
Kriing Kriiing
Handphone Danisa berdering bersamaan dengan panggilan yang Raga lakukan. Raga menelpon Dokter Dan Ara berulang-ulang namun tidak ada yang menyahut. Wajar saja, sebab Dokter yang dimaksud tengah bersama mereka dalam satu ruangan.
Devan mengerutkan kening. Heran. Ia merasa penasaran mengapa Danisa tidak juga mengangkat teleponnya. Gadis tersebut terlihat tidak berniat untuk mengangkatnya. Devan perlahan berjalan ke arah Danisa.
“Mengapa tidak kau angkat telepon nya?!” Pertanyaan Devan sukses membuat Danisa kaget.
“Mengapa tidak kau angkat?” Devan mengulang pertanyaan dengan mengangkat sebelah alisnya ke atas. Beruntung, di saat bersamaan tiba-tiba Mr. Charles menelponnya.
“Danisa, aku sedang bertanya padamu!” Hardik Devan jengah. Ekor matanya mengintip ke arah handphone Danisa. Gadis ini buru-buru menunjukkan layar pada handphone yang berbeda.
No Name? Devan mengerutkan keningnya. Danisa mulai mengetikkan sesuatu.
Untuk apa aku mengangkatnya? Toh juga tidak berguna! Danisa ingin mengatakan bahwa ia juga tidak bisa berbicara, mengangkut telepon pun akan sia-sia.
Benar juga. Devan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tiba-tiba tangan Ranti tampak bergerak. Ia terjaga dari tidurnya.
“Bagaimana keadaan Mami?” Devan mengecup puncak kepala Ranti setelah melesat menghampirinya.
“Mami tidak akan pernah memaafkan Danisa!” Air mengalir dari sudut mata Ranti.
“Danisa tidak bersalah, Mi! Yang bersalah itu Jihan, bukan Danisa!” Ranti menggeleng.
“Danisa yang mencelakakan Mami, Dev! Jihan yang ingin menyelamatkan Mami” Danisa yang awalnya ingin menyapa Ranti jadi mengurungkan niatnya.
“Mi, lebih baik Mami istirahat daripada memikirkan ini semua! Mami harus fokus ke penyembuhan Mami dulu, Hm?” Devan mengelus kepala Ranti penuh kasih sayang.
Danisa berjalan mundur, kehadiran nya bukan hal yang tepat saat ini. Sadar diri, Danisa memilih menepi lalu perlahan keluar ruangan.
Dok, Ada apa menelponku? Tanya Danisa mengirimkan pesan pada Mr. Charles.
Jihan dan Mila baru masuk penjara, kan?
Iya, mereka terlibat kasus pembunuhan berencana pada tante Ranti. Balas Danisa.
Sayangnya mereka sebentar lagi bisa bebas, Danisa! Pesan dari Mr. Charles sangat mengejutkan.
Apa Dok? Are You sure?!
Mereka punya power! Apa aku harus membereskan mereka? Bagaimana pendapatmu? Aku bisa saja mengurus mereka tanpa harus merepotkanmu! Ketik Mr. Charles.
Abaikan saja Dok! Mengurusi Jihan dan Mila hanya membuang-buang waktu! Aku tau banyak hal lain yang harus Doktor lakukan dari sekedar mengurusi mereka. Terima kasih banyak telah memberitahukanku, mungkin kalau ada hal yang mendesak aku akan kembali merepotkan doctor Charles. Balas Danisa kepada pengacara kondang tersebut.
Setelah berbincang melalui telepon dengan doktor Charles, gadis ini memilih untuk kembali ke perpustakaan dan mempelajari bahan-bahan materi kedokteran untuk memperdalam ilmu. Berada di rumah sakit membersamai calon mertuanya juga percuma. Danisa khawatir kesehatan Ranti malah memburuk karena ternyata beliau masih salah paham.
Devan yang masih berada di kamar rawat inap mengedarkan pandangannya menyusuri ruangan.
__ADS_1
Dimana Danisa? Pikirnya.
***
Danisa turun menggunakan lift. Ia melangkah dengan cepat. Waktu sangat berharga baginya. Berkali-kali ia melirik ke arah jam tangannya.
“Danisa!” Panggil seseorang. Danisa menoleh.
“Guru?” Ternyata Mrs. Smith sudah menunggunya di lobi.
“Ini untuk mu!” Mrs. Smith menyodorkan sesuatu.
“I-Pad?” Danisa melirik ke kanan dan ke kiri khawatir ada yang memergoki mereka.
“Ya, Benda ini berisi berbagai macam materi video pembedahan juga kondisi terakhir kakek nya Raga yang sebentar lagi akan kamu operasi!” Terang Mrs. Smith. Danisa melihat sekilas isinya, terutama video kondisi terakhir kakek Rowan lalu wajahnya berubah sumringah.
“Guru selalu membantuku!” Ucap Danisa penuh haru.
“Sudah menjadi kewajibanku, Danisa!” Danisa membalas dengan senyuman.
“Sejak kapan Guru di sini?”
“Baru saja, aku ingin menemui Rudi. Ada hal yang ingin aku bicarakan!” Danisa mengangguk-angguk.
Tiba-tiba hal yang tidak di sangka-sangka terjadi. Dari arah depan seorang wanita berteriak lantang. Suaranya terasa memenuhi ruangan.
“Danisa!” Panggilnya dengan teriak-kan.
Ck. Kenapa wanita culas ini harus muncul di sini? Gumam Danisa malas. Ia mensedekapkan tangan melihat Mira berkoar-koar seorang diri menyudutkan dirinya. Kini tatapan liar semua orang yang berada di lobi melihat ke arah Danisa.
“Danisa, aku masih mampu membiayaimu, Nak! Kau tidak harus merendahkan harga dirimu! Kembali-lah padaku, pada ibu tiri ini!” Mira masih bersuara. Ia menarik simpati orang-orang yang berada di dekatnya.
“Aku tau kau gadis desa! Kau gadis bisu! Tapi tidak seharusnya kau memilih jalan pintas dengan mempermalukan keluarga! Kenapa kau harus menjual diri?!” Kini orang-orang berbisik membicarakan Danisa. Melihatnya dengan tatapan merendahkan. Gadis tersebut masih diam menahan diri.
"Kau menjual diri dengan tujuan untuk hidup mewah... Mengapa kau melakukannya, Danisa?" Mira masih histeris. Orang-orang menggeleng tak percaya.
“Siapa yang anda maksud menjual diri, Nyonya?!” Seseorang dengan setelan jas dari arah berbeda datang bertanya pada Mira dengan mengerutkan keningnya.
“Dia. Anak tiriku Danisa yang menjual diri demi gaya hidup mewah!” Sahut Mira menunjuk ke arah Danisa. Devan memijat pelipisnya.
“Apa anda yakin?” Devan jengah. Baru saja masalah Jihan dan Mila yang menuduh Danisa selesai, kini datang masalah baru. Kasus yang sama. Sama-sama menuduh Danisa, Tunangannya.
“Bagaimana aku tidak yakin? Danisa itu anak tiriku! Kau siapa anak muda?” Tanya Mira lantang. Wajahnya berubah menampilkan wajah yang sangat menyedihkan.
“Apa nyonya tau siapa Cakrawangsa?” Devan balik bertanya. Ia menatap Mira tajam.
“Cakrawangsa? Siapa yang tidak kenal Cakrawangsa? Pengusaha nomor satu saat ini!” Sahut Mira lagi.
“Good! Danisa yang anda tuduhkan itu adalah.... kerabat dari Cakrawangsa. Dan Aku adalah.... Devan Ahmad Cakrawangsa. Cucu tunggal dari kakek Cakrawangsa. Lebih tepatnya, Aku adalah tunangan dari Danisa Maria Anna! " Terang Devan menaikkan dagunya ke atas. Mira terenyak.
__ADS_1
"Jadi tidak mungkin Danisa melakukan hal kotor tersebut! Anda bisa saya jebloskan ke penjara karena pencemaran nama baik!” Ucap Devan menohok. Mira gelagapan.
“A… Aku… Permisi!” Mira langsung kabur dengan tergesa-gesa menahan malu akibat perkataan Devan. Wanita itu mengepalkan tangan gagal melancarkan misinya
“Saudara saudara sekalian, lebih baik kalian bubar! Ini hanya kesalah-pahaman belaka!” Ucap Devan merentangkan sebelah tangan menunjukkan sikap sopan. Ia membubarkan orang-orang yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
Dengan penuh kekaguman, orang-orang yang hadir membubarkan barisan mereka.
“Terima kasih!” Ketik Danisa cepat pada handphone-nya.
“Maaf, aku lupa mengajak mu menemui mami. Tadi aku sangat excited karena mami baru bangun!” Lirih Devan. Danisa mengangguk.
"Tadi itu siapa? Apa benar ia Ibu tiri-mu?" Tanya Devan penasaran. Danisa enggan menjawab.
“Danisa, kalau begitu aku permisi dulu!” Mrs. Smith pamit pada Danisa dan memberikan senyum ramahnya pada Devan.
“Bukankah itu guru besar ahli beda di kampus Ramayana ya?” Perhatian Devan teralihkan.
Iya, beliau Guruku. Ketik Danisa.
“Jadi kamu memang bersekolah di kedokteran?”
Begitulah. Kalau begitu aku pamit dulu. Aku mau ke perpustakaan. Ketik Danisa pamit.
“Biar aku yang mengantarmu!”
No. Tidak usah. Tante Ranti membutuhkanmu! Nanti aku akan kembali setelah urusan tugas-tugasku selesai. Danisa langsung melangkah ke arah luar.
“Danisa!” Panggil Devan. Gadis tersebut menoleh.
“Kamu... Hati-hati!” Danisa mengangguk dan memberikan senyumnya. Manis sekali.
***
Tap Tap Tap
Sarah, sekretaris Devan memasuki ruangannya. Ia mengambil handphone dan menghubungi seseorang dengan mengirimkan sebuah pesan singkat.
Nona Danisa, Aku Sarah. Sekretarisnya Mr. Devan. Beliau membutuhkan dokumen yang tertinggal di atas meja tamu yang ada di apartemen. Mr. Devan menyuruh nona-nya membawanya ke kantor sekarang juga! Sarah mengirimkan pesan pada Danisa. Ia tersenyum misterius.
Danisa yang sudah berada di perpustakaan dan sibuk membaca buku penting merasa terganggu.
Oh Tuhan, masa aku harus pulang ke apartemen lalu datang ke kantor Devan sih? Gerutu Danisa.
Nona Sarah, apa tidak bisa besok saja? Ketik Danisa sedikit kesal.
Mr. Devan membutuhkannya sekarang Nona! Balas Sarah.
Baiklah. Suruh Devan menunggu! Danisa mendengus kesal. Namun ia tetap mengikuti apa yang Devan titahkan. Danisa pun secepat kilat membereskan bacaannya, menutup buku dan memanggil taksi untuk pulang ke apartemen.
__ADS_1
***