
Mira, orang yang mengaku sebagai ibu tiri Danisa terus mengejarnya. Ia sedikit frustasi mengetahui gadis tersebut terus mengabaikan panggilannya. Apalagi Danisa tidak bisa diberikan kekerasan fisik. Wajar saja, Nenek Paula membekali Danisa dengan ilmu bela diri yang mumpugi agar hatinya tenang melepaskan cucu satu-satunya tersebut di dunia yang penuh dengan tipu daya.
“Danisa! Kau sangat tidak sopan mengabaikan orang tua yang berbicara!!” Sembur Mira geram. Danisa tetap mengabaikannya.
“Danisa berhentiii!!”
“Bagaimana kalau aku katakan kalau ibumu masih hidup?!” Teriak Mira menjangkau pendengaran Danisa yang sudah beberapa meter di hadapannya. Kalimat yang Mira lontarkan sukses membuat langkah Danisa terhenti. Mira menyungkingkan senyumnya.
“Aku akan memberitahukanmu dimana keberadaan Daisy!” Mira mendekat ke arah Danisa. Perlahan ia menyentuh pundak gadis tersebut. Danisa langsung menghempaskan tangan Mira lalu menyodorkan handphone-nya.
Jangan pernah menyebut nama Ibuku dengan mulut kotormu!! Ketik Danisa. Ia menunjukkan wajah yang tidak ramah. Mira terperangah. Danisa langsung melesat pergi. Masih banyak hal yang harus gadis ini lakukan dari sekedar membuang waktu meladeni orang seperti Mira.
“Danisa! Kau akan menyesal telah mengabaikan aku!” Pekik Mira marah.
***
Danisa tiba di gerbang kampus. Ia melangkah memasuki ruangan kelas. Terlihat para mahasiswa sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Seperti biasa, para laki-laki menyoroti tampilan Danisa yang selalu menawan. Mereka berbisik-bisik bagaimana caranya mendapatkan hati gadis tersebut hingga ingin melakukan taruhan.
Danisa tidak mempedulikan tatapan yang mengarah padanya. Ia langsung membuka I-pad pemberian Mrs. Smith sembari menunggu professor Daniel memasuki ruang kelas. Danisa melihat beberapa video yang ada di dalam grup chat pada I-Pad. Video-video berisikan kondisi terbaru dari kakek Rowan.
Mrs. Smith, gurunya Danisa memang sengaja menyuruh salah satu asisten yang menjaga kakek Rowan untuk terus mengabarkan kondisi beliau terkini agar memudahkan dalam melakukan operasi nantinya.
Namun tiba-tiba mata Danisa terbelalak hebat ketika melihat video terakhir yang asisten kirimkan. Kondisi kakek Rowan sangat menurun drastis.
Dddrrrttt Ddrrrrtttt
Handphone Danisa yang khusus menangani masalah medis terasa bergetar. Sebuah pesan dari Mrs. Smith menghiasi layar kacanya.
Danisa, kamu sudah melihat video terakhir, kan?
Guru, kondisi kakek sangat menurun drastis. Apa yang harus kita lakukan? Danisa mengirim pesan balasan dengan cemas.
Hubungi Raga. Operasi yang akan diselenggarakan untuk kakek Rowan kita percepat! Titah Mrs. Smith. Danisa hanya bisa memijat pelipisnya. Gadis ini sedikit gugup.
Di saat yang bersamaan, Prof Daniel memasuki kelas. Ruangan yang tadinya gaduh berubah hening seketika.
“Hari ini kita belajar tentang prosesi bedah Jantung!” Ucap Prof. Daniel tanpa basa basi. Danisa yang tengah cemas mengirimkan Prof. Daniel pesan,
Prof, aku tidak bisa melanjutkan pelajaran hari ini! Kondisi kakek Rowan menurun. Ketik Danisa, gadis ini sedikit melambaikan tangan sebagai isyarat bahwa Prof Daniel harus melihat handphone-nya.
“Danisa!” Panggil Prof. Daniel tiba-tiba. Atensi para mahasiswa langsung mengarah ke Danisa menunggu apa yang akan Professor tampan tersebut katakan.
__ADS_1
“Silahkan ke ruanganku! Aku punya tugas! Nanti asisten ku akan membimbing mu! ” Titah Prof Daniel yang diiringi anggukan sumringah oleh Danisa.
Memang dia siapa sih? Kenapa Prof Daniel sangat menyayanginya? Diberikan tugas khusus? Sangat istimewa! Para mahasiswa berbisik-bisik julid.
Iya, selain kecantikan? Apa yang bisa dibanggakan dari Danisa? Tadi ku pikir prof Daniel akan memarahinya! Suara sumbang dari kaum hawa terdengar. Prof Daniel terpaksa berdehem menghentikan keributan di kelas.
Danisa segera keluar dari ruangan dan menuju asrama. Ia mengunci rapat pintu kamarnya. Danisa mulai melakukan panggilan pada Raga.
“Aku melihat grafik kondisi kakek Rowan terus menurun” Ucap Danisa pada saluran telepon. Raga terkejut. Ia terakhir kali mengunjungi sang kakek kemarin malam.
“Kita harus bagaimana dok? Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Raga panik.
“Operasi harus kita majukan secepat mungkin! Sekarang aku akan mengunjungi kakekmu!” Ucap Danisa memakai cardigannya. Ia menyediakan pakaian cadangan untuk menyembunyikan identitas.
“Aku akan menjemput dokter!” Tawar Raga.
“Tidak perlu, aku akan ke sana seorang diri. Pastikan saja penjagaan di sana aman!” Ucap Danisa. Rowan menyetujuinya.
Siapa dokter hebat bersuara merdu ini? Ia tampak seperti masih sangat muda. Gumam Raga penasaran.
***
"Dev, Jihan bebas? " Tanya Raga heran.
"Ha? Are You sure? Jadi siapa yang berbuat jahat pada tante Ranti? "
"Aku dan pihak kepolisian masih mengusut kasus ini! " Jawab Devan. Ia menjentik-jentikkan tangan ke meja. Raga mengangguk-angguk.
"Aku ke sini ingin mengabarimu bahwa operasi kakekku akan dipercepat oleh dokter Dan Ara! Kondisi kakekku menurun drastis! " Lirih Raga sedih. Devan terenyak.
"Semoga operasi nya berjalan lancar. Kita semua berharap penuh akan keberhasilan misi kali ini! " Tukas Devan memberi do'a! "
Tok Tok Tok
"Dev, Ada Jihan di sini!" Ucap Sarah setelah membuka pintu ruangan Devan. Sekretaris pribadinya tersebut tampak tidak senang. Ia dan Jihan yang nota bene nya sama-sama menyukai Devan sempat terlibat adu mulut sebelum akhirnya Sarah mengalah. Raga terperangah.
"Dev?! "
"Dia ingin menceritakan kronologi yang sebenarnya. Tidak ada salahnya memberinya kesempatan" Sahut Devan diplomatis. Raga tersenyum hambar atas keputusan sahabatnya.
Jihan masuk ke ruangan Devan dengan elegan.
"Hi Devan, Hi Raga! " Sapa Jihan ceria seperti tanpa beban.
__ADS_1
"Raga, aku dengar operasi yang akan kakek Rowan jalankan akan dipercepat? " Jihan langsung melayangkan pertanyaan.
"Hahaha, kau memang serba tau! " Sarkas Raga.
"Dev, Ga... kenapa kalian mempercayakan operasi besar ini pada dokter yang tidak jelas itu? "
"Reputasi nya sangat baik! " Sahut Devan cepat.
"Kau tau persis bagaimana prestasiku di dunia kedokteran kan? Aku pintar dan murid teladan! Kalian bisa mengandalkan aku dalam operasi ini!" Jihan menawarkan dirinya.
"Sudah lah Jihan, aku sedang tidak ingin membahas hal ini! Cepat ceritakan apa yang kau janjikan!" Sambar Devan jengah.
"Baiklah!" Jihan duduk di hadapan Devan. Diam-diam Jihan mengambil gawainya dan mengirimkan pesan pada seseorang.
***
Danisa sampai di tempat perawatan pribadi kakek Rowan. Ia bersiap-siap menunjukkan lisensi Kedokteran yang dimiliki dengan identitas Dokter Dan Ara pada para pengawal. Namun sebelumnya, Danisa ingin mengganti pakaian terlebih dahulu.
Hampir saja Danisa menepi ke gedung berbeda untuk memakai pakaian medisnya dalam menyembunyikan identitas. Namun tiba-tiba, ia melihat kegaduhan. Para pengawal tampak panik. Keributan terjadi. Salah satu dari mereka terlihat melakukan panggilan.
Danisa penasaran. Gadis ini hanya memakai masker dan kacamata nya. Ia langsung menuju ke tempat kakek Rowan di rawat.
Aku seorang dokter! Danisa menunjukkan lisensinya dengan menyodorkan handphone.
Apa yang terjadi dengan kakek Rowan? Lanjut Danisa bertanya.
"Kakek Rowan kritis! " Sahut pengawal panik.
Biarkan aku masuk! Pengawal membawa Danisa ke dalam. Ia langsung memeriksa kondisi sang kakek. Namun tiba-tiba,
"Apa yang kau lakukan disini? Kau ingin mencelakakan kakek Rowan kan? " Seseorang datang langsung menuduh Danisa.
Mira? Gumam Danisa mengerutkan keningnya.
"Pengawal, tangkap dia! Aku melihat nya mengotak atik tubuh kakek Rowan! " Titah Mira. Danisa tidak mempedulikan apa yang Mira katakan. Gadis ini dengan cepat memeriksa keadaan kakek. Bagaimana pun kesehatan kakek Rowan adalah hal yang utama.
Mira dengan cepat menghubungi polisi. Pengawal diam mematung. Mereka melihat kesungguhan Danisa berupaya untuk kesembuhan kakek.
"Apa yang kalian lakukan?! Cepat tangkap Dia!!! " Pekik Mira memberi perintah. Kesal.
***
Guyss... jangan lupa like komen vote dan hadiahnya 🥰🌹❤
__ADS_1