
Devan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Ia tidak terlalu mempedulikan kesehatan tubuh yang belum sepenuhnya pulih. Apartemen Danisa adalah tujuannya. Namun sayang, sesampai di sana apartemen tersebut kosong. Dengan langkah gontai Devan memutar haluan. Rasa pusing yang mendera tidak menjadi penghalang baginya. Ia terus menyusuri jalanan raya mengunjungi tempat-tempat yang memungkinkan Danisa berada.
Ciiiiitttt
Devan menge-rem mobilnya secara mendadak. Kecepatan tinggi menyebabkan bunyi decitan ban yang bergesekkan dengan aspal terdengar.
Apa Danisa berada di apartemen Raga? Pikir Devan. Sejujurnya ia sudah tidak bisa berpikir jernih. Dengan cepat pemuda tersebut memutar arah tujuan. Tak lupa, ia menghubungi beberapa asisten untuk mencari keberadaan mantan tunangannya tersebut.
Di sisi lain di tempat berbeda, Danisa dan Raga tengah berada di sebuah butik milik seorang designer ternama. Hari ini mereka diagendakan melakukan fitting baju pernikahan. Dengan wajah datar Danisa melihat-lihat baju yang rencananya akan ia kenakan.
“Raga, kau benar-benar akan menikahinya?” Bisik Designer yang merupakan sahabat lama Raga dan Devan. Ia mengerutkan kening tak mengerti. Raga hanya mengangguk sambil terus memandangi Danisa yang kini sedang berjalan ke arah ruangan ganti. Rasa-rasanya, tidak ada yang lebih membahagiakan baginya daripada saat ini. Moment-moment yang sudah lama ia dambakan.
“Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan! Sebelumnya aku sudah bernafas lega bahwa Devan dan dia telah batal menikah. Mengapa sekarang malah kau yang terjerat?” Raga sontak menoleh.
“She’s so special, Selena!” Ucap Raga tanpa keraguan. Selena hanya bisa menghembuskan nafas dan menggeleng-gelengkan kepala. Rumor tidak sedap tentang buruknya reputasi Danisa membuatnya kesal. Seharusnya Raga bisa menikahi wanita lain dari kalangan manapun yang dia mau. Namun Selena tidak memiliki pilihan selain mengikuti apa yang sahabatnya tersebut inginkan. Selena dan Raga lanjut berbincang ringan sampai suara decitan pintu terdengar.
Danisa muncul dengan pakaian pengantinnya. Raga terenyak. Ia melihat gadis tersebut tanpa berkedip. Danisa tampak sangat cantik dalam balutan busana serba putih. Padahal ia belum memoles wajah nya dengan riasan makeup, namun sudah cukup membuat calon suaminya terpana. Danisa menggerakkan tangan membuyarkan lamunan Raga, menanyakan pendapat pemuda tersebut dengan memberi isyarat tangan.
"A... Awesome… You look so pretty, simple but elegant!” Lirih Raga memuji tulus dengan mata berbinar-binar. Ia sempat sedikit terbata. Danisa sedikit menyunggingkan senyumnya. Mereka sepakat gaun tersebut akan menjadi gaun pernikahan yang akan dikenakan pada pekan depan.
Danisa memandangi foto-foto pernikahan yang terpajang di sana. Seketika perasaannya bercampur aduk tak karuan. Sejujurnya Danisa tidak menginginkan pernikahan ini. Raga hanya lah seorang kakak baginya. Di hati Danisa tidak ada cinta seperti cinta perempuan terhadap laki-laki di sana. Ia memandang Raga sebagai kakak laki-laki yang ia sayangi. Hanya sebatas itu saja. Tidak lebih. Seketika Danisa menunduk lesu. Selena seketika mengerutkan keningnya. Ia menangkap raut wajah tidak tidak bahagia di sana.
Braakk
Tiba-tiba seseorang membuka pintu dengan kasar. Tampak Devan dengan nafas terengah-engah muncul dari sebaliknya. Danisa terpaku. Devan memandangnya dengan sorot mata tajam.
"Kita harus bicara! " Ucap Devan maju dengan menarik Danisa. Ia mencengkram pergelangan tangan gadis tersebut erat-erat. Menggiring nya ke pintu. Selena hanya bisa terperangah.
"Dev, stop! " Teriak Raga. Ia menahan tubuh Devan untuk tidak pergi. Pemuda tersebut tidak menggubris panggilan Raga. Ia menghempas kuat tangan yang bertengger di bahunya dan tetap membawa Danisa pergi setelah memberikan tatapan mematikan. Dalam keadaan terdesak, Danisa menyempatkan diri memberi isyarat pada Raga untuk membiarkannya pergi dan mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Bagaimanapun permasalahan dan sangkut pautnya pada Devan harus diselesaikan sebelum pekan depan mereka menikah.
Bruuukkk
Devan memasukkan Danisa ke dalam mobil. Tanpa berbicara, ia membawa gadis tersebut bersamanya. Devan melajukan mobil dan menepikannya setelah mereka sampai di sebuah villa pribadi miliknya.
__ADS_1
"Mengapa kau mengambil keputusan sepihak? " Todong Devan dengan pupil mata mengecil. Ia benar-benar merasa kecewa.
"Kita sudah tidak memiliki ikatan apapun. Apa kau tidak malu menculik tunangan orang lain? " Sarkas Danisa. Perkataannya membuat Devan terperanjat.
"Jadi kau benar-benar ingin menikah dengannya setelah semua yang kita lalui? "
"Dev, Kita tidak melalui apapun! Selama ini pertunangan kita juga karena sebuah keterpaksaan! Jadi stop bertingkah seolah-olah aku milikmu! Sekarang sudah jelas bahwa aku telah bertunangan dengan Raga dan pekan depan kami akan menikah! " Tegas Danisa. Devan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku berterimakasih karena kau telah berjasa menyelamatkanku, tapi kisah kita sudah usai. Lagipula keluarga mu tidak menyukaiku, dan selamanya akan begitu! "
"Kau berubah! Dalam waktu singkat kau berubah, Danisa! Kau tertekan. Tapi Aku tau kau mencintaiku! "
"Aku tidak pernah mencintaimu! " Sambar Danisa lantang.
"Kalau kau tidak mencintaiku, kenapa kau menerima ciumanku? Kenapa kau tidak menolaknya? Kita melakukannya dalam durasi yang tidak sebentar!"
Plaakkkk
Sebuah tamparan mendarat. Tidak terlalu keras namun cukup membuat Devan yang kondisinya belum stabil terhuyung.
"Apa memang ini yang kau inginkan?" Tanya Devan lesu. Danisa mengangguk.
"Aku bisa meyakinkan keluarga ku kalau memang kau bersedia untuk ku nikahi! Aku akan melindungi mu....Menjagamu..." Ucap Devan pada akhirnya.
"Cih" Danisa berdecih.
"Aku membencimu Devan! Aku tidak bisa menikah dengan orang yang keluarga nya telah membunuh keluarga ku!!" Ucap Danisa tajam. Ia yang biasa tampak tenang, kali ini memunculkan emosinya ke permukaan. Mata Devan terbelalak.
"A... Apa katamu....?"
"Apa maksud mu mengatakan hal tersebut Danisa??" Tanya Devan masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Pertanyaan tersebut bertepatan dengan munculnya sebuah mobil BMW putih yang berhenti di parkiran halaman. Ternyata Raga menyusul mereka hingga ke villa.
***
__ADS_1
"Apa kau benar-benar menginginkan Devan? " Tanya Prof. Daniel pada Roula setelah selesai memasak Cheese Omelette di apartemen nya.
"Tentu saja, apa kau sudah berubah pikiran dan ingin membantuku? "
"Aku tidak yakin"
"Aku pikir kau mengajakku kesini karena ingin membalas budi padaku! " Sindir Roula sambil memakan omelette buatan Prof. Daniel dengan santai.
"Aku ingin tau apa yang terjadi padamu setelah peristiwa itu! "
"Kau pikir aku akan memberitahukan nya kepadamu semudah itu? " Tanya Roula sarkas.
"Kenapa tidak? " Prof. Daniel balik bertanya. Roula tersenyum misterius. Ia mengambil sebatang rokok dari dalam tas dan menghidupkan nya. Lalu gadis tersebut menawarkan nya untuk prof. Daniel.
"Maaf, aku tidak merokok! "
"Apa kau tidak memiliki minuman beralkohol? "
"Aku juga tidak minum alkohol"
"Haha apa karena kau seorang dokter? Rokok dan Alkohol merusak kesehatan! Bla Bla Bla..." Beber Roula menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas, meremehkan. Asap tampak mengepul-ngepul.
"Merokok setelah makan membuat kesehatan memburuk 2 x lipat! " Ucap Prof. Daniel.
"Apa semua dokter sama seperti mu, hm? Tapi aku sedang tidak ingin berbasa-basi! Cepat katakan apa yang kau inginkan! Selain permintaan mu tadi, pasti kau punya misi terselubung! Aku tidak mudah untuk di kendalikan, Daniel! " Ucap Roula kembali menghembuskan asap ke udara.
"Keluarga Devan bukan orang baik! Kau melihat sendiri Cakrawangsa dan Manggala berada di lokasi kejadian saat mereka ingin membabat leherku! Kau tidak benar-benar mencintai Devan! Kau hanya bersandiwara! Seharusnya sedari awal kau menghindari keluarga nya karena mereka berbahaya! Dari sisi psikologis, sudah seharusnya kau trauma! Roula, di sini bukan aku yang memiliki misi terselubung, tetapi kau! " Tukas Prof. Daniel menaikkan sebelah alisnya ke atas.
"Huk Huk Huk! " Roula terbatuk seketika. Rokok yang ia pegang tidak sengaja terjatuh. putung yang masih menyala mengenai dress yang ia kenakan. Seketika api menyala.
***
Informasi:
__ADS_1
IG: @alana.alisha
***