
Mr. Xavier, Investor muda yang baru saja bekerja sama dengan perusahaan keluarga Cakrawangsa hadir di kantor kepolisian dan menyatakan akan melakukan pembelaan terhadap Danisa. Jutawan yang memiliki harta berlimpah itu juga pernah mengenyam pendidikan ilmu hukum pada salah satu kampus bergengsi dunia. Walau namanya belum setenar Mr. Charles, namun ia termasuk salah seorang pengacara yang diperhitungkan.
Apa yang dilakukan Xavier? Mengapa ia membela Danisa? Apa yang direncanakannya? Jihan mengerutkan kening. Kehadiran Mr. Xavier membuat gadis ini sedikit terkejut.
“Ranti, kau melihatnya kan? Danisa bukan gadis sembarangan. Ia anak yang baik. Kalau tidak, mana mungkin ada orang yang membelanya!” Ucapan Cakrawangsa membuyarkan lamuan Ranti. Wanita yang telah berusia 45 tahun itu tampak berpikir.
“Jangan terpedaya tante, aku tau persis siapa Mr. Xavier itu! Ia suka bergonta-ganti wanita. Banyak media yang meliput kisah perselingkuhannya. Bukan tidak mungkin Danisa tidak memiliki affairs dengannya. Mungkin saja Danisa itu….. hmh mengobral dirinya!” Bisik Jihan. Lutut Ranti mendadak lemas. Ia seperti tidak lagi kuat untuk menapak. Jihan memegang Ranti erat-erat.
“Ma, mama kenapa?!”
“Di lihat dari gelagatnya. Tante Ranti mendadak darah tinggi, Dev!” Ucap Jihan. Ia yang seorang dokter mengambil alat untuk mengukur tensi darah dari tas.
“Tensi darah tante 140/80. Benar-benar tinggi! Aku akan membawa tante pulang!” Ucap Jihan perhatian.
“Tidak usah! Mama akan di antar supir yang sekalian mengantar kakek pulang. Kek, istirahat lah! Biar kasus Danisa, Devan yang akan melihat perkembangannya!” Saran Devan. Cakrawangsa mengangguk.
“Dev, ingat! Kalau kau tidak ingin mama mati muda, segera batalkan pertunanganmu dengan Danisa!” Ranti memegang tengkuknya yang terasa sakit. Jihan tersenyum. Devan memijat pelipisnya. Sepeninggal Ranti, Pemuda ini langsung melesat keluar dari kantor polisi.
Jihan dengan cepat mengambil gawainya. Ia melihat ke kanan dan ke kiri lalu masuk ke dalam toilet. Ia langsung menghubungi Mr. X.
"Ada apa anak manis? " Suara serak basah Mr. X terdengar dari seberang.
"Kenapa Putra Tuan yang bernama Xavier mau membela Danisa?" Tanya Jihan kebingungan.
"Hahahaha. Anak bedebaah itu!!" Mr. X mengepalkan tangannya.
"Biarkan dia melakukan apa yang ingin dilakukannya! Dan kau, lakukan lah apa yang menjadi tugas mu! " Sahut Mr. X. Ketus.
"Lalu, apa langkah Mr. X selanjutnya? Jujur saja aku agak surprised ketika Xavier berdandan ala perompak. Lengkap dengan topi dan penutup mata!" Ucap Jihan lagi.
"Aku akan memanggil Xavier untuk menghadapku setelah ini! Entah motivasi apa yang dimiliki anak sialaan itu sebenarnya! Kau tenang lah! " Mr. X memilih mengakhiri pembicaraannya dengan Jihan.
Raga yang masih berada di kantor polisi dan menunggu kepastian hukum yang menimpa Danisa menepi ke pojokan. Diam-diam ia menghubungi Mr. Charles. Entah mengapa Raga merasa tidak bisa mempercayakan Mr. Xavier sepenuhnya untuk menangani kasus Danisa. Berulang kali Raga mencoba menghubungi. Tapi sayang, handphone Mr. Charles tidak ada yang mengangkat.
"Raga.. " Seseorang menepuk pundaknya.
"Jihan? "
"Kamu....." Jihan menunjuk dada bidang Raga.
__ADS_1
"Kamu tertarik pada Danisa kan? Oh tidak... lebih tepatnya kamu menyukai wanita itu, kan? " Todong Jihan menaikkan sebelah alisnya ke atas.
"Apa maksudmu?! " Raga sedikit terkejut. Ia menghempaskan jari Jihan yang bertengger di dadanya.
"Sudahlah... Tidak usah memungkirinya! Aku bisa melihat itu semua dari sorot matamu ketika kau menatapnya! Aku ini seorang dokter yang pernah belajar ilmu kejiwaan! " Jihan tersenyum sinis.
"Aku sedang tidak ingin berbasa-basi, sebenarnya apa yang kau inginkan?!"
"Aku tau kau cukup pintar untuk bisa membaca apa yang aku inginkan. Aku hanya ingin menawarkan penawaran padamu?! "
"Apa itu? " Kening Raga mengerut.
"Bekerja sama lah denganku untuk mencapai tujuan. Danisa adalah tujuanmu dan Devan adalah tujuanku. Kita berada dalam posisi yang sama!" Raga kontan menatap Jihan.
"Katakan dengan terang, apa yang ingin kau rencanakan?! " Bola mata Raga sukses berotasi.
***
Siapa kau sebenarnya? Dan Apa tujuanmu?! Ketik Danisa pada handphone nya ketika ia dan Xavier sudah berada dalam ruangan yang sama.
"Hahaha, jangan begitu tegang, Nona! Calm down! Nona Danisa ini tunangannya Mr. Devan kan? Aku adalah investor besar diperusahaan mereka! Sebagai seorang Pebisnis sekaligus Advokad, Aku harus membela nona di persidangan. Sebagai investor besar yang mempercayakan uang milyaran dollar Amerika pada sebuah perusahaan, bagaimana mungkin aku membiarkan reputasi perusahaan tersebut hancur karena nona! Tentu juga akan berdampak padaku! " Terang Xavier panjang lebar. Alasan yang lumayan masuk akal. Tapi Danisa tetap waspada.
Tidak perlu, aku tidak butuh bantuanmu! Ketik Danisa dingin. Ia yang sama sekali tidak mengenal Xavier menolak mentah-mentah.
Siapa dia sebenarnya? Apa aku harus menerima penawaran nya?! " Gumam Danisa. Handphone nya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan dari Prof. Daniel membuat nya sumringah.
Danisa, aku sedang dalam perjalanan ke kantor polisi bersama seorang pengacara. Kau tenanglah! Aku akan segera sampai di sana.
Siapa yang akan menjadi pengacara ku, Prof? Ketik Danisa membalas pesan Prof. Daniel.
Dia adalah Edo. Putra dari Mr. Rudi, kepala rumah sakit Ramayana.
Aaaargh. Kenapa harus Edo?! Bagaimana pun Edo pernah menfitnah ku! Gumam Danisa mendengus khawatir.
Apa aku terima saja penawaran dari Mr. Xavier? Danisa melirik Xavier yang dari tadi menatapnya dengan tersenyum. Danisa berpikir keras. Ia bertekad menemui Prof. Daniel terlebih dahulu sebelum memutuskan.
Driiit
Terdengar suara deritan pintu yang terbuka. Seorang petugas masuk membawa borgol.
__ADS_1
"Anda resmi di tahan sebelum persidangan dimulai! Anda akan dipindahkan ke lapas tahanan resmi. Nanti di sana akan dilakukan pemeriksaan laboratorium apakah anda terbukti tidak menggunakan narkotika atau hanya mengedarkan nya saja! Handphone Anda juga kami sita! " Ucap petugas tersebut. Danisa langsung di giring keluar ruangan.
***
Braaaakkk
Laki-laki bertubuh besar dan kekar mendudukkan seorang wanita ke sebuah kursi pada sebuah ruangan tertutup. Ia adalah wanita yang telah menabrak Danisa sebelumnya.
"Lepaskan aku!! Lepaskan!!" Teriakan wanita tersebut menggema memenuhi ruangan. Ia meronta-ronta saat tangannya di pegang erat agar tidak kabur.
Tapi Tap Tap
Suara langkah kaki terdengar. Pemuda tampan berkacamata hitam memasuki ruangan. Wanita tersebut terkesiap. Laki-laki yang memasuki ruangan membuka kacamata nya perlahan.
"Kau yang meletakkan obat-obatan terlarang di tas Danisa, kan? " Todong Devan menatap nya tajam tanpa basa basi.
"Ti... Tidak. A... Aku tidak melakukan nya! Bu.. bukan aku!" Jawab gadis tersebut terbata. Ia benar-benar ketakutan sekarang.
"Cih! Kau masih saja berkilah! Aku punya bukti rekamannya! Kau tau? Sejak awal aku telah menyuruh asisten untuk membuntuti Danisa! Aku punya bukti kuat bahwa kau pelakunya!" Wanita tersebut tecengang.
"A... Aku benar-benar tidak melakukan nya. A.. Aku tidak mengenal siapa Danisa! " Wanita tersebut menggigit bibir bawahnya gemetar. Ia tidak berani menatap Devan.
"Baiklah kalau itu memang mau mu, terpaksa aku akan menjebloskan mu ke penjara! Selain rekaman CCTV milik pemerintah kota, aku juga memiliki rekaman pribadi yang menunjukkan bahwa kau adalah pelakunya. Kau memasukkan beberapa gram narkotika ke dalam tas milik Danisa. Kau memasukkan benda lakn*t tersebut selagi Danisa lengah membantumu mengumpulkan buku-buku yang berceceran di lantai! "
"Jangan tuan... Jangan.... Sa... Saya masih kuliah... saya tidak ingin dipenjara... sa.. saya juga harus membiayai adik saya yang sakit-sakitan! Selain itu saya adalah tulang punggung keluarga" Wanita tersebut sontak berlutut. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Jadi, Kau ingin menyelamatkan adik mu dengan mengorbankan orang lain, begitu?! Tuhan bisa murka mendengar nya!! " Hardik Devan keras. Wanita tersebut bungkam.
"Jangan kau kotori niat muliamu terhadap keluarga dengan perbuatan haram! "
"Jugaa, pertunangan ku dengan Danisa bisa terancam gagal karena mu! Kau akan memisahkan dua orang yang seharusnya bersatu!! " Lanjut Devan lagi. Tangis gadis tersebut semakin pecah.
"Sekarang, katakan... Siapa orang yang menyuruh mu menfitnah Danisa? " Tanya Devan. Gadis tersebut mendadak menghentikan tangisnya.
"Jawaaabbbb!!!! " Bentak Devan kuat. Rahangnya mengeras. Matanya berkilat-kilat. Devan kehabisan kesabaran nya.
***
Maaf ya man teman, beberapa hari kemarin Alana ada perjalanan lintas kota. Jadi update nya ngaret 🙏 sebenarnya juga lagi on going nulis novel Cinta Untuk Iqlima 🙏 makasih banyak yang udah dukung dengan like komen atau semua hal yang positif... 🥰😇 Semoga kedepan update bisa lebih teratur. ❤
__ADS_1
Info/contact:
IG: @alana.alisha