Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 72: Penawaran Dari Devan


__ADS_3

Plakkk


"Apa yang kau lakukan, hah?!" Gunawan menampar Devan dengan keras. Ia menunjukkan raut wajah kecewa yang mendalam.


"Kami dijebak, kek! Aku tidak melakukan apapun! " Bantah Devan tegas. Mereka tengah disidang untuk sesuatu yang tidak mereka lakukan. Danisa berdecak malas. Ia menatap laki-laki tersebut dengan tatapan penuh amarah.


"Kau tau dampak dari perbuatan mu?! Saat ini berita sudah naik ke semua koran bahkan ke TV nasional! Dimana kita letakkan muka kita, Devan! Juga... Kau telah menghancurkan hidup seorang gadis! Bagaimana caraku menghadapi Paula! Sekarang apa kau masih belum bisa mengerti?! " Hardik Gunawan mengacak kasar rambutnya. Ia seperti seorang korban yang sudah tidak memiliki gairah hidup.


"Sabar pa! Aku tau siapa Devan... Aku ibunya! Tidak mungkin putraku berbuat keji kecuali memang perempuan tidak tau diri ini yang memberikan dirinya! " Tuding Ranti menohok.


"Ranti! Tidak seharusnya kau menyalahkan Danisa seperti itu! " Hardik Gunawan lagi dengan melirik Danisa. Wajah gadis tersebut merah padam. Ia yang selalu tidak peduli pada perkataan orang lain dan memilih untuk cuek, benar-benar tidak bisa menerima tudingan Ranti.


Sreeet


Danisa mendorong kasar kursi yang ia duduki ke belakang lalu berdiri dan bersiap meninggalkan ruangan. Danisa benar-benar marah. Siapa yang peduli dengan keluarga Cakrawangsa? Siapa yang peduli dengan kejadian semalam? Namun baru saja ia akan keluar, para wartawan sudah berdiri di depan pintu bersiap menyambutnya.


Hhhh. Danisa menghela nafas panjang. Ia urung keluar. Danisa benar-benar malas menghadapi berbagai macam pertanyaan dan juga gunjingan. Selain wartawan, para masyarakat juga telah hadir berduyun-duyun menunggu klarifikasi dari mereka.


Pewaris tunggal dari Keluarga Cakrawangsa yang tersohor kini tersandung kasus dengan seorang gadis. Mereka terlibat affairs. Begitulah gambaran headline news pagi ini.


Danisa hanya bisa memilih mundur dan menepi ke dekat jendela dengan mensedekapkan kedua tangan nya.


Sudah tidak ada jalan bagi kalian kecuali menikah!


Diam-diam Gunawan tersenyum.


"Devan, sebagai laki-laki kau harus bertanggungjawab! " Desak Gunawan memveto.


"Pa! Kenapa Devan harus menanggung hal yang tidak dia lakukan sih?! Kondisi Devan juga masih sakit! Aku yakin wanita tidak tau diri itu yang menjebaknya! Dia marah karena aku tidak menerimanya sebagai menantu sekaligus mengusirnya mentah-mentah!" Protes Ranti. Wanita paruh baya ini tak kalah terguncang. Ranti tidak siap jika harus memiliki menantu pembuat onar seperti Danisa.


"Sudah lah Ranti! Berhenti mengoceh! Lihat lah wartawan di luar sana! Lihat para pendemo! Pernikahan Devan dan Danisa harus dilaksanakan segera! Kalau tidak reputasi kita semua akan hancur! Jauh daripada itu, apakah ini penjebakan atau bukan? Tetap saja mereka telah melakukan perbuatan terlarang! Tidak ada pilihan lain. Suka atau tidak, baik Danisa maupun Devan memang harus menikah!" Lanjut Gunawan mendesak. Ranti terdiam. Ia selalu saja merasakan hal aneh ketika berada didekat ayahnya tersebut. Namun Ranti memilih diam dan menganggap perbedaan sikap Cakrawangsa dikarenakan oleh faktor umur.


Danisa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia sudah tidak sabar ingin membungkam tuduhan Ranti. Namun Danisa yang dikenal tidak bisa berbicara tidak mungkin membantah semua tuduhan secara langsung. Ia sendiri sudah tidak bisa menangis. Dari awal, hatinya sudah ia tempa untuk menjadi kuat. Namun sekarang Danisa merasa berubah begitu rapuh.


Apa aku benar-benar akan menjadi istri dari keluarga pembunuh keluarga ku? kedua orang tua ku? Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa aku seceroboh ini? Danisa menggigit bibir bawahnya. Devan melirik sendu ke arah nya. Ini semua benar-benar di luar dugaan. Devan sendiri pun bingung harus melakukan apa.


...****************...


Dengan langkah tergesa Prof. Daniel hendak menemui Danisa untuk membawanya pergi dari lingkaran yang ia sebut sebagai lingkaran setan. Berita yang ia lihat di televisi cukup membuat asam lambungnya naik berkali lipat. Namun pemuda tersebut mengurungkan niatnya saat melihat Roula yang tampak terduduk lesu di sudut ruangan bersama alkohol dan puntung rokok yang berserakan.

__ADS_1


Buuugggh.


Buuugggh.


Prof. Daniel melayangkan kepalan tangannya ke wajah Dua orang laki-laki asing yang mendekati Roula dan seperti hendak menyentuhnya. Mendapat serangan mendadak dari seorang dokter. Mereka kontan lari tunggang langgang.


"Apa yang kau lakukan?! " Prof. Daniel menarik tangan Roula. Ia mengambil sebotol besar air mineral dan meninumkannya ke mulut gadis tersebut.


"Huk huk huk! " Roula terbatuk.


"Kau sudah gila! " Hardik Prof. Daniel.


"Iya. Aku sudah gila! Devan membuatku gila! "


"Ini konyol! Kau benar-benar dibutakan oleh cinta semu yang sama sekali tidak ada artinya!" Prof. Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jangan menyudutkan cinta jika kau belum pernah mengalaminya! " Tukas Roula menunjuk dada bidang Prof. Daniel dengan telunjuk nya.


"Siapa bilang aku belum pernah? Stop bertindak bodoh! Kau hampir saja dilecehkan oleh laki-laki! Kau tidak seharusnya berada di sini! " Prof. Daniel kembali menyodorkan air mineral ke mulut Roula. Ia melepas jas putih dan meletakkan ke atas tubuh Gadis tersebut. Roula tiba-tiba saja menangis.


"Sakit sekali. Di sini terasa sakit, Daniel!" Kini Roula menunjuk ke arah detakan jantungnya. Prof. Daniel hanya bisa menghela nafas.


"Baik kau ataupun Danisa, tidak pantas dinikahi oleh laki-laki pengecut seperti nya! " Lirih Prof. Daniel hampir tidak terdengar. Baju kemeja putihnya basah oleh isakan dan sesegukkan Roula. Ia hendak melepas pelukan gadis tersebut untuk mengusap air matanya. Namun Roula seperti tidak ingin menjauh dari dekapan yang membuatnya merasa terlindungi tersebut.


"Huk Huk... " Prof. Daniel tiba-tiba terbatuk. Diam-diam Ia mengambil sapu tangan dan mengusap mulutnya.


Darah? Sebercak cairan merah kental memenuhi sapu tangannya. Prof. Daniel sudah tidak terkejut. Akhir-akhir ini Ia memang sudah sering muntah darah.


...****************...


Menikahlah dengan Devan. Hanya dia laki-laki terbaik yang bisa melindungi mu! Sejak awal aku telah mewasiatkanmu untuk dinikahi olehnya bukan Raga atau siapapun! Pulihkan nama baik mu! Kau memang berlagak seperti seorang pembuat masalah, tapi kau berharga! Cucuku sangat berharga! Walau kalian dijebak, kalian tetap harus menikah!" Titah Paula pada Danisa melalui pesan singkat.


Aaargh Nenek benar-benar telah dibutakan oleh keluarga mereka! Aku harus mencari bukti agar mata nenek terbuka dan bisa melihat kebenarannya! Gumam Danisa frustasi. Ia benar-benar tidak ingin menjadi bagian dari keluarga Cakrawangsa.


Set


Seseorang mencengkram pergelangan tangan Danisa dengan kuat saat ia akan keluar dari hotel. Ia yang sudah memakai masker dan kacamata untuk sekedar mengelabui orang-orang di luar sana harus menghentikan langkah kakinya.


"Danisa, tunggu! Kita harus bicara! " Ucap orang tersebut. Danisa melototkan matanya saat ternyata Devanlah yang mencegatnya. Pemuda tersebut melirik ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


"Ayo kita bicara! " Ajak Devan lagi. Danisa menggeleng. Namun Devan tak menghiraukan nya. Ia tetap menggiring Danisa ke ruangan kosong.


"Lepaskan tanganku! " Titah Danisa garang. Ia berhasil menghempas tangan Devan.


"Jangan sekali-kali menyentuh ku brengsekkk! " Hardik Danisa masih melototkan mata. Devan mengangkat kedua tangannya ke atas.


"Aku tidak mengingat apapun semalam karena seseorang memberiku obat bius! " Aku Devan.


"Ck...! "


"Aku bersumpah tidak tau apapun mengenai hal ini! " Ucap Devan lagi.


"Baasi!! Kau pikir aku percaya?! "


"Aku hanya tidak ingin membuatmu salah paham dan membiarkan penjebak bertepuk tangan! Aku tau kau tidak akan pernah mempercayai ku atau keluarga ku! Tapi kali ini tolong dengarkan aku! " Pinta Devan. Wajahnya masih terlihat pucat. Ia belum sepenuhnya pulih.


Devan masih sakit? Danisa tiba-tiba merasa iba.


"Masalah ini cukup sampai di sini! Anggap semalam tidak terjadi apapun! " Sahut Danisa. Devan menggelengkan kepalanya.


"Reputasimu hancur! Kau gadis baik-baik! Aku tidak mungkin membiarkanmu menanggung semua beban begitu saja ! "


"Reputasi siapa yang kau pedulikan? Reputasi ku atau reputasi mu, hah?! Kau pikir aku peduli?! Sejak awal orang-orang sudah menganggapku bukan gadis yang baik! Jadi stop berlagak baik! Aku membencimu, membenci semua tentangmu!!"


"Danisa, aku sedang tidak ingin berdebat! Baiklah. Di matamu aku jahat. Aku juga tidak peduli. Aku hanya ingin mengajukan penawaran padamu! Terserah kau menyebutnya sebagai bisnis, kebaikan, keburukan atau apapun! " Ucap Devan. Danisa mengerutkan keningnya.


"1 hal yang harus kita sepakati dan tidak boleh kita nafikan. Kita itu dijebak! Aku sudah bersumpah atas nama Tuhan! Saat ini Aku masih kurang sehat dan sembuh dari koma. Kau bisa melihat rekam medis ku! Kau seorang dokter dan kau bisa menilai nya!" Terang Devan sedikit terengah.


"Kalau aku jahat, aku sudah mengambil keuntungan darimu jauh jauh hari terutama saat kita hampir hidup dan mati di hutan. Tanpa penjebakan bodoh seperti ini! Tapi aku tidak melakukannya!"


" Walaupun aku tidak sebaik laki-laki lain, tapi aku tidak pernah mau menghancurkan kehormatan wanita! Aku tidak pernah bermain perempuan apalagi mempermainkan nya! Sebagai laki-laki aku juga punya prinsip! Terserah kau mau percaya atau tidak!"


"Kalau aku jahat, aku sudah melaporkan pada khalayak tentang kebohongan mu yang pura-pura bisu. Juga kebohongan kalau ternyata kau adalah dokter hebat! Tapi aku tidak melakukannya! " Kali ini Devan berbisik.


"A... Apa yang kau katakan.... "


"Sudahlah Danisa... Aku sudah mengetahui siapa kau sebenarnya! Mari kita menikah... Kita sudah tercebur! Mari basahkan diri sekalian! Katakan dalam konferensi pers kalau sebenarnya kita sudah diam-diam menikah! Ini semua hanya sebagai formalitas untuk memulihkan nama kita! Kau boleh membenciku! Namun bantu aku mengungkap kebenaran nya! Tentang semua hal yang menyangkut dirimu! Beri aku kesempatan untuk membuktikan nya! Bahkan jika itu keluarga ku sendiri... Kedua tanganku yang akan menjebloskan keluarga ku ke penjara! Aku berjanji! Aku bersumpah! Aku akan meletakkan semua kembali ke tempatnya! Setelah itu... terserah apa kau ingin kita berpisah atau kau ingin membunuhku! " Ucap Devan memberikan penawaran panjang. Namun belum sempat Danisa menjawab, Raga tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


"Kauuu sudah tidak warassss!!! Kau apakan calon istriku hah?!!!! Buuuuugghhh!!!" Raga melayangkan tinjunya ke wajah Devan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2