
Di ruangan pada kamar Devan. Danisa dan pemuda tersebut masih terus saja bertengkar. Danisa meluapkan semua emosinya yang tak terkendali. Devan juga tampaknya kehabisan kesabaran. Apalagi ingatan bagaimana Raga memeluk Danisa masih terngiang jelas di benak. Amarahnya tersulut.
"Kau mengatakan aku penjahat dan bajiingan kan?? Kau mengatakan aku pria hidung belang kan?!!" Teriak Devan. Baginya perkataan Danisa sudah benar-benar keterlaluan.
"Baik. Bagaimana jika sekarang aku merealisasikan nya? Aku akan mengabulkan perkataan mu biar kau tau bagaimana makna pria hidung belang yang sesungguhnya!!" Lanjut Devan dengan kemarahan meluap.
Sreeeettt
Sreekkkk
Devan menarik pakaian Danisa dalam sekali gerakan. Seperti amarahnya yang mengubun-ubun. Tenaga yang Devan keluar kan menyebabkan pakaian tersebut robek seketika. Tapi ternyata Danisa masih menggunakan lapisan pakaian yang cukup tebal pada bagian dalam. Namun alangkah terkejutnya Devan saat mengetahui banyaknya senjata yang Danisa sembunyikan di balik pakaian luarnya. Devan ingin menahan tangan Danisa yang akan melakukan gerakan.
Di luar dugaan, tangan Danisa yang bergerak sepersekian detik lebih cepat dari gerakan Devan. Gadis tersebut menarik salah satu pisau dan langsung menancapkan nya ke tubuh Devan.
Tssskkkk
Aaaaaargh
Teriakan Devan menggelegar. Danisa tersadar. Matanya membola sempurna.
"Da... Danisa... Ka... Kau..." Devan langsung tersungkur setelah mengatakan kalimat terakhir nya.
Braaakkk
Ranti yang mendengar teriakan Devan langsung masuk ke kamar. Jantung Ranti nyaris melompat keluar mendapati Devan yang tergeletak bersimbah darah. Pisau tertancap rapi di perutnya. Tak hanya pada tubuh Devan. Percikan darah segar tersebut menyebar bercipratan ke berbagai penjuru. Tak terkecuali wajah Danisa. Tubuh gadis tersebut kini bergetar hebat.
"Pembunuh! Penjahat! Psikopat!!!" Pekik Ranti yang dengan cepat menghampiri Devan.
"Toloooong... Toloooong...."
"Devan putrakuuuu... bangunlaaah naaak... Ayo nak... bangunlaaah... " Ranti tetap menguncang tubuh Devan walau apa yang dilakukan hanya kesia-siaan.
Darah Devan terus saja mengalir.
"Toloooooong.... Tolooooong... Selamat kan putrakuuuu....Toloooooong.... Tolooooong..." Lolongan teriakan Ranti semakin menjadi-jadi.
...****************...
Tuut Tuuut Tuuut
Daniel... Ayo angkatlah telepon nya! Gumam Charles yang sudah dari lima menit lalu mondar mandir di salah satu ruangan rumah sakit. Ia sedang di tunggui client yang membutuhkan jasanya. Namun ia harus menelepon Daniel untuk memberikan kabar terkini yang cukup mengguncang jiwanya.
Tak ada yang mengangkat, Charles kembali melayangkan panggilan untuk ke sekian kalinya.
"Ya Charles.... Kau sangat berisik! Ada apa? "
"Oh Tuhan... Akhirnya kau mengangkat panggilanku! " Suara Charles terdengar tidak seperti biasanya.
"Ya, ada apa? Katakanlah!!"
__ADS_1
"Danisa sekarang di tahan di kepolisian! Danisa melakukan percobaan pembunuhan. Korban adalah suaminya sendiri, Devan. Sekarang cepat kau kesana lebih dulu! Beberapa menit lagi aku akan menyusul! " Titah Charles. Dari seberang, Daniel menutup kedua mata dan memijat pelipis. Kepalanya terasa sakit. Dengan cepat mereka mengakhiri pembicaraan.
Danisa-kuu... Gumam Daniel lemas.
Daniel yang juga masih di rumah sakit dengan cepat mengambil jas dan kunci mobil nya. Buru-buru Ia keluar dari ruangan.
"Daniel.... " Roula yang melihat pemuda tersebut hendak keluar langsung memanggilnya. Langkah kaki Daniel seketika terhenti.
"Daniel... kau kemana saja?" Tanya Roula tanpa basa basi. Daniel menghela nafas.
"Bukan urusanmu... "
"Mengapa kau menghindari ku? Kau mau kemana?! " Todong Roula yang tidak mengerti akan permasalahan yang terjadi.
"Aku punya urusan. Aku harus pergi.. " Daniel akan beranjak. Namun Roula menghadangnya dari arah depan.
"Daniel... Mengapa kau begini? Mengapa kau menjauhiku? " Protes Roula.
"Kita tidak punya hubungan apapun! Kita juga tidak dekat dan tidak seharusnya dekat!" Tukas Daniel menatap manik mata Roula. Gadis tersebut menggeleng.
"Me... Mengapa tiba-tiba begini? A... Apa salahku?" Lirih Roula tak mengerti. Sikap Daniel yang beberapa waktu menghindarinya terang saja membuat Roula merasa kehilangan.
"Kau sudah mengetahui bahwa sejak awal aku tidak terlalu suka melakukan banyak kontak dengan manusia! "
"Ta... Tapi sikapmu waktu lalu... "
"Aku hanya simpati karena kau tengah putus cinta! Aku ini seorang dokter! Tindakan ku hal yang wajar! Kau jangan terlalu percaya diri! Kini aku tidak melihat apapun kecuali kau sudah jauh lebih baik. Jadi hiduplah sebagaimana kehidupan mu dulu! " Tukas Daniel lagi. Kali ini ia benar-benar beranjak pergi. Meninggalkan Roula seorang diri yang terus saja menatap kepergian nya. Tiba-tiba Roula menitikkan air mata.
Di sisi lain, ternyata diam-diam Charles yang juga akan ke kantor polisi mengamati percakapan Daniel dan Roula. Seperti ada perasaan yang sulit diartikan ketika melihat mereka. Charles terpaku. Ia terus menatap Roula yang enggan beranjak dari pintu utama.
...****************...
Krauk Krauk Krauk
Bunyi kunyahan kacang terdengar memenuhi ruangan. Gunawan sibuk mengunyah kacang sementara kedua belah tangan nya memegang koran. Headline News hari ini dihiasi oleh berita yang membuatnya bahagia.
Asisten yang berada di sebelah nya merasa ngilu dengan kunyahan berisi kacang almond panggang di mulut Gunawan. Pasalnya di usia pria paruh baya yang tidak muda lagi sudah tentu giginya tidak akan sekuat itu dalam menghancurkan makanan yang teksturnya bahkan lebih keras dari kacang tanah biasa. Namun seperti nya yang di khawatir kan berbanding terbalik. Nyatanya Gunawan masih mampu melahap habis kacang keras dimulut nya itu.
Devan, salah satu petinggi perusahaan raksasa milik keluarga Cakrawangsa tengah berada di antara hidup dan mati. Pelaku percobaan pembunuhan tak lain dan tak bukan adalah istrinya sendiri.
Di duga, motif percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh sang istri adalah karena sang istri sudah merasa jenuh melayani permintaan biologis sang suami yang diduga terlalu ekstrem dan memaksa dengan kuantitas yang tidak biasa setiap hatinya.
Kini akibat perbuatan nya, sang istri harus mendekam di balik jeruji besi menanti putusan sidang. Seperti nya kasus kali ini tidak akan mudah.
Begitulah kira-kira bunyi penggalan headline news yang berhasil membuat mood Gunawan meningkat pesat berkali lipat sekaligus merasa geli.
"Hahahaaha... Huahahahaha... " Suara tawa renyah Gunawan tiba-tiba terdengar menggelegar. Ia menutup koran dengan wajah sumringah.
"Aku sangat puas! Aku sangat puas! Hahahahahaaaaa"
__ADS_1
"Satu persatu bertumbangan... Pelan tapi pasti mereka semua masuk ke dalam lingkaran permainan ku... Mereka semua akan binasa dengan cara menyakitkan... ya... dengan cara menyakitkan... Ha... Hahahahaha"
"Hmh... Apa ini alasan mengapa tuan tidak ingin membunuh mereka secara langsung? "
"Oh... Tentu saja! Aku sama sekali tidak perlu mengotori kedua tanganku! Kau lihat kecerdasan ku, kan? Ah, dari dulu aku memang cerdas! Sebenarnya kecerdasan ku memang melebihi Cakrawangsa atau siapapun di muka bumi ini! Hahahahaha... Aku ini bukan pemeran... Aku adalah seorang sutradara handal yang merangkap sebagai penulis skenario... Sekarang kau paham bagaimana pergerakanku kan? Hahahahaha " Sahut Gunawan sambil mengambil cerutu yang ada didekatnya. Ia menyalakannya hingga asap mengepul ngepul di udara.
Asisten Gunawan mengangguk-angguk. Sebuah anggukan yang mengisyaratkan bahwa ia sangat mengakui kehebatan Gunawan. Paripurna.
"Saya tidak salah mengabdi pada tuan! " Ucap sang asisten. Tulus.
"Tentu saja! Mengabdi padaku adalah hal prestisius yang ada dalam hidupmu! Kelak Kau akan bahagia menjalani sisa hari-harimu! Hahahaha" Lanjut Gunawan yang terdengar seperti angin surga.
"Aku akan mencuci pikiran mereka. Mengacaukan nya dengan racun-racun mematikan. Mereka tidak akan tau bahwa sebenarnya mereka hanyalah boneka-boneka bernyawa yang alam bawah sadarnya sudah dikendalikan! Mereka akan menderita, saling membunuh, saling menyakiti satu sama lain! Begitulah sistem akan bekerja! " Ucap Gunawan penuh penekanan.
"Tapi.... Bagaimana dengan Mr. X? "
"Mr. X? " Gunawan menaikkan sebelah alisnya ke atas. Asisten menunggu jawaban lanjutan.
"Akan ada kabar mengejutkan untuk Mr. X! Dia tidak akan pernah menyangka... Lihatlah! Kabar menggemparkan itu akan sampai pada Mr. X dalam beberapa hari ini! " Tutup Gunawan dengan tersenyum licik. Mendengarnya, roma sang asisten berdiri. Ia merinding.
...****************...
Rumah Sakit Ramayana, Ruang VVIP
"Devan... Mengapa jadi begini nak? " Ranti terus meratap. Ia menggenggam tangan Devan yang tak bergerak. Wajah tampan pemuda tersebut terlihat sangat pucat. Seperti tidak ada aliran darah di sana.
"Mengapa begini... Mengapa kau harus menikahi wanita itu jika ternyata kau berakhir mengenaskan begini... Hiks hiks... Hiks Hiks... " Air mata Ranti tak berhenti mengalir. Wanita cantik tersebut sesegukkan sambil menyesali keputusan nya menerima Danisa sebagai menantu. Andai ia bisa sedikit lebih tegas dan bersikeras, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Devan tidak akan menderita dan dianiaya.
Ceklek
Dokter kepala dan Perawat masuk dengan hasil uji laboratorium sementara.
"Ranti, Devan harus segera di operasi! Jika tidak, akan berakibat fatal" Ucap Rudi, kepala rumah sakit. Ranti tercenung.
"Tidak ada waktu lagi, cepat pindahkan Mr. Devan ke ruang operasi! " Lanjut Rudi bertitah pada para perawat.
"Berapa persen kemungkinan berhasil? " Tanya Ranti dengan jantung terus berdegup. Ia nyaris tak mampu menapak. Kali ini Rudi yang tercenung.
"Rud, aku butuh jawaban! "
"40 persen kemungkinan berhasil... " Sahut Rudi dengan berat hati. Ranti terhuyung. Ia dengan cepat memegang besi ranjang.
"Dokter hebat... ya... Dokter hebat... " Lirih Ranti diambang ketidakjernihan nya dalam berfikir. Bayang-bayang dokter hebat yang nyaris tidak pernah gagal melakukan tindakan operasi hadir di benak.
"Rud ,,, tolong hadirkan dokter hebat untuk menangani Devan!! Aku akan membayarnya dengan apapun bahkan nyawaku! " Pinta Ranti memohon.
...****************...
Makasih kakak2 yang udah tetap setia membaca... maaf slow respon dan slow update bgt ya... 2023 ini kehidupan real life banyak menyita waktu... hiksss... 🥺
__ADS_1
Terima kasih juga udah selalu support~ Jazakumullah Khairal Jaza 💞💞💞💞
...****************...