
Danisa tiba di gedung raksasa milik keluarga Cakrawangsa. Kantor yang berdiri megah ini tak membuat nyalinya ciut. Danisa melangkah masuk menuju front office. Gadis ini telah mengetik beberapa kalimat di handphone-nya untuk menghadapi officer yang bertugas.
Permisi, saya Danisa. Tadi sekretaris Mr. Devan yang bernama Sarah menghubungi saya untuk mengantarkan berkas penting.
“Baik, sebentar nona!” Officer menghubungkan panggilan telepon ke Sarah. Wanita yang berprofesi sebagai sekretaris Devan tersebut membenarkan dan mentitahkan seseorang untuk membawa Danisa ke ruangannya.
Ceklek
Officer membuka pintu ruangan Sarah. Danisa masuk dan mengamati keadaan di sekelilingnya. Beberapa foto dan lukisan terpajang di sana. Foto Devan yang berada di atas podium menarik perhatiannya. Danisa diam-diam tersenyum hambar.
“Hi Nona Danisa!” Sapa Sarah. Danisa langsung menyodorkan berkas yang ada di tangannya lalu mengisyaratkan bahwa ia langsung permisi pulang karena buru-buru. Sarah tersenyum misterius.
Drrrrttt Drrrrttt
Sesuai prediksi, Jihan berhasil keluar dari lapas tahanan. Pesan dari Mr. Charles mengiasi layar handphone Danisa.
Bisa bebas dalam waktu secepat ini? Danisa mengerutkan kening berpikir. Itu artinya benar apa yang dikatakan oleh professor Daniel bahwa orang yang berada di belakang Jihan memang bukan-lah orang sembarangan. Danisa benar-benar terperangah. Padahal kasus yang menimpa Jihan cs bukan-lah kasus yang mudah.
Terima kasih informasinya, Dok! Aku akan menyuruh orangku untuk memantau pergerakan Jihan. Aku khawatir Jihan memang terlibat pada peristiwa beberapa tahun silam. Danisa mengirim pesan balasan. Ia jadi lebih waspada sekarang.
Sama-sama Danisa. Kau hanya perlu berhati-hati. Aku percaya kau mampu. Aku juga akan melakukan yang terbaik dalam mendukungmu! Balasan pesan Mr. Charles membuat Danisa sedikit tenang.
Di sisi lain, Raga yang sedari tadi berada di kantor memastikan bahwa yang berjalan keluar dengan bermain handphone adalah Danisa. Ia menyingkap gorden ruangan nya yang terbuat dari full kaca namun tidak tembus pandang. Raga langsung menelpon Devan.
“Dev, Aku melihat Danisa ke kantor! Aku rasa mataku belum rabun untuk mengetahui bahwa gadis itu memang Danisa!” Lapor Raga bersemangat.
“Aku sedang dalam perjalanan ke sana!” Sahut Devan santai.
“Baik. Cepatlah ke sini. Rapat dengan pengusaha kolektor barang antik juga akan segera di mulai!”
***
Danisa berjalan cepat. Earphone yang menghubungkan telinga dan handphone nya membuat Danisa tetap bisa produktif. Sebab gadis yang sangat menghargai waktu tersebut mendengarkan beberapa penjelasan medis dari berbagai professor ternama dunia.
Sreeggg
Tiba-tiba seseorang mencengkram tangan Danisa. Terkejut, earphonenya terlepas. Namun dengan gerakan cepat gadis ini mampu menghempaskan tangan yang memegang lengannya.
“Ikut aku!” Pinta orang tersebut.
Mi…ra? Gumam hati Danisa. Mau apa lagi perempuan ini?! Danisa terus berjalan tanpa mempedulikan keberadaan orang yang sudah mencegatnya itu.
__ADS_1
“Danisa, tunggu!”
“Danisa…!!” Pekik Mira. Danisa terus berjalan acuh.
“Hey… apa benar kau bertunangan dengan cucu dari keluarga Cakrawangsa?!” Mira terus mengikuti Danisa.
“Danisa! Kau sangat tidak sopan mengabaikan orang tua yang berbicara!!” Sembur Mira geram. Danisa tetap mengabaikannya.
“Bagaimana kalau aku katakan kalau ibumu masih hidup?!” Teriak Mira menjangkau pendengaran Danisa yang sudah beberapa meter di hadapannya. Kalimat yang Mira lontarkan sukses membuat langkah Danisa terhenti.
***
Tap Tap Tap
Devan masuk ke ruangannya. Ia memperbaiki tampilan pakaian bersiap masuk ke dalam ruangan rapat.
“Dev, ini berkas yang kau butuhkan!” Sarah langsung masuk ke ruangan Devan.
“Aku menelpon tunanganmu memintanya membawa berkas yang tertinggal di apartemen kalian! Aku tau kau sedang sibuk mengurus tante Ranti jadi tak sempat untuk pulang!” Sarah menyodorkan dokumennya. Gadis ini ingin menarik simpati Devan. Hubungan mereka memanglah tidak terlalu formal walaupun status mereka adalah atasan dan sekretaris.
“Ini juga salah ku karena tidak memberitahukanmu dari awal bahwa dokumen ini tertinggal!” Lanjut Sarah lagi.
“Lain kali kalau bekerja itu harus fokus! Jangan ceroboh!” Sembur Devan. Ia langsung beranjak keluar ruangan meninggalkan Sarah yang mematung.
Moderator mengarahkan Devan untuk menjelaskan. Pemuda tampan ini membuka dokumen nya. Sarah yang berada di samping Devan terkejut bukan kepalang. Berkas yang tadi Danisa berikan berantakan. Penuh coretan dan robekan hingga tidak terbentuk dan tidak bisa dibaca. Sontak atensi semua orang yang berada di dalam ruangan berpusat ke Devan. Mereka saling menatap.
“Dev, Danisa sangat keterlaluan!” Seru Sarah berbisik.
“Perbuatan seperti ini tidak bisa di torerir! Apa motif tunanganmu sebenarnya?!” Bisik Sarah lagi.
Suasana hening. Devan menarik nafas mengumpulkan kekuatan lalu ia dengan percaya diri bangkit berdiri. Devan menjelaskan isi dokumen kerja sama tanpa melihat berkas.
Pemuda yang telah mengenyam pendidikan di dua kampus ternama Eropa tersebut hafal isi dokumen di luar kepala hingga rapat berjalan lancar dan klien sangat puas dengan hasilnya. Mereka pun meneruskan kerja sama ke tahap berikutnya.
Huft. Hampir saja. Gumam Devan setelah di dalam ruangan rapat hanya tersisa Ia, Raga dan Sarah. Para klien telah bubar setelah tanda tangan kerjasama lanjutan terlaksana.
“Dev, aku tidak menyangka Danisa bisa melakukan hal keji seperti ini! Padahal ini proyek yang sangat penting. Nilainya Milyaran Dollar!” Tukas Sarah memanas-manasi Devan.
Raga mengerutkan kening berpikir. Apa benar Danisa melakukan hal memalukan seperti itu? Tidak mungkin! Kalau pun iya, motifnya apa?!
“Dev, kau harus menghukum Danisa. Kalau perlu batalkan pertunangan kalian!” Sarah memberikan saran.
__ADS_1
“Apapun yang terjadi hari ini. Benar-benar keterlaluan!” Sarah menggenggam tangan Devan. Pemuda ini sontak kaget.
“Dimana kau letakkan tanganmu, Sarah?! Jangan lampaui batasmu!” Hardik Devan yang sedari tadi diam.
“Ma.. Maaf, aku hanya terbawa suasana dan tidak tega terhadapmu, Dev! Aku hanya kasihan karena ternyata kau telah dikhianati oleh tunangan mu sendiri!” Sarah menunjukkan wajah sedih.
“Kau akan memberikan gadis itu hukuman kan?” Tambah Sarah lagi.
“Danisa biar jadi urusanku. Bukan urusanmu! Keluarlah!” Ketus Devan.
“Ta.. Tapi Dev? Danisa sudah merugikan kita semua. Terutama perusahaan…”
“Rapatnya berjalan lancar tanpa hambatan kan? Itu sudah lebih dari cukup!” Sahut Devan malas.
“Ttt… Tapi Dev… Danisa….”
“Cukup Sarah! Keluarlah! Rapat sudah selesai! Kehadiran mu sekarang ini tidak diperlukan lagi! Kembalilah dan kerjakan tugasmu!” Tegas Devan. Sarah beringsut mundur dan langsung keluar dari ruangan rapat.
Devan dengan santai mengambil handphone-nya.
Danisa, kamu dimana? Aku akan menjemputmu! Nanti sore kita pulang bersama. Devan menyunggingkan senyumnya setelah melayangkan pesan.
“Dev, kau bisa menanggapi kasus ini sebegini santai?” Raga menjentik-jentikkan jarinya ke meja.
“Danisa tidak bersalah. Aku tau kalau kejadian rusaknya berkas ini akan terjadi sebelum aku membuka berkas tersebut!” Sahut Devan. Ia menunggu balasan pesan dari Danisa.
“Maksudmu?” Raga kebingungan.
“Sebelum mengantar berkas Danisa sudah mengabarkan pada ku. Ia juga tidak sembarangan bertindak. Sebelum mengantarkan berkas ke kantor, ia sudah memeriksanya terlebih dahulu!” Terang Devan.
“Aku sudah melarangnya untuk tidak usah di antar. Tapi Danisa malah ngotot. Ia ingin membuat Sarah termakan dengan permainannya sendiri!” Devan bercerita dengan berbinar. Hatinya mengakui kecerdasan Danisa.
“Menarik. Tapi…. Wait wait…”
“Kau mengetahui ini semua tapi kenapa malah kau abaikan? Kenapa kau tidak menyidak Sarah ketika dia beragumen menjatuhkan Danisa?” Tanya Raga yang tidak mengerti akan pemikiran sahabatnya.
“Belum saatnya! Calm Down!” Sahut Devan santai. Ia masih mengamati layar handphone menanti pesan balasan dari Danisa. Namun balasan yang ia tunggu tak kunjung memenuhi layarnya.
***
Guyss,, jangan lupa like komen vote kasih hadiahnya ya... thank you ❤❤❤
__ADS_1
***