
Devan mengikuti Danisa sampai ke dalam apartemen-nya. Wanita tersebut menatap pria yang ada di dekatnya dengan pandangan tak suka. Sikap acuh Danisa membuat Devan penasaran.
“Aku akan bermalam di sini” Ucap Devan tiba-tiba. Danisa mendenguskan nafasnya. Kesal.
“Aku akan tidur di sana!” Ucap Devan lagi. Ia menunjukkan sebuah sofa kosong yang ada pada ruangan tersebut. Tak ambil pusing, Danisa masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu.
Devan merenggangkan ikatan dasi yang bertengger di lehernya. Hhhhh. Pria tersebut menghembuskan nafasnya ke udara. Letih. Devan menuju ke wastafel yang ada di pantry dan mencuci wajahnya di sana. Pemuda ini merebahkan tubuhnya ke atas sofa, ia hanya berniat merebahkan tubuhnya sebentar. Namun tidak di sadari, Devan benar-benar ketiduran dan masuk ke alam mimpi.
***
Mentari pagi datang menyapa. Sinarnya menyebarkan energi positif agar manusia semangat dalam menjalani hari. Danisa terbangun oleh suara alarm yang memang sudah setiap pagi di setting-kan secara rutin. Ia menguap ringan lalu beranjak membereskan tempat tidur dan masuk ke kamar mandi membersihkan tubuh.
Danisa terkejut ketika membuka pintu kamar mendapati Devan yang tertidur pulas di atas sofa. Gadis cantik ini mengingat-ingat bagaimana bisa laki-laki itu berada di sana.
Tak ingin terlalu lama melongo. Ia memiliki banyak agenda hari ini. Danisa pun mengendap-endap agar tidak membangunkan Devan. Ia menuju pantry mengambil roti dan mengoleskan selai strawberry kesukaannya di sana. Wanita tersebut buru-buru meminum air putihnya.
Danisa melihat jarum jam yang ada di pergelangan tangan. Sudah Pukul 7.00 WIB. Ia pun memakai sepatu nya lalu mulai melangkah. Hampir saja ia membuka pintu dan keluar, ekor matanya menangkap keberadaan Devan yang masih tertidur. Danisa urung melangkah. Ia mundur setelah membuka kembali sepatunya. Gadis ini bergerak ke kamar mengambil kertas note dan pulpen.
Hari ini aku akan ke kampus dan tinggal di asrama. Tulis Danisa singkat pada kertas catatan tersebut. Lalu Danisa pun pergi meninggalkan Devan seorang diri di apartemen.
Tap Tap Tap
Masih lumayan pagi. Danisa menyempatkan diri untuk singgah ke bank terlebih dahulu sebelum pergi ke kampus. Kemarin Nenek mengirimkan pesan padanya untuk mengambil dua kotak barang yang sengaja beliau kirimkan.
Danisa menyetop taksi untuk sampai ke tempat tujuan. Orang-orang yang berlalu lalang di bank belum terlalu ramai. Ia dengan bergegas menyelesaikan urusannya lalu dengan berhati-hati membawa barang kiriman nenek.
__ADS_1
***
Danisa sudah berada di depan gerbang kampus asrama barunya. Ia tiba tepat waktu. Wanita ini melihat keadaan sekeliling. Masing-masing orang memiliki aktifitasnya sendiri. Beberapa siswa melakukan olahraga dengan berkeliling lapangan. Beberapa lainnya masih sarapan kilat sambil menenteng makanan dengan berjalan. Sebagian lagi berkumpul bersama teman-temannya. Sekolah tampak sibuk.
Danisa terus masuk ke dalam lingkungan kampus. Ruang Penerimaan Mahasiswa adalah tujuan utama-nya. Gadis ini ingin melapor bahwa ia telah hadir pada hari pertamanya. Lalu tiba-tiba,
“Hey” Seseorang dari arah belakang menyapanya. Hal ini membuat Danisa begitu kaget.
“Hey… Aku Jihan. Teman masa kecil Devan! Kekasih Devan lebih tepatnya. Ingatkan?” Ucap Jihan dengan gaya selengek-an. Ia memberikan Danisa senyuman sinis yang merendahkan. Gadis yang berprofesi sebagai dokter itu mengacuhkannya. Namun Jihan terus saja mengikuti kemana pun Danisa pergi. Sama seperti Danisa, Jihan juga masuk di kampus kedokteran.
“Hey… Danisa… Tunggu… Tunggu sebentar!” Panggil Jihan lagi. Ia berbalik menghadap ke orang-orang yang berlalu lalang.
“Teman-teman semua,,, perkenalkan! Aku Jihan dan ini adalah Danisa! Kami berteman dengan sangat baik! ” Ucap Jihan memamerkan hubungan mereka dengan nada lembut. Para mahasiswa menatap sumringah. Banyak yang mengagumi kelanggengan hubungan persahabatan mereka. Namun Danisa tidak mempedulikan Jihan dan teman-teman nya. Gadis tersebut masih saja terus berjalan bersama handphone-nya. Ia mengabaikan Jihan yang terus menanyakan keadaannya. Danisa memiliki kesibukan sendiri, yaitu menge-cek pesan-pesan pada layar kaca ponselnya.
Bagaimana Danisa? Apa kotak koper kiriman nenek telah berada bersama-mu? Tanya nenek melalui sebuah pesan wattsapp. Berpuluh panggilan tak terjawab juga tertera di sana.
Kamu berhati-hatilah Danisa! Perhatikan keadaanmu! Doa nenek senantiasa menyertaimu, Nak! Nenek masih lanjut membalas pesan Danisa.
Baik. Terima kasih, Nek! Balas Danisa menutup pesan. Wanita tersebut kembali berjalan ke tempat tujuan dengan menenteng barang pemberian nenek. Tidak ada kecanggungan di wajah Danisa. Jihan masih saja terus mengikutinya. Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.
“Kita duduk di bawah pohon itu!” Tunjuk Jihan mencari perhatian. Danisa menggeleng cepat.
“Please… sebentar saja!” Ajak Jihan. Tak punya pilihan, Danisa mengikuti apa yang teman Devan sedari kecil itu pinta. Mereka melangkah bersama lalu duduk ke bawah pohon besar yang di bawahnya terdapat bangku panjang terbuat dari bahan kayu.
“Aku senang kau mau menggubris perkataanku!” Ucap Jihan lagi. Angin menggerakkan helaian rambut lurusnya yang sedikit panjang. Danisa menatap Jihan. Netra mereka bertemu.
__ADS_1
“Bagaimana kondisi keuanganmu? Aku ingat bahwa dulu kau sering bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan harianmu. Aku juga tau bersekolah di sini bukanlah suatu hal yang mudah… Kau pasti berjuang dengan keras…”Jihan berkata masih dengan nada mengejek. Ia menjeda kalimatnya.
“Hmh.. Danisa, kalau kau membutuhkan sesuatu.. katakan saja padaku…” Lanjut Jihan berhati-hati. Danisa mendongakkan kepalanya.
“Maksudku, jika kau membutuhkan uang… Katakan saja. Aku akan mengatakan pada Devan untuk membantumu. Bukankah kau memang mengincar harta Devan?” Ucap Jihan memberikan penekanan pada setiap kata-kata yang ia lontarkan. Danisa kembali melihat wajah Jihan, wanita ini menyunggingkan senyumnya. Manis sekali. Ia langsung mengangkat koper kecil yang sudah sedari tadi dibawanya.
Perlahan, Danisa membuka koper tersebut setelah melihat ke kanan dan ke kiri. Betapa terkejutnya Jihan melihat isi yang ada di dalam sana. Koper tersebut berisi selusin uang merah yang sudah tersusun rapi. Hal ini benar-benar membuatnya tercengang.
Danisa kembali menutup kopernya, ia bangkit dan melangkah ke tempat tujuan semula. Ia ingin mendaftarkan diri ke kampus asrama yang terkenal tersebut. Meninggalkan Jihan seorang diri yang masih duduk tercengang di bawah pohon.
***
Danisa mengeluarkan camera mirroless-nya dari dalam tas. Tak lupa, gadis ini menjepret beberapa gambar asrama tempat dirinya bersekolah setelah melakukan pendaftaran dan diterima dengan baik.
Danisa mengambil beberapa gambar, gadis ini tersenyum puas melihat hasilnya. Tak lupa ia mengirimkan beberapa gambar terbaik dan dikirimkan pada neneknya.
Nek, Danisa sudah berada di asrama. Sudah diterima sebagai murid di sekolah ini. Ketik Danisa. Ia juga melakukan selfie sebagai bukti penguat. Gadis ini tersenyum puas.
Setelah menyelesaikan semua misinya, Danisa melangkah keluar. Ia masih dengan tas dan koper-kopernya.
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
IG @alana.alisha
__ADS_1
***