Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 15: Kita Sudah Bertunangan!


__ADS_3

Devan membawa Danisa ke apartemen setelah mengantar Raga pulang ke apartemennya. Kakek baru saja menghadiahkan mereka sebuah apartemen. Hunian yang terbilang mewah pemberian dari kakek ini benar-benar terasa nyaman dan sangat strategis. Apartemen ini berada di pusat kota.


Devan masuk ke dalam kamarnya. Ia bersiap-siap untuk mandi. Danisa langsung duduk di sofa menyilangkan kakinya. Gadis ini menatap ke sekeliling lalu melihat-lihat majalah yang ada di bawah meja tamu.


Devan mengguyur tubuh yang penuh dengan keringat itu dengan air dingin. Pikirannya melayang pada perkataan Jihan yang mengatakan bahwa Danisa mampu menyewa pengacara terkenal dan pengacara tersebut terlihat menyukai nya. Devan juga bisa mengingat dengan jelas bagaimana Rudi, sang kepala sekolah melayangkan tatapannya pada Danisa. Semua hal terlihat begitu mencurigakan. Memikirkan ini semua, Devan mempercepat kegiatan mandinya.


Driiiit


Terdengar suara pintu yang bergeser. Danisa melihat Devan sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Celana jeans hitam dan kemeja putih lengan panjang yang lengannya sudah di angkat setengah itu menghias penampilan nya. Pemuda itu berjalan mendekat selangkah demi selangkah ke arah Danisa dengan menatap nya intens. Pergerakan yang Devan lakukan membuat Danisa sedikit jengah.


“Kita belum selesai bicara!” Ucap Devan memandang gadis yang ada dihadapannya dengan seduktif. Danisa meletakkan majalahnya dan mulai mendengarkan dengan baik. Ia balik menatap Devan.


“Apa hubungan mu dengan Mr. Charles?” Tanya Devan tanpa basa basi. Orang yang ia maksud merujuk pada pengacara yang tadi Noori bicarakan. Danisa mengambil handphone-nya dan mulai mengetik di sana.


“Dulu kami pernah belajar bersama” Sahut Danisa santai.


“Aku tidak peduli apa hubunganmu dengan pengacara itu. Namun aku harus mengingatkanmu bahwa sekarang kita sudah bertunangan. Jadi selama pertunangan ini, jangan sampai aku melihat kau bermasalah lagi dengan pria-pria lain. Kalau tidak, kau akan tau sendiri akibatnya!” Devan memberikan peringatan. Kini tatapan nya tersebut tajam. Danisa dengan cepat mengetik sesuatu di handphone nya.

__ADS_1


“Aku harus mengingatkanmu juga bahwa sekarang kita sudah bertunangan. Jadi selama pertunangan ini, jangan sampai aku melihat masalahmu dengan wanita-wanita lain. Terutama dengan Jihan. Atau dengan gadis mana-pun! Kalau tidak, kau akan tau sendiri akibatnya!” Danisa mengetik hal yang hampir sama persis seperti apa yang Devan ucapkan dengan menaikkan sebelah alisnya ke atas.


"Hhhhhh" Devan mendenguskan nafasnya. Gadis di hadapannya benar-benar tidak mau mengalah dan keras kepala.


“Bangunlah! Aku akan menunjukkan kamar mu!” Titah Devan lagi. Ia berbalik arah. Danisa mengikuti apa yang tunangan nya itu instruksikan.


Ceklek.


“Itu adalah kamarmu!” Tunjuk Devan setelah membuka pintu. Kamar dengan design modern elegan itu terlihat nyaman.


“Pulanglah hanya pada saat hari libur agar kakek tidak mencereweti kita! Aku harap kau bisa mengerti!” Tukas Devan dengan mensedekapkan tangan. Ia membiarkan Danisa masuk ke dalam kamar tersebut.


Kriiiing Kriiiing


Handphone Danisa berbunyi nyaring. Ia memang mengaktifkan nada deringnya sebelum melihat-lihat majalah tadi. Danisa langsung memeriksa isi dari handphone tersebut. Ternyata guru nya mengirimkan dua nomor berbeda kepadanya. Nomor pertama adalah nomor kontak keluarga pasien, nomor kedua adalah nomor Devan juga Raga.


Biasanya, Danisa hanya menerima dokumen penyakit dari pasien saja. Dan gurunya lah yang bertanggung jawab untuk menghubungi pasien. Tapi karena ia sudah menerima dana pengobatan sebesar 100 kali lipat dari biasanya, jadi untuk kali ini Danisa sendiri yang menghubungi pihak pasien.

__ADS_1


Tak lama, mereka membuat sebuah grup chat untuk membahas tentang Riwayat penyakit pasien dan operasi apa yang harus dilakukan. Dalam grup ini, selain keluarga pasien tentu saja terdapat nomor Devan juga Raga. Mereka hanya membicarakan teknis singkat mengenai mekanisme menjalankan pengoperasian nantinya. Setelah saling berbalas pesan di grup, Danisa mematikan handphone-nya lalu tidur.


***


Pagi yang cerah. Awan putih bergulung-gulung sudah terlihat memenuhi langit. Danisa berangkat ke sekolah. Namun sebelum sampai di tempat tujuan, gadis ini memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu di pinggir jalan. Ia memesan bubur ayam dan sebotol air mineral. Rasa lapar memenuhi perut nya yang sejak semalam belum terisi sedikitpun makanan.


Saat menyendoki makanan ke dalam mulut, Danisa melihat sebuah mobil berhenti di depannya. Mobil Mercedes Benz yang berhenti itu ternyata adalah mobil milik Devan. Ia membuka kaca mobil nya. Gadis muda ini menaikkan sebelah alisnya mengisyaratkan pada Devan bahwa ia sedang bertanya apa laki-laki itu mau makan? Namun Devan hanya diam saja.


"Lanjutkan perjalanannya pak! " Titah Devan menyuruh supirnya untuk melanjutkan perjalanan.


Danisa tidak mempedulikan Devan, ia tetap melanjutkan makannya. Gadis ini begitu menikmati bubur ayam yang terhidang di hadapannya sampai makanan tersebut habis. Setelah membayar, Danisa pun lanjut berangkat ke sekolah. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba sebuah mobil sport berhenti di depan Danisa.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤


IG @alana.alisha

__ADS_1


***


__ADS_2