Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 12: Danisa Tidak Bersalah


__ADS_3

“Apa maksud semua ini Danisa?!” Devan menuntut penjelasan. Ia mengarahkan tubuhnya menghadap ke arah Danisa. Kini semua tatapan tidak ramah mengarah pada gadis tersebut bahkan kakek terlihat seperti memasang wajah curiga.


“Danisa, bisakah kamu menjelaskan ini semua, Nak?” Pinta kakek dengan lemah lembut. Beliau angkat bicara meminta Danisa untuk menjelaskan semua.


“Gadis bisu itu memang belagu. Kemarin waktu saya melapor ke kantor polisi, eh dia malah nyewa pengacara! Tau tidak siapa yang ia sewa? Mr. Charles, Pengacara terkenal itu! Dia pikir dia siapa?! Cih!” Ucap Noori masih terus mengajak Jihan dan Ranti berbincang di sudut ruang.


“Ha? Benarkah? Bisa begitu ya, Tan? Tapi dapat uang darimana dia bisa menyewa pengacara?" Jihan pura-pura terkejut.


“Astaga!!! Anak itu benar-benar anak yang tidak terdidik! Tidak punya sopan santun! Bagaimana bisa papa memilihnya sebagai menantu! Aku tidak mengerti dengan pemikiran papa!” Cibir Ranti semakin geram.


“Iya… Benar… Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal! Dia sudah sangat keterlaluan” Tambah Noori lagi. Tak lupa ia mengerlingkan senyuman pada Jihan. Kali ini mereka merasa seperti berada di atas angin.


Kakek yang mendengar suara sumbang yang sangat berisik memberikan isyarat agar mereka diam. Beliau mengangkat tangannya.


“Bagaimana Nak Danisa? Bisakah kamu menjelaskan apa hubunganmu dengan pria tua yang ada di foto? Silakan dijelaskan agar masalah ini selesai!” Kakek kembali bertanya dengan kalimat yang menekan dan tatapan penuh intimidasi. Ia juga merasa tidak enak pada beberapa tamu yang di jamu nya dan tengah menunggu di ruang makan. Semua atensi pindah ke Danisa.


Maafkan aku nak, sebenarnya aku tau bahwa ini semua adalah perbuatan teman masa kecil Devan, aku tau dia bukanlah wanita polos. Maafkan aku harus memojokkan mu demi mengungkapkan sebuah kebenaran. Ucap batin kakek Cakrawangsa.


Danisa mengeluarkan handphone nya dari dalam tas ransel. Ia mengetikkan sesuatu di sana. Gadis ini mengakui bahwa sebenarnya ia memang mengenal orang yang terdapat di dalam foto.


“Hahahaha” Jihan tertawa puas. Ia menunjukkan wajah sinis lagi mengejek. Mengeluarkan smirk yang merendahkan. Namun ternyata Danisa belum selesai dengan ucapannya. Ia masih menambah ketikkannya. Lalu gadis tersebut mengetikkan sebuah nama di sana.


Beliau adalah Pak Rudi Aditya Kusuma.


Jihan bingung siapa orang yang Danisa sebutkan. Sebenarnya ia juga tidak terlalu mengenal siapa laki-laki yang ia bawa dan mengaku sebagai tunangan Danisa itu. Jihan hanya tahu bahwa Edo adalah juniornya di sekolah.

__ADS_1


“Hmh.. Pak Rudi adalah ayah kandung saya!” Ucap pemuda yang Jihan bawa. Baru saja Jihan ingin mempertanyakannya, namun ternyata Edo telah lebih dahulu menjawabnya. Teman masa kecil Devan hanya mengangguk-angguk. Ia merasa bahwa Rudi pastilah hanya orang biasa.


“Haha jadi begitu kelakuanmu?! Kau tidak hanya menggoda anak tapi juga ayahnya?! Benar-benar perempuan murahan!!” Jihan tertawa sinis. Lagi-lagi ia merendahkan Danisa.


“Tidak di sangka, tampang alim mu hanya kedok belaka! Kau tidak hanya menyakiti anak-ku! Namun kau juga memiliki citra yang buruk dimana-dimana!” Tambah Noori. Ia semakin melontarkan kalimat hujatan.


“Cukup!! Semuanya harap tenang!!” Melihat suasana yang semakin kacau, kakek kembali memberikan teguran.


“Pak Rudi yang disebutkan adalah kepala sekolah dari Yayasan tempat Danisa bersekolah!” Ucap kakek dengan wajah tenang. Para anggota keluarga sudah tidak terkejut sebab saat Danisa menyebutkan nama tersebut, sebenarnya mereka memang telah mengenalnya. Hanya Jihan dan Noori yang tercengang karena mereka tidak mengetahui fakta yang sebenarnya.


“Astaga Danisa!! Kamu mencemari nama kepala sekolah tempat mu menuntut ilmu?!” Jihan menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang Danisa lakukan. Jihan membela sang kepala sekolah.


“Begitu ternyata kelakuan mu! Dasar wanita penggoda!! Kamu menggoda pria manapun tanpa pandang bulu! Cuihh!” Noori menambahkan dengan senyum mengejek. Ia semakin memanas-manasi keadaan.


Tap Tap Tap


“Hemmm” Pria paruh baya ini berdehem.


“Selamat Datang Mr. Rudiiii” Kakek menyambut beliau dengan hangat. Mereka tersenyum hangat. Ternyata orang yang masuk ke dalam ruangan adalah Kepala Sekolah yang tengah dibicarakan. Beliau adalah ayah dari Edo, Orang yang mengaku sebagai tunangan dari Danisa. Rudi adalah orang yang jarang hadir di acara perjamuan. Namun kali ini ketika kakek mengundang nya, beliau menyempatkan diri.


“Terima kasih untuk sambutannya Cakrawangsa!” Sahut Rudi berwibawa. Atensinya beralih ke Edo, anaknya yang hadir di sana.


“Edo! Apa yang kamu lakukan di sini?! Mengapa kamu membuat kegaduhan? Memalukan!” Hardik Rudi. Edo dengan patuh berdiri dibelakang beliau. Ia menunduk takut.


Rudi beralih melihat foto yang ada di atas meja. Saat ini semua pasang mata berpusat ke pergerakannya.

__ADS_1


“Mengenai foto ini….” Rudi menjeda kalimatnya.


“Dia pernah menyelamatkan saya” Rudi menunjuk Danisa.


“Saya sangat berterima kasih dan menganggapnya seperti anak saya sendiri. Jadi ketika itu, saya mengajak keluarga untuk tinggal di desa tempat Danisa tinggal. Keluarga saya dan keluarganya berhubungan baik!” Terang Rudi mengenang kebaikan muridnya tersebut. Suasana hening. Semua terdiam. Mereka kaget akan pengakuan kepala sekolah.


“Maka dari itu saya tidak berbohong. Saya adalah tunangan dari Danisa” Tukas Edo yakin akan pengakuan nya.


“Tidak hanya itu saja, Ayah juga mengatakan akan menemui nenek untuk meminang Danisa agar segera bisa ia nikahi… Selain itu…”


“Edo!! Cukup!! Semua yang kamu ucapkan itu hanya ada dalam pikiran mu saja!! Hanya ada dalam benak dan hayalanmu!! Kamu tidak pantas menikahi Danisa!”


“Danisa harus menikah dengan orang yang lebih baik dari Edo!” Lanjut Rudi tegas. Semua orang yang mendengarkan kaget. Rudi tidak hanya membela Danisa, pria paruh baya tersebut sangat menyukainya hingga mengatakan bahwa anaknya saja tidak pantas menikahi Danisa. Jihan dan Noori bungkam. Mereka menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. Kakek sumringah. Beliau yang sudah mengetahui kualitas yang Danisa miliki sudah tidak ragu lagi. Hanya Rani dan Manggala yang masih keheranan.


“Edo,, katakan siapa yang memintamu untuk bicara?! Katakan?!” Desak Rudi pada anaknya.


“Se… Sebenarnya… Edo diminta oleh dia untuk ke sini dan bicara sesuai instruksinya” Edo menunjuk Jihan. Wajah orang-orang yang hadir terlihat serius.


“Sss… Saya…” Jihan mulai gelagapan.


“Edo diberikan sejumlah uang oleh nya untuk berbicara di hadapan orang yang hadir di sini” Ucap Edo lagi. Ia menunduk kan kepalanya. Lagi-lagi semua orang yang ada dalam ruangan tercengang.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤

__ADS_1


IG @alana.alisha


***


__ADS_2