
Mata Danisa membelalak sempurna saat Devan berhasil merebut ciuman pertamanya dengan begitu tiba-tiba dan dengan cara yang tidak terduga. Pemuda tersebut tidak ingin berhenti di situ. Mulut Danisa terasa begitu manis. Devan terbuai. Ia semakin ingin memperdalam dengan menuntut lebih. Namun tiba-tiba,
“Dev, stop!” Pekik Danisa dengan sangat jelas. Suaranya mampu menjangkau telinga Devan yang memang berjarak tidak begitu jauh. Pemuda tersebut menghentikan gerakannya. Danisa menutup mulut. Devan ternganga. Ia tercengang.
“Danisa… Ka… Kau… Kau bisa bicara?” Tanya Devan tak percaya.
Plaaakkkkk
Sebuah tamparan yang tertunda akhirnya mendarat sempurna di pipi Devan. Cukup keras. Danisa menyapu asal bibirnya. Tanpa mengatakan sepatah apapun ia pergi begitu saja.
“Danisa, tunggu…” Panggil Devan.
“Danisa… Danisaaa… Tunggu!” Devan mengejar Danisa. Ia mencoba mencengkram pergelangan tangan tunangannya tersebut namun dengan cepat Danisa menghempaskannya.
“Danisaa... Stop! ” Gadis tersebut berhenti. Netra mereka bertemu.
“Kau bisa bicara?” Tanya Devan seduktif. Waktu seakan terhenti. Devan menatap mata bundar Danisa lekat-lekat meminta penjelasan.
Tap
Hah
Sedikit terkejut, tiba-tiba seseorang menepuk pundak Danisa dari belakang.
Prof. Daniel?
“Maaf Mr. Devan, Aku harus membawa Danisa. Aku mendapat telepon bahwa ada penelitian dadakan di kampus. Aku butuh seorang asisten. Biasanya Jihan yang menangani, tapi gadis tersebut sekarang sedang tertimpa kasus. Syukurlah Danisa masih di sini. Ayo ikut aku!” Ucap Prof Daniel secepat kilat tanpa menunggu persetujuan Devan. Danisa mengikuti guru besar tersebut ke parkiran, meninggalkan tunangannya yang mematung.
Danisa, sebenarnya ada apa? Apa yang kau sembunyikan?
Aarrrghhh Kenapa dia langsung membawamu? Devan melayangkan kepalannya ke udara lepas.
Braaak
Danisa menutup pintu mobil. Ia memijat pelipis dan mengusap kasar wajahnya.
“Kenapa kau seceroboh itu?” Tanya Prof. Daniel dengan wajah datar tanpa basa basi. Beliau melajukan mobil setelah memakai seatbelt.
“Untung aku mampu mengendalikan situasi dengan mengarang bebas hingga bisa memberikan Devan alasan lalu membawamu pergi secepat kilat!”
“Tadi itu… A… Aku begitu shocked!”
“Tapi kau menikmatinya!” Cebik prof. Daniel tajam. Danisa terkejut. Ia menunduk.
Ja.. jadi.. Prof. Daniel melihatnya? Wajah Danisa memerah.
__ADS_1
“Apa kau tau apa efek dari ini semua? Bagaimana jika Devan membeberkan fakta kalau sebenarnya kau bukanlah seorang gadis bisu? Keamanan-mu bisa terancam, Danisa!” Ucap Prof. Daniel dingin. Danisa bungkam. Ini memang kesalahannya.
“Jangan pernah kau melupakan fakta bahwa keluarga Devan memiliki andil dalam menghancurkan keluargamu. Jangan sampai keteguhan hatimu goyah hanya karena sedikit perlakuan manis yang pemuda itu berikan!” Lanjut Prof. Daniel menekan setiap perkataannya.
“Danisa, Jangan pernah berpikir untuk jatuh cinta pada Devan. Jangan pernah melupakan apa tujuanmu memasuki keluarga Cakrawangsa!” Danisa terenyak. Ia beralih menoleh ke jendala yang ada di sisi kirinya. Pikiran Danisa melayang jauh. Ia kembali mengingat masa kecilnya di desa Snowshill. Sebuah kampung terpencil yang berada di Gloucestershire, Inggris. Desa dengan kealamian alam dan kemurnian udaranya.
Desa yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Ia pernah diungsikan ke sana bersama ibunya oleh nenek Paula ketika terjadi perebutan kekuasaan dan perang darah antar sesama saudara dan rekan yang terlibat. Lalu dua tahun kemudian ibu Danisa mati dalam keadaan mengenaskan. Lagi-lagi karena ketamakkan manusia yang tidak bertanggung jawab. Setelah kematian sang ibu, Danisa di bawa kembali ke Indonesia.
Karena Danisa merupakan seorang pewaris terakhir dan satu-satunya milik keluarga bangsawan Fellix, maka Nenek Paula menempanya untuk bisa menjadi gadis yang kuat. Ia dibentuk untuk bisa menyuarakan kebenaran atas ketidak-adilan yang selama ini menimpa keluarganya. Danisa harus selalu waspada dan berhati-hati. Karena hidupnya sama sekali belum aman.
“Danisa…” Panggil Prof Daniel yang melihat Danisa melamun.
“Ya?”
“Bersamaku kau akan selalu aman!”
Ciiittt
Prof. Daniel memarkirkan mobilnya di apartemen Danisa.
“Apa kau mau aku temani? " Tawar Prof. Daniel. Danisa menggeleng.
"Baik. Beristirahatlah! Kau sudah terlalu lelah. Aku tidak ingin kita membahas pembahasan berat sekarang ini. Baca surat yang tadi aku berikan secara perlahan-lahan tapi hanya setelah kau merasa lebih baik, hm? " Lanjut Prof Daniel. Perlahan Danisa mengangguk.
Di tempat berbeda, Devan membolak-balikkan tubuh di atas kasur empuknya. Semua hal tentang Danisa tidak mau enyah dan terus memenuhi pikirannya.
Apa hatiku benar-benar telah tergerak untuknya? Apa hanya sebatas rasa penasaran? Devan melentangkan tubuhnya. Berpikir. Ia meletakkan kedua telapak tangan menopang kepala.
Tapi kenapa Danisa harus berbohong? Kenapa ia harus menipu banyak orang dengan berpura-pura tidak bisa bicara? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dia menyembunyikan ini semua?
Huft. Devan mengacak kasar rambutnya. Blank. Ia sama sekali belum mendapat jawaban dari semua pertanyaan.
Jadi selama ini Danisa bisa bicara? Devan tersenyum masam. Ia termasuk salah satu orang yang telah ditipu mentah-mentah.
Devan mengingat kembali ciuman yang tadi ia berikan. Danisa sama sekali tidak menolak walau pada akhirnya gadis tersebut berusaha menyangkal dengan menamparnya, Namun Devan tau persis bagaimana respon tubuh Danisa.
Ia tidak membenciku. Tapi kenapa?!
Kini, sudah beberapa hari terakhir ia tidak bisa tidur. Kepala Devan nyaris pecah memikirkan permintaan Ranti yang terus merong-rongnya untuk memutuskan hubungan pertunangannya dengan Danisa.
Aaarrghhh. Lelah. Devan bangkit. Ia kembali mengambil kunci yang tadi diletak pada sembarang tempat di atas nakas. Pemuda tersebut memilih kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membawa berbagai pertanyaaan yang memenuhi benaknya.
***
Braaaakkkkk
__ADS_1
Terdengar suara meja yang di gebrak kuat. Seorang pria paruh baya terlihat murka. Rambut panjang berwarna abu-abu perak yang tampak mengkilap sengaja digeraikan. Sebuah penutup mata dnegan ciri khas terletak di salah satu sisi mata.
"Kenapa kau mau membela Danisa, Hah?! Apa kau sudah tidak waras?!! Apa kau gila?! " Bentak pria tersebut dengan sebelah mata menyala.
"Devan memintaku membelanya, Pa! Devan itu rekan bisnis ku! "
"Xavier... Oh putraku Xaviiier...! " Pria paruh baya tersebut memejamkan mata. Kepala nya mendadak terasa sakit.
"Kau nyaris menghancurkan rencanaku!! Dan kau sudah on the way dalam melakukannya!! Apalagi kau melakukan nya di depan si tengik Jihan!" Xavier menunduk. Ia tampak berpikir.
"Lihat ini baik-baik! " Titah pria tersebut. Ia membuka penutup mata. Sebuah mata yang tidak lagi berfungsi dan tampak mengerikan terlihat di sana.
"Kau jangan pernah melupakan bahwa sebelah mata milik ini dan sebelah mata milik mu di ambil paksa oleh Fellix!! Seumur hidupku... Aku harus menyembunyikan identitas dengan menggantikan nya sebagai Mr. X!!" Ucap orang yang diketahui bernama Mr. X tersebut memberi Xavier peringatan.
"Maka... berhati-hati dan berpikir lah dengan waras!!"
"Kau tau?! Aku tidak akan pernah membiarkan anak turun Fellix hidup bahagia! Dan pada akhirnya.... aku harus menghancurkan Danisa.. menghancurkan nya secara perlahan-lahan!! "
Braaaaakkkk
Meja kembali di gebrak.
Hahahahahahah ahahahahahahah. Suara tawa Mr. X menggema memenuhi ruangan. Xavier hanya bisa diam mendengarkan dengan wajah yang sulit untuk diartikan.
***
Sreeeggg.
Danisa akan masuk ke dalam apartemen. Namun seseorang terlebih dahulu memegang pergelangan tangannya di tepat di depan lift.
Devan?
"Kita harus bicara... " Ucap Devan.
"Aku butuh penjelasan darimu! " Lanjutnya lagi. Danisa terenyak.
"Aku harus tau bagaimana kehidupan mu dan apa yang sedang kau alami saat ini... "
"Karena aku adalah TUNANGAN mu... Aku calon suamimu! " Ucap Devan penuh penekanan. Netra mereka saling bertemu. Devan melayangkan tatapan menghujam pada dua bola mata yang indah itu.
***
Jangan Lupa tinggalkan jejak setelah membaca kakaaak ❤
IG: alana.alisha
__ADS_1
***