
“Dimana Danisa?” Tanya Raga begitu pintu apartemen terbuka. Ia membawa serta Ami, sekretaris pribadinya.
“Danisa di kamarnya, mau dimana lagi?” Jawab Devan acuh. Ia yang tadi tengah membaca laporan keuangan kembali duduk di depan meja komputernya.
“Aku ingin menjenguknya!” Raga langsung masuk dan duduk di ruang tamu. Ia sudah tak sabar untuk bertemu Danisa, orang yang selama ini sudah sangat ia rindukan. Raga membawa serta semangkuk besar bubur juga separcel paket buah-buahan segar.
“Dev, panggilkan Danisa dong!”
“Nanti juga dia akan keluar sendiri!” Sahut Devan santai.
“Dev, please….” Raga memelas.
Hhhh, Devan bergerak malas. Pemuda ini menuju kamar Danisa lalu mengetuk pintu nya.
Tok Tok Tok
“Danisa, keluarlah! Raga dan sekretarisnya ingin menjengukmu!” Panggil Devan mengetuk pintu. Danisa yang baru selesai mandi dan memakai lotion langsung menghentikan kegiatannya.
Ceklek
Danisa membuka pintu kamar. Raga terpaku. Mata yang menatap intens gadis yang ada di depan pintu tersebut mulai berkaca-kaca. Melihat Danisa yang juga menatapnya, Raga langsung mengusap mata basahnya.
“Aku membawakanmu bubur, mendoakan agar kau baik-baik saja!” Danisa memberikan senyumnya menanggapi niat baik Raga. Ia mengambil bubur yang di sodorkan dan beranjak ke pantry yang masih bersatu dengan ruangan ruang tamu. Raga tidak tinggal diam, ia mengikuti langkah kaki Danisa.
“Kau suka buburnya? Enak?” Danisa berhenti menguyah lalu mengangguk mengisyaratkan bahwa bubur yang Raga bawakan sangat enak. Pemuda yang sudah sangat merindukan teman kecilnya itu langsung sumringah.
Oh Tuhan, ternyata selama ini gadis yang kucari berada di hadapanku. Betapa bodohnya aku yang tidak pernah menyadari hal ini.
“Kalau begitu aku akan sering-sering membawakan bubur untuk mu!”
“Hemmm” Devan yang tengah fokus pada laptopnya langsung berdehem.
Raga mengamati tangan Danisa yang terbalut perban. Hatinya merasa iba. Jari jemari lentik yang selalu digunakan untuk berkomunikasi itu tampak rapuh. Tanpa sadar Raga mengulurkan tangannya. Ia bersiap meletakkan telapak tangannya pada jari jemari Danisa.
“Raga, dimana mau kau letakkan tanganmu? Jangan menyentuhnya, Danisa itu terluka. Tanganmu belum tentu steril! Nanti dia bisa infeksi!” Sergah Devan tanpa menoleh.
Darimana Devan tau kalau aku mau menyentuh tangan Danisa? Dari tadi kan dia fokus pada komputernya! Raga mengerutkan kening. Tangan yang semula mengulur tersebut ditarik mundur. Devan bangkit mematikan komputer. Ia melangkah ke pantry.
“Hari ini kau ke kampus?” Danisa menggeleng. Ia memang berniat akan cuti kuliah beberapa hari untuk menyelidiki kasus perawat yang berada di dalam ruang bedah kakek Rowan.
__ADS_1
“Good. Kau memang harus beristirahat!” Sahut Devan. Raga kembali menyendok bubur yang masih tersisa lalu meletakkannya di mangkuk Danisa.
“Makanlah yang banyak, maka kau akan segera sehat, hm!” Ucap Raga perhatian.
Sreeggg
Jengah. Devan menarik kursi duduknya ke belakang dengan keras.
“Ayo kembali ke kantor, Aku akan mengadakan meeting dadakan!” Devan menyeret Raga yang duduk di hadapan Danisa.
“Dev, tunggu! Dev…!” Devan menyeret Raga dengan meninggalkan Danisa yang duduk tercengang.
***
“Tante, aku senang sekali semakin hari kesehatan tante semakin membaik!” Jihan memijat pundak Ranti.
“Terima kasih nak, kau gadis yang baik. Kau sangat perhatian, tante beruntung mengenalmu!” Puji Ranti bahagia. Senyuman tulus terpatri di sana.
“Andai tante memiliki putra lain, niscaya tante akan menjodohkanmu dengan putra tante tersebut!” lanjut Ranti. Hati Jihan mencelos.
Ini semua gara-gara Danisa. Aku ingin sekali melihatnya hancur dan lenyap dari muka bumi ini! Seharusnya aku yang menjadi tunangan Devan, itu adalah posisiku! Bukan Danisa! Mengapa sulit sekalimenghancurkannya?! Diam-diam Jihan mengepalkan tangan. Kesabarannya hampir habis. Bagaimana tidak? Beberapa kali ia ingin menjatuhkan Danisa, usahanya selalu gagal total.
Tok Tok Tok
“Pertanggungjawaban? Ada apalagi ini?!” Ranti memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Ia bangkit dari duduknya dan langsung menemui tamu yang dimaksud. Terlihat seorang wanita yang tidak dikenal menunggu di teras rumah. Ranti mendekatinya.
“Saya minta pertanggung-jawaban akibat kekacauan yang dilakukan oleh Danisa! Dia dan anak saya terlibat perkelahian hebat di jalanan sepi. Danisa merusak pakaian branded milik anak saya hingga membuatnya terluka!” Ranti terhuyung.
Danisa lagi Danisa lagi! Gadis gila!!! Kapan gadis itu akan berhenti membuat masalah? Ranti benar-benar merasa geram. Aku benar-benar tidak sanggup lagi menghadapi gadis kampung itu, kelakuannya sangat bar-bar! Ia lebih cocok berada di hutan belantara daripada hidup di kota! Oh Tuhaaan… Devan harus segera berpisah dari Danisa! Pekik hati Ranti. Wanita ini sudah sangat muak.
“Maaf, saya bukan keluarga Danisa. Anda salah alamat dalam meminta pertanggungjawaban!” Sahut Ranti lantang.
“Apa orang kaya dan bermartabat seperti Anda akan lari dari tanggung jawab nyonya?!” Sergah ibu dari wanita yang menjadi korban dengan menohok.
“Huh! Sudah kukatakan aku tidak memiliki hubungan dengan gadis yang kau sebutkan! Dia memiliki keluarganya sendiri!” Tukas Ranti.
"Aku tidak ingin mendengar apapun nyonya! Aku hanya meminta pertanggungjawaban! "
Ranti memijat pelipisnya. Ia berpikir keras.
__ADS_1
***
"Prof, apa mereka adalah orang yang sama? " Tanya Danisa pada Professor Lee sambil menunjukkan foto dan video Jihan.
"Aku menemukan banyak kesamaan dalam gesture dan gerak tubuh mereka! Namun aku harus menganalisa lebih lanjut untuk bisa menyimpulkan. Tapi dugaan sementara, aku melihat ada lebih dari 50 persen kesamaan! Sama seperti dugaanmu, kemungkinan besar Dia memanglah Jihan!" Sahut tenaga ahli tersebut setelah melihat apa yang Danisa bawa.
"Lalu kapan aku bisa mendapatkan hasil 100 persennya prof? " Tanya Danisa dengan wajah serius. Gadis ini ingin sekali mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Soon! Dua tiga hari lagi, nanti Aku akan menghubungi mu! " Sahut Professor Lee cepat. Danisa mengangguk-angguk.
"Kalau itu ternyata bukan Jihan, bagaimana? "
"Kalau bukan Jihan, itu artinya tugasku akan lebih banyak! " Sahut Danisa.
"Lalu, kalau itu memang benar adalah Jihan? "
"Maka aku harus memberikan nya pelajaran. Kakek Rowan itu adalah sahabat karib nenekku! Kalau nenek mengetahui hal ini, beliau pasti akan sangat sedih! Aku harus merahasiakan ini untuk sementara waktu. Beban nenek sudah terlalu berat. Belum lagi masalah pembunuhan beberapa tahun silam!" Danisa berkata dengan mata berkaca-kaca. Professor Lee menghembuskan nafas, membuangnya ke udara.
"Kau anak yang kuat! Tuhan memilih mu karena kau sangat spesial, Nak! " Prof. Lee menepuk-nepuk pundak Danisa.
"Terima kasih karena Professor sudah menguatkan ku! " Danisa lebih tenang saat ini.
***
Mira tengah menikmati uang pemberian Jihan saat sebuah panggilan masuk memenuhi layar handphone nya. Wanita ini baru saja selesai check out beberapa produk di sebuah online shop sambil duduk di sebuah restauran ternama.
"Halo Bu Mira, Anda ditunggu oleh orang yang ingin meminta pertanggungjawaban!"
"Meminta pertanggungjawaban? Siapa? "
"Seorang ibu yang anaknya dianiaya oleh Danisa. Sebagai ibunya, Anda bertanggungjawab untuk mengganti semua kerugian tersebut! " Terang Asisten Mira.
"Kenapa harus aku? Aku bukan ibu kandungnya! Aku hanya ibu tirinya! " Sergah Mira.
Kenapa anak Daisy jadi menyusahkan ku?! Huh!! Mengaku sebagai ibu tirinya ternyata bisa menjadi boomerang juga untukku!
"Awalnya ibu dari wanita yang teraniaya mendatangi kediaman Cakrawangsa, tapi kemudian bu Ranti mengarahkannya pada Anda, Bu! "
Hmh... Begitu ya... Ternyata Keluarga Cakrawangsa memperhitungkan keberadaan ku... Hmh... Walau menyusahkan dan menyebalksn, Ada bagusnya juga! Mira tersenyum menyeringai. Ia memiliki rencana baru.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like setelah dibaca yaa ❤