Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 13: Bukti Dari Danisa


__ADS_3

“Se… Sebenarnya… Edo diminta oleh dia untuk ke sini dan bicara sesuai instruksinya” Edo menunjuk Jihan yang wajahnya mulai pucat pasi.


“Sss… Saya…” Jihan gelagapan. Semua tatapan berbalik menuju padanya.


“Edo diberikan sejumlah uang oleh nya untuk berbicara sesuai dengan apa yang ia inginkan” Ucap Edo lagi. Lagi-lagi semua orang yang ada dalam ruangan tercengang.


“Omong kosong! Jangan bicara sembarang kamu!!” Sahut Jihan marah dan menyangkal apa yang Edo ucapkan.


“Aku hanya mengatakan fakta yang sebenarnya!” Edo merogoh saku bajunya mengambil sebuah kertas.


Raga yang sedari tadi memperhatikan dari luar, mengamati pergerakan Devan yang hanya diam saja. Sahabat dari Devan tersebut tidak menyalahkan Danisa namun juga tidak membela secara terang-terangan. Devan benar-benar berbicara di saat yang tepat dan jika diperlukan saja. Raga mengelus dagunya dengan sudut bibir yang sedikit naik ke atas. Ia dari tadi menikmati pertikaikan yang ada di hadapannya.


“Ini tidak mungkin!! I... Ini ti…tidak benar!” Jihan mulai panik. Ia sedikit terhuyung.


“Aku tidak melakukan apa yang pria brengsek ini katakan! Ini semua hanya omong kosong belaka!” Pekiknya lagi.


“Baiklah. Kalau begitu Aku akan memberikan bukti yang lebih kuat yang akan membuatmu bungkam dan berhenti mengatakan bahwa ini adalah omong kosong” Edo merogoh sakunya.


“Ini adalah bukti Bill bayaran yang kau berikan!! Tidak hanya itu, aku juga memiliki bukti transfer online-nya!” Edo menunjukkan bukti pada semua orang bahwa perkataannya benar. Nama Jihan memang tertera di sana.


“I… Ini tidak mungkin… I… Ini tidak benar! Devan,, lakukanlah sesuatu!! Kau pasti telah mengenalku dengan baik! Aku tidak mungkin melakukannya! Kita sudah berteman sejak kecil. Bersama-sama, kita saling berbagi suka dan duka! Dia dan laki-laki ini pasti bersekongkol untuk menjebakku!! Mereka pasti bekerja sama! Mereka orang jahat Dev!!” Jihan masih menuduh Danisa. Ia mengiba meminta pada Devan, teman masa kecilnya itu untuk mengasihaninya. Namun Devan hanya diam saja. Pemuda tersebut tampak berpikir keras.


Tiba-tiba Danisa memperlihatkan handphone-nya pada semua orang yang di dalam ruangan. Ia menyodorkan handphone tersebut pada Devan. Laki-laki ini melihat dan mempelajari nya hingga mengerti lalu membaca tulisan yang ada di layar handphone tersebut dengan suara keras. Pada handphone yang Danisa serahkan, terdapat isi chat bagaimana cara Jihan meminta Mila untuk menghajar Danisa malam itu.

__ADS_1


Aku mohon… Aku ingin kamu menolongku untuk menghajar si gadis bisu! Tampar wajahnya. Jangan beri dia ampun! Aku akan membayarmu dengan bayaran mahal! Pinta Jihan dengan memelas.


Selain itu, Devan juga menemukan bukti transfer yang Jihan berikan pada Mila di dalam handphone Danisa.


Kening Devan berhasil mengerut ketika ia juga menemukan bukti chattingan yang mana Jihan meminta Noori untuk ikut ke rumahnya, ke rumah kediaman Cakrawangsa hari ini. Orang-orang menggelengkan kepala hampir tidak percaya dengan apa yang Devan bacakan.


“Devan! Percayalah… Ini pasti permainan Danisa. Ia menuduhku dengan tuduhan keji picisan seperti itu!” Jihan masih memelas.


“Stop Jihan! Tutup mulut-mu! Stop membual!” Hardik Devan keras. Laki-laki metropolitan itu mulai membela Danisa. Ia menatap tunangannya dengan rasa kasihan karena baru saja di fitnah habis-habisan. Devan menyadari bahwa Danisa tidak lah bersalah. Ia memicingkan mata menatap Jihan yang kini memperlihatkan wajah sendu.


“Tante Ranti.. Om Manggala.. Kalian percaya padaku kan? Om... Tante... Iya kan? Kalian percaya kan?” Tanya Jihan mencari pembelaan dari yang lain. Ia masih berusaha menyakinkan anggota keluarga Devan. Namun sayang mereka hanya diam saja dengan wajah kusut. Tidak ada satu pun dari mereka yang menggubris permintaan dari Jihan.


“Hemm, sudah sore.. Aku dan Jihan sudah memiliki janji dengan kolega kami!” Merasa sudah sangat terpojok, Noori meminta permisi dengan cara halus. Ia hanya beralasan saja agar bisa terbebas dari masalah yang sudah terlanjur ketahuan. Dengan sekali ayunan, Noori mengamit lengan Jihan dengan tangannya. Mereka berbalik arah hendak keluar rumah.


“Halo Tante, Hai Jihan… Mau kemana? Kan sudah memfitnah, kenapa langsung pergi? Minta maaf dulu dong! Bukankah orang bersalah harus mengajukan permintaan maaf?” Titah Raga dengan santai. Ia mensedekapkan tangan dan tersenyum memperlihatkan smirk. Jihan dan Noori mematung.


“Hhhhhh kalian telah memfitnah seorang gadis yang tidak bisa bicara! Hebat Sekali Danisa masih mau berbesar hati menghadapi tante dan orang seperti mu!” Raga menunjuk Jihan dengan memuji Danisa.


Anak muda sialan. Umpat hati Noori. Ia mengepalkan tangannya.


"I...Iya, benar juga yang kamu katakan! " Noori berpura-pura tersenyum dan kembali masuk ke dalam rumah menghadap Danisa. Senyum palsu.


“A… Aku mohon maaf… Semoga kau mau memaafkanku” Ucap Noori. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, wanita ini dengan cepat mengambil langkah dan berlalu pergi.

__ADS_1


“Da… Danisa, aku juga minta maaf” Ucap Jihan kemudian. Danisa bisa melihat ketidak tulusan dan wajah palsu di sana. Ia mengetikkan sesuatu di handphone-nya.


"Aku tidak bisa menerima permintaan maaf itu!" Ketik Danisa. Wajah anggun nya menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang tidak bisa di tindas. Jihan terkejut. Air liurnya kesulitan melewati tenggorokan.


“A… Apa? Mengapa bisa begitu?” Lirih Jihan heran. Wanita licik ini mengalihkan wajahnya menatap Devan.


“Danisa, mengapa kau tidak mau memaafkanku? Padahal aku sudah segenap hati memohon permohonan maaf. Aku juga tidak sengaja melakukannya. Hiks hiks!” Jihan berpura-pura mengusap air matanya. Lagi-lagi ia ingin di kasihani. Berharap agar Devan berkenan menggubrisnya. Danisa dengan cepat mengetik kembali sesuatu di handphonenya.


“Jangan berpura-pura! Semua bukti ada padaku! Kamu sama sekali tidak terlihat tidak sengaja melakukannya!”


Wajah Jihan yang sedari tadi sudah pucat, semakin bertambah pucat. Ia beralih memohon bantuan Devan.


“Devan… Tolonglah aku! Danisa sama sekali tidak punya hati! Ia tidak bisa di ajak berkompromi!” Tukas Jihan. Devan sama sekali tidak menggubrisnya. Laki-laki ini tidak peduli. Ia hanya diam mengamati. Danisa kembali menuliskan sesuatu di handphone-nya.


“Aku akan melaporkan semua perbuatan-mu ke kepolisian! Perbuatan jahat harus mendapatkan hukuman yang setimpal” Ketik Danisa dan memperlihatkan nya pada Jihan. Membaca tulisan yang tertera di handphone tersebut membuat Jihan terhuyung. Kepala nya terasa berat.


***


Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤


IG @alana.alisha


***

__ADS_1


__ADS_2