
Devan melihat Danisa yang menyendiri di atas puncak menara. Ia menyunggingkan senyum lalu mengikuti gadis yang baru diperistri nya itu ke atas.
"Mengapa kau tidak mengajakku ke sini, hm? " Tanya Devan melingkarkan lengannya ke tubuh Danisa dan memeluknya erat.
"Dev, lihatlah ke depan... Mercusuar yang menjulang tinggi dan pepohonan di bawah sana... Begitu indah bukan?"
"Maaf, kali ini aku sedikit tidak setuju denganmu... Pemandangan di kejauhan sana memang indah... Namun yang kini kumiliki jauh lebih indah" Bisik Devan mengeratkan pelukannya.
"Deras lengan mu memelukku, nyala api dari puncak mercusuar di atas sana... aku tidak memerlukan apapun lagi" Ucap Danisa. Devan tersenyum. Ia tampak begitu bahagia. Namun senyum yang terukir tidak menetap lama. Tiba-tiba ia melihat seorang pria asing di bawah sana mengarahkan senapan pada mereka.
Doooorrrr
Devan sontak membawa Danisa untuk menunduk.
Doooorrr
Suara tembakan kembali terdengar. Tidak hanya sekali. Berulang kali.
Doooorrr
Devan mengeluarkan keringat dingin. Ia khawatir peluru menyasar pada tubuh Danisa.
Doooorrr
Tidak, jangan... Jangan... Keringat dingin terus mengucur.
Tit Tit Tit
"Bagaimana kondisi anak saya dok? " Tanya Ranti yang dari tadi cemas melihat Devan yang terbaring begitu pucat. Keringat dingin berhamburan di pelipisnya. Alat pada monitor menunjukkan ketidakstabilan. Ternyata Devan hanya bermimpi. Mimpi yang hadir ketika ia dalam keadaan koma.
"Psikologis Mr. Devan terguncang. Irama jantung juga tidak beraturan. Kita harus segera mengambil tindakan untuk Mr. Devan. Ranti terhuyung.
Ini semua karena anak itu! Devan pasti shocked dengan apa yang dialami! Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkannya! Aku akan membunuh perempuan itu dengan kedua tanganku sendiri! Batin Ranti.
"Bertahanlah nak... Semua akan baik-baik saja! Wanita itu akan tau siapa ibu yang sebenarnya! Wanita yang telah melahirkanmu seperti apa... Aku tidak akan pernah melepaskannya! " Bisik Ranti di telinga Devan dengan air mata yang berlinang.
****************
Charles dengan cepat menuju ruang kerjanya. Belajar kilat mengenai kasus yang menimpa Danisa. Pemuda ini ingin mengupayakan yang terbaik agar teman sepeguruannya tersebut bisa segera bebas.
Daniel... Mengapa kau begini? Mengapa kau menjauhiku?
Daniel.... Daniel....
Suara ratapan Roula ketika memanggil Daniel di rumah sakit tadi tiba-tiba terngiang di benak Charles. Suara yang terdengar parau itu cukup mengganggu dan membuat Charles jadi sulit berkonsentrasi.
Tap Tap Tap
Ceklek
"Daniel? Kau sudah di sini?"
"Bagaimana? Apa ada harapan untuk Danisa bisa bebas? " Tanya Daniel yang masuk ke ruangan Charles tanpa mengetuk terlebih dahulu. Selain berwajah pucat, raut wajah cemas juga tergambar di sana. Charles, sahabat karibnya terdiam.
"Charles! "
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun... "
__ADS_1
"Kau pengacara hebat! " Tukas Daniel.
"Kasus ini tidak mudah, Daniel... "
"Tapi kau yang terbaik di negeri ini! Kau pasti bisa!!"
"Kau tau, aku memang akan menguapayakan yang terbaik tanpa kau suruh atau bahkan tanpa Danisa pinta sekalipun... Mari kita mendoakan yang terbaik untuk gadis kecil kesayangan kita! " Sahut Charles. Daniel menghela nafas. Ia sedikit terhuyung. Tubuh nya terasa semakin lemah. Dengan berjalan pelan, ia menuju ke sel Danisa. Polisi membiarkan nya menemui gadis tersebut.
Danisa yang melihat Daniel tak ayal menghambur ke pelukannya. Airmata Danisa tumpah ruah.
"Apa yang terjadi... " Lirih Daniel. Ia mengusap puncak kepala Danisa.
"Ma'afkan aku... A.... Aku... Aku membunuh Devan... " Aku Danisa. Daniel sontak memeluknya lebih erat.
"Kau sudah sangat menderita. Tapi kau jangan khawatir, Charles akan membebaskanmu! Charles akan segera membebaskanmu..."
Danisa menggeleng.
"Percayalah... "
"Aku akan mendekam di sini selamanya. Atau aku akan mati bersama kenangan buruk yang indah! " Ucap Danisa melepas pelukan Daniel. Manik mata berwarna hazel tersebut tampak semakin pudar oleh airmata.
"Kau akan baik-baik saja! Kau akan baik-baik saja..." Daniel berusaha menahan air matanya.
"Walau keberadaan ku di dunia fana ini sama sekali tidak berguna. Namun setidaknya hanya dengan begini aku akan bisa tenang menemui ibu dan ayah di atas sana! Peristiwa yang terjadi dan yang baru saja kulakukan, aku tidak pernah menyesalinya" Lanjut Danisa. Jantung Daniel serasa ingin meloncat keluar dari tempat nya. Ucapan Danisa terasa begitu menghujam. Danisa selalu berkorban, ia selalu menjadi garda terdepan. Dan kini, ia juga yang harus menanggung semua derita.
***
"Danisa mendekam di penjara! Dia akan membusuk di sana! Devan juga tengah berada di antara hidup dan mati" Lapor Gunawan menaikkan gelas sloki nya. Gelas berisi setengah sampanye tersebut di angkat setinggi-tingginya ke atas namun tetap dengan gaya elegan.
Cheeeerrsss
Tik Tik Tik.
Bunyi halus detak jam. Hanya ia yang bisa merasakannya.
Waktunya sebentar lagi. Gumam hati Gunawan. Ia melirik waspada ke sekeliling nya.
"Jangan sampai Danisa mati begitu saja! Dia harus menderita! Dia harus merasakan penderitaan!! Penderitaan abadi!!" Lanjut Mr. X menekankan setiap perkataan nya.
"Tentu! Tentu saja, X! Kita bisa memastikan itu! "
Sluuupprr
Gunawan menyeruput minumannya dengan sekali tegukan. Keringat dingin sedikit demi sedikit mulai mengucur. Bulir-bulir yang sebesar biji jagung tersebut menghias di bagian dahi. Gunawan kembali melirik jam tangannya. Ini untuk kesekian kali nya ia mengintip di sana.
Tidak. Aku tidak gugup! Sama sekali tidak!
Di tempat berbeda, Mr. Xavier keluar dari perusahaan nya. Ia baru saja memenangkan proyek tender bernilai milyaran rupiah. Mr. Xavier sudah di tunggu oleh supir pribadi nya di lobby. Ia akan pulang dan menemui Mr. X.
Xavier tau bahwa ayahnya pasti akan sangat bangga padanya mendengar kabar yang akan ia sampaikan.
"Supir yang biasa mengantarku kemana? " Tanya Xavier heran ketika melihat wajah supir berbeda dari biasanya.
"Lagi berhalangan. Sedang sakit pak! "
"Oh... Okay! Antar aku pulang! " Titah Xavier santai. Ia langsung mengambil handphone dan mengecek kabar hari ini. Tidak ada yang menarik perhatian nya kecuali kabar Danisa yang sudah dijebloskan ke penjara.
__ADS_1
Anak misterius itu... Mengapa begitu tiba-tiba?
Xavier pun mulai mengambil majalah terbaru dan membolak-balikan halamannya. Supir memperhatikan tingkah laku Xavier dari kaca spion mobil. Ia mengamati wajah tampan orang yang ia supiri. Penutup sebelah mata tak luput dari perhatian nya. Mobil Rolls Royce yang membawa nya terus melaju.
"Aku mengatakan bahwa aku ingin pulang! Kau membawaku kemana?!" Tanya Xavier yang tampak tidak peduli namun ternyata ia memperhatikan sekitar.
"Maaf, apakah tuan lupa bahwa tuan ada meeting dengan tuan Oak Phakkai dari Thailand?" Ucap sang supir.
"Tuan Oak Phakkai? "
"Iya... Maaf tuan... Tuan bisa mengecek ulang jadwalnya"
Xavier terdiam. Ia tengah malas bertemu orang lain karena ingin segera menemui ayahnya. Tapi sudahlah. Lagipula Xavier kini tengah berbahagia. Meeting lanjutan tidak akan lebih dari 45 menit. Xavier pun kembali fokus pada majalahnya. Ia pasrah pada sang supir yang membawa nya. Mobil terus melaju menjauhi kota. pohon-pohon di pinggiran mulai terlihat. Gedung-gedung tinggi sudah tampak jarang.
Ini dimana? Gumam Xavier yang seperti nya tersadar.
Tak di duga, tiba-tiba seorang pria muncul di balik kursi Xavier dari bagian paling belakang, ia sudah siap dengan sesuatu di tangan nya.
Aaaaargh
Xavier seketika jatuh pingsan. Orang tersebut memberikan obat bius dosis tinggi.
Sementara di kediaman Megah, para asisten mengeluarkan papan catur. Mr. X ingin mereka bersantai menikmati minuman dan permainan. Gunawan yang masih berada di sana melangkahkan bidak nya satu persatu secara bergantian.
"Kau berbeda dari yang dulu, permainanmu banyak mengalami peningkatan! " Puji Mr. X.
"Aku yang dulu memang bukan yang sekarang! Alam dan musim berubah, manusia juga berubah! Aku bertransformasi ke arah yang lebih baik" Sahut Gunawan. Mr. X mengangkat sudut bibirnya ke atas tersenyum sinis. Lalu kemudian,
"Hahahaha, kau benar. Sekarang pun kita sudah tua. Dendam terbalaskan... Harta akan menjadi milik kita! Dan Kita tinggal menikmati hasil yang akan kita wariskan... Kalau aku sudah jelas pada Xavier, putra semata wayangku. Bagaimana denganmu? "
"Huk Huk Huk... " Gunawan terbatuk.
"Aku akan menikmati nya sendirian... Berfoya-foya dalam kedamaian" Ucap Gunawan masih melirik ke arah jam tangan nya.
Dooooooorrrrr
Suara tembakan terdengar di sekitaran mobil Rolls Royce. Supir yang tadi mengendarai mobil tersebut menembakkan pistolnya ke kepala Xavier yang tengah pingsan. Putra dari Mr. X mangkat seketika. Xavier meninggalkan dunia fana dengan isi kepala yang terburai. Para supir gadungan dengan cepat mengambil jasad Xavier untuk disembunyikan. Dengan cekatan mereka mengaduk semen dan menanam jasad Xavier ke dalam dalamnya agak tidak ketahuan.
Xavier menghilang!
Sedangkan di kediaman Mr. X, pria paruh baya tersebut tiba-tiba memegang dadanya yang terasa sakit.
"X, kau kenapa? " Tanya Gunawan seolah prihatin.
"Permainan kita lanjutkan besok. Aku ingin ke kamar" Ucap Mr. X. Tiba-tiba mood nya berubah drastis. Ia juga bingung mengapa tiba-tiba bisa terjadi. Namun belum sempat ia beranjak pergi, seorang asisten datang menemuinya.
"Maaf Tuan... Mr. Xavier.... " Asisten menjeda kalimatnya.
"Mr. Xavier... "
"Ada apa dengan Xavier?! "
"Mr. Xavier... "
"Ada apa?! Cepat katakan!! "
"Mr. Xavier tewas"
__ADS_1
"A... Apaaa?!!!! " Bak petir yang menyambar. Tubuh Mr. X terasa beku. Diam-diam Gunawan menyinggungkan senyumnya.
****************