
"Percayalah. Aku sadar karena Xavier putraku baru saja tewas di tangannya! Aku gila harta. Aku buta dalam segala hal. Tapi ternyata, aku sadari hanya Xavier-ku lah yang berharga. Aku sudah buta dalam segala hal. Tapi tidak dengan kalian. Bukalah mata kalian! Sudah saatnya semua kembali ke tempat se... mu.... la...! "
“Tu… Tuan… Tuan… Bangunlaah!!” Asisten mengguncang panik tubuh Mr. X.
Pria yang berpenampilan seperti bajak laut itu jatuh pingsan. Petugas berdatangan. Suasana berubah mencekam. Prof. Daniel bergerak cepat memeriksa denyut nadi dan nafasnya.
“Dia masih hidup! Kalau ditangani dengan tepat, ada kemungkinan selamat” Ucap Prof. Daniel spontan. Naluri sebagai dokter berbicara.
Polisi Bersiap-siap membawa Mr. X ke rumah sakit Bhayangkara.
“Jangan, tolong jangan bawa Mr. X ke rumah sakit!” Pinta asisten. Bayang-bayang Gunawan yang tidak akan membiarkan mereka menari di kepala.
“Pasien harus ditolong, kau bisa terkena pasal pembunuhan berencana jika melarang kami melakukan tugas yang seharusnya!”
Asisten Mr. X terdiam. Dengan wajah cemas dan pasrah ia mengikuti kemana tuannya tersebut itu dibawa.
“Dan… Danisa…” Prof. Daniel dengan sigap menopang tubuh Danisa.
“Profesor sudah melihatnya, Bagaimana kondisi orang tadi?” Tanya Danisa lemah.
“Dia sangat membutuhkan penanganan!”
“Bagaimana ini? Devan tidak bersalah… Aku sudah membunuhnya… Aku sudah membunuhnya… ” Lirih Danisa gemetar. Airmata kembali menetes.
“Belum tentu apa yang dikatakannya benar!”
“Kalau begitu selamatkan dia! Kumohon selamatkan orang tadi!”
“Danisa,, dia penjahat! Dia yang sudah menyebabkan semua kekacauan terjadi!”
“Maka dari itu aku harus menyelidikinya. Aku tidak melihat ada harus mengetahui kebenarannya. Ku mohon selamatkan dia. Ini tentang kedua orang tuaku, tentang kakak laki-lakiku, tentang kakek, nenek dan juga Devan yang sudah kubunuh. Aku tidak bisa hidup dengan menanggung dosa begini. Hanya professor yang bisa! Ku mohon professor mau melakukannya!” Pinta Danisa pilu dengan menangkupkan kedua tangannya memohon. Mata sendunya
“Baiklah…” Sahut Prof Daniel pada akhirnya. Pemuda yang mendapatkan gelar dokter di usia muda itu membiarkan Danisa menangis dipelukannya. Gadis tersebut menangis dengan penuh kebingungan, ketakutan, dan tidak tau harus melakukan apa. Semua bercampur aduk menjadi satu. Hanya bahu Prof. Daniel saja yang saat ini setidaknya bisa sedikit merilis rasa negative yang di rasa sampai akhirnya petugas memisahkan mereka sebab waktu kunjungan sudah habis.
Prof. Daniel meninggalkan ruangan saat sudah memastikan bahwa kondisi Danisa sudah lebih baik. Ia sendiri diam-diam menganalisis peristiwa yang baru saja terjadi. Prof. Daniel sadar bahwa ia tidak boleh bertindak gegabah. Sedikit saja membuat kesalahan, maka semua akan berakibat fatal. Kritisnya Devan di rumah sakit, adalah salah satu dari bentuk kegegabahan.
Prof. Daniel perlahan melangkah ke rumah sakit Bhayangkara yang terletak tidak terlalu jauh. Sebenarnya Ia masih menimbang-nimbang untuk menyelamatkan Mr. X.
__ADS_1
Krisis kepercayaan dan luka masa lalu yang belum sembuh membuatnya ragu. Namun tatapan penuh harap dari Danisa, ah… Sungguh Prof. Daniel tidak tau bagaimana cara menolaknya.
“Daniel!” Mr. Charles melambaikan tangannya. Tidak hanya sendiri, ia datang bersama Roula.
“Kalian menjenguk Danisa?”
“Kau bisa menyebutnya sebagai kunjungan kerja. Aku tengah berusaha melakukan yang terbaik untuk membebaskan Danisa! Kau sendiri, mengapa menuju rumah sakit? Bukankah parkiran berada di sebelah sana?!”
“Aku harus melakukan sesuatu di sana!”
“Melakukan apa? Istirahatlah, Daniel! Kau harus menjaga kesehatanmu!” Ucap Mr. Charles menepuk-nepuk pundaknya dan berlalu di ikuti Roula. Gadis tersebut membalikkan tubuhnya. Ia menatap punggung Prof. Daniel yang berlalu. Roula menatapnya sendu.
----------------
Di rumah sakit Ramayana, kondisi Devan semakin memburuk. Ia belum juga siuman. Pemuda tersebut berada dalam kondisi kritis. Ranti meminta Rudi memanggilkan dokter hebat. Namun dokter hebat masih tidak bisa ditemui.
"Manggala, lakukanlah sesuatu! Kalau begini putra kita satu-satunya bisa pergi untuk selama-lamanya! Apa kau tega?! Huhuuhuu" Tangis Ranti semakin pecah. Manggala yang tidak tau harus melakukan apa hanya bisa memeluk nya.
"Aku akan mendatangkan dokter-dokter dari mancanegara untuk menangani Devan! "
"Halo Tuan Manggala! Jujur saja saat ini saya sedang menangani kasus sulit!" Orang di seberang mengangkat panggilannya.
"Mr. Charles.. Ku mohon, saat ini kami sangat butuh kehadiran dokter hebat! Kami bersedia membayar berapapun. Kami bersedia menyerahkan apapun! Tolong hadirkan dokter hebat untuk membantu menyembuhkan putra kami! Kau dekat dengan dokter hebat! Kau bisa membujuknya. Seumur hidup Aku tidak akan pernah melupakan jasamu" Pinta Manggala dengan suara parau.
Mr. Charles yang tengah mengunjungi ke polisian me-Loud-Speaker-kan handphone dengan menatap Danisa. Gadis tersebut mendengar kan dengan tenang namun hati dan jiwanya terasa tersayat-sayat. Roula memeluk menenangkan nya. Danisa meyakinkan diri bahwa yang dilakukannya benar. Namun kesaksian Mr. X yang sekarat menggoyahkan pertahanan nya.
Kepada Manggala, Mr. Charles tidak bisa menjanjikan apapun, namun ia berjanji akan segera memberikan kabar.
"Mengapa kau memohon pada Charles? Kau lupa bahwa ia dan gadis terkutuk itu adalah teman karib?! Manggala, kau sudah gila!!" Sembur Ranti kesal.
"Aku sudah tidak tau harus melakukan apalagi! Yang jelas, kesembuhan Devan adalah fokus utama! Mungkin Danisa memang sudah hilang akal. Namun Charles, dia pasti bisa bijak dalam melakukan penilaian! Lagipula bukan Charles yang akan menolong putra kita melainkan dokter hebat! Kita hanya butuh dokter hebat! "
Tap Tap Tap
Suara langkah high heels memenuhi lorong. Sesosok wanita muncul.
"Tante, masih ingat aku? "
__ADS_1
"Jihan? " Lirih Ranti bergerak mundur. Ibu dari Devan tersebut tidak menyangka Jihan yang sudah lama menghilang tiba-tiba hadir di tengah mereka.
"Berikan aku kesempatan untuk menolong Devan! "
"Kau? Mau menolong Devan?! " Manggala mengerutkan kening dan tersenyum meremehkan. Ia masih tidak bisa melupakan rekam jejak kejahatan-kejahatan yang pernah gadis tersebut lakukan.
"Benar, aku punya lisensi internasional! Kemampuanku setara dengan 3 dokter lulusan terbaik bahkan lebih! Untuk hal ini aku ingin membantu Devan! " Sahut Jihan.
"Pergilah! Kau pikir nyawa putraku bisa menjadi bahan percobaan mu?! Kau terlalu mengada-ada! " Ulti Manggala.
"Aku sama sekali tidak ingin membuat Devan sebagai bahan percobaan! Kehadiran ku di sini tulus. Maka aku ingin bertaruh! Waktu sudah tidak banyak. Om, Tante... Mari kita bertaruh!"
"Bertaruh? Apa maksud mu?! "
"Aku akan mengobati Devan, jika terjadi apa-apa... Maka aku akan bertanggungjawab penuh terhadapnya! Aku akan ikut mengakhiri hidupku dengan mengubur kan diri. Namun jika aku berhasil menyelamatkan nyawa Devan, aku ingin kalian menyerahkan beberapa aset milik keluarga Cakrawangsa serta yang terpenting,, Devan harus menikahiku! " Ucap Jihan mengatakan keinginan nya secara gamblang. Ia mengeluarkan secarik kertas bermaterai dengan berbagai point-point yang telah tertuang dengan jelas di sana. Ranti dan Manggala menatap satu sama lain. Dari Ekspresi wajah, mereka seperti sudah saling paham tanpa harus berkata-kata.
"Silahkan Tuan Manggala dan Tante Ranti menghubungi kakek Cakrawangsa untuk berdiskusi. Waktuku tidak banyak! Dan aku bisa saja berubah pikiran! " Lanjut Jihan lagi dengan langsung berlalu keluar dari ruangan. Ia memberikan Ranti dan Manggala waktu untuk berdiskusi. Jihan yang telah sepakat bergabung bersama tim Gunawan telah melakukan tugasnya sesuai titah yang diberikan.
Manggala dengan cepat menghubungi Cakrawangsa yang tengah melakukan perjalanan bisnis ke keluar negeri. Siapapun dari mereka juga belum mengabari laki-laki yang sudah berumur tersebut tentang apa yang menimpa Devan.
"Kalian benar-benar membuatku kecewa!! " Hardik orang yang mereka anggap sebagai Cakrawangsa di seberang.
"Aku akan segera pulang ke Indonesia! Kalian harus cepat bertindak! Terima saja penawaran Jihan! Kita tidak boleh memikirkan ego kita sendiri! Keselamatan Devan cucu-ku adalah segalanya! " Tutup Cakrawangsa. Dengan penuh keraguan, Ranti dan Manggala menandatangani surat persetujuan. Jihan tersenyum manis.
Ddrrrttt Drrrtttt
Panggilan masuk membuyarkan konsentrasi nya. Jihan menepi. Gunawan menelpon nya dan mewanti-wanti agar gadis tersebut bisa langsung membunuh Devan. Gunawan sendiri berjanji untuk menyelamatkan hidupnya. Bahkan Gunawan sudah menyiapkan berbagai aset untuk Jihan agar ia bisa hidup tenang di luar negeri. Senyum manis Jihan memudar, sebenarnya Ia sendiri mengambil kesempatan ini untuk bertahan hidup sekaligus merealisasikan mimpi lamanya yang hampir terkubur, yaitu menjadi istri Devan. Walau ia sendiri tidak tau bagaimana caranya harus menolong Devan yang sedang berada dalam kondisi kritis. Dan peringatan tegas dari Gunawan membuatnya terpaksa mengikuti alur permainan.
Mereka dengan cepat memanggil Rudi. Pimpinan rumah sakit itu tidak memiliki pilihan selain mengikuti apa yang mereka inginkan. Ia kembali memeriksa kondisi Devan. Setelah operasi pertama dengan para pakar ahli dan sama sekali tidak memiliki kemajuan, maka mereka menyiapkan operasi kedua. Operasi Devan sendiri akan di pimpin oleh Dokter Jihan.
"Percayakan padaku, Aku sendiri sangat percaya diri! " Ucap Jihan dengan artikulasi jelas. Raut wajahnya menyiratkan bahwa ia akan membawa mentari ke tengah-tengah mereka. Manggala dan Ranti yang pasrah hanya bisa mengangguk.
Hari-hari selanjutnya, Jihan melakukan berbagai tes psikologi dan tes urine. Gadis tersebut dengan mudahnya lulus. Ia siap melakukan operasi besar terhadap pewaris tahta keluarga Cakrawangsa.
...----------------...
"Jihan akan melakukan operasi, kau sudah tau apa yang harus kau lakukan kan? " Tanya Charles pada Danisa yang telah lengkap memakai pakaian dokter hebat. Diam-diam Danisa bergabung dalam tim barisan Jihan.
__ADS_1