Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 74: Setuju Menikah


__ADS_3

Devan??? Danisa terkejut bukan kepalang. Kehadiran laki-laki tersebut ke apartemen nya secara tiba-tiba membuat jantungnya nyaris keluar.


"Maaf, aku terpaksa membuka pintunya. Aku sudah menekan bell berkali-kali namun kau tidak juga membukanya. Aku masih menyimpan kunci pintu apartemen ini" Ucap Devan berhati-hati. Wajahnya masih dipenuhi oleh luka memar dan belum terobati.


Dengan mata waspada, nafas yang menderu cepat, perlahan Danisa beringsut mundur.


"Para wartawan masih sangat ramai di luar sana. Aku mengkhawatirkan keselamatan mu! Tadi kau pergi begitu saja" Lanjut Devan lagi. Danisa semakin beringsut mundur. Tubuhnya bergetar.


"Ada apa? Kau gemetaran. Apa kau takut? " Tanya Devan polos sambil mengerutkan kening. Ia mulai melangkahkan kaki.


"Stop!! Jangan bergerak!! " Teriak Danisa kencang. Keringat dingin memenuhi keningnya. Sesaat pemuda tersebut tercengang.


"Te... Tenanglah... Aku tidak akan melukaimu.. " Ucap Devan mengangkat kedua tangan nya ke atas. Danisa menarik hembuskan nafas menetralisir perasaan yang kian kacau.


Danisa meraba ke kantong blazernya. Memastikan pisau kecil yang tajamnya berkali lipat dari pisau biasa dan selalu ia bawa masih berada di sana. Tangan Danisa tidak berpindah. Ia sangat waspada untuk kemungkinan terburuk.


"Apa kau takut padaku? " Devan semakin kebingungan. Ia melihat ke sekeliling mungkin-mungkin Raga berada di sana.


Jangan mendekat... Jangan...


"Aku... Aku akan menikah denganmu!" Ucap Danisa pada akhirnya. Tubuhnya terasa lemah. Ia mati-matian mengumpulkan kekuatan dengan menghalau rasa takut dan berusaha keras untuk bersikap senormal mungkin.


Untuk menjatuhkan lawan, kau harus bertindak elegan, nak! Demikianlah kata-kata nenek terngiang di telinga. Danisa tanpa sadar menggigit bibirnya hingga mengeluarkan darah. Bukti yang berada di tangannya tampak begitu nyata. Rasa takut yang berlebih dan keadaan mendesak membuatnya terpaksa menjadi lebih kuat.


"Apa? "


Tidak mungkin dia membunuhku sekarang... Tidak mungkin... Dia masih membutuhkanku untuk misi nya... Suara hati Danisa berkata.


"Kenapa?Apa kau berubah pikiran? Aku pikir ucapan dan janjimu tadi adalah sungguhan"


"Tidak tidak. Aku tidak berubah pikiran. Hanya sedikit terkejut dengan jawaban dadakan dari mu! " Sahut Devan diplomatis. Danisa tetap berdiam di tempat tanpa berpindah sedikitpun. Tubuhnya terasa beku.


"Ini kabar baik. Maka aku akan mengurusnya... kita akan menikah sesegera mungkin... bulan depan sepertinya waktu yang tepat... lalu akan ada konferensi pers untuk membuat klarifikasi bahwa kita sebelumnya memang sudah lebih dulu melakukan janji suci bersama" Ucap Devan memetakan perencanaan.


"Tidak. Nanti malam adalah bulan purnama. Aku ingin kita menikah besok" Sahut Danisa mematahkan semua ucapan laki-laki yang ada di hadapannya.


"Be.. Besok? Apa hubungannya bulan purnama dengan menikah besok?" Devan semakin tak mengerti dengan apa yang Danisa pikirkan.


"Ya. Aku ingin kita menikah besok..." Ucap Danisa tak sabar. Ia ingin cepat-cepat terlepas dari jerat keluarga Cakrawangsa dengan mengumpulkan banyak bukti. Melihat Devan dengan membayangkan hal hal mengerikan, membuat Danisa bahkan tidak bisa berpikir jernih.


"Apa tidak terlalu buru-buru? Hmh... maksudku... "


"Apa kau keberatan? Aku tidak ingin menikah di lain waktu selain besok! " Sahut Danisa tegas. Devan tampak berpikir. Ia lalu melangkah mendekati gadis yang terlihat terkejut dan menghindar.


"Ada apa hm? Katakan padaku... Apa kau berada dalam tekanan? Apa kau tertekan dengan para wartawan di luar sana? Walau ini bukan pernikahan impianmu, setidaknya kita harus membuat kesan yang baik... "

__ADS_1


"Stop! Jangan coba-coba mendekat!! " Teriak Danisa melotot kan matanya yang memerah.


"Kau pikir aku menginginkan pernikahan menjijikkan ini?!"


"Kau!!" Danisa menunjuk Devan dengan telunjuknya.


"Kau sebagai pelaku kejahatan harus bertanggungjawab! Aku tidak ingin bertele-tele dan segera ingin hidup bebas dengan lepas dari pemberitaan bodoh ini! Terutama darimu! Dengarkan!! Tidak akan pernah ada pernikahan impian itu!"


"Kau!! " Danisa kembali menunjuk Devan.


"Jangan berpikir aku segila itu ingin menikah dengan mu! Sama sekali tidak!! Jangan lupakan janji janji yang baru saja kau buat! Kita menikah hanya untuk sementara waktu. Setelah itu kita akan bercerai atau aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku!! Sekarang apa kau mengerti?! " Ucap Danisa tak terkendali. Devan ternganga. Walau tubuhnya gemetar namun Danisa mengangkat dagunya ke atas untuk menunjukkan bahwa ia tidak main-main.


"Huh. Kau pikir aku menginginkan pernikahan yang seperti ini? Apalagi dengan penjebakan yang tidak masuk akal itu? Ini sama sekali bukan gayaku! Tapi baiklah... Anggap saja pernikahan kita adalah upaya untuk membongkar semua kejahatan!" Devan mensedekapkan tangannya. Tuk sejenak ia tampak berpikir.


Ck. Akting yang sangat sempurna! Devan, aku akan segera mengirimmu dan keluarga ke neraka! Gumam Danisa dengan dada bergemuruh. Matanya berair. Danisa bersandar ke dinding. Ia kesulitan bernafas. Danisa seperti kehilangan oksigen. Ia memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia terhuyung. Kakinya terasa semakin lemas.


"Danisa, kau menangis? " Tanya Devan terkejut. Ia datang mendekat. Danisa dengan cepat kembali meraba bagian kantong blazer mencari-cari pisau kecilnya.


Ketemu! Danisa menggenggam pisaunya erat-erat.


Apa aku membunuhnya sekarang saja? Jika itu terjadi... Semua akan usai... Walau aku harus mendekam di penjara seumur hidup... Aku rela... Hidupku memang untuk masa lalu... Tidak akan pernah ada masa depan...! Cerita ini akan berakhir di sini. Sekarang juga!


Sssss... Danisa mendesis. Kepalanya semakin terasa sakit.


Jangan lakukan ini... Jangan... Gumam Danisa.


Satu


Dua


Tiga


Tsuuuuk


Tiba-tiba Danisa menikam Devan tepat ke jantungnya.


Aaaarkk


Devan mengerang. Pemuda tersebut tumbang ke lantai.


Hah Hah Hah


Danisa melihat banyak darah berceceran. Detak jantungnya berpacu cepat. Tubuhnya merosot ke lantai.


Hah Hah Hah

__ADS_1


De... Devan mati... Danisa menutup rapat matanya.


Hah Hah Hah


"Danisa... Ada apa? Danisa... Ada apa denganmu?" Suara Devan sayup-sayup masih terdengar. Pemuda tersebut sudah berada di hadapan dengan memguncang-guncang tubuhnya. Danisa mencoba membuka matanya. Perlahan-lahan. Kali ini lebih lebar.


Devan? Kau masih hidup? Gumam Danisa. Ia menghela nafas. Ternyata menusuk dan menikam Devan hanya halusinasinya saja. Devan masih bisa berdiri tegak.


Danisa mengangkat tangannya agar laki-laki tersebut menjauh. Danisa berusaha untuk berdiri normal.


"Aku baik-baik saja!" Ucap Danisa.


"Tidak. Kau sakit! " Devan nekat maju dan meraba keningnya. Suhu tubuh Danisa tinggi.


Ckkrkk Crkkk


Suara kunci pintu kembali terdengar. Perhatian Devan dan Danisa teralihkan. Namun gadis tersebut kembali terhuyung. Tanpa sadar ia bersandar pada Devan. Pemuda yang ada didekat dengan sigap menopangnya.


"Danisa?! " Suara teriakan menggelegar Prof. Daniel memenuhi ruangan. Beliau tidak sendiri. Roula ikut serta bersertanya. Prof. Daniel dengan cepat menarik Danisa dari rangkulan Devan.


"Danisa, tubuhmu panas. Kau demam! " Ucap Prof. Daniel cemas. Roula dengan cekatan mengambil kotak P3k yang tergantung di dinding dan menyerahkannya pada Daniel.


"Aku akan membawanya ke kamar! " Tawar Devan di sertai tatapan tajam Prof. Daniel. Professor cerdas tersebut dengan sigap mengangkat Danisa ala bridal dan membawanya ke kamar.


"Devan... " Panggil Roula saat melihat orang yang ia cintai ingin ikut menyusul ke kamar. Langkah Devan terhenti.


"Mengapa? " Satu pertanyaan meluncur.


"Aku tidak melakukannya" Sahut Devan cepat.


"Aku... Aku... Hatiku terluka" Aku Roula. Tubuh Devan berbalik menghadapnya.


"Roula.... Kau gadis yang baik. Aku sudah mengenalmu sejak lama... Tapi maafkan aku... Aku akan menikahi Danisa. Besok kami menikah! " Ucap Devan. Roula terdiam dengan bibir bergetar menahan tangis.


"Kau ku anggap seperti adikku sendiri. Selama ini aku menghindarimu agar kau tidak terlalu jauh terluka. Tapi tak ku sangka... ternyata kau tetap saja terluka" Ucap Devan merasa bersalah.


"Maafkan aku... seberapa jauh dan besar usahaku untuk mencoba, aku tetap tidak bisa mencintai mu. Cinta tidak bisa dipaksakan bukan? Aku berharap kelak kau bisa jatuh cinta dan menikah dengan laki-laki yang jauh lebih baik dariku" Lanjutnya lagi. Roula mengangkat wajahnya. Ia mencoba untuk tersenyum.


"Semoga kau dan Danisa bahagia... Ini harapan terbaik yang bisa kuberikan... " Sahut Roula menutup pembicaraan. Devan mengangguk.


...****************...


IG: @alana.alisha


...****************...

__ADS_1


__ADS_2