Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 70: Air Yang Keluar Dari Sudut Mata~


__ADS_3

"Bagaimana bisa Danisa bersama Manggala?! "


Pertanyaan yang tiada sesiapapun dari mereka tau akan jawaban nya.


Prof. Daniel memijat pelipis. Kepalanya terasa berdenyut. Setelah mendapatkan kabar tentang Danisa, tak menunggu lebih lama. Prof. Daniel, Raga dan Mr. Charles langsung menuju rumah sakit tempat gadis tersebut dirawat.


"Sebelum nya aku juga sudah berfirasat kalau Danisa tercebur ke danau! X siaalan!!" Raga mengepalkan tangannya erat-erat. Ia menyesal karena lengah membiarkan Danisa pergi di upacara pernikahan mereka.


"Daniel, sepertinya kau harus dirawat... Kau terlihat sangat pucat! " Timpal Mr. Charles yang memperhatikan dari kaca depan spion mobil.


"Aku harus menyelidiki siapa X sebenarnya! " Sahut prof. Daniel sambil terpaksa meneguk sebotol air mineral karena menyadari dirinya mengalami dehidrasi.


"Aku akan mengambil start menyelidikinya terlebih dahulu. Kau beristirahat lah. Setelah sehat, kita akan kembali menyelidiki nya bersama-sama. Saat ini yang terpenting adalah Danisa selamat! " Tukas Mr. Charles.


"Jangan mengkhawatirkanku.. Aku baik-baik saja!"


"Kau tidak pernah tidak keras kepala! " Mr. Charles menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mengapa Prof. Daniel begitu peduli pada Danisa sampai tidak menghiraukan kesehatan nya sendiri? Apa jangan-jangan.... Raga mengerutkan keningnya. Sikap Professor tersebut cukup menyita perhatiannya.


Mobil yang membawa mereka terus melaju membelah jalanan raya melewati perempatan.


Tap Tap Tap


Ceklek


"Silahkan tuan..." Asisten yang membukakan pintu mempersilahkan seseorang masuk. Ruangan khusus pada hotel mewah berbintang tersebut tampak sepi. Hanya ada jejeran asisten, lebih tepatnya para algojo berwajah sangar berdiri di setiap sisi.


Sret


Kursi utama berputar 180 derajat. Seorang pria bos besar dari para algojo dengan sebelah mata tertutup memberikan senyumnya.


"Cakrawangsa.... Welcome.... Jarang-jarang kita bertemu seperti ini! Hahaha" Sambut pria tersebut terasa ramah.


"X...! " Cakrawangsa menaikkan sebelah alisnya ke atas nyaris tanpa ekspresi.


"Orang suruhanmu datang tepat waktu! Aku tau kau akan melindungi ku! Mobil kiriman mu cukup membuat ku terhindar dari jeratan polisi! "


Tentu saja X, karena kau masih sangat berguna. Batin Cakrawangsa.


"Kau berhutang banyak padamu karena telah menyelamatkan mu! "


"Hahaha tentu... Duduklah! Kau harus menikmati minuman racikan dari asisten ku! Anggap ini sebagai hadiah kecil dariku!" Mr. X melambaikan tangan. Seorang wanita cantik berpenampilan minim datang memasuki ruangan dengan membawa baki minuman.


"Maaf, aku menyetir sendiri. Jadi aku tidak bisa minum! " Tolak Cakrawangsa secara halus. Namun ia tetap duduk mengambil tempat.


"Hahaha.. Jutawan seperti mu menyetir sendiri? Itu bukan seperti dirimu... Hahaha! " Mr. X masih tertawa terbahak-bahak.


"Oh iya aku lupa... Kau memang bukan dirimu sendiri! " Wajah ceria Mr. X berubah sinis.

__ADS_1


"A... Apa maksud mu?! "


"Jangan pikir aku tidak tau bahwa sebenarnya kau bukanlah Cakrawangsa yang asli! Kau telah lama menyingkirkannya dan mengambil alih semua lini kehidupannya. Kau mengambil alih semuanya. Iya kan, Gu.. na...wan? Saudara kembar dari Cakrawangsa!? Tuding Mr. X menusuk. Orang yang ada di hadapannya terlihat kaget. Namun ia kembali menguasai keadaan.


Gunawan... Aku tau kau ingin menekanku! Tapi Aku punya kartu As mu. Aku tidak semudah itu di intimidasi... Mr. X tersenyum culas.


Penyelidikan mu hebat juga, X! Tapi kau tidak mengetahui kebenaran apapun!


"Hahaha... itu bukan rahasia lagi diantara kita! Bukankah Kita ini memang satu visi dan misi? " Gunawan yang kini sudah menjelma menjadi Cakrawangsa angkat bicara.


"Tentu... Tentu... Tentu saja! Hahaha! Ayolah minum! Seteguk alkohol tidak akan membuatmu kehilangan kendali!" Ucap Mr. X. Kali ini ia sendiri yang mengambil minuman dari baki sang asisten. Cakrawangsa palsu terpaksa mengambil minuman tersebut dan menenggaknya. Pikirannya melayang pada belasan tahun silam saat ia mengambil alih posisi Tuan Cakrawangsa, kekasih dari Nyonya Deborah Paula.


...****************...


"Prof... Anda tiba tepat waktu! Pasien atas nama tuan Devan telah siuman! "


"Serahkan pada dokter lain, keluarga mereka tidak ingin aku yang menanganinya! " Titah prof. Daniel mengambil pakaian dinas dan bersiap menemui Danisa.


Ceklek.


"Dan.. Daniel.. Devan siuman! " Ucap Roula yang tiba-tiba muncul sambil mengusap air matanya. Gadis tersebut tampak mengharu biru. Asisten dokter langsung keluar ketika menyadari kehadiran gadis tersebut.


"Aku sudah tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga Cakrawangsa! "


"Daniel.... Please... Come on..." Lirih Roula yang sudah menyangka bahwa Prof. Daniel akan menolak merawat Devan setelah semua yang terjadi.


"Devan bisa mati... "


"Aku bukan Tuhan! "


"Daniel... kumohon...! " Roula tidak menyerah. Ia menghalangi jalan keluar dengan menangkupkan kedua tangannya.


"Suruh Ranti memohon padaku! Dan... minggir! Jangan halangi jalanku! " Roula menggelengkan kepalanya.


"Kalau kau tidak minggir, aku bisa berbuat kasar padamu! " Ucap Prof. Daniel. Butir-butir keringat keluar dari pelipisnya. Roula memberanikan diri mengambil tissue menyeka air yang keluar tersebut.


Sreettt


Prof. Daniel memegang kuat tangan Roula.


"Awww sakit... "


"Kau pecinta pria itu! Itu artinya kau juga bagian dari mereka! " Tukas Prof. Daniel tajam. Roula masih terus menggeleng.


"Lalu?! " Tanya Prof. Daniel yang sedari tadi menahan rasa sakit sampai wajahnya memerah.


"Dan.... Daniel... Kau kenapa? " Tanya Roula. Kedua mata mereka bertemu. Prof. Daniel merenggangkan cengkraman tangannya pada gadis tersebut.


"Minggirlah! "

__ADS_1


"Apa kau belum meminum obatmu?! "


"Minggir Roula!! " Suara Prof. Daniel meninggi.


"Aku akan memeriksa suhu tubuhmu, berbaring... " Ucap Roula mencoba menarik lengan tangan Daniel. Namun,


Cup


Prof. Daniel mengecup bibir Roula. Mata gadis tersebut terbelalak sempurna. Kecupan singkat yang tidak berhenti sampai di situ saja. Prof. Daniel malah memperdalam ciuman nya saat mulut Roula setengah terbuka. Prof. Daniel menggiringnya ke tepian dan merapatkan tubuh Roula ke dinding hingga membuat gadis tersebut kesulitan bernafas. Namun baru saja mereka bersiap ke tahap yang lebih lanjut, prof. Daniel langsung menjauhkan tubuh nya.


"Kubilang minggir ya MINGGIR!" Ketus Prof. Daniel membuat Roula tercengang tak percaya. Laki-laki tersebut keluar ruangan setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia meninggal kan Roula seorang diri, gadis tersebut meraba bibir nya yang basah.


Daaaniiiiiiiielllll.... Awas kau!!!


...****************...


"Syukurlah kau sudah siuman... Kau telah melalui masa kritis. Aku bangga padamu! "


"Kakek... Dimana Danisa? Apa dia selamat? " Tanya Devan dengan suara lemah bernada serak.


"Danisa tidak kenapa-napa! Danisa sudah aman sekarang! "


"Apa Danisa sudah menjadi istri dari Raga? Huk Huk Huk! " Tanya Devan menduga. Tak bisa dipungkiri, ada rasa kecewa menyelinap begitu halus memenuhi ruang ruang di jiwanya.


"Tidak nak, Raga dan Danisa belum sempat menikah. Danisa milikmu! Cepatlah kembali pulih, agar kau bisa menikahinya! Aku menjanjikan pernikahan yang hebat untuk kalian berdua! " Sahut Cakrawangsa. Dada Devan bergemuruh. Pemuda tersebut hanya bisa tersenyum pahit. Ucapan kakeknya serasa hanya seperti angin lalu.


Driiiiit


Suara deritan pintu yang terdengar membuyarkan lamunan mereka. Seorang pemuda berjalan mendekat.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Raga. Ia membawa sekeranjang buah-buahan.


"Seperti yang kau lihat" Sahut Devan diplomatis. Raga meletakkan keranjang buah-buahan di atas nakas. Cakrawangsa permisi tak ingin menganggu. Sebelum ia keluar ruangan, orang yang menjadi Cakrawangsa tersebut kembali melirik punggung Raga dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Akhirnya kau siuman... " Lanjut Raga.


"Apa kau mengharapkan sebaliknya? "


"Aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu! Tapi tidak untuk urusan Danisa! Khusus untuk urusan gadis itu, aku tidak akan pandang bulu!" Sahut Raga berterus-terang.


"Apa kau mencoba mengancamku? "


"Aku tidak perlu mengancammu. Karena sejak awal kau telah kalah. Danisa tidak akan mungkin mau dinikahi oleh anak keturunan yang telah membunuh kedua orang tuanya! Kau kalah telak, Devan! Sejak awal, takdir Danisa memang bersamaku! " Ucap Raga menohok. Mata Devan berkaca-kaca. Air keluar dari sudut matanya.


...****************...


...Jangan lupa Like, Komen, Vote n Gift nya... Jazakumullah Khair... semoga teman2 sehat sllu ✨✨✨...


IG: @alana.alisha

__ADS_1


__ADS_2