
"Sudahlah Danisa... Aku sudah mengetahui siapa kau sebenarnya! Mari kita menikah... Kita sudah tercebur! Mari basahkan diri sekalian! Katakan dalam konferensi pers kalau sebenarnya kita sudah diam-diam menikah! Ini semua hanya sebagai formalitas untuk memulihkan nama kita! Kau boleh membenciku! Namun bantu aku mengungkap kebenaran nya! Tentang semua hal yang menyangkut dirimu! Beri aku kesempatan untuk membuktikan nya! Bahkan jika itu keluarga ku sendiri... Kedua tanganku yang akan menjebloskan keluarga ku ke penjara! Aku berjanji! Aku bersumpah! Aku akan meletakkan semua kembali ke tempatnya! Setelah itu... terserah apa kau ingin kita berpisah atau kau ingin membunuhku! " Ucap Devan memberikan penawaran panjang. Namun belum sempat Danisa menjawab, Raga tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Kauuu sudah tidak warassss!!! Kau apakan calon istriku hah?!!!! Buuuuugghhh!!!" Raga melayangkan tinjunya dengan keras. Devan sontak memegang sudut bibirnya yang robek hingga mengeluarkan darah segar. Tubuhnya oleng seketika. Mata raga menyala-nyala. Rahangnya mengeras. Berita yang menggemparkan ibu kota benar-benar membuatnya murka.
"Kau benar-benar pecundang tengik! Badjingan keji! Apa yang ada dipikiran kotormu itu hah? Sini kauuu!! Aku tidak akan memberikan mu ampuun!! " Raga menarik keras baju Devan. Danisa mematung. Ia tercengang untuk sementara waktu. Raga sudah Berancang-ancang hendak melayangkan pukulan kedua.
"Kau mengorbankan calon istriku demi nafsu setanmu!! Buuughhhh!!! "
Aaargh
Devan mengerang kesakitan. Kepalan tangan Raga kembali melayang pada rahang nya hingga laki-laki tersebut menyemburkan darah kental dari mulut dengan jumlah volume yang lebih banyak.
"Banyak wanita Tuna Susila di luar sana jika kau memang ingin melampiaskan nafsu bejad mu itu! Tapi kenapa kau harus mengorbankan Danisa?! Kenapa??? Jawabbbb!!!" Emosi Raga mengubun-ubun. Ia tidak mempedulikan wajah memar Devan dan darah yang memenuhi lantai. Raga kembali menarik kerah bajunya. Devan hanya bisa diam. Bahkan sahabat karib dari Raga tersebut tidak memiliki kesempatan untuk berbicara karena rasa sakit yang mendera.
Braaakkk
"Raga! Stop! Stop Raga!!!" Mr. Charles tiba-tiba muncul dan menarik Raga untuk berhenti.
"Lepaskan aku! Badjingan ini.... Badjingan ini... Hhh Hhh" Raga tersengal. Ia tak lagi mampu berkata-kata.
"Aku tak akan bisa menolongmu jika kau membunuhnya sekarang! " Ucap Mr. Charles. Raga menghela nafas. Kesal. Sangat kesal.
Sreet
Tanpa meminta izin, Danisa langsung pergi dari hadapan mereka dengan wajah tertekuk. Di pintu berbeda, Gunawan ternyata berdiri menyaksikan semua adegan dengan melipat tangan dan tersenyum culas.
Permainan baru dimulai sekarang!
Hubungi Mr. X sekarang! Aku akan membuat penawaran padanya! Ketik Gunawan pada asisten pribadinya.
Aku harus bisa mengambil keuntungan dari tidak harmonis nya hubungan Devan dan Danisa lalu mendesak Paula untuk mau menandatangi peralihan kekuasaan! Aku harus bisa menekannya dengan cara elegan! Gumam Gunawan.
"Danisa... tunggu! Danisa...! " Panggil Raga. Ia menghempas tangan Mr. Charles yang berada dipundak dan berlari mengejar orang yang sempat akan menjadi istrinya tersebut.
"Danisa tunggu! " Raga membuat tubuh Danisa menghadap ke arahnya. Gadis tersebut menggeleng. Orang-orang yang berada di sana menatap mereka intens dengan berbagai pemikiran yang mereka punya.
Bukankah itu gadis yang masuk ke berbagai media pagi ini?
__ADS_1
Ya.. itu dia! Gadis murahan itu yang telah melakukan penjebakan terhadap Presdir! Dia hanya Cinderella terkutuk yang bermimpi di nikahi oleh seorang Pangeran! Suara sumbang mulai terdengar. Kuping Danisa benar-benar dibuat panas. Wajahnya merah padam.
Dari dulu wajahnya sudah berada di mana-mana! Dia memang pembuat onar! Seorang gadis bisu yang benar-benar lihai memikat! Dia mengandalkan wajah cantiknya! Hhhh... Mereka tersenyum mengolok.
"Apa yang kalian lihat?! Bubar!!! " Teriak Raga dengan nada tinggi. Ia membuka jasnya lalu menutup kepala Danisa dan membawanya keluar. Para awak media langsung mengejar ketika mengetahui Raga menggiring Danisa pergi. Namun terlambat, mereka lebih dulu masuk ke dalam mobil meninggalkan para wartawan yang sudah berjam-jam menunggu kabar berita.
"Turunkan aku di sini kak! " Pinta Danisa bergetar.
"Aku akan mengantarkan mu ke tempat yang aman, hm? " Raga mencoba meletakkan tangan nya ke atas tangan Danisa untuk menenangkan. Namun Danisa langsung memindahkan tangan tersebut.
"Aku tetap akan menikahimu! " Lanjut Raga mantap.
"Aku tidak ingin menikah dengan siapapun! " Sahut Danisa. Matanya berair. Entah mengapa ia merasa begitu rapuh. Berbeda dari biasanya, kali ini orang-orang yang mencemooh secara terang-terangan membuatnya merasa sangat buruk. Raga menyadari hal tersebut.
"Aku tidak peduli bagaimanapun keadaanmu! Sama atau tidak seperti kemarin... Aku akan tetap menikahimu! "
"Keadaan? Keadaanku yang bagaimana?! Sama seperti kemarin apa maksud kakak?! " Danisa mengangkat wajahnya. Emosi nya tiba-tiba tersulut dan timbul ke permukaan. Seketika air mengalir dari sudut matanya.
"Ma... Ma'af... maksudku.. Maksudku... " Raga mengutuk kebodohannya dalam memilih kalimat.
"Sudahlah kak, aku lelah. Aku sedang tidak ingin berkata-kata! " Ketus Danisa. Setelahnya ia memilih menatap keluar jendela. Keadaan terus memburuk. Mereka hanya saling diam tanpa ada kata sampai mobil yang Raga kendarai sampai di apartemen Danisa.
"Tidak usah kak. Aku lelah. Aku hanya ingin tidur"
"Tapi... "
"Terima kasih... " Sahut Danisa yang langsung melesat dengan menutup kepalanya dengan jas tanpa membiarkan Raga menyelesaikan kalimatnya.
Hiks Hiks Hiks
Hiks Hiks Hiks
Tangis Danisa pecah. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Danisa benar-benar kesal dan marah atas kelengahan nya akhir-akhir ini. Tidak seperti biasa ia yang selalu tampil prima, seiring berjalannya waktu dan seiring rahasia-rahasianya mulai terbongkar, Danisa merasa semakin menjadi ringkih dan lemah. Belum lagi nenek juga mendesaknya untuk segera menikah.
Ting Tong
Ting Tong
__ADS_1
Suara bel yang keras berulang kali menyebabkannya menghentikan kegiatan. Ia buru-buru mengganti pakaian dan mengintip dari ceruk pintu untuk melihat siapa yang mengetuk.
Ceklek
"Nona, saya tau anda membayar mahal untuk apartemen ini.. tapi saya mohon untuk sementara waktu sebaiknya anda jangan di sini dulu.. Para satpam di luar sana kewalahan menghadapi para wartawan yang ingin menerobos masuk! Hal ini benar-benar mengganggu penghuni lainnya.. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini! " Pinta petugas lobby. Danisa berpikir sejenak. Ia lalu mengangguk.
"Tunggu sebentar nona, ini ada surat penting untuk nona!" Petugas menyodorkan surat tersebut.
Surat apa ini? Danisa perlahan membukanya saat petugas lobby pamit pergi.
Dear Danisa Maria Anna
Sebelum nya ku katakan, aku tidak berada di gerakan oposisi melainkan di barisan pendukung. Tapi yang pasti, aku akan mengabarkan hal fantastis padamu.
Danisa, kau harus segera menikah dengan Devan. Pemuda tersebut telah menandatangani surat perjanjian dengan Mr. X sebagai pihak kedua. Mereka telah mengumpulkan kekuatan untuk menumbangkan Paula dengan memanfaatkan mu!
Devan dan Mr. X bekerja sama. Mereka memiliki tujuan yang tidak main-main. Kau harus menikah dengan nya untuk mengambil dokumen dan membongkar rahasia mereka secara diam-diam. Kau bisa membunuhnya perlahan setelah membongkar kebusukannya atau kau langsung bisa menikam tepat di jantungnya saat pemuda tersebut lengah dan tertidur.
Lihatlah bukti-bukti yang aku sertakan.
Kalau kau setuju, aku akan menunjukkan bukti lainnya. Mari kita bertemu! Sekali lagi, aku berada di barisan pendukungmu. Pendukung keluarga mu!
Siapa dia? Lagi lagiDanisa mengerutkan kening. Ia mulai membuka surat-surat lainnya. Danisa benar-benar terkejut saat melihat tanda tangan Devan yang disertai materai berikut tanda tangan Mr. X.
Sebuah foto belasan tahun lalu menunjukkan sebuah pertemuan yang mengharukan. Nenek Paula, Ibu, ayah, Cakrawangsa beserta istrinya duduk bersama meminum teh menikmati senja. Terlihat wajah ayu ibunya yang tersenyum hangat. Hati Danisa terenyuh. Airmatanya mengalir.
Namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat foto kedua, persis di tempat yang sama. Si kecil Devan memegang pisau berlumuran darah di tangan kiri dan pistol di tangan kanannya. Bajunya dipenuhi darah segar. Di hadapannya beberapa orang tiarap dengan posisi Menelungkup. Tidak terlalu jelas mereka siapa. Sebab sebagian fotonya tampak buram. Sepertinya mereka semua telah tewas. Danisa gemetar. Tangannya bergetar.
Crk Crk Crk
Hah?
Di saat yang bersamaan, suara kunci pintu berbunyi nyaring. Seseorang membuka pintu apartemen nya. Bagai kilat. Pintu tersebut seketika terbuka.
Devan??? Danisa terkejut bukan kepalang. Jantungnya nyaris copot.
"Maaf, aku terpaksa membuka pintunya. Aku sudah menekan bell berkali-kali namun kau tidak juga membukanya. Aku masih menyimpan kunci pintu apartemen ini" Ucap Devan berhati-hati.
__ADS_1
Dengan mata waspada, nafas yang menderu cepat, perlahan Danisa beringsut mundur.
...****************...