Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA

Penyamaran Dokter Ahli Bedah: DANISA
Bab 66: Terjun Bebas


__ADS_3

Ciiit


Mobil yang membawa Danisa menge-rem mendadak. Sedikit tersentak, namun Danisa berusaha untuk tidak bergerak dan berakting pingsan sebaik mungkin guna mengelabui para penculik.


“Kita gotong dia ke gedung itu!” Ajak supir berwajah suram.


“Okay!”


Tap Tap Tap


Mereka menggotong Danisa dengan cekatan.


Driit


Bunyi karatan pintu yang menggema di gedung usang mengganggu pendengaran berikut aroma karbol yang menyengat. Tenggorokan Danisa terasa kering, ia sedari tadi menahan dirinya untuk tidak terbatuk.


Perlahan para penculik meletakkan Danisa ke atas kasur. Salah satu dari mereka menyalakan mancis untuk menghidupkan ujung rokok. Asap yang mengepul-ngepul semakin memperburuk penciuman.


“Nok, Aku khawatir jika tiba-tiba ia bangun! Efek dari obat biusnya tinggal setengah jam lagi!”


“Ck. Kalau dia bangun, kita tinggal membuatnya kembali pingsan. Kalau perlu, kita ti*duri terlebih dahulu sebelum menyerahkannya pada tuan besar! Apa susahnya menghadapi seorang wanita?! Kau terlalu overthinking, Gun!” Sahut Ino, penculik yang tadi mengendarai mobil. Gun mengangguk-angguk. Danisa bergidik ngeri. Kuduknya meremang. Ia merinding.


Danisa membuka sedikit matanya memantau situasi. Bagaimanapun ia sempat menghirup sedikit obat bius, hanya sedikit. Sangat sedikit. Namun efeknya berhasil membuat kepala terasa berat. Danisa memaksakan diri memutar bola matanya 180 derajat. Terlihat Gun masih menghisap cerutunya. Ino berjalan mendekat menenteng seutas tali. Terkejut, Danisa kembali menutup matanya erat-erat.


Apa aku kabur sekarang saja? Tapi.. Apa aku mampu membereskan mereka? Pikir Danisa dilemma. Kepalanya terasa semakin berat. Tenggorokannya kian mengering.


Deg.


Ino memegang kaki Danisa. Ia hendak mengikatkan tali yang ada dalam gengamannya di sana.


Oh Tuhan… Bagaimana ini? Kepalaku pusing sekali. Aku tidak yakin bisa kabur dari mereka!


Driiiit


Suara pintu terbuka kembali terdengar.


Tap Tap Tap


Bunyi tapak-tapak kaki bersahut sambut memasuki ruangan. Ino mengurungkan niat mengikat kaki Danisa.


“Tuan X?” Gun bangkit dari duduknya dengan menundukkan kepala tanda hormat. Mr. X tidak menghiraukan mereka. Di dampingi oleh beberapa pengawal, Ia terus berjalan mendekati Danisa.


“Jadi benar dia cucu Paula?” Mr. X menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.


“Pa… Paula siapa, Tuan?” Tanya Ino memberanikan diri bertanya. Mr. X memandang Danisa lekat-lekat.


Fe… Felix? A.. Aku melihat Felix di wajahnya! Dada Mr. X bergemuruh.


“Kalian, ambil pisau dan sayat-sayat kulitnya! Mulai dari kaki, tangan, juga wajah! Kalau perlu potong jari-jari tangannya! Cepat!!” Titah Mr. X menahan getar. Tremor. Peristiwa ketika ia dan putranya kehilangan mata beberapa tahun silam kembali terngiang. Wajah polos Felix yang ternyata berhati iblis terus membayang.


“Tu… Tuan… Kenapa tidak kita bunuh saja dia?” Tanya Gun merinding. Tidak pernah ada dalam pikirannya untuk memutilasi korban betapa-pun ia memerlukan uang dan rakus harta.


“Berisik! Aku ingin membunuhnya secara perlahan!” Ucap Mr. X.


Huk Huk Huk.


Tak tahan, akhirnya Danisa terbatuk. Ia sontak bangkit dari pembaringan. Mr. X menatap tajam pada Gun dan Ino. Para pengawal Mr. X dengan cepat langsung mencengkram lengan Danisa. Gadis tersebut meronta-ronta.


“Ikat tangan dan kakinya!” Titah Mr. X. Danisa ditarik ke sudut. Ia diikat ke tiang besi yang ada di sana.


Tap Tap Tap


Danisa bisa melihat seorang wanita berusia 40 tahun-an yang dikenalnya dengan baik memasuki ruangan. Tampilannya jauh lebih cantik dan segar dari biasanya. Polesan basah berkilat lipstick merona lavender menghias di sana. Ia mendekati Mr. X, mereka saling berc*uman kilat.

__ADS_1


Mi..ra? Danisa melihat sinis ke arah orang yang pernah mengaku sebagai ibu tirinya.


“Kerjamu sangat bagus, sayang! Informasi yang kau berikan sangat berguna! Tidak sia-sia kita menjadi pasangan solid seperti ini!” Ucap Mr. X mengelus pipi Mira mesra. Danisa memalingkan wajahnya merasa mual dengan apa yang mereka lakukan.


“Ketika dia lenyap, apa dendammu sudah selesai, hm?” Tanya Mira mengalungkan lengannya ke pundak Mr. X.


“Tentu, Felix akan menyaksikan dari neraka bahwa cucunya dibantai secara halus!” Ucap Mr. X menyeringai.


“Ck. Sejak Chloe menghilang, aku benar-benar kehilangan partner! Banyak rahasia yang dia simpan dan aku belum sempat menanyakannya!” Lanjut Mr. X berdecak.


“Menghilang?” Mira mengerutkan keningnya.


“Ya, sejak peristiwa pembunuhan Darren, kakak si gadis bisu itu. Chloe lenyap bagai di telan bumi!” Ucap Mr. X sengaja dengan pelafalan yang jelas. Air mata Danisa sontak mengalir.


Ja… Jadi… Me… Mereka… Air mata Danisa mengalir semakin menjadi-jadi.


“Oh sayaang… Sekarang kau tidak perlu bersusah payah lagi. Target sudah berada di depan mata!”


Puk Puk Puk


Mr. X menepuk-nepuk manja pipi Mira.


Hahaha… Mr. X, kau pikir aku peduli? Baik anak bau kencur itu ataupun kau… Aku tidak mempedulikan kalian! Salah satu dari kalian akan binasa, aku sama sekali tidak memikirkannya! Yang penting tujuanku tercapai!


Aku akan menikmati harta mereka semua dan tidak perlu bekerja keras! Setelah ini, aku akan hidup damai di luar negeri! Lagipula, siapa yang peduli dengan laki-laki buta bodoh sepertimu? Ucap batin Mira tersenyum licik.


Wanita ini berbahaya, aku tau dia tidak tulus. Setelah ini aku pasti akan mendepaknya sejauh mungkin! Batin Mr. X menaikkan sebelah alisnya ke atas seraya masih mengelus-elus pipi Mira. Mereka saling menatap mesra.


Danisa sudah tidak bisa berpikir jernih. Lututnya terasa lemas. Ia merasa seperti tidak lagi bisa menapak di lantai granit yang ia pijak.


Nek, seperti yang Mr. Charles katakan.. bahwa pernikahanku dan kak Raga akan memancing musuh keluar. Dan mereka benar-benar keluar hingga kini aku bisa melihat rupa bengis dari para pembunuh.


Nek, tapi aku gagal. Sampai di sini aku gagal mengemban semua misi. Sia-sia selama ini aku menyamar dan menciptakan semua rumor negatif. Lihatlah! Lagi-lagi Mira menggagalkannya! Ini semua salahku, selama ini aku melupakan keberadaannya. Aku gadis lemah. Aku benar-benar malu jika bertemu ayah, ibu dan kak Darren di surga.


Ayah dan ibu benar-benar meninggalkan anak yang tidak berguna sepertiku!! Namun Aku juga tidak lagi bisa bertahan lebih lama. Semoga ibu sudi memelukku di atas sana! Sejak pelukan terakhir sebelum aku tidur di musim gugur beberapa tahun silam, tidak pernah ada yang benar-benar menyamai pelukan ibu. Aku benar-benar merindukannya.


“Tunggu apalagi?! Sayat-sayat kaki, tangan dan wajah gadis itu sampai ia mengaku dimana keberadaan Paula!” Titah Mr. X bengis.


“Kau saja!” Bisik Gun pada Ino dengan gemetar. Tiba-tiba ia teringat pada putri kecilnya yang sedang sakit di rumah.


“Bodoh! Ayo… Tuan X memberi perintah pada kita berdua!” Balas Ino berbisik dengan nada tinggi. Dengan bergetar Gun mengambil pisau tajam yang biasa digunakan untuk memotong sapi yang disodorkan oleh pengawal Mr. X.


“Huk Huk Huk!” Mr. X terbatuk. Aroma ruangan yang menyengat ikut mengganggu penciumannya.


“Tuan, darimana kami bisa memulainya?” Tanya Ino antusias. Pundi-pundi kekayaan serasa melayang-layang dihadapannya. Iming-iming materi yang tidak sedikit membuat Ino bersemangat.


“Tangan lalu kakinya! Namun hentikan penyiksaan saat ia sudah memberikan informasi dimana keberadaan Paula!” Ucap Mr. X sebagai umpan pancingan. Sebab sejak awal ia sudah ingin melenyapkan anak keturunan Felix yang notabene sebagai musuh besarnya.


Danisa tersadar. Ia menggeleng-geleng kuat saat mata pisau sudah berada di lengannya.


Hmfff Hmmffff Hmmffff. Danisa meronta-ronta, Ino menyumpal mulut Danisa dengan sapu tangan.


“Dia bisu, tapi dia juga bisa berisik!” Tukas Mr. X.


Mira ikut bergidik melihat pisau yang berkilat-kilat. Namun ia memilih untuk menutup mata hatinya dari tatapan sendu Danisa. Melupakan semua hal yang pernah mereka lalui bersama dengan kehidupan mewah yang ia puja-puja.


Sret


Ino menggores lengan Danisa.


Sssss Ssss


Danisa meringis. Darah segar mengalir mengotori pakaian putih dan lantai.

__ADS_1


“Kau bisa mengatakan dimana keberadaan Paula jika kau tak mampu menahannya!” Ucap Gun berharap Danisa menyerah.


“Keras kepala!!” Bentak Ino.


Sreet Sreeet


Aaaaarg Aaarrghhh.


Pekik Danisa mengerang. Ino semakin brutal menyayat bagian tubuhnya.


“Sebentar sebentar!” Mr. X bangkit dari duduknya. Perlahan ia berjalan ke arah Danisa.


Sreek


Mr. X membuka penutup mulutnya.


Brakk


“Awww” Danisa mengaduh kesakitan. Mr. X menginjak kaki gadis tersebut dan memutar-mutarkan telapaknya di sana.


“Sialan! Ternyata dia tidak bisu!” Umpat Mr. X marah. Matanya merah menyala-nyala.


“Kalau begitu, potong pita suaranya!! Agar dia benar-benar tidak bisa bicara!!” Titah Mr. X.


“Hmh… Tunggu tunggu! Sebentar sebentar! Kenapa tidak kita ambil saja mata indahnya?! Biar dia merasakan apa yang aku dan putraku rasakan?!” Lanjut Mr. X tampak berpikir puas. Ino mengangguk-ngangguk. Gun melihat sendu ke wajah tertekan Danisa. Lengan nya sudah terlalu sakit merasakan sayatan-sayatan yang Ino berikan. Belum lagi kaki mungilnya juga serasa remuk akibat serangan brutal Mr. X.


Oh Tuhan… Aku pasrah… Di sini Aku berdiri di atas kedua kakiku sendiri. Jika bukan Kau yang berkenan mengirimkan keajaiban, siapa lagi…. Rintih hati Danisa. Ia sudah tidak lagi merasakan rasa sakit. Pikirannya berpusat pada titah Mr. X yang tidak berprikemanusiaan.


Cling Cling.


Ino mengangkat pisau ke atas. Ia memegang dagu Danisa. Gadis tersebut menutup erat kedua matanya. Mira memalingkan wajah. Biar ia membiarkan Mr. X melakukan kejahatan sesukanya, namun Mira benci aroma darah.


Driiit


Hampir saja ino melakukan penusukan, namun suara pintu yang berderit membuyarkan atensi semua orang yang berada di dalam ruangan.


“Ada apa? Huk Huk Huk!” Tanya Mr. X dengan suara serak.


“Lapor tuan, Darren masih hidup!” Ucap salah satu asisten Mr. X memberikan laporan. Danisa sontak menoleh. Mendengar perkataan tersebut membuat kekuatannya seperti kembali.


“Apa?? Darren masih hidup?! Bagaimana mungkin?!” Tanya Mr. X terkejut.


Di saat bersamaan, Gun mengambil kesempatan membuka simpul ikatan tali yang mengikat Danisa.


“Larilah nona! Larilah! Lari sejauh mungkin!” Bisik Gun membuat Danisa tercengang. Gun mengangguk memberi isyarat agar Danisa segera kabur. Tak punya waktu untuk sekedar berbasa-basi. Danisa langsung berlari kencang.


“Siaaaall!!! Kejar dia!!!” Teriak Mr. X murka. Para pengawal segera berlarian mengikuti titah sang atasan. Mr. X tidak tinggal diam. Ia juga ikut berlari semampunya mengimbangi para pengawal. Mr. X benar-benar murka. Ia bersumpah tidak akan membiarkan Danisa kabur.


Danisa benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya. Ia terus berlari. Sayang tanpa sadar ia malah menanjak ke arah tebing yang di bawahnya terdapat sebuah danau besar.


Doooooorrrr!!!


Bunyi senapan terdengar. Langkah para pengawal terhenti. Mereka penasaran, kemana peluru menyasar.


Aawwww Aaaarrrgh


Pekik Danisa kuat. Ternyata peluru menyasar di betisnya. Rasa sakit yang ia terima serasa seperti urat nadinya terputus.


Apa aku harus menyerah? Ucap Danisa menutup matanya. Waktu seolah terhenti.


“Tangkap dia!!!” Suara Mr. X terdengar keras.


Dengan sisa-sisa kekuatannya, Danisa bangkit dan berjalan tertatih. Hampir saja lengannya berhasil di gapai oleh salah satu pengawal Mr. X. Namun gadis tersebut lebih dahulu terjun ke bawah jurang. Danisa memutuskan untuk terjun bebas ke dalam danau luas.

__ADS_1


***


IG: @alana.alisha


__ADS_2