rumah! Tante tampak tidak fit! " Saran Raga. Ranti menggeleng.
__ADS_1
“Tante! Itu tunangannya Devan!!” Pekik Sarah tiba-tiba. Ia menunjuk ke arah monitor yang ada di ruangan. Monitor tersebut terhubung pada beberapa bagian ruangan di kantor termasuk ruang lobi. Terlihat Danisa tengah berkomunikasi dengan pihak front-officer. Ranti tersentak. Kini semua atensi mengarah pada Danisa yang berada di layar monitor.
“Aku akan menghampirinya!”
“Tante, biar aku saja yang menemuinya!” Tawar Raga.
Danisa, kau ke sini untuk menemui Devan bukan menemuiku, kan? Gumam Raga sendu. Ia tersenyum masam.
“Tidak nak, biar tante yang menghadapinya! Tante harus memberikannya pelajaran!” Ranti langsung melesat. Rasa sakit dan sesak di tubuhnya seolah lenyap. Semua yang berada di dalam ruangan mengikuti gerak Ranti.
Di lobi, Danisa berulang kali menghubungi Devan. Handphone-nya tidak aktif.
Devan kemana? Danisa menggigit bibir bawahnya khawatir.
Jauhi Devan, Danisa! Dia berbahaya! Kata-kata professor Daniel kembali terngiang.
Apa aku benar-benar harus menjauhinya? Danisa menunduk lesu.
Tap Tap Tap
Suara sepatu yang bergesekkan dengan lantai terdengar.
“Tante, tante mau memberikannya pelajaran kan? Biarkan aku membantu tante untuk merealisasikannya!” Bisik Sarah. Ranti mengerutkan keningnya.
“Jangan mengotori tangan indah tante hanya untuk wanita sepertinya!” Lanjut Sarah lagi. Ranti mengangguk. Sarah berjalan cepat.
Sreeegg. Di hadapan semua orang yang ada di lobi, Sarah membalikkan tubuh Danisa. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Sarah jangaaan!” Sergah Raga.
“Maaf, aku hanya menggantikan nyonya Ranti untuk memberikannya pelajaran” Ucap Sarah lantang. Ia pun mengayunkan tangannya ke wajah Danisa.
Gadis yang belum mengerti tentang apa yang terjadi tersebut terenyak. Hampir saja tamparan mendarat di pipinya. Namun seketika Danisa tersadar. Dengan cepat ia menangkap tangan Sarah.
“Awwww, Danisaa!” Pekik Sarah kesakitan. Tangannya berhasil Danisa pelintir.
“Danisa, lepaskan dia!” Titah Ranti melototkan matanya terkejut. Danisa menoleh, ia mengangguk.
Bruuukk. Danisa menghempaskan Sarah ke lantai.
Awwwww. Sarah mengaduh. Pinggangnya terasa sakit. Ranti membelalakkan matanya tak percaya.
“Kau gadis yang tidak tau sopan santun!!! Kau gadis tarzan!!” Pekik Ranti.
“Kembalikan Devan!! Kemana kau sembunyikan putraku!!” Teriakan Ranti memenuhi lobi.
“Tante stop! Kita akan menjadi headline news di berita!” Bisik Raga.
“Satpam!! Tangkap dia!!!” Ranti kehabisan kesabaran. Dengan cepat Danisa melesat pergi. Dengan sekali gerakan, Ia membabat habis satpam yang menghadang jalannya.
Danisa-ku masih tangguh seperti dulu. Gumam Raga tersenyum. Ranti mengambil gawainya,
“Pak polisi, Saya Ranti Cakrawangsa dari Cakrawangsa Group mau memberikan 2 laporan sekaligus!”
"Tangkap Danisa dan Temukan Devan! " Lanjut Ranti lagi.
Danisa, kali ini aku tidak akan melepaskanmu!! Ranti mengepalkan tangannya geram.
Tap Tap Tap
Danisa berjalan cepat meninggalkan perusahaan milik keluarga Cakrawangsa.
Aku harus segera menemukan Devan! Gumam Danisa mengambil gawainya menghubungi seseorang.
***
Teman-teman, ini 1 bab tapi panjangnya seperti membaca 2 bab ya... Semoga tidak bosan 🤗🤗🤗
Jangan lupa di like setelah membaca~ Thank You 💞💞💞
IG: @alana.alisha
__ADS_1
***