Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 61: Inti Target


__ADS_3

“Aku membencimu Devan! Aku tidak bisa menikah dengan orang yang keluarganya telah membunuh keluargaku!” Ucap Danisa tajam. Ia yang biasa tampak tenang, kali ini memunculkan emosinya ke permukaan. Mata Devan terbelalak.


“A… Apa katamu?” Lirih Devan bertanya. Tangan yang semula bertengger di pundak gadis tersebut perlahan terlepas.


“Apa maksud mu mengatakan hal tersebut Danisa??” Tanya Devan lagi. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengar. Danisa bungkam. Setelah mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, nafas Danisa menjadi berubah tidak beraturan. Melontarkan sebuah pernyataan berat membuatnya seperti baru saja selesai melakukan olahraga meraton.


Ciiiiit


Suara decitan ban mobil terdengar. Sebuah mobil BMW putih milik Raga yang terparkir di halaman mengganggu pendengaran Devan. Ia melihat sahabatnya tersebut turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka.


“Aku rasa kalian sudah terlalu lama berbicara. Aku akan membawa tunanganku pergi!” Ucap Raga. Hati Devan terasa diremas-remas.


“Danisa, kau harus menjelaskan padaku kalimat terakhir yang kau ucapkan!” Devan sedikit mencengkram kedua pundak Danisa. Ia tidak menggubris apa yang Raga ucapkan.


Sreg


“Kuharap kau bisa menjaga sikapmu, Devan! Bagaimanapun Danisa sudah menjadi tunanganku!” Ucap Raga menepis tangan tersebut. Dengan cepat ia menggiring tunangannya menuju ke parkiran mobil. Danisa menyempatkan diri melirik Devan yang hanya menatap kepergian mereka dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


“Tuan, apa tuan baik-baik saja? Wajah tuan terlihat pucat! Mari masuk tuan... Saya akan buatkan minuman hangat!" Ucap penjaga villa menghampiri Devan yang tercenung.


"Tidak, Aku akan menemui Mama! " Ucap Devan langsung melesat pergi dengan pikiran yang dipenuhi berbagai pertanyaan. Ia mengendarai mobilnya ke tempat Ranti dengan kecepatan tinggi.


"Danisa, apa kau baik-baik saja? " Tanya Raga berhati-hati saat mereka masih berada di dalam mobil. Danisa mengangguk. Ia hanya memandang lurus ke depan. Melihat Danisa yang banyak diam, Raga menjadi tak enak hati.


"Apa kau menyesali keputusan ini? " Danisa menggeleng.


"Baiklah. Aku berjanji akan menjadi suami terbaik untukmu. Aku berjanji akan membuatmu bahagia! " Danisa menoleh. Untuk beberapa saat ia terpaku lalu kemudian memberikan senyum yang di sambut perasaan bahagia oleh Raga.


Aku membencimu, Devan...! Setelah mengetahui keluarga mu adalah dalang yang sebenarnya, jujur saja... Bahkan untuk sekedar menatapmu aku tak mampu...


***


Suasana panik terjadi di apartemen prof. Daniel. Roula yang tidak sengaja menjatuhkan puntung rokok ke dress yang ia kenakan menyebabkan api menyala.


"Dan... Daniel... bagaimana ini??! " Pekik Roula panik. Api mulai membesar. Roula bangkit dari duduknya. Daniel yang dengan sigap akan mengambil air kalah cepat. Roula dengan satu tindakan langsung melompat memeluknya. Pemuda lulusan Oxford University tersebut hanya bisa mematung ternganga saat Roula dengan cepat mencengkram tubuhnya.


"Hey, apa yang kau lakukan?? Kau sudah gila!! " Hardik Prof. Daniel terkejut. Ia berusaha melepaskan rangkulan tangan roula namun gagal. Gadis tersebut malah bergelantungan di tubuhnya. Gerakan yang Roula lakukan membuat api tersebut malah menjalar ke baju Prof. Daniel yang memang telah sedikit terbalur minyak hasil percikan dari masak memasaknya tadi.


"Awww.. Ssss aku terbakar! Aku terbakaar! Aku akan mati! "Ucap Roula bergerak-gerak dalam pelukan Prof. Daniel sambil meringis panik kepanasan.


"Lepaskan aku! Lepaskan!" Titah prof. Daniel. Ia yang tidak suka bersentuhan dengan wanita asing mendadak frustasi. Roula menggeleng kuat.


"Hhhh keras kepala! Kalau begitu jangan bergerak! Kalau kau terus bergerak api akan lebih cepat menyebar! Dalam hitungan menit kita akan menjadi abu!" Hardik Prof. Daniel lagi. Roula berusaha mengumpulkan puing-puing kesadarannya yang telah betebaran entah kemana lalu sesaat kemudian ia berdiam diri. Roula mulai gemetaran.


"Ka.. Kau mau membawaku kemana? " Tanya Roula semakin memeluk erat Prof. Daniel.


"Aku akan menguburkanmu hidup-hidup! " Cebik Prof. Daniel yang sekuat tenaga berjalan cepat namun tetap tertatih karena membawa Roula bersama nya. Ia pasrah ketika api mulai menjalar ke bagian lain pada tubuh mereka.


Prof. Daniel merasa pegangan Roula sedikit mengendur. Gadis tersebut sudah tampak lemas.


"Hey, jangan mati dulu! Kau belum menjelaskan apapun padaku! Bertahan lah! "


Gawat! Prof. Daniel mempercepat gerak langkahnya.


Brakkkk


Pemuda tersebut menendang pintu kamar mandi. Pintu terbuka lebar. Namun gerakan yang prof. Daniel lakukan membuat tubuh mereka menjadi tidak seimbang. Lalu,

__ADS_1


Bruuuukkk


Prof. Daniel dan Roula tersungkur di lantai. Nafas gadis tersebut semakin melemah. Ia sudah


kesulitan bernafas. Asap sejak tadi sudah memenuhi ruangan.


Tiba-tiba alarm peringatan bahaya terbunyi. Bunyinya membuat suasana gaduh. Di luar sana semua penghuni apartemen turun cepat melalui tangga darurat.


Dengan sisa kekuatan Prof. Daniel bangkit dan menyalakan kran air. Ia menggiring Roula masuk ke dalam bak. Ia sendiri menepi di bawah air pancuran. Seketika api padam.


Hhhhhh. Prof. Daniel menghela nafas lega. Ia melirik Roula di dalam bak mandi dan tampak menutup mata.


Hhhh kenapa aku sebodoh ini! Kalau sejak tadi dia tidak bergelanyut, semua hal akan lebih mudah teratasi!


"Roula... Roula! " Prof. Daniel dengan cepat menghampiri dan menggoyangkan tubuh nya. Roula perlahan membuka mata.


"Luka bakar tingkat dua! " Gumam prof. Daniel setelah mengangkat Roula keluar dan memeriksa lukanya.


"Spe...ku...lasimu salah, Daniel! " Lirih Roula dengan terbata. Prof. Daniel mendongak.


Driiiit


Terdengar suara pintu utama berderit. Para petugas membukanya.


Api berasal dari sini!


Huk Huk Huk.


Asap di mana-mana !


Tampak para petugas memasuki ruangan dengan bercakap-cakap. Prof. Daniel mendengarkannya dengan saksama.


Braaakk


Para perugas membuka pintu kamar mandi. Prof. Daniel dengan sigap menyambar handuk dan menutupi bagian tubuh Roula yang terbuka.


"Saya seorang dokter! Api berasal dari puntung rokok! Saya sudah memeriksa keadaan nya. Wanita ini memiliki luka bakar tingkat dua! Tolong panggilkan ambulan dan bawa dia ke rumah sakit! Dia harus dirawat! " Ucap Prof. Daniel bangkit berdiri mengatakan apa yang terjadi tanpa di minta.


Para petugas langsung mengerjakan tugas mereka. Sebagian berkeliling memeriksa tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta prof. Daniel memberikan kesaksian. Pemuda tersebut dengan cepat beranjak masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya yang beberapa bagian telah gosong.


Di pandu oleh prof. Daniel, petugas Ambulance yang tiba kurang dari 10 menit langsung menggotong Roula ke tandu darurat untuk segera di bawa ke rumah sakit. Roula yang masih dalam kondisi sadar menggenggam handuk milik Professor tersebut yang ada di atas tubuhnya.


"Berikan dia perawatan intensif! Saya akan segera menyusul ke rumah sakit! " Titah prof. Daniel.


"Baik, Dok! "


Roula melirik prof. Daniel yang dibawa petugas kepolisian yang tadi tiba bersamaan dengan datangnya ambulance. Prof. Daniel akan diperiksa untuk menentukan apakah ia akan menjadi tersangka atau hanya sebagai saksi. Beruntung, tidak ada benda yang terbakar kecuali pakaian-pakaian yang mereka kenakan dan mengenai kulit.


"Pak, sebentar! " Lirih Roula dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Ada apa nona? "


"Orang yang dibawa oleh polisi juga mengalami luka bakar. Dibandingkan denganku, kondisinya jauh lebih buruk. Tolong paksa dia untuk juga melakukan perawatan. Perut dan bagian punggungnya terbakar! " Ucap Roula bersusah payah. Petugas Ambulance sedikit terkejut. Roula terus memandangi apartemen Prof. Daniel sampai petugas benar-benar membawanya pergi.


***


"Ma... Devan mau bicara! " Ucap Devan menemui Ranti di meja kerjanya.

__ADS_1


"Jadi sekarang kamu sudah sadar kalau semua hanyakesia-siaan? Sia-sia kamu mengejar gadis bisu yang telah berhasil menggoda Raga? " Sarkas Ranti tanpa menoleh. Ia masih berkutat dengan berkas-berkas yang ada ditangannya.


"Ma, apa benar keluarga kita sudah berteman lama dengan keluarga Danisa?! " Pertanyaan Devan membuat Ranti mendongak.


"Kenapa tiba-tiba kamu mempertanyakan ini?"


"Jawab saja ma, Devan hanya ingin tau! "


"Mama tidak tau! Bahkan mama belum pernah melihat siapa ibu bapaknya! Bukankah dia yatim piatu yang dipungut oleh kakekmu? " Jawab Ranti asal.


"Ketika kami ditunangkan, Mama tidak mencari tau latar belakang Danisa?! " Tanya Devan lagi.


"Sudahlah Devan.. Please move on! Masih ada Roula yang lebih pantas untukmu, Nak! " Ucap Ranti jengah.


"Kenapa kakek menjodohkan Devan, ma?" Devan tak menyerah.


"Kau tanya kan saja pada kakekmu yang keras kepala itu! Mama tidak mau memikirkan nya lagi! Mama sudah cukup mendengar keburukkan dan reputasi buruknya selama ini! Semua orang yang mengenalnya membicarakan betapa buruk perangai nya! Ini sudah cukup menjadi alasan mengapa mama tidak merestui kalian dan selamanya akan begitu! "


Aku membencimu Devan! Aku tidak bisa menikah dengan orang yang keluarganya telah membunuh keluargaku!”


Perkataan Danisa terngiang-ngiang di kepala Devan. Membuat ia harus berpikir keras hingga membuat kepalanya bertambah sakit.


Aku tidak mungkin membicarakan tentang pembunuhan bersama mama. Pikir Devan.


"Ma, Devan permisi! " Ranti hanya menatap kepergian Devan dengan kening mengerut. Ranti dengan cepat mengambil handphone dan menghubungi seorang asisten.


"Devan baru saja keluar dari ruang kerjaku! Awasi dia! Kondisinya masih tidak stabil! " Titah Ranti.


"Baik Nyonya! "


Ceklek


Devan membuka ruang kerja Cakrawangsa.


"Duduklah, Nak! Kau masih tampak pucat dan belum benar-benar sehat! "


"Kakek, Devan ingin mengajukan beberapa pertanyaan! Tolong kakek jawab dengan jujur! "


"Apa kau ingin menanyakan tentang Danisa? " Todong Cakrawangsa sebelum Devan mengajukan pertanyaan.


***


"Apa kalian sudah siap melancarkan aksi?" Tanya Mr. X pada beberapa anak buah kepercayaannya. Ia tengah mengambil anak panah untuk ditancapkan pada targetnya.


"Siap tuan! "


"Jangan sampai lengah! Lumpuhkan target tepat sasaran seperti ini.....! "


Psyuuuuuuuu...


Anak panah terlepas dari busurnya dan tepat mengenai inti target 🎯


***


🎯🎯🎯


@alana.alisha

__ADS_1


__ADS_2