Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 48: Berada Dimana?


__ADS_3

Ceklek


Pintu ruangan operasi terbuka.


“Pasien selamat, nyawanya tertolong” Ucap salah satu tim operasi menginformasikan. Manggala yang sudah berjam-jam menunggu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia memeluk Devan yang baru saja tiba di rumah sakit.


“Kalian sudah melakukan tugas dengan sangat baik! Sangat baik!” Prof. Rudi mengangguk-angguk haru sekaligus bangga.


“Tapi Prof, dokter hebat Dan Ara pingsan. Beliau terlalu banyak melakukan manuver padahal pundaknya terluka. Dokter tersebut berusaha keras untuk menyelamatkan pasien. Seseorang tengah mengambil kursi roda untuk memindahkan beliau ke ruangan khusus” Semua orang yang hadir terkejut. Mereka saling menatap satu sama lain.


“Biarkan aku saja!” Ucap Devan tiba-tiba.


“Aku yang akan mengangkatnya! Dokter hebat tersebut telah menyelamatkan nyawa ibuku!” Ucap Devan menerobos masuk ke dalam ruangan operasi.


“Dev, tungguuu! Sebentar Dev! Mengangkat menggunakan kursi roda jauh lebih safety!” Panik Prof. Daniel menahan gerak langkah Devan. Pemuda tersebut terpaku menatap dokter hebat yang terbaring lemah dengan wajah yang masih tertutup. Pakaiannya penuh darah.


Jika dilihat dari postur tubuhnya, dokter hebat tersebut memang merupakan seorang wanita muda, berarti ia memang bukan Charles. Gumam Devan.


“Kami akan menangani luka Dokter Dan Ara! Sebaiknya kau menunggu di luar. Kita tunggu sampai ibumu siuman!” Ucap Prof. Daniel yang menyadari Devan menatap Danisa secara intens.


Kebetulan yang sama, luka di bagian pundaknya persis seperti luka yang Danisa alami. Gumam Devan lagi. Ia tampak berpikir.


“Aku akan menangani luka Dan Ara!” Prof. Daniel berkata pada Prof. Rudi yang berjalan mendekati mereka. Kepala rumah sakit tersebut mengangguk. Mereka bergegas membawa Danisa ke ruangan khusus. Kursi roda yang membawa gadis tersebut melewati Prof. Rudi, Prof. Daniel juga Devan. Danisa dibawa melalui pintu belakang.


Devan sedikit tersentak. Di tengah aroma amis darah yang berlalu-lalang di udara, Devan bisa mencium aroma yang tidak asing. Diam-diam ia sedikit menajamkan penciumannya.


Harum Danisa ada di ruangan ini. Apa dokter hebat tersebut memakai parfum yang sama dengan yang sering Danisa pakai sehari-hari? Pikir Devan lagi.


“Dev, tolong kerjasama-nya!” Prof Daniel kembali mengingatkan dengan nada meninggi.


“Baik, aku akan keluar. Tapi katakan dimana Danisa!” Prof. Daniel tersentak lalu tersenyum masam. Tanpa ada yang menyadari, jari Danisa sedikit bergerak merespon pertanyaan Devan.


“Ia tunanganmu! Seharusnya kau lebih mengetahui dimana keberadaan nya dari pada aku! Oh iya aku lupa, ia adalah mantan tunanganmu jadi sudah pasti kau tidak tau dimana Danisa berada!” Sahut Prof. Daniel menohok. Devan keluar dari ruangan operasi dengan banyak pertanyaan memenuhi kepalanya.


Sebenarnya dia serius mengajakku untuk berteman atau tidak sih? Devan mengerutkan kening atas sikap absurd Daniel.


***

__ADS_1


Sreek


Mr. X melempar koran ke hadapan putranya. Ia duduk lalu menghidupkan cerutu. Seketika asap mengepul-ngepul memenuhi ruangan.


“Kau lihat? Putri Daisy tampil memenuhi headline news! Bahkan berita pencariannya oleh aparat kepolisian hampir mengalahkan berita dokter hebat yang kembali berhasil melakukan operasi besar!” Mr. X kembali menghisap cerutunya. Xavier mengambil dan membaca koran tersebut dengan saksama. Dua berita hebat memenuhi lembar utama koran. Berita tentang Danisa dan Dokter hebat Dan Ara.


“Selain membuat onar, apa yang bisa dilakukan oleh gadis itu? Bahkan orang-orang di kampung halaman sering membicarakannya dengan image yang tidak baik!” Tanya Xavier heran.


“Hahaha. Walau pembuat onar, sebenarnya dia adalah gadis yang cerdik!” Pernyataan Mr. X membuat Xavier mendongak.


“Kalau dia bukan gadis cerdik, mana mungkin dia bisa berkali-kali lolos dari serangan Jihan. Padahal Jihan sudah ku didik dengan sangat baik!” Xavier mengangguk-angguk. Ia membenarkan perkataan sang Ayah. Ia sendiri sudah pernah berbicara dengan Danisa di kantor polisi. Gadis tersebut tidak tampak seperti gadis biasa. Danisa tampak berkelas dan berpendidikan.


“Aku khawatir… bahwa sikap tengil dan suka berbuat onar tersebut hanya sebagai pengalihan issue semata! Mungkin ada sebuah misi yang sedang di embannya!” Ucap Mr. X.


Xavier sedikit terkejut dengan apa yang ayahnya pikirkan.


“Huk Huk Huk!” Tiba-tiba Mr. X terbatuk.


“Ayah, berhentilah merokok! Kesehatan ayah memburuk karena rokok yang bercampur obat-obatan terlarang!” Nasehat Xavier. Mr. X tidak menggubrisnya. Untuk kesekian kali ia kembali menghisap cerutunya.


“Xanders mati karena rokok dan nakotika! Ia mengidap kanker paru-paru! Aku tidak ingin ayah mengalami hal serupa!” Lanjut Xavier menohok.


“Tapi lihatlah! Apa yang telah aku lakukan padanya sekarang? Karirnya hancur. Ia dan cucunya hanya menghabiskan waktu menunggu kematian dengan hidup dari harta sisa kerja kerasnya di waktu muda juga sisa harta keluarganya yang memang berjumlah fantastis! Tapi Paula sudah menepi ke pelosok desa, jauh dari kehidupan glamour seperti yang ia lakukan dulu! Hahahahaha Huk Huk Huk! Hoeek” Mr. X memuntahkan darah.


“A… Ayah!!” Xavier hendak bangkit namun Mr. X mengangkat tangannya mengisyaratkan Xavier untuk tetap duduk.


“Selama hidup, Aku tidak akan pernah membiarkan mereka hidup tenang!” Mr. X menaikkan sudut bibir nya ke atas. Ia mengusap sisa darah yang masih menempel di sana.


“Dan kau Xavier! Sudah saatnya kau bangun dari tidur panjangmu! Bantu aku, bantu keluarga kita mendapatkan keadilan! Terutama mata yang telah dirampas paksa oleh Felix! Kau juga harus merebut mata cucunya! Tidak hanya satu, tapi kedua mata indahnya! Kalau perlu perko*sa dengan cara ekstrim dan buat hidupnya hancur sebelum ia menemukan ajalnya!” Xavier ternganga. Tenggorokannya tercekat. Titah sang ayah di luar ekspektasinya.


“Karena pada akhirnya., Setelah aku mati, kaulah satu-satunya sebagai pewarisku. Kau yang akan menikmati semua hasil ini! Kau juga yang akan menikmati harta keluarga Felix. Aku sudah berjanji tidak akan mati sebelum dendam ini terbalaskan!” Ucap Mr. X mengepalkan tangannya. Xavier bungkam.


“Lalu bagaimana dengan hasil rapat dengan perusahaan Cakrawangsa hari ini? Apa berjalan lancar?! Aku sudah sengaja menculik Devan guna menggagalkannya mengikuti rapat!”


“Rapat hari ini dipimpin oleh Raga Spancer! Dia cukup lihai dalam menilai dan menguasai jalannya rapat!” Sahut Xavier apa adanya.


“Shii*t, cucu Rowan lama-lama menjelma seperti benalu! Dia berbahaya! Rowan sudah pasti dipihak Paula sebab wanita itu adalah cinta pertamanya! Bukan tidak mungkin jika Raga akan melindungi Danisa!” Mr. X memijat pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut.

__ADS_1


“Tapi harga yang kita dapatkan dalam bisnis ini sedikit lebih tinggi dari penawaran Devan semula, Ayah!”


“Aku mengandalkanmu, Xavier! Hanya kau yang bisa ku andalkan!” Mr. X menatap netra Xavier penuh harap.


***


Prof. Daniel melakukan operasi ringan pada pundak Danisa. Gadis tersebut kehilangan banyak darah. Selain melakukan prosedur pembedahan, Prof. Daniel juga merelakan dua kantong darah miliknya untuk Danisa. Mereka memiliki golongan darah yang sama.


Tit Tit Tit


Suara irama detakan jantung Danisa yang terdengar normal melalui monitor membuat prof. Daniel tersenyum.


Hanya aku yang bisa menyelamatkanmu! Hanya aku saja! Prof. Daniel mengusap puncak kepala Danisa. Dokter ahli tersebut menjahit luka yang masih setengah menganga. Wajah Danisa yang tadinya pucat seperti mayat hidup berubah berwarna seketika.


Drrrtt Drrrtt


Handphone Prof. Daniel bergetar. Sebuah pesan singkat memenuhi layarnya. Ia membuka sarung tangan medis lalu membasuh tangan tersebut dengan alkohol.


Prof, anda di tunggu oleh Mr. Cakrawangsa di café Elang Mentari jam 5 sore. Sudut bibir prof. Daniel terangkat ke atas membaca pesan yang ia terima.


Di sisi lain, Devan menyambangi kantor kepolisian. Ia hendak menarik laporan untuk Danisa atas nama Ranti. Langkahnya terhenti. Ia melihat Raga di sana.


“Kau kemana saja?! Kini berita tentang Danisa sebagai kriminal tersebar kemana-mana! Kau mempermalukannya! Kau juga meninggalkan kantor padahal ada rapat penting!” Raga menarik kerah leher Devan. Namun pemuda tersebut langsung menghempaskannya.


“Aku datang untuk mencabut laporan!” Jawab Devan datar. Ia masih kacau, sudah setengah hari ini Devan mencari dimana keberadaan Danisa namun gadis tersebut tidak ditemukan dimana-mana. Danisa bagai lenyap di telan bumi. Padahal Devan tau persis bahwa Danisa tengah terluka. Luka tersebut bisa infeksi jika tidak segera ditangani.


Danisa, kau dimana?


“Telat! Aku sudah lebih dulu berusaha mencabut tuduhan yang dialamatkan pada Danisa! Dan siapapun tidak bisa mencabut berkas perkara kecuali tante Ranti sendiri yang membatalkannya!” Sahut Raga.


“Apa??!”


“Dev, mundurlah! Serahkan Danisa padaku! Kau tidak becus menjaganya! Menjauhlah dari Danisa! Pertunangan kalian juga sudah dibatalkan! Kini giliranku, Danisa ditakdirkan untukku! Ia milikku!” Tegas Raga. Mata Devan terbelalak tak percaya.


***


Setelah dibaca jangan lupa Like, Komen dll nya 💙

__ADS_1


Informasi 👇


IG: @alana.alisha


__ADS_2