Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 63: Langit Senja Yang Memerah


__ADS_3

Devan menerima gelas sampanye ke sekian dari asisten pribadinya. Sudah seminggu ini ia menepi ke bar hanya untuk minum-minum. Penampilannya terlihat lusuh dengan rambut yang acak-acakan. Massa tubuhnya menyusut dalam waktu singkat.


Sebenarnya, Devan bukanlah seorang peminum handal. Namun pengakuan Cakrawangsa tentang catatan kelam keluarganya membuat Devan begitu terpuruk. Hatinya begitu sakit. Kini, ia tidak lagi bisa mempercayai siapapun. Devan terjaga dalam halusinasi efek minuman yang ia konsumsi.


Tap Tap Tap


“Tarik dan bawa dia keluar!” Titah Cakrawangsa sendu di ujung pintu masuk. Setelah berhari-hari mencari, akhirnya ia berhasil menemukan cucu kesayangannya. Para asisten dengan cepat mematuhi apa yang atasannya tersebut titahkan. Devan meronta-ronta dan meracau hebat hingga akhirnya tak sadarkan diri ketika ia ditarik paksa.


“Rudi, bagaimana kondisinya?” Tanya Cakrawangsa cemas setelah mereka sampai di rumah sakit Ramayana. Sejenak Prof. Rudi menghela nafas.


“Ia merusak dirinya sendiri! Devan harus ditangani secara intensif!” Lirih Rudi. Cakrawangsa terdiam.


Puk. Puk. Puk.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja!" Rudi menepuk-nepuk pundak Cakrawangsa.


"Ku mohon... Jangan katakan apapun pada Ranti. Aku khawatir dia terkejut hingga membuat kondisinya kembali drop! " Pinta Cakrawangsa. Rudi mengangguk dan berlalu pergi. Cakrawangsa membuka kacamata dan mengusap pelan kacanya yang mengembun.


***


"Warna keemasan dari sinar matahari yang akan terbenam indah sekali! " Gumam Danisa pelan menatap kagum dari atas tebing tinggi. Ia sudah menata hatinya dengan lebih baik. Danisa merasa sudah lebih bisa berdamai.


"Seindah bola matamu! " Sahut Raga yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. Danisa tersenyum. Akhir-akhir ini, Raga memang kerap kali memujinya.


"Lusa adalah hari pernikahan kita. Apa kau sudah siap, hm? " Tanya Raga seduktif. Danisa mengangguk.


"Aku mencintaimu... Aku sangat mencintaimu! Aku tidak akan pernah melepaskanmu... Kau milikku... Dan akan selamanya begitu! Aku akan menjadi laki-laki paling bahagia di muka bumi ini... Setelahnya, aku tidak menginginkan apapun lagi!" Ucap Raga bersungguh-sungguh. Matanya berair.


"Kakak sudah mengatakan nya lebih dari seratus kali! Sebelumnya Aku tidak tahu bahwa ternyata kakak adalah seorang penggombal ulung!" Sahut Danisa terkekeh.


"Hahahaha... Hanya padamu saja aku bisa begini! Untuk ke depan, Aku akan lebih sering lagi mengatakannya. Semoga kau tidak merasa bosan! " Raga terbahak. Ia sedikit mengusap sisa-sisa air di ujung matanya.


"Kebaikan yang kakak berikan, Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku berjanji akan belajar menjadi istri yang baik! " Sahut Danisa menatap Raga. Lalu ia mengarahkan pandangannya jauh ke atas sana, pada langit senja yang memerah.


"Satu hal yang perlu kamu ketahui, aku menikahimu bukan semata-mata karena aku ingin melindungi mu! Tapi karena aku benar-benar merasakan perasaan seorang laki-laki terhadap seorang wanita. Sudah sejak lama. Kau adalah cinta pertama ku! " Aku Raga. Danisa terenyak.


"Jadi... otomatis aku akan melindungi mu. Aku akan memastikan kau aman bersamaku! Aku tidak akan segan-segan mengorbankan apapun. Termasuk nyawaku! Aku berjanji!" Lanjut Raga menggenggam tangan Danisa erat. Perasaan cintanya yang begitu kuat menjadikan ia begitu emosional. Semilir angin yang berhembus menambahkan kesyahduan. Danisa bisa merasakan ketulusan cinta Raga.


"Maaf, aku terlalu banyak mengumbar janji. Bantu aku merealisasikan nya! "


"Hahahaha" Danisa tertawa menunjukkan deretan gigi rapinya. Sudah sejak lama, Raga kembali melihat tawa itu lagi. Tawa renyah yang selalu ia rindukan.


Ciiiiitttt


Pandangan Raga dan Danisa teralih karena decitan suara rem mobil yang bergesekan dengan aspal. Seseorang yang sudah mereka kenal dengan baik datang mendekat.


"Prof, Aku titip Danisa... Mohon antarkan calon istriku pulang! Aku sangat berterimakasih!" Ucap Raga.


"Jangan sungkan, aku pasti akan menjaganya dengan baik! " Sahut Prof. Daniel.

__ADS_1


Raga tersenyum lega. Tampak Roula yang tiba-tiba muncul dari dalam mobil. Danisa mengerutkan keningnya.


"Sampai bertemu di hari pernikahan! Aku juga akan pulang setelah urusanku selesai. Sebaiknya kau jangan pergi kemana-mana lagi... Beristirahatlah! Jaga dirimu dengan baik! " Pinta Raga pada Danisa. Gadis tersebut mengangguk.


"Kak, hati-hati! " Raga tersenyum.


"Roula, kau juga harus menjaga dirimu baik-baik! " Raga memeluk Roula dan masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan lokasi. Roula menatap kepergian kakaknya dengan bibir yang basah karena doa.


"Aku lega kau dan Raga akan menikah. Kalian memiliki chemistry yang baik. Kau dan Raga benar-benar pasangan serasi!" Ucap Prof. Daniel. Danisa hanya diam. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Apa yang kau lakukan? " Tanya Prof. Daniel mengerutkan kening saat melihat Danisa menyalakan api melalui mancis. Sebuah pocket berukuran sedang terbakar beserta isinya. Prof. Daniel dengan cepat mengambil benda tersebut dan mematikan apinya. Ia sangat terkejut melihat benda-benda yang ada di dalam sana. Foto-foto Devan beserta keterangan waktu pengambilan tertera di sana. Ternyata selama ini diam-diam Danisa mengambil gambar Devan dan menyimpan nya.


"I... Ini... "


"Aku tidak bisa lagi menyimpan nya lebih lama" Lirih Danisa. Ia mengambil benda-benda tersebut dan kembali membakarnya.


"Kau menyukai Devan dari pertemuan per...tama? " Tanya Prof. Daniel. Danisa melirik Roula.


"Tidak. Aku tidak pernah menyukai nya!" Sahut Danisa. Tatapannya beralih pada benda-benda yang ia bakar.


Bersamaan dengan ini, aku akan menganggap semuanya telah usai. Aku melepas dan merelakan nya. Aku akan memulai hidup baru dan fokus pada rumah tangga dan penyelesaian masalahku. Gumam hati Danisa dengan masih memandang sendu. Sesekali ia menatap Roula yang juga hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Angin menerbangkan sisa-sisa abu yang hilang ditelan alam. Danisa memantapkan niatnya. Meninggalkan semua kenangan di atas tebing yang menjulang bersamaan dengan langit memerah yang berubah gelap.


***


Hari ini adalah hari pernikahan mereka. Pernikahan berbau misi besar yang dicetuskan oleh Mr. Charles namun dianggap sebagai pernikahan serius oleh kedua mempelai dan keluarga. Kurang dari satu jam lagi mereka akan mengucapkan janji suci.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Charles pada Daniel yang terus menatap Danisa.


"Aku?"


"Kuharap kau tak kecewa dan bisa menjalankan hari dengan baik! " Harap Charles perhatian.


"Hey... Aku? Kecewa? Why? " Prof. Daniel mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Pernikahan mereka... Kau baik-baik saja kan? "


"Hahaha... Apa maksudmu? Tentu aku bahagia dan inilah yang aku harapkan! " Tukas Daniel.


"Baguslah... Tempo lalu kau menolak menikahinya dan menyerahkan Danisa pada laki-laki itu. Sekarang kau terus saja memperhatikan nya seolah kau tidak rela ia dinikahi laki-laki lain! "


"Charles, Kau terlalu mengada-ada!"


Mana mungkin aku menikahi adikku sendiri! Gumam Daniel diam-diam mengusap air matanya. Gadis kecil satu-satunya yang ia sayangi sekarang sudah dewasa dan akan menjadi milik orang lain.


Ayah... Ibu... Lihatlah... Danisa akan dinikahi oleh pria terbaik! Aku yakin ia akan bahagia. Air mata Prof. Daniel jatuh berhamburan tak tertahan. Ia memilih menepi sebelum orang-orang memergoki nya menangis.


"Mari kita lanjutkan acara utama yang paling sakral! " Ucap penanggungjawab acara. Suaranya menggema memenuhi ruangan. Semua tersentak. Termasuk Prof. Daniel dan Mr. Charles. Jantung Raga berdegup kencang. Rona kebahagiaan terukir jelas diwajahnya. Ia tidak bisa untuk berhenti tersenyum. Berbeda dengan Danisa yang memasang wajah datar. Gadis tersebut terlihat sangat tenang walau hatinya bergemuruh. Rasa tidak aman masih saja menghantuinya.

__ADS_1


Raga perlahan maju. Ia memandangi Danisa dengan penuh suka cita. Rasanya Raga sudah tidak sabar untuk mengucapkan sumpah setia.


Tap Tap Tap.


Tap Tap Tap.


Belum sempat Raga mengucapkan janji suci, dari arah berlawanan suara riuh sepatu terdengar. seseorang menapak dengan kuat datang mmenghampiri ke arah mereka. Orang tersebut berjalan tergopoh-gopoh. Pergerakannya mengalihkan perhatian semua orang yang hadir.


Prof. Rudi? Gumam Danisa. Keningnya mengerut. Ia beralih menatap Raga yang juga terlihat kebingungan.


"Maaf.... aku mengganggu acara kalian... Tapi ini benar-benar mendesak! " Ucap Prof. Rudi dengan wajah pucat.


"Ada apa Prof? " Tanya Raga. Para tamu yang hadir saling berbisik.


"Ijinkan aku berbicara empat mata dengan Danisa! Sebentar saja..."


"Prof, mungkin kau memang punya permasalahan pribadi atau apapun itu... aku tidak tau! Tapi tidak elok rasanya jika kau mengatakannya di saat seperti ini! Pada moment ini! " Ucap Raga emosional.


"Nak, maafkan aku... tapi aku bersumpah bahwa ini benar-benar mendesak! Aku harus berbicara dengan Danisa! Ku mohooon" Pinta Rudi tak menyerah. Raga menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Danisa... Ku mohooon" Lanjut Prof. Rudi. Orang yang berada di sana saling berbisik-bisik.


*Wanita itu memang pembawa sial! Lihat saja, bagaiman**a pernikahannya akan kembali gagal*!


Benar! Tuhan menghukumnya karena ia pembuat onar!


Sedari awal, aku sudah tidak percaya bahwa pemuda terhormat itu mau menikahinya! Sebelumnya ada tuan muda Devan dari keluarga Cakrawangsa yang terkelabui!


Huh! Dia memang lihai!!


Sudah-sudah! Tidak baik membicarakan mereka! Kenapa harus hadir di sini jika kalian semua membenci nya!


Hey! Aku hanya ingin melihat kekacauan apalagi yang akan ia timbulkan! Sekarang terbukti kan? Hahaha... Memang pertunjukkan yang menarik!


Suara sumbang terdengar memenuhi ruangan. Danisa dapat mendengar bisikan-bisikan yang dialamatkan padanya.


"Ini sangat penting, Danisa! Benar-benar penting..." Kali ini Prof. Rudi menangkupkan kedua tangannya. Danisa meminta handphone dengan isyarat tubuh, lalu ia mengetik beberapa kalimat di sana.


Aku akan bicara sebentar dengan Prof. Rudi. Setelahnya, kita akan melanjutkan pernikahan ini. Hanya sebentar saja! Kak Raga jangan khawatir.


Raga akhirnya mengalah dan mengizinkan Danisa dan direktur rumah sakit Ramayana tersebut menepi untuk berbicara walau dengan hati yang kesal.


"Danisa, maaf... aku tau ini adalah hari yang paling membahagiakan untukmu... Hari terpenting daripada semua hari yang pernah kau lalui. Namun dengan sangat menyesal kukatakan... Devan sekarat! Nyawanya dalam bahaya! Sudah seminggu ini ia tak sadarkan diri setelah mengkonsumsi begitu banyak alkohol! Aku khawatir dia tidak bisa bertahan! Bisakah kalau mencoba mengobati nya?! " Pinta Prof. Rudi. Danisa tersentak.


"Dan Ara, Kau seorang dokter hebat. Ku rasa, jika itu kau... jika kau orangnya... kau bisa menanganinya! "


***


IG: @alana.alisha

__ADS_1


__ADS_2