
Jihan dan Noori pulang setelah diserang rasa panik dan ketakutan. Kebohongan mereka akhirnya terbongkar. Kecurigaan terhadap Danisa tidak beralasan juga tidak terbukti. Semua orang yang hadir akhirnya mengetahui kebenarannya.
“Hahaha Danisa memang tidak mungkin melakukan perbuatan yang tidak terpuji” Ucap kakek Cakrawangsa dengan tawa khas nya. Beliau berbalik Memuji-muji Danisa. Namun sebenarnya beliau sendiri sudah mengetahui bahwa Danisa tidak bersalah.
“Ayo kita semua ke ruang makan! Gara-gara keributan yang tidak berdasar, acara perjamuan yang aku selenggarakan jadi tersita! Mari Kita jamu bintang kita hari ini!” Lanjut kakek mengajak semua orang menuju ruang makan. Beliau kesal dengan orang-orang yang tadi mengunjungi mereka demi mengatakan sebuah fitnah. Kakek sengaja membiarkan mereka sebab ingin mengetahui sejauh mana pergerakan mereka.
“Hmh, Ranti ada pekerjaan yang tidak bisa Ranti tinggalkan pa, Ranti mau ke kantor sekarang” Ucap Ranti berdalih sambil menge-cek jam tangannya seolah-olah waktunya sangat mendesak. Ia yang telah mengetahui kebenaran yang sebenarnya, tetap saja tidak senang terhadap Danisa. Bagaimana pun gadis tunangan Devan itu hanya lah seorang gadis bisu yang berasal dari kampung dan tidak sebanding dengan mereka.
“Hmh padahal aku berharap kau memiliki waktu luang hari ini. Tapi baiklah. Good luck, Nak!” Sahut kakek Cakrawangsa menatap Ranti sendu. Beliau pun langsung mengarahkan semua orang ke ruang makan.
Mereka mengambil tempat yang telah tersedia. Seperti biasa, Danisa duduk di sebelah Devan. Kakek duduk di kursi utama. Berbagai macam makanan dihidangkan di sini. Kakek memadukan unsur timur tengah dan western pada perjamuan makan siang nya. Nasi Briyani, Kabsah, Mandhi, Lahmacun, Ayam Kari, Ayam Bakar, Pizza, Spagetty, Potato Soup, lasagna dan lainnya memenuhi meja. Mereka makan dengan suasana penuh hikmat setelah lelah mendengar perdebatan dan pembelaan layaknya sebuah permainan drama.
“Danisa, bagaimana cara kamu bisa bersekolah di kampus elit itu?" Raga memulai percakapan menghapus keheningan.
"Masuk ke kampus tersebut terkenal sangat lah sulit. Hanya segelintir orang yang lulus seleksi saja yang bisa masuk ke sana!” Lanjut Raga dengan mata berbinar menatap Danisa yang tengah mengunyah makanannya. Laki-laki ini mengagumi kepiawaian Danisa.
“Tentu saja Danisa bisa dan mampu, kemampuannya sangat bagus. Tapi sayang, orang di sekitar tidak terlalu mempercayainya!” Sahut Edo, anak dari kepala sekolah yang memang sudah mengetahui kemampuan asli Danisa. Kakek mengangguk-anggukkan kepala. Mr. Rudi tanpa sadar melirik ke arah Danisa. Tatapan sang kepala sekolah tersebut tertangkap oleh netra Devan dan menarik perhatiannya. Pemuda ini mengerutkan kening. Ia mulai curiga. Air wajahnya berubah.
“Wah wah! Tidak ku sangka Danisa! Ternyata Kau hebat juga!” Puji Raga dengan senyum mengembang.
“Aku tidak salah menyukai orang yang pintar dan berkelas seperti Danisa kan?” Tanya Edo berceloteh. Celotehan nya ini membuat Devan menatap dengan tatapan tidak suka.
“Heeemm” Kepala sekolah berdehem mengingatkan Edo agar tidak berbicara sesuka hati. Ia harus memikirkan perasaan tunangan asli dari Danisa yaitu Devan yang sedari tadi menatap masam ke arahnya. Mereka semua pun melanjutkan makan.
Seusai makan, mereka berpencar. Kakek Cakrawangsa mengajak Rudi mengobrol ke beranda samping, bersantai sambil menikmati kopi dengan berbagai cemilan. Sambil bernostalgia ke masa lampau mengingat kenangan lama saat masih bersekolah dulu.
__ADS_1
Devan dan Raga asik mengobrol urusan bisnis dan masih enggan beranjak dari kursi makan. Danisa sendiri memilih melesat ke ruang tamu, ia duduk di sana dengan menyilang kan kaki. Tak lupa ia mengecek handphone yang tadi sudah di-silent-kannya. Sudah ada beberapa pesan dan beberapa panggilan tidak terjawab. Danisa melihat ke kanan dan ke kiri. Kosong. Ia pun berlalu keluar mencari tempat yang sepi di halaman belakang. Danisa mulai memanggil ulang orang yang sudah menelponnya.
“Halo Dok, ada orang yang ingin mengundang dokter. Mereka memberikan penawaran untuk membayar 10 kali lipat!” Ucap orang di seberang. Danisa masih melirik ke kanan dan ke kiri. Ia teringat akan pembicaran Devan dan Raga di mobil tadi. Devan berkata bahkan mereka rela membayar dengan nominal 1000 kali lipat.
“Hmh, baiklah! Aku akan menerima tawaran tersebut jika mereka bersedia mengeluarkan uang sebesar 100 kali lipat!” Ucap Danisa tegas.
“Baik Dok! Saya akan menyampaikan kabar baik ini pada mereka. Semoga kerja sama kalian bisa terjalin!” Danisa dan orang yang mengangkat telpon pun mengakhiri pembicaraan.
***
“Okaylah. Nanti aku akan menghubungi pak Danu untuk memberikan proposalnya padamu!” Ucap Devan pada akhirnya. Ia mengakhiri pembicaraan bisnis mereka dengan menenggak habis jus jeruk nya. Raga mengangguk-angguk kan kepala.
“Sesuai titah kakek yang menyuruhku mengantar kannya ke apartemen, Sekarang aku akan membawa Danisa pulang!” Lanjut Devan lagi.
"Kau darimana saja? " Tanya Devan memicing kan matanya. Danisa memberikan isyarat bahwa iya baru dari luar ruangan menghirup udara segar.
***
Danisa masuk ke dalam mobil setelah Devan entah mengapa berbaik hati membuka kan pintu untuknya. Ia membuka handphone dan memakai headset lalu menyetel lagu favorit.
“Dev, Lu ingat ga dengan nenek Rahayu?” Tanya Raga tiba-tiba.
“Tentu saja! Why?”
“Lu ga merasa kalau sifatnya mirip dengan nenek Rahayu?” Tanya Raga menunjuk Danisa. Devan melirik ke arah wanita yang ada di sampingnya yang tengah sibuk mendengar lagu lalu berkata,
__ADS_1
“Mana bisa dibandingkan dengan nenek Rahayu yang merupakan legenda dalam dunia kedokteran!” Sembur Devan.
“Hhhhh, aku suka sedih kalau mengingat nenek Rahayu. Beliau menghilang dari muka publik setelah anak perempuannya dibunuh oleh seseorang dan sampai sekarang belum ditemukan. Padahal kemampuan nenek Rahayu itu hebat banget! Coba kalau beliau tidak menghilang, sudah pasti kemampuan dokter Dan Ara yang diagung-agungkan saat ini itu tidak sebanding dengan beliau!” Cerita Raga mengenang nenek Rahayu.
“Iya, aku setuju. Semoga suatu ketika sang legenda kembali muncul! Aku salah seorang pengagum beliau!” Sahut Devan sambil fokus menyetir.
Dddrrrttt Drrrttttt
Handphone Raga bergetar. Sebuah pesan masuk. Ia langsung membukanya. Wajah Raga berubah sumringah.
“Van, Van, Dokter Dan Ara sudah menyetujui penawaran kita!” Ucap Raga menepuk-nepuk pundak Devan.
“Lu serius?!”
“Serius lah! Ini pihak mereka langsung yang mengkonfirmasi nya ma gua!” Lanjut Raga lagi.
"Yes" Mendengar berita dari Raga, Devan seperti memenangkan sebuah lotre.
***
Hi Teman-Teman, Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih ^^ Jazakumullah Khairal Jaza' ❤
IG @alana.alisha
***
__ADS_1