Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 43: Dia adalah Cakrawangsa


__ADS_3

“Luka itu dibersihkan. Seharusnya kau lebih paham tentang hal ini!” Devan mulai menuangkan cairan alkohol.


Sssssss. Danisa meringis.


“Apa kau tidak bisa melakukannya dengan lebih pelan?!” Sembur Danisa kesakitan.


“Bersabarlah! Huft. Aku jadi penasaran, apa kau memang seorang wanita atau bukan! Kenapa kerjaanmu hanya berkelahi dan berkelahi?!” Tuding Devan mengeluh. Namun dengan telaten ia terus mengobati Danisa.


“Siapa yang berkelahi?! Aku tidak berkelahi!!” Protes Danisa cepat. Kening pemuda yang tengah mengobati lukanya mengerut.


“Kalau bukan berkelahi, lalu ini apa?” Tanya Devan sembari menutup luka Danisa dengan kain kasa lalu ia menarik selimut menutup rapat kembali tubuh gadis tersebut. Tidak bisa dipungkiri, entah mengapa Devan merasakan desiran halus saat mengobati lukanya.


“Aku tidak tau siapa yang melakukan ini”


“Ini kejahatan serius, kau tengah berada dalam bahaya”


“Kelakukanmu yang diam-diam masuk ke dalam kamarku jauh lebih bahaya!” Cebik Danisa. Devan menggaruk tengkuknya.


“Maaf, Aku mengkhawatirkanmu setelah kata-kata tidak menyenangkan dari mama!” Aku Devan.


Seorang Devan meminta maaf? Danisa terenyak.


“Sekarang ayo kita ke rumah sakit!” Devan bangkit. Ia mengambil acak sebuah dress dari dalam lemari.


“Ja.. Jangan yang itu!” Sergah Danisa dengan wajah memerah. Ia memijat pelipisnya. Devan mengeryitkan dahi melihat dress rumahan mini yang ada dalam genggamannya.


“Hmh…” Devan berdehem menghalau rasa canggung.


“Cari sendiri dan cepatlah memakai pakaianmu!”


“Siapa juga yang menyuruhmu? Dev, keluarlah! Aku hanya ingin beristirahat!” Ketus Danisa.


“Aku akan keluar untuk menunggumu berpakaian, karena kita akan tetap ke rumah sakit! Setelah itu kau bisa beristirahat sepuasmu” Devan langsung melesat keluar.


“Tunggu. Satu lagi!” Devan mengurungkan langkahnya.


“Kalau keluar kamar jangan pernah gunakan pakaian yang begitu. Hmh, gunakanlah pakaian yang sopan!” Devan mewanti-wanti.


**Huh.


Ssssss**. Dengan masih meringis, Danisa mengikuti apa yang Devan titahkan.


"Kenapa kau berpura-pura tidak bisa bicara? Sebenarnya apa tujuanmu?" Tanya Devan yang daritadi terus memperhatikan Danisa. Mereka melangkah memasuki lobi rumah sakit. Danisa hanya diam. Sejak keluar dari asrama, ia enggan mengeluarkan sepatah katapun.


Rumah Sakit Ramayana tampak sibuk seperti biasanya. Orang-orang berlalu lalang dengan aktifitas mereka.


“Devan, Danisa? Kalian di sini?!” Suara yang tidak asing terdengar.

__ADS_1


“Papa juga kenapa di sini? Apa terjadi sesuatu?! Dimana Mama? ” Devan mengedarkan wajahnya ke sekelililing.


“Papa menemui Rudi, kami membahas kesediaan dokter hebat Dan Ara untuk melakukan operasi kedua pada mama! Mamamu… Hmh Mama mu tengah bersama Roula. Mama baru selesai melakukan pemeriksaan untuk melihat kapan waktu terbaik pelaksanaan operasi lanjutan”


“Lalu apa beliau bersedia? Bukankah Mr.Charles adalah dokter hebat yang dimaksud?”


“Sayangnya bukan. Dokter hebat adalah seorang wanita! Beliau sangat sibuk dan kami masih menantikan kabar darinya” Mendengar perkataan Manggala, Danisa melihat ke sembarang arah.


“Katakan saja kalau kita akan membayar mahal, Pa!”


“Iya nak, semoga Tuhan kembali menggerakkan hatinya. Kita semua menginginkan yang terbaik. Lalu kalian berdua kenapa di sini?”


“Danisa terluka. Aku ingin dokter di sini yang mengobatinya!”


“Apa?! Danisa terluka?” Manggala tampak khawatir.


Devan, kau berlebihan. Aku baik-baik saja! Sebaiknya kita pulang! Ketik Danisa pada handphone lalu menyodorkannya.


“Mau sampai kapan kau berpura-pura tidak bisa bica…”


Seeet


Uggh. Devan meringis. Danisa menginjak kakinya dengan kuat.


Sekali lagi kau membuka mulut, aku akan membunuhmu! Ketik Danisa melototkan matanya. Devan mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda damai.


“Nak, apa kau baik-baik saja? Katakan pada Daddy apa benar kau sedang terluka?”


“Syukurlah!” Manggala menepuk-nepuk kepala Danisa.


Tap Tap Tap


“Devan!!!” Dari arah berbeda, Roula melambaikan tangannya. Ia berjalan mengiring Ranti di sisi kirinya. Melihat keberadaan Danisa, wajah kusut Ranti terukir jelas di sana. Dengan berjalan tertatih, mereka mendekat.


“Dev, jadi kau di sini bersamanya?! Kau meninggalkan mama dan Roula hanya untuk wanita bisu ini?!” Suara Ranti yang meninggi terdengar memenuhi lobi. Semua mata tertuju pada mereka.


“Sayang, orang-orang melihatmu. Please jangan mencari keributan!” Sergah Manggala membujuk.


“Apa?! Mencari keributan?! Jadi sekarang kau membelanya?!” Ranti menggeleng tidak percaya.


“Ma, Danisa tidak seperti yang mama pikirkan. Dia calon menantu yang baik” Devan tidak tau harus mengatakan apa.


“Hubungan pertunangan kalian sudah berakhir! Mama yang sedang sakit dan terluka tapi kau malah memilih wanita ini! Kau benar-benar telah menghancurkan hati mama!” Lirih Ranti. Air matanya menetes. Keadaan jadi serba salah.


“Mama, please don’t cry, I’m here for you! All will be fine, Okay?” Roula menghapus airmata Ranti. Ia berkata dengan lembut. Hati wanita cantik paruh baya tersebut tersentuh.


“Ah nak,,, Kau memang yang paling pengertian! Kau memang penyejuk hati dan tidak pernah membuat onar! Kau sangat anggun dan memang pantas menjadi menantu mama! Kau dan Devan benar-benar serasi!” Puji Ranti tulus. Diam-diam Roula menyunggingkan senyum nya.

__ADS_1


Danisa melihat perkataan dan perlakuan Ranti pada Roula dengan wajah datar tanpa ekspresi. Namun entah mengapa hatinya terasa kebas. Dengan gerak cepat ia langsung meninggalkan kelompok keluarga Cakrawangsa yang terus menyudutkannya.


“Dan… Danisa! Tunggu!!” Devan berusaha mengejar.


“Dev, mama mu sedang tidak baik-baik saja. Stop menyakitinya!” Cegah Roula tajam. Devan mematung. Ia melirik Ranti yang masih menangis. Pemuda tersebut menjadi tidak tega, ia yang juga sangat menyayangi Ranti langsung membawa sang ibu ke dalam pelukan. Namun matanya tetap menatap punggung Danisa yang terus berjalan cepat. Seketika gadis tersebut menghilang dibalik tembok.


Sreeeeggg. Seseorang menarik lengan Danisa memasuki sebuah ruangan.


“Prof. Daniel?”


"Lihat ini! " Prof. Daniel menunjukkan sebuah video. Seorang wanita keluar dari sebuah mobil yang tadi telah Danisa kempiskan ban nya.


"Mila?! " Danisa tercengang. Professor mengangguk.


"Dia sudah keluar dari penjara!"


"Secepat itu?! "


"Aku lagi memikirkan motif apa yang dia miliki sehingga ingin mencelakaimu! Mungkin karena dendam atau memang ada hubungannya dengan orang-orang yang sudah berlalu lalang di kehidupan mu! " Danisa tampak berfikir.


"Lalu, siapa orang yang berada di balik Jihan, Prof? " Pertanyaan Danisa membuat professor Daniel melihat ke kanan dan ke kiri.


"Dia adalah.... " Prof. Daniel menjeda kalimatnya. Sejenak Ia menarik nafas dalam-dalam.


"Semoga kau tetap baik-baik saja jika mendengar nama yang ku sebut! "


"Orang yang berada dibalik Jihan...."


"Dia adalah... Dia adalah CAKRAWANGSA. Dia tengah mencari waktu yang tepat untuk membunuhmu! " Ucap Prof. Daniel. Detak jantung Danisa nyaris terhenti.


"A... Apa?! Kakek Cakrawangsa?! Ti... tidak mungkin Prof... Ti... Tidak mungkin! Kakek Cakrawangsa adalah orang yang baik!" Danisa menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kenapa tidak mungkin?! Aku punya bukti kalau Cakrawangsa memanglah orangnya. Aku akan menunjukkannya padamu! " Ucap Prof. Daniel yakin. Ia membuka tas mengambil bukti-bukti.


***


"Apa kau mengikuti kemana Danisa pergi?!" Tanya Devan pada asisten yang biasa selalu mengikuti gerak langkah gadis tersebut.


"Nona Danisa masih berada di rumah sakit ini, Tuan! Sejak tadi Ia berada di dalam ruang salah satu dokter! " Sahut sang asisten via handphone.


"Ruangan dokter? Dimana ruangan tersebut berada?" Tanya Devan lebih lanjut. Hatinya tidak tenang. Devan ingin segera bertemu Danisa. Apalagi gadis tersebut tengah terluka.


"Nona Danisa berada di ruangan ke dua di lorong sebelah barat! " Devan langsung menutup panggilan telepon nya. Ia berjalan perlahan. Banyak hal yang belum selesai. Banyak hal yang harus ia tanyakan. Jika sebuah pisau tajam menancap di bajunya, itu artinya ia sedang tidak aman. Bahaya tengah mengincarnya.


Devan tiba di depan ruangan yang di maksud. Ia berhenti dan menunggu di depan ruangan dengan sebelah bahu yang disandarkan. Baru saja ia akan membuka handphone nya. Namun tiba-tiba,


Bruuuukkk

__ADS_1


Seseorang memukulnya dengan sebuah balok. Devan terhuyung. Ia jatuh pingsan. Orang yang memukul nya memanggil kawanan. Mereka menggotong Devan ke dalam mobil.


***


__ADS_2