Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 47: It's Not Your Bussiness!


__ADS_3

Jihan melancarkan misi yang diembannya. Walau tidak sepenuhnya puas memeluk Devan, ia harus bergegas menjauhkan diri dari pemuda tersebut sebelum teman masa kecilnya itu siuman.


"Ini hanya sedikit ancaman pada keluarga mu. Aku tidak berniat mengambil harta kalian! Aku sendiri sudah bergelimang harta! " Bisik Jihan mengambil tangan Devan. Ia membawa jari telunjuknya untuk diletakkan pada permukaan tinta ungu. Namun belum sempat Jihan menyempurnakan tugasnya tiba-tiba,


Set.


Mata Devan terbuka lebar. Jihan terkejut bukan kepalang. Dengan gerakan cepat pemuda tersebut menghempaskan Jihan ke atas tempat yang semula menjadi tempat nya berbaring. Kini keadaan berbalik 180 derajat.


"De... Devan, kau tidak pingsan?! " Jihan benar-benar kaget.


"Devan... Uhuk Uhuk... Dev... Sakiit! " Kedua tangan Devan mencengkram leher Jihan. Wanita tersebut kesulitan bernafas.


"Dev... Le... paskan aku... Uhuk... Uhukkk... "


"Apa yang kau lakukan padaku, Hah?!" Hardik Devan dengan mata memerah dan rahang mengeras.


"Dev... ku... mo.. hon.. Lepaskan a... aku... kalau be.. gini a... ku... bisa ma... ti... " Pinta Jihan mengiba dengan nafas tersengal. Devan tak tega. Hatinya melunak. Ia pun melonggarkan cengkraman tangan pada leher Jihan.


"Berikan aku kunci ruangan ini!" Titah Devan. Ia mengambil dasi yang masih bertengger di leher dan mengikatkannya di tangan Jihan lalu menggiringnya untuk membuka pintu.


"Dev, aku melakukan semua ini karena mu! Karena a.. aku mencintaimu" Lirih Jihan menunduk. Gadis tersebut mulai menangis.


"Apa? Karena aku?! Cih! Itu karena ambisimu sendiri, Jihan! Jangan coba-coba mnyeret aku dalam masalah-mu!"


"Dev, kau setuju untuk tidak akan pernah sudi menjalin hubungan dengan seorang gadis bisu. Dia itu hanya seorang gadis kampung pembuat onar!" Jihan masih tidak menyerah. Devan menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Jihan.


"Dengar! Dengan siapa-pun aku menjalin hubungan, itu semua tidak ada hubungannya denganmu! It's not your bussiness!" Devan menghujamkan tatapan membunuh. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Jihan.


"Cepat bawa aku keluar dari sini jika kau tidak ingin aku menghabisi nyawamu!" Ancam Devan berbisik.


Sreeeg


Jihan langsung memeluk Devan erat-erat.


"Lebih baik kau bunuh saja aku daripada aku hidup menderita tanpamu! Atau ambil saja kunci ruangan ini, kuncinya memang ada padaku. Aku meletakkannya di dada sebelah kiriku! Kalau kau mau, ambil saja! Kau juga boleh mengambil bagian lainnya" Tantang Jihan semakin mengeratkan pelukannya. Devan tercengang tak percaya. Ia memusatkan pikirannya dengan memikirkan cara apa yang harus ia tempuh.


Set


Dengan gerakan cepat Devan mengambil botol minuman keras yang ada di dekat mereka lalu ia melemparkan botol tersebut tepat ke jendela kaca yang terletak 7 meter dari tempat mereka berdiri.


Praaankkkk


Kaca jendela pecah, Kepingannya berhamburan di lantai. Mata Jihan terbelalak. Devan dengan cepat mendorong gadis yang memeluknya dengan erat itu hingga gadis tersebut terhuyung. Lalu Devan keluar dari jendela yang telah dipecahkannya dengan tergesa. Serpihan kaca yang masih menempel melukai pipi dan merobek jas yang Devan kenakan.


"Tangkap dia!! " Terdengar suara teriakan yang menggema. Devan menyempatkan diri untuk menoleh sebelum mengambil ancang-ancang berlari kencang.


Sruuugg


Devan menendang kardus yang ada di hadapan untuk menghalangi langkah orang-orang yang sedang mengejarnya. Cukup berhasil mengalihkan perhatian. Devan terus melesat cepat keluar dari bangunan tua yang luasnya tidak kurang dari seperempat lapangan bola. Sebuah mobil telah menunggunya.


"Hhh Hhh Hhh Kenapa kau menolong ku? " Tanya Devan dengan nafas tersengal ketika ia sudah berada di dalam mobil.


"Simple saja. Ini hanya alasan kemanusiaan! Aku tidak perlu memiliki alasan apapun untuk menolong mu, cukup punya nurani. Itu saja! "


"Terima kasih" Ucap Devan singkat. Ekor matanya melirik ke arah orang yang telah menyelamatkan nya. Sebagai guru besar dalam dunia kedokteran dan paham tentang obat-obatan, orang tersebut pula yang telah memberikan penawar obat bius padanya hingga ia siuman. Dan beliau memang sudah berencana menunggu nya di perempatan jalan setelah ia berhasil mengetahui bagaimana kebenarannya.


"Lalu... Hmh... Apa motif mereka?"


"Mereka menggunakan Jihan untuk membuatku menanda-tangani sebuah surat kuasa! Untung itu semua tidak sempat terjadi" Ucap Devan meraba saku bajunya. Surat kuasa tersebut sudah berada dalam genggamannya. Barang bukti tersebut akan digunakan untuk menjebloskan orang yang telah menjebaknya ke dalam penjara.


"Lalu Prof. Daniel kenapa bisa tau aku kalau aku berada dalam bahaya? " Lanjut Devan lagi.

__ADS_1


"Aku melihat rekaman CCTV yang ada diruanganku! Aku langsung menyuruh orang ku untuk membuntuti kalian! " Sahut Prof. Daniel.


"Berarti Danisa tau kalau aku dipukul oleh sekelompok orang?! " Devan mengerutkan keningnya.


"Ti.. Tidak. Danisa tidak memperhatikan layar monitor. Sebab dia tengah sibuk memperhatikan topik pembicaraan kami" Sahut Prof. Daniel diplomatis.


Topik pembicaraan? Mereka membicarakan apa? Ada rasa ketidaksukaan yang tiba-tiba Devan rasakan mendengar jawaban dari Profesor Daniem. Namun tidak bisa dipungkiri, Devan merasa sangat berterima kasih pada Profesor jenius jebolan Cambridge University, Inggris tersebut.


"Sudahlah, kau jangan terlalu banyak berpikir. Mari kita berteman, kau mau kuantarkan kemana? " Tanya Prof. Daniel membuyarkan lamunan Devan.


Drrrrttt Drrrtttt


Handphone Prof. Daniel bergetar. Prof. Rudi menelpon nya.


"Aku mendapat kabar dari ruang operasi bahwa pasien bernama Ranti yang tengah di tangani oleh dokter Dan Ara kritis! Prof, aku mohon segera lah ke rumah sakit. Mungkin Prof. Daniel bisa membantu! Aku juga sudah memerintahkan Mrs. Smith untuk segera datang" Prof. Daniel melirik ke arah Devan.


"Jujur saja ilmuku tidak lebih hebat dari Dan Ara. Namun aku akan mencobanya! Aku akan ke sana sekarang! " Sahut Prof. Daniel menutup pembicaraan.


"Devan, ibumu kritis!" Ucap Prof Daniel menginformasikan. Mata Devan membola sempurna.


***


Ruang Operasi, Rumah Sakit Ramayana.


"Doc, are you okay?" Anggota tim mulai panik. Danisa terhuyung. Kesehatan Ranti mengalami penurunan drastis


"Ba... Bagaimana ini?" Tanya para anggota tim saling menatap lalu menggeleng satu sama lain.


"Dok... "


"Aku bisa melanjutkan nya, biar aku mencobanya lagi! Percayakan padaku..." Ucap Danisa yakin. Anggota tim melihat iba ke arah pundak dokter bedah yang bernoda darah. Noda tersebut sudah menjalar semakin melebar pertanda darah semakin banyak mengalir.


Bertahanlah, jika bukan bertahan untuk dirimu sendiri, setidaknya bertahanlah demi laki-laki di depan ruangan yang begitu mencintaimu! Lirih Danisa dengan mata mengembun. Di satu sisi Ia menahan rasa sakit yang terasa begitu mendera, di sisi lain ia harus melaksanakan tugasnya dengan baik.


Tit Tit Tit


"Dok, kesehatan pasien terus menurun! Detak jantung nya aritmia berdetak dengan tidak teratur" Danisa tersentak. Ia melirik ke arah monitor.


"Ambil alat pacu jantung! " Pinta Danisa.


"Cepat!! " Lanjut Danisa panik. Seorang tim dokter datang memompa jantung Ranti karena Danisa yang tengah terluka tidak mungkin melakukannya.


Satu. Dua. Tiga


Cess


Satu. Dua. Tiga


Ces


Begitu berulang-ulang namun tidak terjadi perubahan.


"Lagi! "


Satu. Dua. Tiga.


Tiiiittttt. Monitor menunjukkan garis lurus. Ranti berada di ambang kematian. Mata Danisa sontak berair. Waktu seakan berhenti berputar. Ruangan hening seketika.


"Tingkatkan Rpm-nya!! Cepat!! " Titah Danisa yang tersadar dengan mata menyala.


Satu. Dua. Tiga. Satu. Dua. Tiga.

__ADS_1


Ceesss


"Biar aku saja!! " Ucap Danisa lagi.


"Tapi Dok! " Para tim dokter bergidik ngeri menatap ke arah pundak sang dokter hebat. Namun Danisa tidak menggubris nya. Dengan cepat Ia naik ke atas ranjang dan mulai memompa dengan kecepatan yang sudah di perkiraan kan.


Dengan nama Tuhan yang Maha Menciptakan! Kau pasti bangun! Kau pasti bisa. Danisa sudah tidak mempedulikan lagi rasa sakit teramat sangat yang menderanya.


Satu. Dua. Tiga.


Satu. Dua. Tiga.


Ayoo banguuun... Ku mohon ayooo banguuun.... Bangunlaah... Kau bisaaa.... Jantung Danisa berdetak tidak karuan. Air matanya mengalir tanpa bisa dicegah. Sebisa mungkin ia mencoba membantu Ranti.


Kreeekkk


Bunyi sesuatu seperti suara retak terdengar dari pundak Danisa.


"Dok, pundak dokter!!!" Para tim panik.


"Minggirlah!! "


Satu. Dua. Tiga.


Kreeekkk


Bunyi yang berasal dari pundak Danisa semakin terdengar jelas.


Tiiit Tiiit Tiiit


"Aaaaa... Hiks hiks... " Danisa mengusap air matanya yang jatuh berderai-derai.


"Aaaa...Aaaa hikss hikss" Danisa menangis semakin kencang. Kerja kerasnya tidaklah sia-sia.


"Dok, detak jantungnya kembali! " Para tim ikut merasakan keharuan. Atmosfer mengharu-biru serasa memenuhi ruangan.


"Aku akan mengabarkan hal ini pada Prof. Rudi! Keluarga pasien pasti bahagia! Kalian uruslah sisanya! " Ucap Danisa. Ia akan berdiri namun tiba-tiba Danisa tidak bisa menggerakkan tangannya. Wajahnya terlihat begitu pucat.


"Dok, dokter tidak apa-apa? " Danisa kembali mencoba namun sayang, ia kembali gagal.


"Aku akan membantu dokter! " Anggota tim operasi akan membantu Danisa, namun semua belum terjadi Danisa sudah terlebih dulu pingsan.


***


Ceklek


Pintu ruangan operasi terbuka.


"Pasien selamat, nyawanya tertolong" Ucap salah satu tim menginformasikan. Manggala yang sudah berjam-jam menunggu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya. Ia memeluk Devan yang baru tiba di rumah sakit. Pemuda tersebut melakukan sujud syukur sebab sudah dikatakan kecil kemungkinan Ranti akan selamat.


"Kalian sudah bekerja dengan baik! Sangat baik!" Prof. Rudi mengangguk-angguk haru sekaligus bangga.


"Tapi Prof, Dokter hebat Dan Ara pingsan. Beliau terlalu banyak melakukan manuver padahal pundaknya terluka. Dokter tersebut berusaha keras untuk menyelamatkan pasien. Seseorang tengah mengambil kursi roda untuk memindahkan beliau ke ruangan khusus" Semua orang yang hadir terkejut. Mereka saling menatap satu sama lain.


"Biarkan aku saja! " Ucap Devan tiba-tiba.


"Aku yang akan mengangkatnya! Dokter hebat tersebut telah menyelamatkan nyawa ibuku! " Ucap Devan menerobos masuk ke dalam ruang operasi.


"Dev, tungguuu! " Prof. Daniel seketika panik.


***

__ADS_1


Informasi dll👇


IG: @alana.alisha


__ADS_2