Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 68: No Time To Die~


__ADS_3

Doooorrrr


Sebuah tembakan kembali terdengar.


Tempat ini telah di kepung! Jangan ada yang melarikan diri!


Suara polisi memberikan peringatan menggunakan alat pengeras suara memenuhi lokasi gedung tua. Mr. X terkejut bukan kepalang karena ternyata pergerakannya telah terendus pihak kepolisian. Bukankah Gun telah dimusnahkan? Lalu siapa yang berkhianat?


"Sayang... Selamatkan aku... Selamatkan aku! " Pekik Mira mengguncang-guncang tubuh Mr. X panik. Para pengawal yang tersisa berduyun-duyun terjun bebas ke danau luas.


Tap Tap Tap.


Polisi telah memarkirkan mobil dan menapak di tanah kering. Mr. X terdiam. Ia melihat ke bawah danau, air hijau kebiruan yang tampak dalam. Airnya susah pasti dingin.


Aku tidak boleh mati konyol. Gumam Mr. X menggeleng. Ia mengingat kondisi kesehatan nya yang tidak stabil, kalau terjun ke bawah sudah pasti ia akan tewas.


"Mr. X, selamatkan aku... kumohon selamatkan akuu" pinta Mira semakin menjadi-jadi. Ia kembali mengguncang tubuh Mr. X dengan gemetaran.


"Berisikkk!!!! "


Braaaakkk


"Aaaaaaaaaaa" Mira berteriak nyaring. Wanita tersebut di dorong ke danau.


Buuuuuugg


Byuuuurrrrr


Blup Blup Blup


Sebelum jatuh ke air kepala Mira lebih dulu membentur tembok tebing.


"Danisa dimana?!" Tanya Raga pada Mr. Charles yang terengah.


"Hah Hah Hah... Danisa tidak ada dimana-mana! Sejak tadi aku sudah berlarian mengitari wilayah ini"


"Bagaimana mungkin?? " Raga mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Tenang, di sini sudah ada polisi! Danisa akan baik-baik saja" Ucap Mr. Charles menenangkan walaupun pada kenyataannya ia sangatlah cemas. Apalagi Mr. Charles sangat trauma dengan kejadian penembakan kedua mata Gun oleh Mr. X yang baru saja terjadi di depan mata kepalanya sendiri.


Raga tidak tinggal diam, ia berlari menggeledah gedung tua.


"Turunkan senjatamu!!" Titah polisi pada Mr. X dari kejauhan. Ia terpaksa mengikuti instruksi polisi.


Siaal!!


Orang-orang berseragam rapi itu berjalan mendekat ke arah Mr. X sambil menodongkan senjata. Pria paruh baya tersebut jadi tidak berkutik.


Sreeggg


Mereka mencengkram lengan dan pundak Mr. X untuk di arak ke bawah lalu mengambil senjata yang ada di tangannya.


Kepala penculikan telah tertangkap! Waspadai jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan!

__ADS_1


Tangkap semua anak buah yang tersisa!!


Siap Laksanakan!!!


"Lapor pak, gadis bernama Danisa tidak ditemukan di mana pun! "


"Apa?! Bagaimana bisa?!" Polisi senior mengerutkan keningnya. Ia berjalan ke arah Mr. X yang diikuti oleh Raga dan Mr. Charles.


"Dimana gadis yang bernama Danisa?! "


"Aku tidak tau, gadis tersebut kabur melarikan diri! " Sahut Mr. X.


"Bohong!! " Hardik Raga keras. Ia maju mencengkram kuat kerah baju Mr. X.


"Raga... Raga... Kendalikan dirimu! " Mr. Charles mencoba melerainya.


"Braakk! " Polisi senior memukulkan senjata ke pundak Mr. X.


"Aku bilang sudah kabur ya sudah kabur!! " Lanjut Mr. X kesal sambil meringis.


"Pak, kalian harus menemukan keberadaan calon penggantinku!! " Mata Raga berkaca-kaca.


"Sabar Mr. Raga... Kami akan mengerahkan pasukan dan melakukan yang terbaik! " Sahut polisi senior.


Mr. Charles membawa Raga menepi. Sebuah panggilan telepon dari Prof. Daniel membuat mereka saling menatap.


"Charles, bagaimana Danisa? Aku kehilangan jejaknya!! Alat sadap yang aku tempelkan di gelang batunya tiba-tiba tidak berfungsi! " Ucap Prof. Daniel dengan panik dari seberang. Chip yang ia letakkan untuk memantau pergerakan Danisa tiba-tiba tidak memiliki sinyal.


Kejadian besar mengerikan yang menimpa gadis tersebut bersama Devan tempo lalu, membuat Prof. Daniel bertindak cepat dengan memasangkan sejenis alat pelacak agar ia bisa mengetahui dimana pun keberadaan Danisa. Alat tersebut pula-lah yang membuat Mr. Charles dan Raga bisa mengetahui di mana lokasi keberadaan gadis tersebut, tentu saja atas arahan dari Prof. Daniel. Namun alat tersebut sudah hampir sejam lalu menjadi tidak berfungsi. Mereka tidak tau kalau ternyata Danisa memilih menceburkan diri ke dalam danau.


"Apa?? Tunggu... Aku sedang menuju ke sana!! " Prof. Daniel menutup pembicaraan sepihak.


"Hari mulai gelap! Untuk sementara, kita bawa dia ke kantor polisi! Besok kita akan mulai pencarian orang yang hilang! "


"Siappp pak!! " Sahut para aparat dengan sigap membawa Mr. X bersamanya.


Ciiiiittttt


Sebuah mobil menge-rem tepat di hadapan mereka.


Dooorrr


Dooorrr


Dengan gerakan secepat kilat Mr. X menembakkan senjata api kecil dari kantong rahasia ke ke betis dua aparat kepolisian.


No time to die. Gumam Mr. X tersenyum culas. Bagai James Bond 007 ia melesat seperti angin masuk ke dalam mobil tersebut.


"Penculik kabur!!! Cepat kejar!!! " Titah polisi senior dari kejauhan. Mereka tidak menyangka akan kecolongan oleh kelicikan Mr. X.


Doooorrrr


Doooorrrr

__ADS_1


Praaankkk


Suara tembakan kembali terdengar. Kaca mobil pecah berhamburan di jalan. Para aparat menembakkan senjatanya ke mobil yang Mr. X tumpangi. Namun sayang, mobil tersebut tidak menyerah untuk terus melaju. Sebagian aparat kepolisian mengerahkan pasukan untuk mengejar mereka. Sebagian lainnya tetap di tempat menyelamatkan dua aparat yang terkena tembakan.


Tit Tit Tit


Polisi senior mengambil handphone menghubungi seseorang dengan wajah muram. Kaburnya penjahat di depan mata kepalanya merupakan kesalahan fatal dalam dunia kepolisian.


"Tutup semua area perbatasan! "


"Pelaku penculikan berhasil kabur! Jangan biarkan orang dengan wajah seperti itu kabur ke kota lain!!" Titah polisi senior yang langsung mengkoordinir pasukan perbatasan dengan mengirim wajah Mr. X.


Dengan segera penjahat tersebut berganti status menjadi THE MOST WANTED! Ah, setidaknya kepolisian telah mengetahui rupa dari Mr. X yang selama belasan tahun menjadi buronan.


***


Tit Tit Tit


Gelombang monitor masih berjalan sebagaimana mestinya. Namun Devan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan siuman.


"Kau tau... Aku selalu baik-baik saja tak peduli apa... Tak peduli seberapa banyak kau menolakku... Aku akan selalu baik-baik saja! Tetap baik-baik saja... Tapi jika kau tak berdaya begini... Bagaimana bisa aku baik-baik saja? Aku hancur, Dev... Maka ku mohon bangunlah... Hiks hiks" Roula sesegukan.


"Dev, baiklah... Aku berjanji tidak akan pernah menuntutmu tentang apapun lagi... Aku berjanji akan menjauhimu dan berjanji akan mendukungmu bersama Danisa atau siapapun itu... Asal kau mau bangun dan sehat seperti sedia kala... Itu sudah lebih cukup untukku. Inilah bentuk keikhlasan tertinggiku dalam cinta"


"Dev, kumohon bangunlah! " Pinta Roula lagi namun Devan tetap bergeming sampai kakek Cakrawangsa masuk ke dalam ruangan. Roula dengan cepat mengusap airmata nya.


"Bagaimana kondisi nak Devan? Apa sudah menunjukkan perkembangan? " Tanya Kakek Cakrawangsa dengan suara pelan. Roula mengusap hidung merahnya lalu menggeleng. Mata kakek Cakrawangsa berkaca-kaca.


"Mengapa jadi begini, Dev? Maafkan kakek... Maafkan kakek... " Tak kuasa, air mata Cakrawangsa mengalir.


"Devan sangat terpukul kek, keadaan memperburuk kondisinya" Lirih Roula.


"Dia anak yang baik. Dia anak berbakti dan penyayang. Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan masa lalu" Lirih Cakrawangsa hampir tak terdengar. Roula seperti mengerti kemana arah dan tujuan dari pembicaraan kakek.


"Devan akan baik-baik saja, kek... Roula percaya itu.... " Ucap Roula. Hatinya ikut terenyuh melihat kerapuhan kakek. Namun ia tidak bisa melakukan apapun. Hatinya sendiri sejak awal sudah hancur tak terbentuk. Namun ia memilih untuk diam dan mundur demi kebaikan semua pihak.


"Apa ada kabar dari nak Danisa? "


"Belum kek, semoga Danisa baik-baik saja" Cakrawangsa mengangguk.


"Nak, sebentar tunggui Devan di sini... Kakek akan segera kembali" Roula mengangguk. Ia kembali duduk di sisi Devan.


Ceklek


Kakek Cakrawangsa membuka sebuah ruangan gelap yang terasing. Perlahan beliau menghidupkan lampu. Sinar redup yang tidak terlalu terang seketika memenuhi ruangan yang acak-acakan. Sisa makanan berserakan juga sarang Laba-laba melekat kuat di tiap sisi tembok.


Tap Tap Tap


Sol sepatu pantofel Cakrawangsa terdengar.


"Ggrrrr .... Mau sampai kapan kau akan mengurung dan memasungku dalam ruangan nista ini? " Suara serak tak berdaya terdengar. Seorang nenek tua yang tampilannya terlihat lebih tua dari usianya mengerang.


"Chloe... Devan terbaring di rumah sakit karena ulahmu! Ranti juga tengah berjuang melawan sakitnya seorang diri! " Ucap Cakrawangsa memberikan laporan.

__ADS_1


"Kau pikir aku peduli??!! Cakrawangsa, Kau manusia paling menjijikkan!!! Lepaskan akuuu!!! Lepaskan!!!! " Teriakan Chloe, istri Cakrawangsa memenuhi ruangan.


__ADS_2