
Kemana perginya Danisa? Mengapa ia pergi begitu saja? Mengapa ia menyembunyikan identitasnya dari semua orang hingga rela menahan diri ketika dipandang rendah dan hina! Ia juga berpura-pura bisu. Apa yang sebenarnya tengah ia rencanakan?
Lalu, Apa hubungannya dengan Daniel? Mengapa mereka begitu akrab? Apa Danisa terlibat sebuah kasus rumit dan hanya Daniel yang bisa menolongnya? Aku seperti tidak yakin hubungan mereka hanya sebatas hubungan professional. Apalagi tentang rencana pertunangan nya dan Mila! Ah iya, Mila? Ch! Aku tidak semudah itu dikelabui! Berbagai pertanyaan berkelabat di benak Devan. Kepalanya serasa mau pecah. Terlalu banyak teka teki yang belum bisa ia pecahkan. Hanya satu orang yang bisa memberikannya jawaban yaitu Danisa. Namun gadis tersebut juga begitu misterius dan sangat tertutup. Kini Danisa malah menghilang.
Hhhhh. Devan membuang kasar nafasnya ke udara. Ia merasa seperti dikalahkan oleh takdir.
“Devan, tunggu! Dev!” Panggil Roula menghentikan pergerakan Devan yang sudah menjauh dari ruangan rawat inap.
“Kau mau kemana?”
“Mencari Danisa! Kemana lagi?” Ketus Devan.
“Apa yang ada dalam pikiranmu, Dev?!”
“Tidak ada hubungannya denganmu! Dia tunanganku!”
“Kalian sudah putus! Kau orang-ku! Kau milikku!” Tukas Roula dengan maju memeluk Devan. Airmatanya mengalir.
“Roula, lepaskan aku!”
“Kau sudah berjanji pada mendiang nenek untuk menikahiku!” Roula bersikeras. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Devan terenyak. Air mata gadis tersebut mengalir semakin deras. Kemeja Devan basah.
“Aku masih sangat muda ketika itu! Usiaku masih 9 tahun!” Sahut Devan dingin.
“Tetap saja kau sudah berjanji! Hiks hiks!” Devan hendak menghempaskan tangan Roula. Namun di saat bersamaan, matanya menangkap keberadaan Danisa yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Entah sejak kapan Danisa berada di sana.
"Danisa, tunggu! " Panggil Devan. Tidak menunggu lebih lama, pemuda tersebut langsung mengejar Danisa yang telah mengambil langkah meninggalkan mereka. Roula tersentak.
"Ikut aku!" Titah Devan menarik lengan Danisa ketika ia berhasil menggapai gadis tersebut. Danisa meronta. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Devan hingga berhasil melepaskannya.
"Danisa, kita harus bicara! Jangan seperti anak kecil!" Hardik Devan dengan suara tinggi.
"Ya, aku memang anak kecil! Dan kau..... Kau orang dewasa yang mesu*m!" Balas Danisa berkacak pinggang.
"Ha?! A... Aku? Mesu*m?! Apa maksudmu?! " Devan mengeryitkan keningnya.
"Lebih baik kau urus gadis yang berdrama dipelukanmu tadi daripada mengajakku bicara! " Sahut Danisa ketus.
"Hey hey, apa kau sedang cemburu? " Devan menaikkan sebelah alisnya ke atas. Sudut bibirnya ikut terangkat.
"Mana mungkin! Aku tidak cemburu!" Sambar Danisa. Gadis tersebut mendengus. Ia mensedekapkan tangannya.
"Kalau cemburu, katakan saja cemburu! By the way, itu tadi Dia yang memeluk dan aku tidak membalas pelukannya!"
__ADS_1
"Sudah ku katakan aku tidak cemburu!! " Danisa bersikeras.
Drrrrtttt Drrrtttt
"Sebentar!" Devan mencengkram pergelangan tangan Danisa agar tidak kabur. Handphone miliknya berdering.
"Mr.Dev, kabar gembira! Besok dokter hebat Dan Ara kembali bersedia melakukan pemeriksaan.. Kalau memungkinkan, beliau akan kembali melakukan prosedur bedah! Kali ini pada keluarga pengusaha muda ternama.. yaitu Mr. Xavier! Saham kita pasti akan naik berkali lipat!" Devan sontak melirik Danisa.
"Aku tidak peduli pada saham yang akan melejit! Terserah dokter Dan Ara saja. Jika beliau bersedia, lanjutkan! Kalau beliau tidak bersedia, it's okay! Tidak apa-apa! Aku tidak akan memaksanya! " Ucap Devan dengan terus menatap Danisa, ia melayangkan senyumnya. Di seberang, Asisten pemberi laporan mengerutkan kening. Pemuda tersebut merasa heran dengan sikap Devan yang berbeda dalam menanggapi berita tentang dokter hebat Dan Ara. Biasanya Devan selalu antusias.
Gawat! Devan benar-benar sudah mencurigai ku!Gumam Danisa sedikit cemas.
"Bagaimana pundakmu? Apa benar-benar sudah di obati, hm? " Danisa mengangguk.
"Maafkan ketidaksopananku!" Devan langsung menarik tangan Danisa keluar dari area rumah sakit mengikuti nya. Mereka memasuki sebuah cafe yang tidak jauh dari sana.
"Hmh..." Devan berdehem memecah kecanggungan.
"Terima kasih ya...! " Lanjut Devan tulus setelah pesanan makanan mereka tiba.
"Terima kasih untuk apa? " Danisa mengerutkan keningnya. Ia menyendok ice cream vanila yang ada di hadapan lalu melahapnya dengan santai.
"Terima kasih untuk semua kebaikanmu terutama untuk keluarga ku!"
"Aku tidak melakukan apapun!" Sahut Danisa acuh.
"Tidak masalah! Aku akan menunggumu untuk bicara! Aku akan menunggumu mengatakan yang sebenarnya. Walau aku akan mati karena rasa penasaran, aku tetap akan melakukannya! " Danisa terenyak. Sendok Ice cream yang hampir mendarat di mulutnya ia letakkan kembali ke wadah.
"Danisa, tidak tau entah serumit apa kehidupan yang tengah kau jalani saat ini, aku hanya berharap bisa menjadi bagian yang kau perhitungkan untuk kau bagi kisahmu!" Devan menatap Danisa lekat-lekat. Tuk sejenak, tenggorokan gadis tersebut terasa tercekat.
"Dev,, maaf aku harus mengatakan ini... Kisah kita sudah tamat! Kisah kita sudah berakhir walau tidak pernah ada permulaan! Pertunangan kita sudah dibatalkan! Aku tidak tau apa yang ada dipikiranmu saat ini! Aku tidak tau dari sudut pandang mana kau memandang! Tapi yang jelas aku tidak seperti yang kau pikirkan! " Sahut Danisa.
Sreeeeggg
Wanita tersebut mendorong kursinya ke belakang dan bangkit.
"Dalam kisah ini, kita tidak ditakdirkan untuk bersama! Sebagaimana ibumu telah memutuskan ikatan yang terjalin di antara kita, kini kau bebas menjalin hubungan dengan wanita mana pun! Termasuk Roula, wanita yang telah kau janjikan untuk kau nikahi! Maaf, aku permisi!" Danisa melepaskan cincin yang bertengger di jari manisnya.
"Tunggu!" Devan mencegat tangan Danisa.
"Apa ini karena Daniel? Atau... karena Raga?!" Sejenak Danisa mematung. Ia sedikit terkejut.
"Itu semua tidak ada hubungannya denganmu!" Sahut Danisa, lalu dengan cepat ia melesat pergi. Meninggalkan Devan yang mematung seorang diri.
__ADS_1
Hhhhh. Danisa membuang kasar nafas nya ke udara. Ia mencoba menetralisir gelombang perasaan yang tengah ia rasakan. Danisa meraba detak jantungnya yang berdegup kencang.
Ada apa denganku?
Sepeninggal Danisa, Devan mengambil gawainya lalu pemuda tersebut mulai melakukan panggilan.
"Segera ambil tiket penerbangan terdekat! Lusa aku akan mengunjungi keluarga Danisa!" Titah Devan pada asisten kepercayaan nya.
"Baik, Tuan! Kota mana yang akan Tuan tuju?"
***
"Ini bukannya Devan?! " Kening Mr. X mengerut saat beberapa foto di letakkan ke hadapannya.
"Lihat video ini, Tuan!" Seorang asisten menghubungkan handphone nya ke alat proyektor. Tampak Devan tengah berbincang dengan seorang wanita namun tidak terlalu jelas siapa wanita yang menjadi lawan bicara Devan.
"Apa maksud dari ini semua?! Huk Huk Huk" Todong Mr. X terbatuk.
"Tuan pasti tidak akan percaya dengan apa yang saya temukan! " Asisten tersenyum misterius.
"Cepat katakan! Jangan terlalu banyak berbasa-basi! " Mr. X mengeraskan suaranya.
"Wanita yang menjadi lawan bicara Devan adalah Danisa! "
"Danisa? Lalu apa istimewa nya? Mereka memang bertunangan! " Sahut Mr. X jengah.
"Coba tuan perhatian wanita yang ada di dalam video dengan saksama! Wanita yang menjadi lawan bicara Devan tersebut sama sekali tidak memegang handphone! Bukankah Dia bisu? Harusnya mereka berbincang dengan media handphone kan?" Ucap Asisten menaikkan sebelah alisnya ke atas. Mr. X tersentak. Ia kembali meneliti video yang sedang diputar. Pria paruh baya tersebut mengamati dengan saksama walau durasi nya tidak pendek.
"Tuan pasti tau apa maknanya! Saya menduga kalau gadis itu..... "
"Tidak bisu? Apa ia memang ia tidak bisu?" Lirih Mr. X. Sebuah fakta baru seperti terkuak. Asisten mengangguk-angguk.
"Secara logika, mulut pemuda tersebut berkomat-kamit tanpa henti. Itu artinya mereka tengah melakukan komunikasi dua arah! " Mr. X mengusap usap dagunya yang tidak berambut.
"Kita harus segera memastikannya! " Ucap Mr. X tampak tertarik.
"Apa yang akan tuan rencanakan?"
***
Jangan Lupa Like, Komen, Vote dan juga hadiah nya biar author semakin semangat... Makasih 💙💙💙
***
__ADS_1