Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 58: Umpan Pancingan


__ADS_3

Mr. Charles sedikit terkejut dengan kedatangan Danisa ke kantor polisi. Berbeda dengan Raga yang sudah menduga bahwa gadis tersebut akan mengalami hal buruk di rumah sakit.


Apalagi ia pasti akan berhadapan dengan keluarga Devan. Namun dasar keras kepala, Danisa bersikeras menunggui pemuda tersebut karena menurutnya, Devan terluka sebab menyelamatkannya.


โ€œBagaimana kondisi Devan?โ€ Tanya Raga. Danisa menggeleng. Ia menyodorkan sebotol air mineral. Raga menyunggingkan senyum menyambut pemberian Danisa.


"Selain Raga dan Devan, siapa yang telah mengetahui identitas mu? " Todong Mr. Charles berbisik. Danisa terenyak. Ia hanya menggeleng.


"Baik. Kita bicara di tempatku! " Mr. Charles bangkit membawa Danisa dan Raga ke kantornya di ikuti oleh dua orang pengawal kepercayaan.


"Kalian berjaga di sini!" Mr. Charles membawa Danisa dan Raga masuk ke ruangannya meninggalkan para pengawal di depan pintu.


"Kasus ini tidak akan mudah walau kalian berhasil meringkus salah satu dari mereka!" Ucap Charles tanpa berbasa-basi.


"Aku mendengar mereka menyebut nama Mr. C! " Ucap Danisa tiba-tiba.


"Hey, kau tidak sedang mencurigai ku, kan? "


"Haha... Di dunia ini jutaan orang menggunakan initial C! " Danisa tertawa geli.


"Kau masih bisa bercanda di saat genting begini, ini bukan seperti dirimu! " Komentar Raga cemas.


"Kalau ini ada hubungannya dengan pembunuhan tante Daisy beberapa tahun silam, kau tidak akan aman! Kau diincar Danisa! Nyawamu terancam! " Lanjut Raga.


"Aku tidak akan dibunuh semudah itu, Kak! Kalau memang mereka mau membunuhku, mereka sudah melakukannya sejak dulu! Mereka bisa membunuh ku dengan sangat mudah! " Tukas Danisa.


"Aku menjadi lemah dan bisu untuk mengelabui mereka! Mereka mengira aku tidak berdaya dan bukan sebuah ancaman... Tapi Aku yakin cepat atau lambat mereka akan melakukan nya. Mereka akan membunuhku di saat yang tepat! Mungkin aku akan dijadikan sebagai..... Umpan pancingan! "


"Umpan pan..cingan? " Mr. Charles dan Raga sama-sama terkejut.


"Ya, umpan untuk membuat nenek Paula kembali muncul di publik.. Dengan begitu mereka akan dengan mudah memusnahkan kami semua"


"Danisa, stop... Kau harus berhenti... Permainan balas dendam ini sangat berbahaya! Kau bisa kehilangan nyawamu!" Raga meninggikan suaranya frustasi.


"Aku hanya bertahan.. Aku tidak berniat membalas dendam. Aku hanya bertahan hidup dari incaran dan kejaran mereka! " Raga bungkam.


"Apa mereka tidak cukup membunuh orangtuamu? membunuh kakakmu?? Mengapa mereka masih mengincar seorang gadis dan nenek yang sudah sepuh??!" Emosi Raga meledak.


"Calm down, Bro! Calm down!" Mr. Charles mencoba mendinginkan suasana.


"Kata nenek, mereka dendam karena kakek Felix yang menyebabkan mata mereka buta! Padahal kakek tidak melakukannya. Ini hanya fitnah!" Danisa mengusap air matanya.


"Jadi nenek Paula tau siapa pelakunya?? " Tanya Mr. Charles seduktif. Danisa menggeleng.


"Kalau begini, kalian benar-benar korban! Pihak kepolisian seharusnya melindungi kalian! Kenapa baru sekarang kau mengatakannya padaku??" Tukas Mr. Charles. Danisa menggeleng.

__ADS_1


"Mereka tidak akan mudah, kalau mereka tau aku tidak selemah yang mereka kira, aku sudah lebih dulu dihabiskan sebelum benar-benar menjebloskan mereka ke penjara" Ucap Danisa. Mr. Charles mendengus. Sebagai orang yang berhutang budi pada keluarga Danisa, ia merasa sangat marah.


"Ini sangat berbahaya, jadi cukup di sini aku melibatkan kalian. Mr. Charles, Kak Raga.. kalian bisa celaka karena ku! Jadi biarkan aku melanjutkan ini semua! Aku tidak ingin membawa kalian ke dalam masalah ini lebih jauh" Ucap Danisa bangkit berdiri. Ia dengan tegar sedikit membungkuk dan hendak berlalu pergi.


"Danisa! " Raga memegang lengan orang yang dicintainya itu dengan erat. Menghentikan pergerakan wanita tersebut.


"Kau pikir, setelah mengetahui ini semua kami akan diam saja melihatmu berjalan sendirian dalam bahaya?! Aku pastikan aku akan bersamamu sampai akhir! " Tukas Raga penuh penekanan.


"Bagaimana mungkin aku diam saja? Aku tidak peduli jika harus mati sekalipun... Kau adikku... Kita ini keluarga... aku sudah bersumpah di depan pusara ibuku untuk setia pada keluarga Nenek Paula! " Ucap Mr. Charles lantang. Airmata Danisa semakin berhamburan. Lagi, ia gagal mempertahankannya.


"Hanya ada satu cara untuk memancing mereka keluar! " Lanjut Mr. Charles. Raga menarik kursi agar Danisa kembali duduk.


"Wait... Apa Mr. C yang disebutkan oleh para komplotan ada hubungannya dengan keluarga Cakrawangsa?" Mr. Charles menduga-duga dengan mengingat kembali pernyataan Danisa. Selain itu, Prof. Daniel pernah menyinggung ketidaksukaannya terhadap keluarga tersebut. Beliau mengatakannya bukan tanpa alasan. Seperti ada suatu hal yang disembunyikan oleh Prof. Daniel.


"Devan tidak mungkin melakukannya! Aku tau siapa Devan! Aku tau persis siapa dia! " Sergah Raga yakin.


"Mungkin bukan Devan... Tapi... Hmh Keluarganya? " Raga menggeleng.


"Apapun itu, kita harus memancing agar mereka keluar! Jika musuh sudah diketahui dengan pasti, akan mudah menghindarinya" Lanjut Mr. Charles. Danisa mengerutkan keningnya.


"Caranya?"


"Danisa harus mengumumkan pertunangannya dan harus segera menikah! "


"Devan tidak mungkin menikahi Danisa, keluarga nya tidak setuju! Pertunangan mereka sudah berakhir! "


"Tentu saja bukan dengan Devan..."


"Jadi?? " Danisa dan Raga saling menatap.


"Mengapa aku harus menikah? " Tanya Danisa heran.


"Aku sudah punya rencana untuk itu... begini rencananya...! " Mr. Charles mulai membeberkan ide cemerlang nya.


***


Hah Hah Hah


Keringat dingin memenuhi kening Prof. Daniel. Dengan nafas berat ia menyelesaikan tugasnya. Operasi Devan yang dilakukan lebih dari 48 jam berjalan lancar. Kini pemuda tersebut sudah siuman.


"Dimana Danisa? Apa dia baik-baik saja? " Pertanyaan pertama yang Devan layangkan ketika ia membuka matanya.


"Dari awal Ia sudah diusir oleh keluargamu! Sebaiknya kau tidak perlu mendekatinya lagi! " Ucap Prof. Daniel seraya memerintahkan perawat untuk menambah dosis obat. Devan tampak berpikir.


"Terima kasih atas pertolonganmu! " Devan menarik jarum infus dari tangannya.

__ADS_1


"Hey, apa yang kau laku.... " Belum sempat Prof. Daniel menyelesaikan kalimatnya, Devan sudah melesat keluar. Namun sayang, ia dihadang oleh Ranti di depan pintu.


"Kamu mau kemana, Nak? Kamu lagi sakit! Kamu mau kemana?? " Ranti menitikkan airmatanya melihat wajah pucat Devan.


"Devan sudah sehat, Ma! Devan ingin menemui Danisa. Dia dalam bahaya! "


"Danisa lagi Danisa lagi!! Sadar nak! Danisa lah yang membuatmu berada dalam bahaya!! Mama seperti tidak mengenalmu lagi!! " Berang Ranti.


"Devan, kembalilah ke dalam ruangan... Kau harus banyak beristirahat! " Saran Roula.


"Sebaiknya kau jangan ikut campur urusanku! " Ketus Devan. Roula bungkam.


"Dev!! Jangan kasar pada Roula!" Titah Ranti mendelik. Di saat bersamaan Prof. Daniel keluar bersama beberapa asisten. Para perawat yang mendampingi Prof. Daniel kembali meringkus Devan untuk dibawa ke dalam ruangan. Pemuda tersebut sempat melawan.


"Kau tenanglah, aku sudah mengirimkan beberapa asisten ku untuk mengawalnya. Kini Danisa aman! " Mendengar penjelasan Prof. Daniel, Devan mengalah.


"Putra anda belum benar-benar pulih. Ia harus dirawat di rumah sakit dalam beberapa hari! Harap kerja samanya untuk memantau Devan agar tidak kabur! " Ucap Prof. Daniel dingin. Ranti mengangguk. Prof. Daniel berlalu. Namun Roula menghadangnya.


"Bolehkah kita bicara? " Prof. Daniel mengerutkan keningnya heran.


"Sebentar saja... please..." Akhirnya Prof. Daniel mengangguk. Mereka beranjak ke kantin rumah sakit.


***


"Menikahlah denganku.. Kita sudah saling mengenal sejak kecil! Aku tidak akan pernah menyakiti mu" Pinta Raga bersungguh-sungguh saat kembali menemui Danisa.


"Walau kau tidak mencintaiku.. Aku yakin cinta akan hadir dengan sendirinya setelah kita bersama" Lanjut Raga. Danisa berpikir keras. Penjelasan Mr. Charles tentang memancing musuh memang masuk akal. Saat ini Devan juga tidak bisa ia harapkan. Apalagi keluarga nya sama sekali tidak menyukai Danisa.


"Kita akan bertunangan dalam minggu ini. Bulan depan kita menikah! " Lanjut Raga lagi. Danisa hanya diam. Ia mematung.


"Kau bersediakan? Kau sudah memikirkan semua dalam waktu 2 hari ini kan? " Tenggorokan Danisa tercekat. Ia benar-benar ragu untuk menjawab namun ia tidak punya pilihan lain. Raga mengeluarkan sebuah cincin dan diberikan pada Danisa.


"Pakailah jika kau bersedia menghabiskan sisa hidupmu bersamaku!" Danisa masih mematung. Pikirannya melayang pada Devan dan segala ketidakpastian hubungan mereka.


"Danisa... " Panggil Raga membuyarkan lamunannya. Perlahan Danisa mengambil cincin tersebut.


***


Berikan komentar dan dukungan terbaikmu~


๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™


IG: @alana.alisha


***

__ADS_1


__ADS_2