
“Ada apa? Apa yang ingin kau sampaikan?” Tanya prof. Daniel tanpa basa basi. Pemuda berkulit putih tersebut menatap lawan bicaranya seduktif setelah mereka selesai memesan minuman di kantin rumah sakit.
“Bantu aku mendapatkan Devan!” Pinta Roula terang-terangan. Gadis itu tetap terlihat tenang.
“Ck. Kau memohon pada orang yang tidak tepat! Aku dan Devan tidak memiliki hubungan apapun! Pembicaraan kita akan sia-sia dan hanya membuang waktu saja. Aku permisi…”
Sreeettt
Prof. Daniel menyeret kursi yang ia duduki dan hendak pergi.
“Tunggu…”
“Kau… kakak kandung Danisa kan?” Todong Roula. Langkah kaki Prof. Daniel terhenti.
“Kau orang yang berhasil menyelamatkan diri dari peristiwa pembunuhan beberapa tahun silam” Kali ini prof. Daniel berbalik. Beliau merasa heran dengan sosok gadis dihadapannya setelah sempat terpaku.
“Apa kau terkejut bahwa ternyata seorang gadis sepertiku mengetahui ini semua?” Roula menaikkan sebelah alisnya ke atas.
“Aku bahkan tau kalau Danisa menyembunyikan identitasnya”
“Sss siiapa kau sebenarnya?”
“Duduklah, kau akan menyadari bahwa berbicara denganku bukanlah suatu kesia-siaan!” Rasa penasaran membuat prof. Daniel kembali mengambil tempat.
“Kau pasti sudah tau kalau aku adiknya Raga” Roula mulai meminum tegukan pertamanya. Prof. Daniel melirik jam tangan.
“Jangan berbasa basi. Aku tidak punya banyak waktu!”
“Apa rasa sakit membuatmu begitu terluka hingga sudah mati rasa?” Prof. Daniel terenyak.
“Akulah gadis kecil yang menolongmu ketika mereka menggorok lehermu dengan sebilah pisau. Aku, gadis cerdas yang mengalihkan perhatian mereka dengan berpura-pura menjadi seekor kucing!” Kali ini prof. Daniel benar-benar tersentak.
“Para penjahat itu terlanjur mensabit lehermu hingga berdarah-darah. Beruntung, kau tidak mati karena sayatannya belum mengenai urat nadi. Aku datang di saat yang tepat! Aku mengalihkan perhatian mereka hingga pisau terlepas dari genggaman. Mereka mengejar dan aku dengan lihainya bersembunyi. Lalu mereka kembali menghampirimu, dan kau berpura-pura sudah mati. Darah yang berceceran membuat mereka percaya bahwa kau memang telah tewas!” Terang Roula. Prof. Daniel tidak bisa untuk tidak terkesiap. Matanya berkaca-kaca. Kejadian beberapa tahun silam yang sangat ingin ia lupakan kembali menari-nari di kepala hingga membuatnya mual.
Mommy...
"Apa kau baik-baik saja? " Tanya Roula simpati. Prof. Daniel mengangkat tangan tanda ia baik-baik saja.
“Kau pasti ingin sekali membalas budi pada ku, kan? Aku tidak butuh apapun! Aku hanya butuh Devan. Jauhkan Danisa dari Devan. Aku tidak peduli kalaupun gadis itu harus menikah dengan kak Raga. Walau sikapnya dingin, Aku tau dia gadis cerdas yang baik!” Lanjut Roula berdiplomasi.
"Aku belum mengatakan apapun! Aku sama sekali belum menjawab apapun dari semua pernyataan yang kau beberkan!" Sahut Prof. Daniel. Ia menata gemuruh di dadanya.
__ADS_1
"Kau bisa saja amnesia atau mungkin menyangkal tentang gadis kecil yang menyelamatkan mu. Namun luka dilehermu yang selalu kau tutupi dengan baju berleher panjang itu tidak akan bisa menyembunyikan apapun!" Roula menaikkan sebelah matanya.
“Jika kak Raga punya hubungan emosional dengan Danisa di masa kecil mereka, maka di masa kecilku, aku punya hubungan emosional bersama Devan! Apa keinginan seorang gadis sepertiku terlalu muluk? Aku dibesarkan di tempat yang sama bersama Devan. Namun Danisa datang begitu saja dan mengambil tempatku hanya karena alasan politik keluarga. Aku tidak bisa menerimanya! Aku membencinya. Sangat benci! Jauhkan ia dari hadapanku! Dari hidupku!! Dari hidup Devan! Hanya dengan cara itu, aku akan terus tutup mulut atas sandiwara yang kalian lakukan! " Roula berubah sedikit emosional. Prof. Daniel tampak berpikir.
"Sejujurnya aku juga tidak setuju Devan menikahi Danisa. Aku tidak berpikir bahwa keluarga mereka orang yang baik. Seharusnya kau tidak perlu bersusah payah meminta bantuan ku karena bu Ranti sudah pasti tidak akan membiarkan putranya menikahi Danisa" Tukas Prof. Daniel diplomatis.
"Aku tidak butuh pengakuan dari siapapun. Aku hanya butuh hatinya Devan. Bantu aku agar Devan hanya melihat ku seorang. Buat Devan membenci Danisa" Tukas Roula. Prof. Daniel menggeleng.
"Tanpa kau pinta pun, Aku memang akan menjauhkan Danisa dari Devan. Danisa yang akan dengan sendirinya menghindari laki-laki itu. Tapi aku tidak bisa membuat Devan untuk membenci Danisa. Itu melanggar norma! Aku tidak bisa melakukan itu... Terserah kau mau membongkar rahasiaku atau tidak... Tapi... " Prof. Daniel menjeda kalimat nya.
"Tapi aku yakin, kalau itu kau... jika kau orangnya... kau tidak akan membongkar rahasia apapun. Kau seorang penyelamat. Tuhan memperpanjang usiaku dengan memilih mu. Kaulah perantara aku masih bertahan hidup sampai saat ini. Bantuan yang aku berikan sedikit pun tak akan bisa menebus kebaikanmu... " Prof. Daniel menyentuh tangan Roula dan menggenggamnya.
"Walau kau tidak akan mendengarkanku, tapi aku harus mengatakan ini... Cinta itu tidak bisa dipaksakan... Tuhan memberikan rasa istimewa itu sesuai pilihannya. Jika kau benar-benar mencintai Devan, jaga dia dalam doamu" Airmata Roula terjatuh. Ilmu dan pengalaman yang didapatnya tidak mampu membuat Prof. Daniel luluh, kini malah ia yang goyah. Hatinya sedikit tergerak.
Tap Tap Tap
Seorang gadis dengan langkah tergesa hadir menghampiri Prof. Daniel dan Roula. Tiba-tiba,
Plaaakkk
Orang tersebut menarik Roula dan berhasil menamparnya.
"Apa yang kau lakukan?? Mengapa kau menamparnya??"
"Dia mau merebut Professor dariku. Kalian terlihat sangat mesra. Padahal baru saja di dalam ruangan tadi Professor mengatakan akan menikahiku" Ucap Mila dengan mata memerah. Prof. Daniel menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang didengar. Ternyata gadis tersebut benar-benar menelan mentah-mentah peristiwa yang terjadi di ruang rawat inap Ranti.
Plaaakkk
Roula balas menampar Mila.
Sreeeggg
Roula mendorong tubuh Mila hingga gadis tersebut jatuh terjerembab ke lantai.
Awwww. Mila mengaduh.
"Aku tidak punya urusan denganmu. Hati-hati, walau dia mengatakan akan menikahimu, bisa saja ia malah menikahiku! " Ucap Roula mengangkat dagunya ke atas.
"Prof, setelah ini kita masih harus bicara" Lanjut Roula. Ia berlalu pergi setelah menyelesaikan kalimat dan meletakkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan di atas meja. Prof. Daniel membantu Mila berdiri.
"Aku tidak bersungguh-sungguh ingin menikahimu... " Lirih Prof. Daniel merasa bersalah. Mila mendongak. Ia terperanjat.
__ADS_1
***
Devan mendengus saat mengetahui kenyataan bahwa ia tidak bisa bergerak kemanapun. Para bodyguards bayaran Ranti menunggui Devan di depan pintu ruang perawatan.
"Handphone-ku kemana? " Tanya Devan pada asisten kepercayaan nya. Sudah dua hari ini ia beristirahat di rumah sakit dan tidak melakukan kegiatan apapun.
Devan benar-benar merasa bosan. Ia yang percaya bahwa tubuhnya telah pulih sepenuhnya hanya bisa pasrah menunggu dengan cemas. Cemas akan kabar Danisa, walau berulang kali Prof. Daniel meyakinkan bahwa Danisa baik-baik saja bersama Raga dan Mr. Charles. Namun tetap saja ia tidak bisa menerimanya. Apalagi sekarang Ranti sudah menghapus nomor kontak Danisa dari handphone nya.
Hal ini menyebabkan Devan sama sekali tidak bisa menghubungi gadis tersebut. Mereka benar-benar lost-contact.
Driiiit
Suara deritan pintu membuyarkan lamunan Devan. Sontak ia terbangun duduk. Berharap Prof. Daniel sudah mengizinkannya pulang. Namun harapan tersebut pupus saat melihat Ranti menghampiri nya tergesa-gesa dengan menenteng sebuah koran.
Sreeggg
Ranti melempar koran tersebut ke hadapan Devan.
Raga Spancer, Pewaris Spancer Group dan Danisa Maria Anna Bertunangan. Pernikahan akbar akan digelar minggu depan.
Danisa Maria Anna adalah mantan tunangan dari Devan Ahmad Cakrawangsa, pewaris tunggal Cakrawangsa Group.
,........
........
Devan membaca kalimat tersebut kata perkata tanpa ada yang tertinggal hingga membuat matanya terbelalak sempurna.
"Kau lihat bagaimana endingnya kan? Wanita murahan itu berhasil menggoda Raga. Baru saja kalian putus tunangan, ia dengan cepatnya menjerat Raga dan mempermalukan keluarga kita" Komentar Ranti tajam. Dengan tanpa mempedulikan ibunya, Devan melepaskan jarum infus yang tertancap di tangan. Pemuda tersebut langsung dihadang oleh para bodyguards.
"Minggir! Aku bersumpah akan menjebloskan kalian ke penjara jika kalian menyentuh ku! " Ancam Devan. Para bodyguards menghentikan pergerakan mereka. Devan dengan cepat melesat.
"Nak, kamu mau kemana? Dev, kemana kamu?? " Teriakan Ranti memenuhi ruangan.
"Kalian tunggu apa? Kejar Devan!! " Titah Ranti berang. Tak disangka berita yang ia bawa malah menjadi boomerang untuk nya. Devan dengan cepat masuk ke dalam mobil dan menyetirnya untuk satu tujuan. Yaitu menemui Danisa.
Raga, apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengambil kesempatan dalam kesempitan? Batin Devan kecewa.
***
IG: @alana.alisha
__ADS_1