Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 28: Kakek Rowan Sekarat


__ADS_3

Hhhhh Hhhhh


Hembusan nafas kakek Rowan terdengar tidak stabil. Danisa dengan cepat mengeluarkan stetoskop dan peralatan lain dari dalam ranselnya. Suasana menegang.


“Apa yang kalian lakukan? Cepat tangkap dia!!! Kalau terjadi sesuatu pada kakek, dipastikan kalian yang akan menanggung akibatnya!” Pekik Mira memberi perintah kedua kalinya untuk menangkap Danisa.


“Ba…Baik!” Belum sempat Danisa memeriksa kakek, tangannya sudah di cengkram oleh para pengawal yang berjaga. Gadis yang memiliki ilmu bela diri ini dengan cepat menghempas tangan para pengawal hingga mereka terlibat baku hantam. Namun dikarenakan jumlah para pengawal yang tidak sedikit, Danisa jadi kewalahan.


“Berhentilah Nona! Anda hanya akan mempersulit keadaan diri anda sendiri! Bekerja sama lah agar semua nya menjadi mudah!” Danisa berhenti melawan. Matanya memerah. Rahangnya mengeras. Dengan cepat ia menunjuk ke arah kakek Rowan yang sekarat. Ia juga menunjukkan lisensi kedokteran padanya. Namun pengawal bungkam. Mereka lebih takut akan ancaman yang dilayangkan oleh Mira.


Tak lama kemudian, rombongan polisi tiba.


“Pak, tanggap dia! Wanita ini ingin melakukan percobaan pembunuhan pada kakek Rowan! Padahal sebelumnya kondisi kakek baik-baik saja!” Ucap Mira. Polisi langsung menggiring Danisa ke dalam mobil.


Oh Tuhan… Bagaimana ini? Kakek, ku mohon bertahanlah. Lirih hati Danisa berharap.


Bagaimanapun kakek harus segera di selamatkan. Jika dibiarkan begitu saja, kakek Rowan bisa mati konyol! Danisa mengusap air matanya. Ia berpikir keras.


“Kau cari mati nona kecil! Tuan Rowan itu bukanlah orang sembarangan! Nyali mu besar juga!” Ucap salah satu anggota kepolisian saat mereka sudah berada di dalam mobil polisi.


Pak, kakek Rowan sekarat. Saya mohon kirimkan dokter untuk menyelamatnya! Ketik Danisa pada handphone-nya.


“Hahaha, tau apa kau? Tuan Rowan sudah di jaga ketat dan beliau memiliki dokternya sendiri!” Sergah polisi.


Mendapat respon negatif, Danisa dengan cepat menghubungi Mrs. Smith meminta pertolongan.


Guru, kumohon tolong lah kakek Rowan. Beliau tengah sekarat di gedung xyz blok 5 no. 39. Aku diringkus polisi dan tidak bisa berbuat apa-apa.


“Kemarikan handphone-mu!” Senggak seorang polisi mengulurkan tangan.


Handphone adalah satu-satunya alat untuk saya berkomunikasi! Bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan kalian semua jika tidak memiliki handphone? Ketik Danisa.


“Dia bisu ya?” Para anggota kepolisian saling melirik satu sama lain. Pada akhirnya mereka membiarkan Danisa memakai handphonenya.


***


“Jadi bagaimana keadaan kakekmu sekarang?” Tanya Jihan prihatin. Ia bersama Devan dan Raga masih berada di dalam ruangan yang sama. Ruangan kantor.


“Sudah ada dokter yang menangani. Aku mempercayakan semua padanya!” Sahut Raga malas.


“Jihan, jangan mengalihkan pembicaraan! Katakan yang sebenarnya bagaimana kronologi kejadian di TKP saat mami terjatuh dari lantai 3!” Devan mencengkram lengan Jihan. Jengah.


“Aww.. Dev, sakit!!” Pekik Jihan.

__ADS_1


“Kau terlalu berbelit-belit dan membuang waktuku!” Sambar Devan.


Drrrrtttt Drrttttt


Handphone Raga berbunyi. Semua atensi teralih seketika. Devan merenggangkan cengkraman tangannya.


“Halo Ma!” Sapa Raga.


“Hiks hiks. Nak, cepat kamu ke tempat kakek! Sakit kakek mu bertambah parah. Kakek mu sekarat! Aaaa aaaaa” Rania, Ibu Raga terdengar menangis pilu. Suaranya terdengar panik.


“Apa ma?? Kakek sekarat?!” Raga menggeleng tak percaya.


“Iya nak! Mira, sahabat mama mengatakan Danisa mencoba mencelakakan Kakekmu! Hiks hiks hiks. Cepatlah kamu ke sini!" Rania memutuskan telepon sepihak. Terdengar kegaduhan di sana.


Danisa? Raga mengerutkan keningnya.


“Ku bilang juga apa? Andai aku yang menangani kakek Rowan, pasti semua ini tidak akan terjadi!” Celoteh Jihan percaya diri. Diam-diam ia tersenyum misterius.


“Dev, aku temui kakek dulu!” Ucap Raga melesat. Ia dengan cepat mengambil gawai menelpon Dokter Dan Ara.


“Aku ikut!” Devan langsung mengambil jas yang bertengger di kursi dan memakainya mengikuti gerak langkah Raga meninggalkan Jihan seorang diri.


“Hey kalian… Tunggu! Aku juga ikut!!!” Pekik Jihan bersusah payah mengejar. Ia terpaksa melepas high heels nya mengimbangi langkah Devan dan Raga. Para staff dan karyawan berbisik-bisik melihat perilaku Jihan.


***


Sreeg


Bruuk


Danisa di hempaskan ke dalam sel tahanan dengan kasar oleh anggota yang menjaga lapas.


Shiit. Umpat Danisa kesal. Ia menjentik-jentikan jari-jemarinya ke lantai. Cemas. Gadis ini tidak tenang memikirkan nasib kakek Rowan.


Guru, ku mohon balas-lah pesannya. Gumam Danisa. Ia mencoba melakukan panggilan pada Mrs. Smith. Hanya memanggil, sebab Danisa tidak ingin mencari masalah dan terlihat mencolok. Bisa-bisa handphone-nya di sita.


Oiya... Mr. Charles. Benar, aku harus menghubungi Mr. Charles untuk membebaskanku. Danisa dengan cepat mengirim pesan pada Mr. Charles.


Tap Tap Tap


Terdengar suara langkah kaki.


“Dimana orang yang mau membunuh papaku?” Rania datang tergopoh-gopoh bersama Raga. Devan diberi mandat untuk menjaga kakek karena Raga mengejar Rania yang akan melabrak Danisa.

__ADS_1


“Ma, sabar ma!” Raga mengelus pundak ibunya.


“Sabar bagaimana nak? Kakek mu jadi sekarat karena dia! Apa kita hanya bisa diam dan bersantai?! Dimana akal sehat dan nuranimu?!” Sembur Rania berang. Raga memijat pelipisnya.


Di satu sisi Raga tidak percaya Danisa bisa melakukan perbuatan kotor tersebut. Namun di sisi lain, semua bukti mengarah padanya.


“Kenapa kau melakukan perbuatan keji itu? Apa kesalahan papa padamu? Jawab!!!” Rania murka. Danisa hanya diam melihat kemarahan Rania. Di jelaskan juga percuma. Ia hanya berdoa memikirkan keselamatan kakek Rowan.


Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphone-nya.


Danisa, tidak ada akses menemui kakek Rowan. Aku masih berusaha keras! Pesan dari Mrs. Smith menyisakan kekecewaan di hati Danisa.


“Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu!” Rania masih terus saja menangis. Raga mencoba memeluk ibunya menenangkan.


Seseorang dari arah berbeda datang menghampiri.


“Hmh…. Maaf, kenapa ada keributan di sini? Perkenalkan. Saya Charles pengacara dari Danisa Maria Anna!” Mr. Charles memperkenalkan diri.


I.. Ini kan pengacara hebat yang dikagumi seantereo negeri? Raga mengerutkan kening. Ia menatap Mr. Charles dan di saat bersamaan juga melirik Danisa yang tampak tenang.


“Aku tidak peduli anda siapa! Tapi keadilan harus di tegakkan. Dia ingin membunuh papa saya! Apa orang sepertinya pantas dibela?” Ucap Rania tajam.


“Saya akan membuktikan Klien saya tidak bersalah, Nyonya!” Sahut Mr. Charles.


“Bukti kuat mengatakan DIA BERSALAH!” Rania bersikeras.


Handphone Raga tiba-tiba berdering. Ternyata Devan menelponnya.


“Kakek masih bertahan. Hanya saja kondisi nya semakin menurun! Kita harus segera melakukan operasi!” Raga mengeraskan speakernya hingga terdengar oleh semua orang yang berada dalam ruangan. Hati Danisa mencelos. Ia benar-benar sedih.


“Apa kau sudah menghubungi dokter Dan Ara?” Lanjut Devan lagi.


“Aku sudah menghubungi dokter hebat berkali-kali tapi nomornya tidak bisa dihubungi!” Lirih Raga. Lututnya terasa lemas.


Bagaimana kalian bisa menyuruh dokter Dan Ara melakukan operasi jika kalian sendiri yang memasukkannya ke penjara. Huh. Gumam hati Charles. Ia menggelengkan kepala.


“Kita tidak memiliki banyak waktu! Izinkan aku saja yang mengoperasi kakek Rowan! Kalian semua juga sudah mendengar prestasiku di dunia medis!” Jihan masih mencoba mengajukan diri.


“Cepat lakukan sesuatu nak! Hiks hiks hiks! " Titah Rania. Raga berpikir cepat. Ia mengacak kasar rambutnya.


“Dev, lakukan yang terbaik untuk kakek. Jika memang takdir mengharuskan Jihan yang mengoperasi beliau, aku hanya bisa pasrah!” Ucap Raga lemas.


Danisa menitikkan airmatanya. Mana mungkin Jihan bisa melakukan operasi dadakan ini? Penyakit kakek tidak sesuai dengan bidang keahlian Jihan. Lirih Danisa sedih. Gadis ini berpikir keras.

__ADS_1


Danisa harus melakukan sesuatu!


***


__ADS_2