
Buuuurrrr~
Di luar expektasi Mr. X dan orang-orang di atas tebing, Danisa memilih terjun bebas ke dalam danau setelah betisnya tertembak.
"Bagaimana ini tuan? "
"Turun ke bawah!! Kalian harus memastikan gadis itu sudah mati atau tangkap dia hidup-hidup!!" Teriak Mr. X berang.
"Ba... Baik Tuan!! " Sahut para pengawal. Dengan gerak cepat mereka mulai memasang strategi untuk turun ke dasar jurang.
"Sayang, kenapa bisa begini?! Persis Daisy, dia benar-benar pemberani!!" Keluh Mira tiba-tiba muncul dari dalam gedung.
"Jangan sebut nama-nama mereka! " Bentak Mr. X. Raut wajah Mira berubah.
"Ma... Ma'af, aku lepas kendali karena rencana ku kacau berantakan! " Ralat Mr. X merangkul Mira.
"Aku rasa, Danisa tidak akan selamat! Mana mungkin dia bisa berenang kalau cedera. Kau sudah menembak kakinya kan?! " Tanya Mira memastikan. Mr. X mengangguk. Bagaimanapun ia khawatir sebab sedikit banyak identitasnya sudah diketahui oleh gadis tersebut.
"Tapi kau harus menangkapnya sayang! Kau harus memastikan bahwa dia benar-benar sudah mati! Keselamatan kita terancam jika ternyata dia masih hidup dan kabur! " Ucap Mira mulai panik.
"Ino, berapa kedalaman danau ini?! " Tanya Mr. X.
"Titik terdalamnya 20 meter, Tuan! Di pinggiran mungkin hanya 2 , 3 atau 4 meter saja" Sahut Ino. Mr. X mulai melangkah ke puncak tebing. Ia ingin melihat langsung bagaimana kondisi di bawah dari atas sana. Namun belum sampai Mr. X ke lokasi tujuan, matanya menangkap sosok Gun yang menunduk di pojokan pintu gedung. Mr. X memicingkan mata.
"Hey Kaliaaaan..!!" Teriak Mr. X dengan gagahnya.
"Siksa dia sampai mati!!! Jangan biarkan lolos!!! Dia pengkhianat busuk!!!" Titah Mr. X pada sisa pengawal yang masih berjaga di sekitarnya. Bak panglima perang dari negeri tersohor, Mr. X mengkomandokannya dengan baik. Wajah Gun berubah pucat. Ia hendak lari namun Mr. X lebih dulu menembak kedua kakinya.
Doooor
Doooor
Bunyi tembakan kembali terdengar nyaring.
Aaaargh
Gun melolong kesakitan. Mereka dengan cepat menyergap dan hendak memasukkan nya ke dalam gedung. Gun tidak bisa berdiri tegak.
"Tuan, ampun... ampunkan saya tuan... saya punya putri yang sedang sakit di rumah! Dia sudah tidak memiliki ibu... Hanya saya sajalah harta satu satunya yang dia punya!" Rintih Gun memohon.
"Pengkhianatan bede*baah seperti mu harus di lenyapkan untuk menjadi contoh bagi yang lain kalau Mr. X tidak pernah main-main! "
"Tuan... Tolong tuan.. saya akan tutup mulut.. saya mohon... Lepaskan saya" Gun terus memohon. Namun para algojo tidak menghiraukannya. Mereka tetap patuh pada perintah Mr. X.
"Tuan, sebentar... Baiklah..." Gun tampak pasrah.
"Lakukan saja apa yang tuan inginkan... Tapi saya mohon, masukkan putri kecil saya ke panti asuhan... Agar kelak ada yang mengurusnya. Katakan padanya berjuang untuk terus hidup... Apapun kondisinya, Saya selalu bangga padanya... Saya mohon...! " Pinta Gun untuk terakhir kalinya. Ia menangis dengan sesegukan.
"Berisik!!! "
__ADS_1
Doooorrr
Doooorrr
Di luar dugaan, Mr. X menembak Gun di keduamatanya dengan tepat sasaran. Laki-laki yang terpaksa melakukan kejahatan demi pengobatan sang anak tersebut tewas seketika. Ia ambruk tanpa persiapan apapun membuat para algojo terutama Ino bergidik ngeri.
Sepasang mata yang sedari tadi memantau mengamati pergerakan Mr. X dari kejauhan mengepalkan tangan. Airmatanya jatuh bercucuran.
...****************...
Hhh Hhh Hhh
"Alhamdulillah, pasien telah melalui masa kritisnya, Prof! " Ucap dokter ahli penuh haru. Setelah melewati waktu selama lebih kurang 6 jam, akhirnya mereka berhasil menaklukkan kamar operasi. Pemuda berkarakter tersebut tersenyum sambil mengusap peluh yang memenuhi pelipisnya.
"Urus sisanya! Aku keluar lebih dulu" Titah Prof. Daniel seraya mensterilkan tangannya. Ia melepaskan pakaian profesi dan menyemprotkan hand sanitizer.
"Prof... " Panggil dokter ahli lagi ketika pemuda tersebut hendak keluar ruangan. Langkahnya pun terhenti.
"Jangan lupa istirahat! " Prof. Daniel terpaku lalu sesaat kemudian mengangguk. Ia keluar dari pintu belakang guna menghindari anggota keluarga Devan. Di depan pintu Roula sudah berdiri mensedekapkan tangan ke pinggang. Raut wajah khawatir menghias di sana.
"Devan baik-baik saja! " Lirih Prof. Daniel tanpa dipinta. Senyum Roula mengembang. Prof. Daniel lanjut melangkah setelah menyelesaikan kalimat nya.
Sreg
Roula mencengkram pergelangan tangan Prof. Daniel.
"Jangan sentuh aku! " Pemuda tersebut menepis tangan yang bertengger di sana.
"Aku sangat bersyukur bahwa Devan baik-baik saja, lalu bagaimana dengan mu? "
"Aku? Aku juga baik-baik saja! " Roula mengikuti langkah kaki Prof. Daniel dan berusaha mengimbangi nya.
"Tidak mungkin! Kau mau kemana? Ayo kita periksa kesehatan mu! " Prof. Daniel tidak mengubrisnya, ia terus berjalan dengan membuka cepat jas dan menyerahkan pada asisten nya.
"Dan... Daniel... "
"Aku tidak punya waktu meladenimu! "
"O... Okay... Tapi kau mau kemana?! " Roula masih terus berusaha.
"Aku harus mencari Danisa! "
"Aku sudah mengerahkan banyak orang untuk mencarinya. Kau pun begitu. Lagipula Raga pasti tidak tinggal diam. Begitupun yang lainnya. Jadi sekarang istirahat lah! Kau tampak sangat pucat! "
"Aku tidak butuh perhatianmu! Aku tau jalanku sendiri! " Tukas Daniel menyeka keringat yang mengalir semakin deras. Roula memejamkan matanya menghadapi betapa keras kepala laki-laki yang terus ia coba untuk seimbangkan langkah kakinya tersebut.
Tap Tap Tap
Rombongan keluarga Devan datang mendekat dari arah berlawanan.
__ADS_1
Plaakkk
Sebuah tamparan yang begitu keras mendarat di wajah Prof. Daniel secara tiba-tiba. Kondisi yang sedang tidak stabil menyebabkan pemuda tersebut terhuyung hingga harus berpegangan ke tembok.
"Ranti, stop!! " Sergah Manggala. Roula memijat pelipisnya.
"Kau, kau orang-nya gadis iblis itu kan? Aku tidak sudi kau menyentuh putraku walau dengan embel-embel menyelamatkan!! Aku tidak tau niat terselubung apa yang ada di hatimu!" Tuding Ranti menunjuk dengan menggunakan tangan kiri berapi-api. Geram. Ia pun langsung menarik kerah baju Prof. Daniel dengan brutal.
"Kalau putra ku kenapa-napa, aku tidak akan pernah memaafkan mu!! Devan lebih baik ditangani oleh tenaga profesional seperti dokter hebat dari pada dokter sampah yang sejenis dengan Danisa seperti mu!! Gadis busuk itu yang menyebabkan Devan mengalami penderitaan panjang seperti ini!! Kau jangan menambah bebannya!!" Cerca Ranti bertubi-tubi. Ia benar-benar marah.
"Stop Ranti, bagaimanapun dia yang sudah menyelamatkan Devan! "
"Rumah sakit ini punya banyak sekali dokter ahli, Devan tidak membutuhkan nya! " Sahut Ranti angkuh. Ia yang sudah terlanjur tidak menyukai Danisa, kontan tidak menyukai orang-orang terdekat gadis tersebut. Apalagi Mila mengatakan bahwa Danisa-lah penyebab Devan terus menerus celaka. Image prof. Daniel di matanya pun sontak berubah.
Roula hendak membantu Daniel berdiri tegak, namun laki-laki tersebut telah lebih dulu melakukan nya sendiri dan melangkah tanpa mempedulikan Ranti. Sebelum pergi, ia melayangkan tatapan menghunus hingga membuat wanita paruh baya tersebut bertambah kesal.
...****************...
Tit Tit Tit
Suara gelombang monitor terdengar stabil. Namun kondisi Devan sangat lemah. Ia masih koma. Devan masih belum juga siuman. Ranti, Roula, Cakrawangsa, juga lainnya telah berkumpul di ruangan. Dokter ahli bolak balik mengecek kondisi kesehatan Devan. Mereka terus memantau pasien VIP yang sudah berulang kali keluar masuk rumah sakit tersebut.
"Dok, bagaimana putra saya? Kenapa kau jadi begini nak? Hiks Hiks Hiks" Ranti sangat terpukul melihat kondisi Devan.
"Semoga ada keajaiban, Nyonya! "
"A... Apa maksud dokter??! "
"Kita harus mempersiapkan segala kemungkinan terburuk! " Ranti menggeleng tak percaya. Ia menutup mulut nya menahan tangis.
"Pa, Manggala... dokter berbohong kan? Dokter bohong kan?? Devan baik-baik saja kan??!" Ranti beralih menggoyang-goyangkan kerah kemeja Manggala. Dokter ahli hanya menatap mereka sendu.
"Manggala, kenapa diam saja?! Kau tidak sayang pada putramu satu-satunya?!!! Aaaa aaaa" Ranti berteriak histeris.
"Devan baik-baik saja... Devan akan baik-baik saja, sayang!" Sahut Manggala. Ranti bertambah histeris. Ia yang tidak bisa menahan gejolak tubuh dan kesehatan mentalnya langsung pingsan seketika.
Mereka yang semua panik membawa Ranti ke ruangan lain. Cakrawangsa menitip Devan sebentar pada Roula. Gadis tersebut mengangguk sedih. Perlahan Ia mendekat dan duduk di samping pemuda yang terbaring tak berdaya tersebut. Hidungnya memerah karena tangis yang tidak ada hentinya.
"Dev... kenapa jadi begini? Hiks Hiks Hiks" Airmata Roula jatuh bercucuran.
"Bangunlah... Ketampananmu hilang ketika kau pucat begini...." Lirih Roula tersenyum dengan menangis. Ia menatap Devan lekat-lekat. Ia tidak bisa menahan air matanya yang terus saja mengalir. Devan tampak kurus. Roula meletakkan tangan pemuda itu di pipinya.
"Kau tau... Aku selalu baik-baik saja tak peduli apa... Tak peduli seberapa banyak kau menolakku... Aku akan selalu baik-baik saja! Tetap baik-baik saja... Tapi jika kau tak berdaya begini... Bagaimana bisa aku baik-baik saja? Aku hancur, Dev... Maka ku mohon bangunlah... Hiks hiks" Roula sesegukan.
"Dev, baiklah... Aku berjanji tidak akan pernah menuntutmu tentang apapun lagi... Aku berjanji akan menjauhimu dan berjanji akan mendukungmu bersama Danisa atau siapapun itu... Asal kau mau bangun dan sehat seperti sedia kala... Itu sudah lebih cukup untukku. Inilah bentuk keikhlasan tertinggiku dalam cinta"
***
Guysss, jangan lupa like, komen, vote n gift nya biar Alana semangat upnya... jazakumullah khairal jaza' 💙💙💙
__ADS_1
IG: @alana.alisha