
Ranti tengah mendesak Cakrawangsa untuk membatalkan pertunangan yang sudah terjadi di antara Devan dan Danisa. Wanita sosialita ini sudah tidak mampu mentolerir sikap gadis tersebut yang dinilai terlalu bar-bar dan pembuat onar.
“Dev, kau mencintai mama kan? Kau percaya pada mama kan?” Pertanyaan yang Ranti lontarkan membuat Devan dilemma. Raga duduk mengamati dengan wajah datar. Entah apa yang tengah pemuda tersebut pikirkan.
“Ma, kita tidak bisa memutuskan pertunangan secara sepihak. Kalau pun harus dibatalkan, semua harus dipikirkan dengan matang”
“Dev, mama sudah tidak sanggup! Mama capek, Nak!” Keluh Ranti.
“Ranti, kau hanya salah paham saja pada Danisa! Percayalah, dia gadis yang baik!” Cakrawangsa mencoba meluluhkan hati putrinya. Ranti menggeleng kuat, keinginannya sudah tidak bisa diganggu gugat.
Aku harus bagaimana? Devan berpikir cepat.
Sedangkan pada sebuah café, Danisa buru-buru menyeruput minumannya. Gadis ini akan pergi menemui Professor Daniel.
Aku sudah mengetahui siapa orang yang ada dibalik Jihan. Aku tau siapa orang tersebut!
Begitulah bunyi pesan dari Professor Daniel dan cukup berhasil membuat jantung Danisa seketika berdetak kencang.
Siapa orang tersebut, Prof?
Temui aku satu jam lagi di taman kota, kita bicara di sana.
Danisa langsung keluar dari cafe hendak memanggil taksi. Ia berjalan cepat ke arah jalan raya. Gadis ini setengah berlari. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui fakta yang sebenarnya. Setidaknya jika mengetahui siapa dalang dibalik semua kejahatan Jihan, itu akan membuatnya selangkah lebih maju dalam melakukan penyelidikan berikutnya.
Tap Tap Tap
Hampir saja Danisa sampai ke badan trotoar namun tiba-tiba,
Bruuuuukk
Danisa dan seorang wanita yang berlawanan arah saling bertubrukkan. Orang tersebut beserta buku-buku yang ditenteng jatuh berceceran di jalanan.
Oh Rabbi…
Danisa dengan sigap membantunya. Ia juga menangkupkan tangan mengisyaratkan bahwa ia meminta maaf karena buru-buru sehingga tidak berkonsentrasi.
“Tidak apa-apa nona, Aku baik-baik saja!” Ucap wanita tersebut. Danisa memberikan lambang okay pada jari tangannya mengisyaratkan bahwa ia mengucapkan terima kasih dan akan langsung pergi. Wanita tersebut mengangguk.
Setelahnya, Danisa menyetop taksi. Wanita yang mengangguk tersebut memperhatikan gerak langkah Danisa yang menghilang bersama taksi. Ia tersenyum penuh arti.
***
__ADS_1
Suasana di kantor masih tegang. Seberapa keras Cakrawangsa mencoba membujuk Ranti, namun putrinya tetap pada pendiriannya. Pertunangan Raga dan Danisa harus dibatalkan. Itu merupakan harga mati.
Devan melirik ke arah Raga yang sepertinya sangat menikmati suasana ini. Apa sahabatnya itu memang menyukai Danisa? Seharusnya Raga tau kalau mereka sudah bertunangan dan berhenti berharap.
Tidak. Jika mama bersikeras membatalkan pertunangan kami, sudah tentu Raga akan bertindak. Aku tau persis bagaimana Raga. Hhhhh. Devan mendengus.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu yang terdengar nyaring mengalihkan atensi semua orang yang berada di dalam ruangan. Terlihat Jihan yang masuk dengan tergesa.
“Hah hah hah. Maaf kakek, tante… Dev… aku terpaksa menerobos ke sini! Danisa… Danisa…” Jihan tampak terengah. Nafasnya terdengar memburu.
“Danisa kenapa?!” Devan bangkit dari duduknya.
“Danisa baru saja ditangkap oleh polisi atas kepemilikan obat-obatan terlarang saat berada di depan gerbang taman kota!” Adu Jihan.
“Apa?!” Ranti ternganga. Kepala beliau mendadak terasa sakit.
“Jihan, kau jangan mengada-ada!” Cebik Devan. Jihan menggeleng.
“Tadi kebetulan aku melintasi jalan itu saat akan ke kampus. Lihatlah pakaian yang aku kenakan, Kau bisa menge-cek jadwal ku di sana. Mana mungkin aku mengada-ada!” Sergah Jihan.
"Tenang tante, aku sudah lebih lebih dulu memikirkan hal tersebut. Aku langsung menelpon dan meminta papa untuk tidak menerbitkan berita apapun yang meliput Danisa. Walau tidak banyak membantu, setidaknya beberapa media besar tidak akan menerbitkan berita memalukan ini" Ucap Jihan perhatian. Ayah Jihan yang Notabene nya pemilik media besar kali ini ia andalkan. Ranti langsung memeluk Jihan penuh haru.
"Kamu sangat menyayangi keluarga kami. Terima kasih, Nak! Kamu anak yang pengertian dan baik hati! " Ranti menangkupkan tangannya ke wajah Jihan. Gadis ini melirik Devan. Puas.
"Aku akan ke kantor polisi sekarang! " Devan mengambil kunci mobil dan jaketnya dari kursi. Pemuda ini langsung melesat tanpa mempedulikan keberadaan Jihan yang terus menatapnya. Raga juga tidak tinggal diam. Ia mengikuti gerak langkah Devan setelah sebelumnya melayangkan tatapan membunuh pada Jihan hingga gadis tersebut kesulitan menelan salivanya.
"Nak, Tante juga harus ke kantor polisi! Tante harus bisa menyakinkan Devan untuk membatalkan pertunangannya" Ucap Ranti. Jihan mengangguk. Ia memberikan senyumnya.
***
Prof, sekarang aku berada di kantor polisi. Aku dijebak! Seseorang memasukkan beberapa gram bubuk ekstasi ke dalam tas ku! Ketik Danisa ketika ia berhasil di ringkus anggota kepolisian. Professor Daniel yang baru akan tiba di taman tidak sempat bertemu dengan Danisa yang telah terlebih dahulu di tahan.
Kasus ini tidak akan mudah. Walau kau terbukti tidak memakai nya, mungkin kau akan terjerat pasal kepemilikan. Tapi bersabarlah! Charles pasti akan mengeluarkan mu dari sana! Balas prof. Daniel menenangkan. Tapi beliau sendiri mengepalkan tangannya. Musuh sangat cepat bertindak. Danisa adalah sasaran empuk mereka.
Tidak Prof, kali ini aku tidak bisa melibatkan Mr. Charles dalam kasus ku! Beliau sudah terkonfirmasi sebagai dokter hebat. Walau banyak yang ragu dan tidak percaya, tapi setidaknya sekarang beliau tengah menjadi sorotan. Dan ini akan berbahaya untuk keselamatan nya. Danisa menjentik-jentikkan jari jemarinya di pintu besi. Gadis ini berpikir keras.
Pleting*
Seorang petugas kepolisian membuka pintu jeruji besi.
__ADS_1
"Kepada tersangka Danisa Maria Anna, Anda dipanggil ke ruang pemeriksaan untuk melakukan pemeriksaan pertama! "
Rombongan keluarga Devan tiba bertepatan dengan petugas yang menuntun Danisa ke ruang pemeriksaan. Jihan melihat Danisa dengan tatapan sinis.
Kau akan mendekam di sini selama-lamanya! Devan akan membatalkan pertunangan kalian! Tante Ranti sudah berada dipihak-ku! Dalam kisah ini, Satu dunia akan tau siapa yang akan menjadi pemenang! Jihan menaikkan sebelah alis nya ke atas.
Tatapan mata Danisa beralih ke Devan. Mereka saling menatap.
Pasti ada yang tidak beres! Gumam Devan curiga.
"Kau lihat nak, tatapan sendu itu! Dia bukan gadis baik-baik! Kau jangan sampai terpedaya olehnya! " Bisik Ranti menggenggam tangan Jihan. Tatapan Devan terus menyoroti Danisa yang dibawa petugas berjalan melewati mereka.
"Tungguuuu! Berhentiiii! " Dari arah pintu masuk Raga menghentikan semua pergerakan mereka.
"Pak, saya yakin Danisa tidak bersalah! Saya bersedia menjadi penjaminnya! " Ucap Raga. Devan terenyak.
"Kita tetap harus melewati prosuder pemeriksaan, Tuan Muda! " Sahut petugas kepolisian.
"Tenanglah Danisa, aku akan mengeluarkan mu dari sini! " Ucap Raga yang tidak mempedulikan tatapan orang-orang padanya.
"Raga, apa maksudmu?! "
"Dev, aku tau kau tidak akan membantu Danisa. Kau sendiri akan membatalkan pertunangan kalian kan? Aku tidak akan membiarkan Danisa mendekam di penjara! Aku berada di pihak nya! " Tuding Raga dengan menekankan setiap kata-katanya. Kali ini giliran Danisa yang terenyak. Ia mengerutkan keningnya menatap Devan. Sedikit terkejut dengan pernyataan Raga tentang pembatalan pertunangan.
"Tuan Muda, Apakah anda seorang pengacara? Kalau iya, anda bisa mengikuti kami! " Ucap petugas tersebut.
"S... Saya... Maksud sa.. saya" Raga sedikit gelagapan. Ia tidak menyangka petugas akan langsung menodongnya. Padahal ia sudah akan meminta bantuan Mr. Charles.
"Itu Saya!! " Terdengar langkah kaki dari arah berbeda. Semua atensi teralihkan.
"Saya! Saya yang akan menjadi pengacaranya! " Suara seorang pria dengan sebelah mata yang tertutup terdengar menggelegar.
"Mr. Xavier?! " Semua orang tercengang.
***
Jangan lupa Like nya setelah dibaca, Terima kasih 💞💞💞
Need Info, Contact: 👇
IG: @alana.alisha
__ADS_1