
Devan dan seluruh keluarga tiba di rumah sakit. Dari tempat parkir, mereka berjalan tergesa ke arah kamar tempat Ranti dirawat persis seperti yang tadi Jihan infokan. Hampir saja mereka kecelakaan sebab Devan melajukan mobilnya dengan begitu kencang. Laki-laki ini ini tidak bisa berkonsentrasi dengan baik ketika mendengar kabar bahwa ibunya sedang kritis.
Tap Tap Tap
Terlihat Jihan sudah menangis di luar ruangan. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rambut panjang yang sudah diwarnai dengan warna pirang tersebut ikut terurai berjuntai-juntai menutupi wajah. Mereka pun bergegas menghampirinya.
“Jihan… Bagaimana keadaan Mami?!” Tanya Devan panik. Tangis teman yang mengaku sebagai kekasihnya itu pecah. Matanya sembab.
“Ttt… Tadi saat aku dan tante Ranti sedang bertemu di café Seruni, Tante Ranti sempat berbicara sebentar dengan....."
"Dengan siapa?!" Sambar Devan tak sabar.
"Dengan Da... Danisa. Lalu mereka terlibat dalam pertengkaran. Dan dengan kejamnya wanita tersebut me…mendorong tante hingga jatuh dari lantai ti..tiga” Terang Jihan dengan suara terbata. Gadis ini tampak sesegukan.
“Apa??!!! Jatuh dari lantai tiga???!!!” Manggala sangat terkejut, Ayah Devan itu jadi begitu marah. Wajahnya memerah. Giginya gemeluk. Urat menonjol dari leher dan rahangnya. Ia mengepalkan tangannya.
Brengs*k!!! Umpat Devan. Laki-laki ini mengambil gawainya. Ia menghubungi seorang asisten.
“Tolong cari dimana keberadaan Danisa Maria Anna dan periksa CCTV yang ada di café Seruni sekarang! Kabarkan secepatnya padaku!!!” Titah Devan mengepalkan tangannya.
Rudi, Kepala sekolah yang juga merupakan kepala rumah sakit datang untuk menenangkan mereka. Ia berjalan ter gopoh-gopoh menghampiri.
“Apakah Ranti akan di operasi?” Tanya kakek menaruh harapan besar. Wajah yang sudah sepuh itu terlihat begitu khawatir akan keadaan putri perempuan satu-satu nya.
“Maaf, Aku tau di rumah sakit ini tidak ada dokter yang bisa menangani operasi, tapi aku akan melakukannya demi tante Ranti!” Tawar Jihan memotong pembicaraan. Ia langsung mengajukan diri dan seketika tampak menjadi tegar.
__ADS_1
“Kita akan melakukan yang terbaik! Kita telah mengadakan operasi darurat! Aku yakin Ranti akan sembuh seperti sedia kala!” Ucap Rudi menepuk-nepuk bahu Manggala sembari melirik Jihan. Sahabatnya itu tampak sangat terpukul. Jihan terenyak. Ternyata operasi telah dilakukan.
“Mengenai operasi, siapa bilang tidak ada dokter yang bisa melakukannya? Di rumah sakit ini kita tidak akan membiarkan sembarang dokter untuk melakukan operasi. Hanya Dokter yang sudah ter-lisensi dan sudah berpengalaman saja yang boleh melakukan tindakan! Apalagi pada saat keadaan darurat seperti ini! ” Sahut kepala rumah sakit. Ia menatap tajam ke arah jihan. Kata-kata gadis itu untuk menawarkan dirinya yang melakukan operasi sendiri jujur saja membuat Rudi menaruh sedikit curiga.
“Berapa persen operasi ini akan berhasil, Rud?” Tanya Manggala pada akhirnya.
“Manggala, dengarkan aku! Tidak penting berapa persen operasi akan berhasil. Harapan itu tetap ada. Bagi ku 1 persen sama saja dengan 99 persen. Sama-sama memiliki peluang dan harapan” Sahut Rudi diplomatis. Manggala tertegun. Beliau begitu terpukul.
Tap Tap Tap
Seorang Asisten yang diperintahkan oleh Devan untuk memeriksa CCTV akhirnya datang dengan setengah berlari.
“Pak Devan…” Panggil sang asisten.
“Bagaimana hasilnya?!”
Apa motif gadis itu sebenarnya? Mengapa ia sampai tega melakukan perbuatan keji ini. Gumam Devan kecewa. Ia kembali mengepalkan tangan nya dan berlalu pergi. Tidak ada pilihan lain, Ia sendiri yang harus menyeret gadis itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatan sadisnya.
***
Kepala rumah sakit tiba-tiba menelepon Danisa saat gadis itu masih berkutat dengan buku-bukunya.
“Halo Dok!” Jawab Danisa ketika mengangkat telepon dari seberang. Gadis ini menutup buku yang dibacanya.
“Danisa, datanglah ke rumah sakit. Ada pasien yang sangat membutuhkan pertolonganmu! Dia adalah Ranti, ibu dari Devan yang baru saja terjatuh dari café lantai 3” Ucap Rudi tanpa jeda dengan nada panik.
__ADS_1
“A.. Apa dok? Tante Ranti kecelakaan?! Dari lantai ti... tiga” Danisa sedikit tidak percaya akan pendengarannya. Jantungnya berdegup kencang.
"Ya, Ranti di dorong oleh orang yang dikenal hingga terjatuh! Sekarang ia sangat membutuhkan bantuanmu! Jadi aku berharap kau bisa segera datang ke rumah sakit dan memberikan ia pertolongan. Segera Danisa! Kamu bersedia kan?" Tanya Rudi berharap cemas.
Tanpa ada bantahan, Danisa langsung melesat ke rumah sakit. Ia menitipkan buku-buku tersebut pada petugas perpustakaan dan mengatakan bahwa ia akan kembali secepatnya untuk meminjam kembali buku-buku tersebut karena harus buru-buru pergi ke suatu tempat. Danisa pun menyetop sebuah taksi.
***
Danisa sudah berada di dalam ruangan dengan pakaian khas yang lengkap. Pakaian yang sesuai standar medis. Namun Danisa tetap menutup wajah untuk menyembunyikan identitasnya. Ia bergerak halus agar tidak ketahuan.
Semua peralatan dan perlengkapan telah disiapkan. Danisa mulai melakukan tugasnya tahap demi tahap. Operasi yang dilakukan dengan penuh ketelitian itu memakan waktu lebih dari 5 jam. Operasi dengan suhu ruang yang sangat dingin tersebut menghindari para tim yang tengah melakukan pekerjaan nya dari mengeluarkan keringat. Padahal berdiri tanpa duduk selama 5 jam cukup terasa melelahkan dan membutuhkan konsentrasi tinggi.
Danisa menarik nafas dan menghembuskan nya silih berganti menyadari Ranti telah melewati masa kritisnya. Ia masih bernafas. Operasi dinyatakan berjalan sukses. Danisa merasa lega. Air mata menggenang di sudut pelupuk mata nya.
Dokter kepala sudah berdiri di depan ruangan. Ia sumringah dan mengangguk haru pada Danisa. Rasa terima kasih dan bangga memenuhi ruang di hatinya.
"Terima kasih karena kamu telah melakukan tugasmu dengan sangat baik. Dan... Aku akan mengabarkan keluarga Ranti kabar baik ini! " Ucap Rudi. Segera setelah nya ia melesat menemui Cakrawangsa dan keluarga.
Jihan yang baru keluar dari toilet menangkap keberadaan Danisa. Dari kejauhan, ia melihat gadis itu berjalan ke arah lift. Danisa sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia kenakan.
Tiba-tiba dengan melesat cepat, terlihat Devan menghampiri Danisa. Ia mencengkram lengannya. Devan melihat Danisa dengan tatapan membunuh.
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
__ADS_1
IG @alana.alisha
***